TJOL 10
Darren sudah tak sabar untuk mencicipi makanan bundanya, ia mengambil piring dan meletakkan nasi di atasnya tak lupa juga dengan lauk pauknya. Perut kosongnya setelah bekerja sudah meronta-ronta.
"Mau ke mana?" tanya Denis yang sejak tadi mengamati tingkah putranya, Darren sudah siap membawa piring dengan nasi yang mengambang karena sayur sop ke ruang tamu.
"Makan di depan," ujar Darren santai, ia menambahkan secendok sambal tomat di atas ayam goreng.
"Tidak makan di sini?"
"Tidak, mana muat ayah. Di sana hanya cukup untuk dua orang, itu saja sudah terlalu sempit," jawab Darren, malas. Pemuda itu sudah kelaparan, masih saja sang ayah mewawancarainya. Menyebalkan, sama menyebalkannya dengan pegawai personalia di pabrik yang membuat Darren merelakan mengganti model rambutnya.
Denis menatap sang putra yang sudah berjalan ke ruang tamu, suara televisi sudah menggema di sana. Padahal dalam lubuk hatinya yang paling dalam, Denis sebenarnya sangat merindukan Darren. Apalagi momen ketika mereka makan dalam satu meja.
"Kamu mau makan di mana, Syla?"
Syla melihat meja makan mungil yang sudah terasa penuh meskipun hanya diduduki Denis. "Apa tidak lebih baik kita makan bersama di sana juga, Mas?"
"Di ruang tv?"
Syla mengangguk, bukan kebiasaan keluarganya memang. Namun, sekarang kondisinya berbeda. Syla juga tidak ingin melewatkan makan bersama putranya yang belum tentu bisa ia nikmati lagi.
"Baiklah, kita makan bersama di sana."
Denis melangkahkan kakinya mendekati Darren, sepintas ia jadi ingat masa kecilnya di rumah ini. Denis menghela napas panjang, terlalu banyak kenangan nostalgia yang hinggap begitu saja dibenaknya.
Darren makan dengan begitu lahap, tanpa merasa terganggu dengan Denis yang duduk di sampingnya. Rasa lapar dan nikmatnya masakan kesukaannya mengubur rasa kesalnya terhadap Denis untuk sementara, ia tidak ingin kenikmatan ini terlewat begitu saja.
"Bunda, kita baru pertama kali, kan, makan seperti ini?"
"Iya,"
"Bagaimana menurut Bunda?"
"Lumayan, hanya saja bunda belum terbiasa," kaya Syla.
"Aku sudah mulai biasa seperti ini, Bunda. Kalau menurutku, justru lebih enak makan lesehan seperti ini."
"Sudah, kalian ini. Makan dulu, nanti sambung lagi bicaranya!" Potong Denis sebelum keduanya terus berbincang di antara acara makan mereka.
Darren tersenyum kecut, ia memilih diam ketika kepala keluarga itu mulai mengultimatumnya. Darren bisa apalagi kecuali menuruti?
Setelah makan dan beraktivitas seharian, Darren membaringkan tubuhnya di depan televisi. Hal itu tak luput dari perhatian Denis, ia amati memang wajah putranya itu tampak lelah.
"Jangan terlalu gengsi, Mas. Aku tahu, sebetulnya kamu peduli, kan?" Suara Syla mengagetkan Denis yang tengah berdiri bersandar di dinding sembari mengamati tingkah Darren.
"Siapa bilang?" Denis meraih secangkir kopi hitam yang baru saja dibuat Syla, menyesapnya. Lelaki itu berjalan santai, mendudukkan dirinya di sebelah Darren.
"Capek?"
"Sedikit."
"Bagaimana pekerjaanmu?"
"Biasalah, masih beradaptasi."
"Ayah harap kamu betah di sini."
"Ya memang aku harus betah, kan?"
"Hmmm."
"Darren, ini untukmu," ucap Syla, ia menyodorkan segelas coklat panas untuk Darren. Cepat Darren beranjak dari berbaringnya, matanya berbinar cerah. Andai saja tiap pulang kerja ada yang membuatkan minuman hangat seperti ini terus untuknya.
"Terima kasih, Bunda," ucap Darren, manja.
"Sama-sama, Sayang."
"Ah, setelah ini. Kalian akan ke mana? Menginap di sini?"
"Tentu saja tidak, kamarmu ,kan cuma satu."
"Yah, ku pikir sengaja ke sini untuk menginap."
"Tidak, Darren. Ayah dan bunda akan tidur di ...."
"Kami berdua akan tidur di hotel milik Paman Adam, Darren," potong Denis cepat, sebelum Syla keceplosan jika mereka masih memiliki satu rumah lagi di kota ini.
"Oh," Darren mengangguk-anggukkam kepalanya, meski dihatinya kecewa, ia menyimpannya. Darren pikir kedua orangtuanya, khususnya Syla akan berada cukup lama di Semarang. Namun, Darren harus memupus harapannya, bisa jadi besok keduanya sudah pulang kembali ke Jakarta.
"Apa yang kau pikirkan?"
"Tidak ada, Bunda."
"Kamu jangan terlalu lelah bekerja, banyak istirahat dan makan sehat." Syla mengusap lembut puncak kepala putra semata wayangnya yang kini duduk persis di sampingnya, menggeser posisi duduk sang ayah.
"Iya Bunda, Bunda tidak perlu khawatir."
"Mana mungkin bunda tidak khawatir, lihat isi kulkas mu saja bunda sudah khawatir!"
"Hehehe."
"Bunda takut kamu sakit."
"Bunda berdoa saja, di sini aku akan selalu sehat."
Sebulir air mata lolos begitu saja dari mata Syla, cepat Darren menghapusnya. Darren tidak mau melihatnya, ia ingin bundanya selalu bahagia. Meskipun Darren tidak tahu jika selama jauh darinya, Syla selalu menitikkan air mata.
*****
"Bunda pamit, kamu baik-baik di sini," pesan Syla ketika Denis mengajaknya pulang dari rumah Darren, tidak mungkinkan bagi mereka untuk menginap di rumah mungil itu.
"Iya, Bunda. Pasti," jawab Darren, mantap.
Denis menepuk pundak Darren, sembari berpesan jangan berbuat aneh-aneh selama diberi kepercayaan untuk hidup mandiri. Darren memutar matanya malas, berbuat aneh-aneh? Yang benar saja, itu sama sekali tidak terbersit di benak Darren. Bagaimana ia bisa berbuat aneh-aneh sementara tubuh dan jiwanya saja sudah sangat lelah setelah pulang bekerja?
"Iya, jangan khawatir Bapak Denis!" cibir Darren, ia jengah dengan ayahnya sendiri. Rasanya ingin cepat-cepat mengusir Denis dari sini jika saja tidak ada Syla.
"Jangan lupa kunci semua pintu, pakai selimutmu."
"Iya, Bunda."
Syla memeluk singkat Darren, berat rasanya ia berpamitan padahal baru sore tadi mereka bertemu.
Darren perhatikan mobil yang ditumpangi kedua orang tuanya, ia masuk ke dalam rumah saat mobil itu tak terlihat lagi di pertigaan jalan. Darren tersenyum miris, untuk bertemu mereka saja harus colong-colongan, sudah seperti bertemu residivis saja. Mereka baru bisa keluar rumah tengah malam. Entah lah, atur saja Pak Denis. batin Darren.
Darren membaringkan tubuhnya, rumah kembali terasa sepi saat ia sendiri seperti ini. Hanya bunyi kipas angin menempel di dinding yang menggema memenuhi pendengaran Darren. Ia menggerak-gerakkan kakinya saat merasakan ada tumpukan sebuah kain tebal di sudut ranjang, ia meraihnya. Selimut kesayangannya yang selalu menemani dinginnya malam di rumah Jakarta. Syla ternyata sengaja membawakan ke mari untuknya.
Bunda ❤️
Terima kasih selimutnya, Bund.
"Pesan dari siapa?" tanya penuh selidik dari Denis yang melihat wajah istrinya bersinar cerah.
"Lelakiku," jawab Syla asal, membuat Denis berdecak kesal merasa cemburu.
"Lelaki yang mana!"
"Putra kita."
"Oh." Denis mengatur napasnya, akhir-akhir ini memang ia lebih sering cemburu pada istrinya.
"Senang bisa bertemu dengannya?"
"Iya lah, Mas. Tentu saja aku sangat senang."
"Syukurlah."
"Terima kasih." Syla dengan manja menyandarkan kepalanya di bahu Denis, Denis membalas mengusap lembut pipi istrinya.
"Ku rasa, beberapa jam di sini masih sangat kurang, Mas."
"Memang mau berapa lama?"
"Dua atau tiga hari, mungkin," ucap Syla penuh harap.
"As you wish, Baby. Kita akan di sini selama seminggu."
"Yang benar, Mas?" mata berbinar itu menatap wajah Denis yang remang-remang, hanya disinari lampu kota yang menerobos jendela mobil mereka yang terus bergerak. Segudang rencana telah ia rangkai di benaknya, terutama bersama Darren. Syla pastikan waktunya tak ada yang terbuang sia-sia, ia harus pintar membagi waktunya selama di kota ini.
"Iya, kebetulan ada acara khitanan anaknya Rama. Sekalian saja."
"Kapan?"
"Besok lusa, lagipula pekerjaan di kantor tidak terlalu banyak. Hitung-hitung kita sekalian liburan."
"Oke, Sayang. Terima kasih!" Ingin rasanya Syla teriak, tetapi ia masih ingat tempat.
"Tapi, semua tidak gratis!"
"Hah? Aku harus membayar?"
"Bukan, bukan itu."
"Lalu?"
"Aku minta imbalan ...." Denis berbisik lirih ditelinga Syla, wanita itu terlongo atas apa yang Denis katakan. Cepat ia mencubit pinggang suaminya.
"Kau curang, Mas! Mencari kesempatan!"
"Ya sudah, kalau tidak mau. Kita bisa saja pulang besok."
"Tidak! Aku tidak mau! Baiklah, aku setuju."
"Istri Sholehah, siapa tahu yang sekarang jadi."
"Kita sudah mencobanya berulangkali, kan, Mas? Tapi belum berhasil juga."
"Hust... Siapa tahu kali ini menghasilkan," Denis mengedipkan matanya dengan genit, memaksakan senyum Syla tersungging. Wajah wanita itu selalu sendu jika membahas tentang buah hati. Sebenarnya Syla ingin dua atau tiga anak dari pernikahan mereka, tetapi takdir hingga saat ini hanya Darren lah keturunan mereka satu-satunya.
"Siapa tahu nanti jadi, kamu tidak lupa, kan, aku dan Airin saja selesihnya juga jauh."
"Iya, Mas."
Denis lebih dahulu masuk ke dalam rumah, ia segera masu ke dalam kamar. Mengganti bajunya dengan piayama, menggosok gigi dan mencuci tangan serta kakinya. Lalu ia naik ke atas ranjang, bersiap menagih apa yang telah ia sepakati dengan Syla di perjalanan tadi. Disusul Syla yang sudah sangat mengantuk, ia mengganti bajunya dengan asal tak peduli di atas ranjang Denis siap menerkamnya.
Wajah kantuk Syla tak bisa tertutupieskipun ia baru saja membasuh mukanya dan melakukan ritual sebelum tidur seperti biasanya, benar-benar Syla sudah tidak tahan untuk nak ke atas ranjang dan memejamkan matanya. Namun, ia masih harus membayar janji yang terlanjur diucapkan pada suaminya.
"Berdoalah, semoga kali ini jadi," ucap Denis dengan semangat, berbanding terbalik dengan Syla yang sepertinya sudah tidak ada tenaga lagi. Mengingat ini sudah hampir jam 2 dini hari.