TJOL 12

1650 Words
TJOL 12 Semakin siang, suasana komplek tak kunjung sepi. Malah justru ibu-ibu itu menunggu tukang sayur yang biasanya lewat mendekati jam-jam 11 siang, Syla sangat kesal dibuatnya. Ia terus saja menggerutu, sembari berulang kali menengok ke arah luar lewat jendela. "Kita jadi pergi tidak, Bunda?" tanya Darren, ia berbaring santai sembari bermain game di ponselnya. Darren juga menunggu sampai Syla memutuskan jadi tidaknya mereka ke mall, jika tidak mungkin setelah ini ia akan tidur saja. "Kalau tidak jadi, ya tidak apa, Bun. Kita masih punya waktu besok, lagi pula aku hari Senin shift malam." "Tidak bisa besok, Darren. Bunda ada acara dengan ayahmu." "Ya sudah Senin." "Kamu butuh istirahat, bunda maunya hari ini." "Ya sudah, kita pesan taksi online saja ya?" "Mereka masih di depan sana, Darren!" gerutu Syla. Disamping ia jengah dengan sikap para ibu-ibu itu, Syla juga malas dengan keramaian. Waktunya saja banyak ia habiskan di rumah saja, kalau tidak ia menyusul Denis ke kantor. Syla tidak mengikuti acara seperti arisan dikalangannya, lebih baik ia di rumah. "Anggap saja mereka tidak ada, Bunda." "Hhaaah, baiklah. Kita pesan taksi online sekarang, tapi kamu yang pesankan. Bundamu tidak tahu wilayah Semarang." "Siap, Bunda." Syla mendengus sebal saat tukang sayur justru mangkal di samping rumah Darren, bahkan ibu-ibu itu sudah berkerumun memilih dagangan tukang sayur itu. Syla juga mendengar mereka menawar sayur dan beberapa bahan lauk pauk lainnya. Darren keluar dari rumah, memastikan seramai apa di sana. Sembari membalas chat dari sopir taksi online yang menanyakan rumahnya. "Bunda masuk dulu," ucap Darren, taksi online yang mereka pesan sudah standby tepat di depan gerbang rumah Darren, beberapa langkah dari tukang sayur. Tentu saja perhatian mereka tertuju pada rumah Darren, terlebih saat Syla membuka pintu dan keluar dari sana. Untung saja gerbang tadi ia biarkan terbuka, membudahkan gerakan Syla. Cepat Syla masuk ke dalam taksi online itu, Darren mengunci pintu rumah dan menutup gerbang. Darren sempat menyapa ibu-ibu yang bertemu pandang dengannya, ia tersenyum ramah meskipun pandangan bertanya-tanya tentang siapa sosok yang baru saja masuk ke dalam mobil itu terlihat jelas dari sorot mata mereka. Bahkan ada yang sampai melongok ke dalam taksi online, berharap bisa melihat Syla dengan lebih jelas. Perlahan taksi online itu menjauh, menuju tempat sesuai map yang jadi tujuan Syla dan Darren. "Mau weroh opo ora? Wonge mlebu mobil," (Tadi lihat apa tidak? Orangnya masuk ke dalam mobil), ucap Bu Siti. "Ketok sitik tok, Bu. Lha wong cepet banget mlebune, sombong ora takon mbarang. Padahal akeh wong lho ning kene," (Lihat sepintas saja, Bu. Orang dia cepat sekali masuknya, sombong tidak menyapa juga. Padahal di sini banyak orang). "Uwes tho, Ibu-ibu Iki tak delok awet mau kok yo ngomongke wong wae," (Sudah lah, Ibu-ibu ini aku lihat dari tadi kok ya ngomongin orang saja) kata Bu RT yang mulai gerah melihat tingkah warganya. "Wes bubar-bubar, Ono Bu RT." Syla bernapas lega, akhirnya ia bisa keluar juga. Darren terkikik geli. Sepertinya Syla juga perlu bertemu situasi seperti tadi, agar ia merasa terbiasa dengan orang-orang yang membicarakannya. Hanya saja tingkat kepercayaan diri Syla tak setinggi itu. "Kamu mau beli apa, Sayang?" Darren mengedikkan bahunya, tak terlintas apapun dibenaknya barang yang akan ia beli. "Tidak tahu, Bunda. Lihat saja nanti." Syla mengangguk saja, ia tersentak saat ponsel dalam genggamannya berdering. Nama Denis muncul di sana, reflek Syla menepuk jidatnya. Wanita itu lupa pesan suaminya sebelum keluar dari rumah, bisa gawat jika Denis ngambek akan susah membujuknya. "Assalamualaikum, Mas," ucap Syla dengan lembut, berharap lawan bicaranya sedikit melunak. "Wa'alaikumsalam, sampai mana kamu? Memangnya jarak dari sini ke tempat Darren berjam-jam!" semprot Denis di ujung sana, Syla meringis kecil meski tentu saja Denis tak melihatnya. "Hanya tiga puluh menit, Mas." "Lantas, kenapa kamu tidak juga mengabari?" "Ya, ku pikir Mas masih tidur." "Tapi aku sudah bangun, Syla. Haah, kau ini. Kalau sudah bersama putramu, suamimu kau lupakan." "Maaf, Mas." "Hmmm, sedang di mana sekarang?" "Lagi perjalan ke mall, Mas. Kamu mau menyusul?" tanya Syla, mungkin saja dengan begitu Denis tidak lagi marah padanya. Namun, Darren sangat tidak setuju dengan usul Syla. Darren ingin berteriak jika Syla tidak perlu mengajak lelaki itu, lebih baik Darren turun dan pulang kembali ke rumah. Malas sekali rasanya. "Tidak, Syla. Aku sudah ada janji sama Devan, hati-hati. "Nanti telepon saja, kalau kamu sudah ingin pulang. Biar aku atau Pak Ahmad yang menjemputmu," pesan Denis. "Iya, Mas. Kamu juga hati-hati, titip salam buat mereka." Darren menghela napas lega mendengar percakapan Syla dan Denis barusan, untung saja Denis tidak menerima tawaran itu. "Kenapa, Bunda?" tanya Darren, meskipun sedikit banyak ia sudah mendengar pembicaraan kedua orang tuanya. Ia tadi pura-pura sibuk dengan ponselnya. "Ayahmu, dia kesal bunda tidak mengabari kalau sudah sampai di tempatmu." "Lalu, sekarang ayah masih marah?" "Tidak." ****** "Sepertinya kamu butuh banyak seragam," kata Syla, ia menggandeng Darren menaiki eskalator. "Aku sudah beli waktu pertama sampai di sini, Bunda. Ku rasa itu sudah cukup." "Buat persediaan, Darren. Kita tidak pernah tahu situasinya seperti apa, kan. Bisa saja nanti sering hujan dan kamu tidak sempat mencucinya." "Iya juga sih, terserah Bunda saja. Aku ikut," ucap Darren, menyerah. Darren ikut saja saat Syla menggandengnya masuk ke sebuah toko pakaian, toko yang sama seperti saat Darren beli seragam. "Yang murah, Bunda. Aku tidak ingin terlalu mencolok." Darren memilih ukuran dan merek yang yang seperti yang ia punya, kalau kata Darren standar karyawan. Dua pasang seragam sudah berada di tangan Darren, ia memberikan apa yang ia pilih pada pegawai mall. Syla juga memilihkan dua ikat pinggang untuk Darren. "Baiklah, lalu apa lagi? Tas? Sepatu?" "Tas boleh lah, aku tidak enak pakai tas ini," tunjuk Darren pada tasnya, ia merasa risi ketika bekerja ada sebagian karyawan lain menatapnya heran karena memakai tas yang cukup mahal itu. Meskipun sejujurnya itu tas kesayangannya. "Bunda, sudah. Ini sudah lebih dari cukup." Darren mengangkat beberapa goodie bag di kedua tangannya, tetapi Syla masih memilihkan barang yang akan dibeli untuknya. "Buat gonta-ganti," kata Syla, padahal sebenarnya ia sendiri bingung apa yang akan ia beli. Jadi, ia pilihkan saja untuk Darren. "Bunda juga sudah membawakan ku banyak pakaian, kan? Kenapa masih harus beli lagi, sih?" "Biar isi kartu ini berkurang, Darren. Kita harus pandai memanfaatkan situasi." Lagi-lagi Darren mengikuti apa kata sang bunda, sampai kakinya terasa lelah mengelilingi mall. Darren sesekali berhenti ketika melihat kursi untuk mengistirahatkan kakinya, ia juga memijat kakinya. "Bunda, kita mau ke mana lagi? Aku sudah lelah," kata Darren, melihat Syla masih ingin berkeliling. Padahal wanita itu sendiri tak membeli apapun, semua ia pilih untuk Darren. "Beli yang lain lagi." "Sudah lah, ini lebih dari cukup. Mending Bunda transfer saja uangnya untukku, heheh." "Mana bisa, nanti ayahmu mengomel." "Aku lapar, kita makan siang saja Bunda." Mereka mampir ke sebuah restoran cepat saji, untuk mempersingkat waktu karena Darren sudah sangat lapar. Sesekali memang Syla membebaskan Darren untuk makan di tempat seperti ini, apalagi jika mereka berada jauh dari rumah. "Assalamualaikum, Mas. Kamu sudah makan siang?" tanya Syla pada Denis melalui sambungan telepon sembari menunggu Darren yang tengah mengantre. "Wa'alaikumsalam, belum, Sayang. Aku masih di tempat Devan, dia menahanku di sini untuk main PS." "Mau makan siang di mana?" "Nanti lah, gampang. Kamu sudah makan siang?" "Ini akan makan siang, kamu jangan lupa makan siang, Mas." "Iya, Syla. Nanti aku makan siang, sudah dulu ya. Aku bisa kalah mainnya ini." "Iya, Mas." Darren datang dengan sebuah nampan berisi dua paket nasi plus ayam beserta minuman, juga kentang goreng sebagai pelengkapnya. Darren duduk berhadapan dengan Syla, matanya berbinar menatap makanan yang ada di depannya. "Kita makan, Bunda," kata Darren, Syla mengangguk saja. Wanita itu membiarkan putranya makan terlebih dahulu, baru ia ikut makan setelah memasukkan ponselnya ke dalam tas. Sepasang mata tak jauh dari Syla dan Darren mengamati mereka, menatap heran dengan kedekatan ibu dan anak itu. "Kae Ndak yo Rizal?" (Itu bukannya Rizal?" tanya seseorang pada temannya, memastikan jika ia tidak salah orang. Ia menunjuk arah di mana Darren dan Syla tengah makan. "Lha mboh, ngopo ngurusi wong. Wes ndang pangan segomu!" (Mana ku tahu, kenapa mengurusi orang lain. Sudah, cepet makan nasimu) jawab Satria, kesal. Indra selalu saja membicarakan tentang Darren jika bersamanya, tentu saja Satria merasa jengah dengan topik pembicaraan mereka yang tertuju pada orang yang baginya sangat mengesalkan. Jumpa pertama dengan Darren saja dia sudah naik darah, belum lagi hari-hari berikutnya. Kenapa dunia sempit sekali sih? Hingga waktu libur yang sangat jarang ia dapatkan seperti sekarang harus terkontaminasi dengan orang yang ia benci. s**l, batin Satria. Namun, dengan bodohnya Satria tetap mengikuti pandangan Indra. Darren dan Syla duduk tak jauh dari kursi mereka, tetapi bukan itu fokus Satria. Melainkan banyaknya goodie bag bertuliskan merek ternama yang ada disekitar Darren. Hal itu juga turut mengundang perhatiannya. Sebanyak apa uang anak magang itu? Satria menggeleng pelan, lalu ia melihat Syla. Wanita bertubuh mungil itu masih terlihat muda, tetapi Satria yakin dia tak seusia Darren yang ia tahu baru lulus SMK. Satria tersenyum miring, baginya Darren tak jauh beda dengan teman-temannya. Simpanan tante-tante berduit, sugar baby. "Menjijikkan," gumam Satria. "Opone?" tanya Indra, bingung. "Cepet entekno, aku meh balik kost!" titah Satria pada Indra yang makan dengan sangat pelan, seolah takut makanan itu akan habis. Indra yang berasal dari kota kecil di daerah timur Semarang itu sangat jarang makan di restoran cepat saji seperti ini, sebulan mungkin satu kali kalau memang diajak Satria atau dapat gaji lebih dari uang lemburnya. Indra lebih banyak menyimpan uangnya untuk hal yang lebih penting. Syla dan Darren selesai lebih dulu, Satria dan Indra masih menatap mereka. Satria memicingkan matanya saat Syla tak sungkan untuk menggandeng mesra Darren, seperti yang biasa wanita lakukan jika jalan bersama putranya itu. "Weruho, Ndes." (Lihat, gaes) Tunjuk Satria pada gandengan tangan Syla pada Darren. "Weidiaaan, gosip anyar!" (Gila, gosip baru) jawab Indra. "Tampange wae polos, ning njobo yo jebule Podo wae," (Tampangnya saja polos, di luaran ternyata sama saja) ucap Satria, tanpa sadar keduanya justru berghibah tentang Darren dan Syla.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD