DIA DATANG 2

1199 Words
Birendra menutup matanya dengan kedua telapak tangan miliknya, dan tiba-tiba saja ia merasakan badannya terpental begitu jauh. “Argh,” sakit sekali rasanya ketika badannya terpental dan membentur sebuah benda. Ia  mencoba untuk bangkit, “A-ku harus ce-pat pergi dari sini,” Suaranya tersengal-sengal, dan betapa terkejutnya Birendra,  ketika ia mencoba untuk merangkak, karena tiba-tiba saja ia melihat sebuah kaki telanjang dengan kuku-kuku yang sangat panjang, kuku-kuku itu berwarna hitam dengan ujung kuku itu terlihat sangat runcing.  “Ayo Ren.. Ayo! Kamu harus segera pergi dari sini. Jangan menengok keatas, jangan menengok ke atas. Fokus! Ayo!,” ucap Birendra sambil ia mencoba untuk tetap tenang dan ia terus berusaha untuk tetap merangkak sampai kedepan pintu keluar. Entah bisikan apa yang ada dalam pikirannya, sehingga membuat Birendra mencoba untuk menoleh kebelakang dan betapa terkejutnya ia ketika dirinya melihat sosok mahkluk astral yang sangat mengerikan. Rambutnya sangat panjang sampai menutupi tubuhnya, pakaiannya penuh dengan noda merah, mulutnya penuh dengan cairan berwarna merah kehitaman, dan yang lebih menakutkan lagi adalah ia tidak memiliki kaki, jadi yang dilihat oleh Birendra tadi bukanlah kakinya, melainkan tangan yang menjuntai sangat panjang. “AAaa… Kamu! Kamu!” Teriak mahkluk astral tersebut kepada Birendra yang  membuat kaca-kaca di dalam basemant retak, dan tanpa disadari oleh Birendra ia pun mulai mengeluarkan cairan merah kental yang sangat segar dari kedua bola mata miliknya. Napasnya terasa begitu sesak, ingin sekali rasanya berteriak namun, semua teriakannya hanya sampai kerongkongan saja. Tubuhnya mulai terasa begitu kaku, sakit rasanya ketika ia mulai memelintir jari-jari kaki dan tangan Birendra. Krek.. Krek.. Tek… bunyi tulang-tulang jemari Birendra yang dipelintir oleh mahkluk astral tersebut secara perlahan dan bersamaan. Tidak ada jeritan dari Birendra melainkan hanya sorotan mata ketakutan yang sangat besar, sorotan mata yang meminta belas kasihan darinya. “Ren! Rendra!  Birendra!,” panggil Eljo yang saat itu melihat Birendra jatuh tersungkur tak berdaya. Eljo begitu kebingungan dengan sikap yang di tunjukkan Birendra hari ini. Birendra terlihat begitu ketakutan serta ia merasa sejak tadi Birendra seperti ingin menyakiti dirinya sendiri. “Ren, kamu kenapa? kamu tidak apa-apa bukan?,” tanya Eljo sambil ia menepuk punggung Birendra. Jawaban pertama yang keluar dari mulut Birendra adalah kata, “Hah?” karena semua hal yang ia alami tadi hanyalah imajinasinya saja, tetapi ia merasakan semua itu seperti kenyataan, tetapi setelah ia tersadar ia masih berdiri di depan pintu lift. “Ren? Kamu baru gak enak badan?,” Tanya Eljo dengan rona wajah yang sangat mengkhawatirkan diri Birendra. Birendra menggelengkan kepalanya tanda bahwa ia baik-baik saja. “Kamu yakin kalau kamu tidak apa-apa? Wajah kamu sangat pucat lho dan kamu kelihatan sangat kelelahan.” “Iya Jo. Aku baik-baik saja.” “Kamu yakin? Ren kalau kamu ada apa-apa tolong bicaralah sama aku, jangan kamu pendam sendiri seperti ini,” ucap Eljo sambil ia membantu Birendra berjalan. “Jo, aku ke pakiran dulu ya. Aku mau langsung pulang aja, takut kemalaman,” ucap Birendra sambil ia mulai melepaskan pegangan Eljo. Birendra merasa ia harus segera meninggalkan basemant perpustakaannya karena ia benar-benar merasa sudah tidak kuat lagi menahan aura yang sangat negative dan aura itu terasa begitu menyakitkan. “Udah … kamu pulang saja sama aku, lihat itu tubuhmu, aku yakin kamu tidak akan kuat membawa motormu sendirian,” ucap Eljo yang merasa tidak tega melihat Birendra pulang sendirian dengan kondisi tubuh yang begitu lemah. “Udah kamu tenang saja Jo, aku baik-baik saja kok. lagi pula aku ingin pulang ke Klaten Jo,” ucap Birendra dengan suara yang terdengar begitu kecil, tetapi terdengar begitu jelas oleh Eljo. “Kamu mau pulang ke Klaten? Ngapain kamu pulang ke Klaten? Kita besok masih ada kelas lho,” tanya Eljo yang begitu penasaran dengan alasan Birendra yang tiba-tiba saja mempunyai niatan untuk pulang ke rumah kedua orang tuanya. “Yaaa .. aku hanya ingin pulang saja. aku lagi malas di apartement.” “Kamu baru ada masalah sama kedua orang tuamu? Atau kamu baru ada masalah dengan gebetanmu?,” tanya Eljo. “Aku tidak memiliki masalah apapun Jo, aku hanya ingin pulang ke rumah kedua orang tuaku. Aku begitu merindukan mereka,” ucap Birendra tanpa ia sadari ia meneteskan air mata. “Ren … kamu nangis? Kamu sebenarnya ada apa sih? Kenapa kamu begitu aneh seperti ini? apakah kamu mendapatkan kemampuanmu lagi?” Birendra hanya bisa tersenyum kecut kepada Eljo, karena ia merasa tidak nyaman dengan kemampuan istimewanya, karena kemampuannya itu membuat dirinya begitu tersiksa. “Ren, jangan bilang kemampuanmu kembali lagi,” ucap Eljo dengan suara yang begitu berat karena ia merasa begitu takut jika kemampuan Birendra kembali lagi maka ia akan melihat sahabatnya itu tersiksa secara mental dan fisik, karena mahkluk-mahkluk itu tidak hanya menyerang Birendra secara mental tetapi ia juga menyerang Birendra secara fisik juga. “Kalau aku sudah siap, maka aku akan menceritakannya kepadamu, jadi aku mohon ijinkan aku untuk pulang ke Klaten.” “Kalau begitu aku ikut denganmu, aku tidak ingin kamu kenapa-kenapa,” ucap Eljo sambil ia langsung naik ke atas motor matic milik Birendra. “Jo … kamu disini saja, toh kamu juga sudah punya janji dengan pacar kamu, jadi tolong biarkan aku pergi sendiri ya. I’m oke Jo,” ucap Birendra berusaha untuk meyakinkan Eljo bahwa dirinya baik-baik saja. “Tapi Ren ....” “Udah ya. aku pulang dulu keburu gelap ini,” ucap Birendra sambil ia mulai memacu motor matic miliknya. . . Birendra tidak habis pikir dengan semua hal yang ia alami hari ini. Bagaimana bisa ia bermimpi yang sangat menyeramkan dan dengan kondisi yang sangat sadar ia diserang oleh roh yang sangat jahat. Semua pikiran-pikiran akan keanehan hari ini terniang-niang didalam pikiran Birendra. Ketika ia sedang sibuk dengan pikirannya tiba-tiba saja hujan mulai turun dan ia mulai teringat dengan mimpi yang ia alami tadi. Mimpi itu terasa seperti kenyataan, da nada beberapa hal yang ia alami juga sudah ia lihat melalui mimpimnya. Ketika Birendra sedang asyik mengendarai motor miliknya, tiba-tiba saja ia melihat mobil sedan yang melaju dengan sangat kencang. “Mobil itu!,” Teria Berindra dengan sangat kencang, karena ia tahu betul bahwa mobil sedan itu akan mengalami sebuah kecelakan yang sangat besar dan begitu tragis. Tebakannya ternyata benar, mobil sedan yang ia lihat tadi akan mengalami kecelakaan, sekarang kondisi mobil itu sangat mengerikan. Betapa tragisnya kecelakaan itu sampai membuat mobil sedan keluaran terbaru itu hancur lebur, bangkai mobil itu terpisah menjadi dua bagian. Bagian pengemudi masuk kedalam bawah truk tronton pembawa kayu-kayu hutan yang sangat besar. sedangkan bagian penumpang terpental ke sisi sebelah kanan jalan dengan kondisi mobil terbalik. Birendra melihat begitu banyak cairan kental berwarna merah yang sangat segar berceceran di lokasi kejadian. Sekilas ia melihat arwah-arwah korban kecelakan itu sangat pucat, baju yang mereka kenakan compang camping penuh dengan noda-noda cairah kental merah yang sangat segar. Teriakan, tangisan dapat ia rasakan dari arwah-arwah para korban kecelakaan tersebut. Betapa terkejutnya Birendra ketika ia juga melihat sosok kakek-kakek berbaju serba putih sedang tersenyum kepadanya sambil ia mengucapkan sebuah kalimat yang dapat ia pastikan bunyi kalimat itu adalah “Selamat datang para pengikutku,” Deg! Walaupun posisi kakek-kakek itu jauh dari Birendra  namun ia dengan jelas dapat mendengarkannya. Siapa kakek-kakek itu dan apa hubungannya Birendra dengan kaum mereka? Sebuah tanda Tanya besar yang ada dalam pikiran Birendra saat ini.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD