bc

BIRENDRA (INDONESIA)

book_age16+
167
FOLLOW
1K
READ
dark
no-couple
mystery
scary
brilliant
demon
male lead
magical world
supernatural
horror
like
intro-logo
Blurb

"Tidak!! Aku bukan anak iblis. Aku adalah Birendra Arya Dananjaya seorang pemimpin ksatria yang terhormat yang dipenuhi berkat oleh dewa!,” teriak Birendra pada sesosok bayangan hitam yang mengintainya setelah ia turun dari mendaki gunung kramat yang ada di pulau Jawa.

“Kamu tidak bisa menghindarinya, kamu adalah putranya, putra yang akan menjadi alasan kehancuran bumi ini,” ucap Bayangan hitam tersebut yang perlahan-lahan mulai menghilang.

“Enyahlah kau dari sini iblis j*****m!!” teriak Birendra yang membuat benda-benda yang ada disekitarnya pecah.

Bayangan hitam itu hanya tertawa sambil mengatakan kata-kata yang membuat Birendra merasakan rasa pusing yang begitu kuat yang membuatnya …

chap-preview
Free preview
KAKEK-KAKEK MISTERIUS
Hari menjelang malam Birendra masih asyik mengendarai motor matic kesayangannya, ia melihat langit mulai gelap dan benar saja dugaannya, rintikan air hujan mulai jatuh membasahi jalanan kota kecil Klaten. “Yah... yah… Hujan!” Gumam Birendra dengan sangat kesal dan hal itu membuatnya sedikit memukul kaca penutup speedometer pada motor matic miliknya. Birendra mulai memacu motor maticnya dengan sangat kencang dan berharapan ia bisa segera sampai di rumah, tapi itu semua hanyalah harapannya saja, karena semakin Birendra menambah kecepatannya maka semakin deras pula air hujan yang mengguyur badan Birendra. Kabut mulai turun dengan sangat cepat, membuat jarak pandang mulai pendek. Birendra memutuskan untuk mengendarai motor maticnya dengan perlahan saja, sembari ia mencari tempat berteduh. Namun semakin Birendra memperlambat laju kendaraannya maka, semakin lama ia rasa perjalanan ini, dan hal ini membuat dirinya bisa merasakan hawa dingin air hujan dan kabut tebal yang menembus jaket tebalnya sampai ke tulang. Brrtt… dingin sekali yang dirasa. “Ah, persetan lah dengan kabut tebal dan guyuran air hujan yang sangat lebat. Aku sudah tidak kuat berlama-lama di jalanan beraspal ini,” ucap Berindra memutuskan untuk memacu laju motor maticnya seperti orang-orang pada umumnya yang selalu tergesa-gesa pada saat waktu hujan. Birendra memacu motor maticnya dengan kecepatan delapan puluh kilometer per jam, ada sedikit rasa was-was dalam hati, kalau-kalau ban motornya selip atau tiba-tiba di depan ada kendaraan yang sedang melaju dan ia tidak bisa menstabilkan keseimbangannya dan akhirnya hal-hal yang tidak Birendra inginkan terjadi, merinding rasanya ketika membayangkan hal-hal buruk yang akan terjadi kepada dirinya. “Ah… s**t!,” pekik Berindra sambil ia membanting stir ke bahu jalan dan ia berusaha mengurangi kecepatannya dengan cara menarik rem tangan yang ada pada motor-motor matic pada umumnya. Jantungnya berdegup dengan sangat kencang ketika motor miliknya mulai mengeluarkan suara decitan ban motor dengan aspal jalanan. Jalanan yang licin akibat air hujan yang tercampur dengan debu, dan  krikil-krikil kecil membuatnya kehilangan keseimbangan, motor miliknya mulai oleng ke kanan ke kiri dan tiba-tiba… tepat di bahu jalan ada sebuah truk pembawa bahan-bahan logistic berhenti. Birendra yang melihat situasi yang tidak memungkinkan untuk dirinya dapat terhindar dari kecelakaan maut, membuat dirinya hanya bisa berserah diri kepada Tuhan, ketika ia mulai pasrah tiba-tiba saja motor miliknya dapat ia kendalikan dan tepat sepuluh sentimeter jarak antara motor maticnya dengan  truk barang-barang logistic dapat terhenti. Birendra menghela napas yang begitu dalam, “Syukurlah, aku selamat. Terima kasih Tuhan, terima kasih,” Ucap Birendra sambil ia memegang dadanya untuk memastikan bahwa jantungnya masih berdetak dengan normal dan ia ingin memastikan bahwa ia benar-benar terselamatkan dari kecelakaan maut. “Tidak lagi aku memacu motor maticku dengan kecepatan tinggi saat hujan lebat seperti ini,” ucap Berindra sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Setelah cukup lama ia menenangkan batinnya, akhirnya Birendra memutuskan untuk tetap melanjutkan perjalannya. Namun kali ini Birendra memutuskan untuk mencari tempat makan sembari ia menunggu hujan reda. Selama diperjalanan Birendra hanya bisa berdiam diri, ia tidak bernyanyi, ia juga tidak mengajak dirinya sendiri untuk berbicara. Hari itu entah kenapa atmosfir yang Birendra rasakan sangatlah berbeda, bukan karena ia hampir saja mengalami kecelakaan maut namun, ada sesuatu hal buruk yang akan menimpa dirinya ini. Tetapi ia tidak tahu hal buruk apa yang sedang menunggunya di depan. Wuss… suara mobil sedan yang berhasil mendahuluinya, entah kenapa perasaannya semakin tidak menentu ketika ia melihat mobil sedan itu melaju dengan kecepatan yang sangat tinggi. “Rendra … Rendra, kamu kenapa sih. Kenapa hari ini kamu selalu memikirkan tentang kehidupan, akhir kehidupan, kematian, boneka-boneka iblis. Ada apa dengan dirimu? Tidak mungkin aku bisa merasakan aura kematian, aura-aura negatif lagi. Karena aku yakin semenjak kejadian itu aku sudah kehilangan kemampuanku. Aku sangat yakin kemampuanku yang sudah hilang itu tidak mungkin muncul lagi, Kecuali… Ahh … sudahlah,” ucap Birendra berusaha menenangkan pikirannya agar tetap jernih. “Aih… kenapa dari tadi tidak ada tempat untuk berteduh. Kalau kaya gini bisa-bisa aku akan terserang sakit flu,” gumam Birendra dengan dirinya sendiri. ia mulai merasa kesal karena ia tidak segera menemukan tempat untuk berteduh. Guyuran air hujan yang semakin lama, semakin deras membuat tubuhnya menggigil dan sakit rasanya terkena guyuran air hujan. Ketika tubuh yang rapuh  terkena air hujan dengan intensitas yang sangat deras, akan membuatnya terasa begitu sakit, rasa sakitnya itu seperti tubuh di hujani oleh kerikil-kerikil kecil yang sangat banyak. Pucuk dicinta ulampun tiba, akhirnya Birendra dapat menemukan tempat berteduh, ia mulai membelokan motor matic miliknya ke arah gubuk kecil yang hampir roboh itu. Ketika ia mulai memakirkan motor matic di teras gubuk kecil itu, tiba-tiba saja ia melihat sosok kakek-kakek yang berkumis putih, dengan pakaian yang serba putih. Ia berdiri tepat dibelakangnya dan ia mulai tersenyum kepada Birendra ketika ia melihat pantulan dirinya dari kaca spion motor matic miliknya. Birendra yang melihat kakek-kakek tersebut tersenyum kepadanya hanya bisa berdiam diri, karena ia merasa kakek-kakek ini bukanlah manusia melainkan sesosok mahkluk astral yang sedang menunggu  sesuatu untuk ia bawa pergi. Karena perasaannya yang mulai tidak tenang akhirnya ia memutuskan untuk pergi saja dari gubuk kecil ini. ketika ia hendak menghidupkan motornya tiba-tiba saja kakek itu sudah berdiri tepat dihadapan Birendra, “Astaga ya Tuhan.” Pekik Birendra dengan suara yang melengking. Kakek-kakek itu hanya tersenyum kepadanya, senyumannya begitu mengerikan sehingga membuat bulu kuduk Birendra berdiri semua. “Kakek, maaf sebelumnya ya kek. Kakek bisa sedikit bergeser tidak ya kek?,” ucap Birendra meminta kepada kakek misterius itu dengan nada bicara yang sangat sopan. “ Saya mau melanjutkan perjalanan saya kek. Maaf ya kek sebelumnya,” Birendra menelungkupkan kedua tangannya kepada kakek-kakek misterius itu sebagai tanda permintaan maafnya kepadanya, karena harus menyuruh kakek  tua itu untuk bergeser sedikit, agar Birendra dapat mengeluarkan motornya dan ia bisa melanjutkan perjalanannya lagi. Kakek-kakek itu hanya tersenyum dan ia hanya mengeluarkan sepatah kata untuk Birendra,  “Tunggu,” Birendra yang tidak paham dengan maksud sang kakek hanya bisa mengeryitkan dahi, dan pelan-pelan ia mencoba untuk memundurkan motor miliknya, tapi entah kenapa motor milik Birendra terasa sangat berat, Ia  tidak bisa mengerakan motor miliknya, “Oke, tenang… tenang…  tenang Birendra,” gumam Birendra dalam hati. Birendra menarik napas yang begitu dalam dan ia mulai mencobanya lagi, tetapi tetap saja motor miliknya tidak mau bergerak maupun menyala. Bulu kudunya mulai berdiri, ia merasakan hawa yang sangat dingin mulai menyerah tubuhnya mulai dari ujung kaki dan perlahan mulai naik. Diliriknya  kakek-kakek itu dan dapat ia lihat dengan jelas bahwa kini ia mulai menyerigai mempertontonkan gigi-gigi tajamnya yang berwarna hitam dan keemasan. Birendra mulai memejamkan matanya dan ia mencoba untuk meminta pertolongan kepada yang di atas dan kepada leluhurnya. Ketika Birendra mulai memejamkan matanya, tiba-tiba saja ia mendapatkan penglihatannya secara sekilas, dan ia yang sudah muak dengan kemampuannya berusaha untuk segera membuka matanya kembali. Tetapi… matanya tidak bisa ia buka, matanya terasa sangat lengket sekali, dan tiba-tiba sekujur tubuh Birendra menjadi sangat kaku.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Scandal Para Ipar

read
708.1K
bc

Patah Hati Terindah

read
83.0K
bc

Pulau Bertatahkan Hasrat

read
640.1K
bc

Marriage Aggreement

read
87.0K
bc

Life of An (Completed)

read
1.1M
bc

JANUARI

read
49.1K
bc

Life of Mi (Completed)

read
1.0M

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook