TJOL 11
Disaat Denis masih tertidur pulas, Syla sudah bangun sejak subuh tadi. Wanita itu tengah sibuk menyiapkan sarapan pagi untuk Denis dan juga untuk Darren, seolah lelahnya hilang jika mengingat kewajibannya sebagai seorang istri dan seorang ibu. Sebelumnya, Syla dan Darren sudah saling bertukar pesan. Darren mengatakan jika hari ini ia libur, karena memang hari kerjanya sampai hari Jumat saja. Beruntungnya Darren yang terhitung karyawan baru itu tak ikut serta jam lembur. Tentu saja Syla sangat senang mendengar kabar itu, cepat ia menyiapkan bekal yang akan ia bawakan untuk Darren.
Yang Syla masak umumnya masakan rumahan saja, itu juga sudah cukup untuk Denis dan Darren. Gizi tercukupi yang nomor satu, masalah rasa tentunya tak bisa diragukan lagi. Ingatan Syla tertarik di masa ia pertama memasak untuk Denis, ia hampir saja membakar dapur beserta rumah kala itu karena rasa mual yang menyerangnya saat ia akan menggoreng telur. Kenangan masa awal pernikahan itu kini menjadi bahan lelucon untuknya dan juga Denis jika saling mengolok satu sama lain. Syla tersenyum kecil dibuatnya. Astaga, tak terasa hampir dua puluh tahun mereka bersama.
Lauk pauk untuk Darren dan juga untuk dirinya sendiri telah Syla masukkan ke dalam kotak makan, Syla juga memotong kan beberapa jenis buah sebagai pelengkap untuk Darren. Sedangkan untuk Denis, Syla juga sudah menatanya di atas meja. Tinggal menunggu bos besar itu bangun saja. Tak lupa, Secangkir kopi hitam juga telah Syla sediakan. Kopi yang penuh filosofi di kehidupan rumah tangga mereka.
"Kau sudah mandi, Syla?" tanya Denis dengan suara seraknya, masih dengan bertelanjang d**a seperti saat ia tidur setelah aktivitas mereka dini hari tadi. Lelaki itu bersandar di kepala ranjang sambil mengucek kedua matanya. Wajahnya masih sangat lesu, sepertinya lelaki itu akan menghabiskan sepanjang harinya di atas kasur ini. Ia memeriksa ponselnya apabila ada laporan atau pesan penting lainnya.
"Belum, aku baru saja selesai menyiapkan sarapan untukmu, Mas. Kamu mau sarapan sekarang atau nanti?" tanya Syla, ia merapikan sisi ranjang yang tidak ditiduri Denis.
"Nanti saja, aku masih mengantuk."
"Aku izin ke tempat Darren ya?"
Denis mengangguk, ia mengetukkan jari telunjuk pada pipinya. Satu kecupan untuk pajak agar urusan Syla lancar, dengan senang hati Syla menurutinya. Denis juga menyerahkan kartu debit miliknya, sebagai bekal untuk Syla. Ia bebaskan Syla untuk memakainya selama di Semarang. Sebenarnya Syla punya kartu sendiri, hanya saja Denis ingin memanjakan istrinya. Hitung-hitung sebagai ganti karena selama ini lelaki itu selalu sibuk hingga tak punya banyak waktu untuk mengajak Syla berlibur.
"Terima kasih, Sayang," ucap Syla riang, ia menambah satu kecupan di pipi kanan Denis sebagai ucapan terimakasihnya. Sungguh suami dan ayah yang sangat pengertian, cepat-cepat Syla membersihkan tubuhnya.
"Hati-hati di jalan, jangan lupa beri kabar kalau kamu sudah sampai," ucap Denis. Syla baru saja keluar dari kamar mandi, Denis sudah bersiap untuk berbaring kembali.
"Siap, Mas. Semua sudah aku siapkan, sarapan dan pakaianmu."
"Iya, Sayang."
"Hari ini, mau ke mana?"
"Ke tempat Rama. Tadi Devan kirim pesan, mengajak ke tempat Rama. Nanti siang atau sore, mungkin."
"Oke."
"Aku tidur lagi, aku ngantuk," jawab Denis, ia memakai selimutnya kembali. Menggantikan kehangatan yang tidak ia dapatkan dari Syla.
"Iya, Mas."
Di tempat lain, Darren tengah menunggu sang bunda datang ke tempatnya. Hari ini ia bangun lebih awal setelah menerima pesan dari Syla, bahkan ia sudah mandi subuh tadi. Bukan kebiasaannya memang, apalagi hari libur seperti ini. Namun, seperti Darren harus membuang kebiasaan buruknya selama di Jakarta. Di Semarang, ia tidak bisa berleha-leha. Waktu libur seperti ini justru hari sibuk untuknya. Mulai membersihkan rumah, mencuci pakaian, mencuci sepatu atau melakukan pekerjaan lain. Hari ini mungkin bonus untuknya, Syla akan datang dengan membawakan sarapan sehat. Jadi, ia tak perlu repot-repot berkutat di dapur untuk urusan perut pagi ini. Cukup secangkir teh menemaninya menonton acara televisi pagi. Sedikit bosan Darren mengganti channel, ia rasa acara televisi saat ini sangat kurang acara yang mengedukasi. Darren memilih membiarkan televisi itu tetap menyala, sedangkan jemari dan tatapannya fokus pada benda pipih yang kini digenggamnya.
Sebuah ketukan mengalihkan Darren dari rasa bosannya, ia membuka pintu. Syla tersenyum kecil di ambang sana, di tangannya ada sebuah goodie bag. Darren tahu persis apa yang dibawa Syla, tentu saja seperti foto yang sempat Syla kirim saat sibuk menyiapkan makanan itu.
"Ayo sarapan, bunda tahu kamu sudah lapar, kan? Maaf agak sedikit terlambat," kata Syla yang berjalan masuk ke dalam rumah, diikuti Darren di belakang.
"Tidak apa Bunda, Bunda datang sendiri?"
"Tadi diantar Pak Ahmad, bunda meminta beliau pulang saja."
"Ku kira datang dengan ayah," ucap Darren basa-basi tentu saja, ia lebih senang Syla datang sendiri daripada bersama lelaki paling menyebalkan itu.
"Tidak, ayahmu masih tidur. Ah iya, benar kata ayahmu. Mending kita ke sini pas sepi saja, tidak enak dilihatin. Apalagi ibu-ibu, mereka melihat bunda dari atas sampai bawah pas sampai di depan rumah," gerutu Syla, kesal. Tangannya sibuk mengeluarkan isi bungkusan yang ia bawa, Darren tersenyum saja. Hal yang sama juga Darren terima waktu para tetangga itu melihatnya, entah apa yang membuat mereka seperti itu.
"Rasanya risih sekali, seperti bundamu ini baru saja mengambil barang mereka."
"Memang seperti itu, Bunda. Biarkan saja, aku sudah lapar," ucap Darren, manja.
"Kita sarapan bareng, bunda sengaja belum sarapan biar bisa sarapan denganmu."
"Ayolah, tidak usah pakai lama."
****
Syla mengintip ke luar rumah melalui jendela kaca, melihat suasana komplek. Berharap sudah sepi, karena Syla tidak ingin mendapat tatapan yang sama seperti saat ia datang tadi. Menyebalkan sekali, seperti ruang geraknya sangat terbatasi.
"Bunda sedang apa, sih?" tanya Darren yang melihat tingkah aneh Syla selepas mereka sarapan, ia baru saja mengeringkan cuciannya.
"Lihat kondisi."
"Ck... Tinggal buka pintu saja, Bunda."
Darren membuka pintu lebar, ia keluar dengan membawa rak jemuran. Menatanya di sisi yang terkena matahari langsung untuk menjemur seragamnya. Darren harus terbiasa mencuci tiap hari, daripada pakaiannya menumpuk dan semakin membuatnya malas mencucinya.
"Mas Rizal, ada tamu ya?"
Suara itu mengagetkan Darren, suara yang tiba-tiba saja datang bersama pemiliknya. Darren tidak menyadari kedatangannya, seorang ibu-ibu sudah berdiri tepat di depan pagarnya yang tingginya hanya sebatas d**a itu. Matanya menelisik ke dalam rumah yang pintunya terbuka, Darren mengikuti arah pandangnya.
"Oh, iya. Kerabat dari Jakarta," jawab Darren ramah.
"Cantik sekali."
"Iya, Alhamdulillah."
"Pasti orang kaya ya? Tadi lihat, kulitnya putih seperti bule."
"Tidak kok, Bu. Apa ibu mau bertemu langsung? Mumpung orangnya masih di dalam."
"Ah, tidak, Mas Rizal. Saya malu, saya ke sini cuma mau tanya saja. Ibu-ibu di sana ... Pada kepo ingin tahu," ucap ibu itu, sembari menunjuk ibu-ibu lain yang tengah duduk di teras salah satu rumah tak jauh dari rumah Darren.
"Owalah, ya sudah. Saya masuk ya, Bu. Kebetulan saya sudah selesai jemur bajunya."
"Iya, Mas. Saya juga permisi."
Ibu itu meninggalkan rumah Darren, Darren masih berdiri di tempatnya. Ia juga lihat ibu itu sedang melapor kepada para sahabat ghibahnya, Darren menggelengkan kepalanya merasa heran dengan kelakuan para tetangganya itu. Di Jakarta, bahkan ia sama sekali tidak pernah mengurusi urusan orang lain. Jangankan mengurusi, bertatap muka saja sangat jarang. Bahkan tidak saling mengenal satu sama lain karena terpisah dengan dinding yang kokoh serta sibuk dengan kehidupan masing-masing.
Darren masuk ke dalam rumah, menenteng ember bekas tempat pakaiannya. Meletakkan kembali ke dalam kamar mandi. Kemudian, ia duduk di samping Syla.
"Ibu tadi bilang apa saja? Kamu kenal sama dia?"
"Belum kenal, tapi beliau tanya Bunda itu siapanya aku. Ya aku jawab kerabat dari Jakarta, begitu."
"Oh, kita tunggu sepi saja ya. Baru kita keluar, bunda malas bertemu mereka lagi."
"Kita mau ke mana?"
"Mall, tadi ayahmu memberikan kartu ini pada bunda." Syla mengeluarkan kartu debit dari dalam dompetnya, kartu sakti milik Denis.
"Buat apa, Bunda?"
"Belanja, mumpung ayahmu sedang baik hati."
"Memangnya sejak kapan Bunda hobby belanja?" tanya Darren heran, karena selama ini memang Syla sangat-sangat jarang berbelanja barang yang tidak terlalu dibutuhkan.
"Sejak ayahmu memindahkanmu ke sini, hitung-hitung melampiaskan kekesalan bunda pada ayahmu itu!" jawab Syla, kesal. Jika saja Denis tidak membawanya ke Semarang kemarin, tentu saja Syla akan mendiamkan suaminya itu selamanya. Darren tertawa kencang, sepertinya ia punya koloni untuk menumbangkan Denis.
"Mereka masih di sana?" tanya Syla yang mulai tidak sabar keluar dari rumah Darren, untuk mengosongkan sedikit harta milik suaminya.
"Masih, Bunda,"ucap Darren yang pura-pura menjemur sepatunya yang sama sekali tidak basah.
Ibu-ibu komplek itu tampak tengah asyik menjadikan tetangga baru mereka sebagai bahan obrolan, terlihat dari beberapa kali mereka menunjuk rumah Darren.
"Iya lho Bu, ayu tenan wonge mau iku, putih, iseh enom." (Iya lho, Bu. Cantik sekali orangnya tadi, putih, masih muda)
"Mbakyu ne paling, opo sedulure." (Kakak perempuannya paling, apa saudaranya)
"Lha Yo mboh, mau Yo weroh tho Yu Mar? Pas awake dewe ndulang bocah-bocah." (Ya tidak tahu, tadi lihat juga lihat, kan Yu Mar? Waktu kita nyuapin anak-anak.)
"Ho oh, putih mulus koyok bintang iklan."
"Rizal kae kerjone Opo tho? Opo kuliah?"
"Krungu-krungu sih, nembe ketompo ning pabrik kabel kae lho." (Dengar-dengar sih, baru saja diterima di pabrik kabel itu lho)
"Walah, cah magang berarti."
"Iyo."
"Aku dadi penasaran lho, Bu. Karo wong wedok mau kae." ( Aku jadi penasaran lho, Bu. Sama wanita tadi)
"Janu-janu ...." (Jangan-jangan)
"Janu-janu opo, Yu?"
"Bocah kae simpenane wong wedok mau kuwi, biso wae tho?" (Anak itu simpanannya perempuan tadi, bisa saja, kan?"
Ibu yang bernama Siti itu mencoba menghasut yang tidak-tidak pada rekan-rekannya.
"Ah, mbok Yo Ojo sembarangan. Wong durung ngerti asline lho." (Ah, mbok ya jangan sembarang. Orang belum jelas aslinya.)
"Ya bisa saja, tho Yu. Sopo ngerti, Saiki kan akeh bocah ngono kuwi. Opo maneh manggon dewe, Seko luar kota." (Ya bisa saja, Yu. Siapa tahu, sekarang kan banyak bocah yang begitu. Apalagi tinggal sendiri, dari luar kota.)
"Yawes, sesok-sesok titenano. Wong Kuwi teko maneh opo ora." ( Ya sudah, besok-besok diingat. Orang tadi datang lagi apa tidak.)
"Iyo, nak macem-macem ning kene. Laporke Pak Rt. Setuju tho bu-ibu?"
"Yo nak aku sih setuju banget."