DIA DATANG

1185 Words
“Sudah aku bilang, tunggu sebentar!” Deg! Jantung Birendra terasa berhenti sebentar, ia tahu betul bahwa suara yang sangat berat itu bukanlah suara yang berasal dari manusia. Suara itu terasa begitu sangat dekat, karena Birendra bisa merasakan suara itu bersuara tepat di samping telinganya. Deruan napas yang begitu berat dan hangat begitu terasa, sehingga membuat bulu kudunya berdiri semua. Udara yang saat itu terasa sangat dingin, tiba-tiba berubah menjadi sangat panas, rasa panas itu terasa seperti membakar tubuh miliki Birendra. Ketika Birendra mencoba untuk membuka matanya, dan ia berusaha untuk tetap dalam kondisi sadar, tiba-tiba saja terdengar sebuah lengkingan yang sangat menyakitkan pendengarannya, lengkingkan itu seperti lengkingan seribu orang, sangatlah keras dan menyakitkan. “Ayo Birendra, ayo! Kamu pasti bisa! Birendra, kamu pasti bisa. Tuhan… aku mohon tolong lindungi aku,” ucap Birendra yang mencoba untuk memfokuskan pikirannya dan mensugesti alam bawah sadarnya agar tetap tersadar. Tiba-tiba saja ia mendengar suara  yang sangat menggangu pendengarannya, “Itu dia, itu dia, itu dia. Dialah keturunannya, dialah yang terpilih, dia yang terpilih. Hi..Hi..Hi..” Birendra sangat yakin kalau ini adalah suara dari Legion, kumpulan dari roh-roh jahat yang ingin menghancurkan dunia, energi yang dimiliki mereka sangatlah besar, sehingga orang yang sudah kehilangan hampir seluruh kekuatannya tidak akan sangup menghadapinya. Tubuhnya terasa sangat panas, tubuh Birendra terasa begitu lemas tak berdaya, tak disadari ia mengeluarkan air matanya, ia menangis, ia memohon kepada-Nya untuk melindunginya, ia yakin Tuhan akan menolongnya, Tuhan akan mengirimkan bala bantuannya kepadanya. Birendra mencoba untuk tidak menghiraukan semua perkataan yang diucapkan oleh Legion, ia mencoba untuk tetap bertahan, ia tidak akan membiarkan Legion menguasainya.  “Aku bukanlah manusia biasa! Aku adalah Birendra!! Aku lah orang yang terpilih!! Kekuatanku lebih besar dari kekuatan kalian!!! Enyahlah kalian dari sini!!! Enyahlah!! Argh,” teriak Berindra dari dalam hatinya dan akhirnya dengan sekuat tenaga, ia berhasil membuka matanya.  Hal pertama yang ia lihat adalah sorotan lampu perpustakaan yang sangat menyilaukan mata, “Ah, shit... apa-apaan ini, kenapa begitu terang,” ucap Birendra sambil ia  menutup matanya dengan telapak tangan miliknya, dan ia mencoba untuk membenarkan posisi duduknya dan tiba-tiba ia tersadar, “Lhoh! Kenapa aku bisa disini? Kenapa aku,” ia mengumpat dalam hati karena semua hal yang sangat menyeramkan yang ia alami tadi hanyalah sebuah mimpi saja, tapi bagaimana bisa semua hal tadi hanyalah mimpi belaka saja. Tidak mungkin kalau ini semua hanya mimpinya saja, tidak mungkin. “Argh..,” Birendra  memukul-mukul kepalanya agar tersadar. “Kamu kenapa Ndra?,” Tepuk Eljo yang sedari tadi ia melihat tingkah laku Birendra yang sangat aneh. “Ah… Ti…dak ada apa-apa kok jo,” jawab Birendra dengan sangat gugup. Tidak mungkin ia menceritakan semuanya kepada Eljo sahabatnya, karena nanti yang ada kalau ia membagi kisahnya maka Eljo akan menertawakannya dan Eljo akan menganggapnya aneh, sudah cukup image Birendra anak aneh, sudah cukup. Ia  tidak akan membiarkan orang-orang menganggap dirinya sebagai anak aneh lagi. “Kamu yakin Ren?,” tanya Eljo lagi, ia ingin memastikan bahwa kondisi Birendra benar baik-baik saja. ia  hanya bisa mengangukan kepalanya saja, sembari ia mengusap-ngusap wajahnya yang terasa begitu berat. “Oke kalau begitu. Aku pulang duluan ya, atau kita mau pulang bareng?,” tannya Eljo sembari ia berpamitan kepadanya. Birendra yang belum sepenuhnya tersadar akhirnya melontarkan sebuah pertanyaan kepada Eljo. “Hah? Kamu mau pulang? Memangnya semua tugas kamu sudah selesai?,” tanya Birendra sambil ia  mengeryitkan dahi kepada Eljo. Eljo yang mendengarkan pertanya dari Birendra hanya bisa tertawa terbahak-bahak dan ia juga tidak lupa menunjukan pukul berapa sekarang,  “Astaga ini sudah pukul lima sore. Astaga kenapa aku tidak tahu ya kalau ini sudah pukul lima sore,” ucap Birendra sambil ia menggaruk-ngaruk kulit kepalanya yang sebenarnya tidak terasa gatal. “Kamu sih dari tadi kerjaanya cuma tiduran saja, untung saja hari ini si penjaga perpustakaan bukan si ibu galak itu jadi hari ini kamu aman,” ledek Eljo sembari ia menjinjing tas ranselnya yang berwarna hitam, dan kini ia berjalan meninggalkan Birendra sendirian di kantor. Tiba-tiba Eljo itu menabrak sebuah meja pendaftaran, sehingga membuat semua dokumen-dokumen penting yang ada diatas meja itu jatuh berhamburan kemana-mana. Betapa terkejutnya Birendra, ketika ia menyadari bahwa hal yang menimpa Eljo itu adalah hal yang Birendra mimpikan tadi dan ia menjadi sangat yakin bahwa tadi bukanlah mimpi semata. Birendra tetap mengawasi gerak-gerik temannya, dan benar saja tebakannya semua tingkah laku yang dilaku oleh Eljo sudah ia lihat dalam mimpinya. Birendra yang tidak ingin mengalami kejadian seperti tadi akhirnya memutuskan untuk segera mengemasi barang-barang miliknya dan segera bergegas untuk pulang. Ketika ia sedang menunggu lift, tiba-tiba saja ada seorang wanita paruh baya yang menatapnya dengan sangat sinis, wanita itu mengenakan pakaian yang serba putih, rambutnya terurai menjuntai, ia tersenyum kepada Birendra. “Tidak, tidak mungkin wanita tua itu adalah kakek-kakek yang ada dalam mimpiku tadi. Tidak mungkin,” gumam Birendra dalam hati dengan kondisi tubuh yang terasa begitu kaku, dan… tiba-tiba wanita paruh baya itu sudah berdiri tepat disamping Birendra, dan kini jarak tubuhnya dengan tubuh Birendra kurang lebih lima belas sentimeter. Ia rasakan auranya sangat kuat dan ia mulai mencium aroma yang sangat tidak sedap, aroma itu sangat menusuk rongga hidung miliknya. Kini wanita itu menatapnya dengan pandangan yang sangat dalam dan ia mencoba untuk mengaja Birendra berbicara, “Ndoro sampun wangsul,” Kata wanita paruh baya itu kepadanya, dengan gigi-gigi hitam yang terlihat sangat menakutkan. Birendra tidak paham dengan maksud pembicaraannya, karena setahunya hanya orang-orang yang berasal dari kaum bangsawan saja yang di panggil dengan sebutan ndoro dan ia juga masih di perpustakaan belum pulang, jadi apa maksud wanita paruh baya itu, kenapa dia memanggilnya dengan sebutan untuk para bangsawan dan mengatakan kepada Birendra bahwa dirinya sudah pulang. “Astaga!,” Birendra tersentak kaget ketika seseorang menepuk bahu belakangnya dengan sangat kencang. “Birendra! Kenapa kamu masih berdiri saja di depan lift. Ayo masuk, liftnya sudah terbuka,” ajak Eljo untuk segera memasuki lift. Birendra yang merasa tidak aman untuk menaiki lift sendirian akhirnya memutuskan untuk segera masuk kedalam lift bersama dengan Eljo. Ketika pintu lift mulai tertutup, ia bisa melihat dengan jelas bayangan wanita itu dari balik celah-celah lift. Wanita itu tersenyum kepadanya dan tiba-tiba saja mata wanita itu berubah menjadi hitam total dan semakin lama, semakin mendekatinya. “Tidak!,” teriak Birendra dengan sangat kencang, sehingga membuat Eljo kaget bukan main, dan ia mulai khawatir campur dengan rasa kaget. “Ren! Apa-apan sih kamu, tahu tidak suaramu itu membuat aku kaget. Kamu ingin membunuh sahabatmu ini? kamu sebenarnya kenapa sih? Kenapa dari tadi kamu begitu tidak fokus dan kamu pergi begitu saja meninggalkanku?,” tanya Eljo sambil ia memegang pundak Birendra. Ting… Bunyi pintu lift terbuka, dan hal itu sedikit membuat Birendra merasa lega, “Huft ..,” Birendra menghela nafas, dan Eljo hanya menatapku dengan tatapan yang penuh dengan kecurigaan dan ia pun langsung menarik aku keluar dari lift. Tetapi ketika Birendra melangkahkan kakinya dari dalam lift, tiba-tiba saja ia melihat wanita paruh baya itu lagi, dan kini ia berdiri tepat dihadapan Birendra dan  ia membawa sebuah kapak besar yang berlumuran darah segar. Mulutnya menyerigai mengeluarkan lidahnya yang sangat panjang dan tiba-tiba ia berlari ke arah Birendra yang sontak membuatnya berteriak “AAaa…”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD