SIAPA KAMU!!

1305 Words
Hari menjelang malam, akhirnya Birendra sampai juga dikediaman orang tuanya yang terletak disebuah desa kecil yang jauh dari  ingar-bingar keramaian kota. Birendra memakirkan motor matic matiknya di bahu jalan depan rumah. Sebelum Birendra masuk kedalam rumah, Birendra selalu membiasakan diri untuk mencuci tangan, kaki, dan tidak lupa Birendra membasuh wajahnya dengan air yang sudah disiapkan oleh kedua orang tua Birendra di depan rumah mereka. Ya, hal yang Birendra lakukan ini adalah sebuah tradisi yang sudah turun temurun dari nenek moyang mereka yang berasal dari suku Jawa. Menurut kepercayaan orang Jawa Kuno, seseorang yang habis bepergian diwajibkan harus membersihkan tubuh mereka terlebih dahulu sebelum ia memasuki pelataran rumah, hal itu dilakukan karena kepercayaan yang dianut oleh orang Jawa Kuno tentang seseorang yang habis bepergian pasti membawa sebuah kotoran, maupun hal-hal negatif yang mereka jumpai sewaktu di perjalananan pulang. “Ah, segarnya..” Birendra merasakan sensasi yang menyegarkan ketika Birendra membasuh wajahnya yang terasa sangat kotor dan lengket. Setelah Birendra membersihkan dirinya dengan air kendi depan rumah mereka, seketika juga Birendra dapat merasakan bahu kanannya terasa begitu ringan, seperti sesuatu beban yang menempel pada bahu kanannya telah pergi begitu saja. Krek… Bunyi pagar rumah Birendra yang terbuat dari kayu kuno tetapi begitu kokoh, yang selalu berbunyi ketika ada seseorang yang mencoba untuk membukanya. Birendra mulai menyalakan motor matic miliknya dan seketika Birendra memasukannya kedalam teras rumah milik keluarga Birendra. Hari itu atmosfir rumahnya terasa begitu berbeda. Rumahnya terasa begitu dingin, aura yang dikeluarkan rumahnya juga terasa begitu gelap, dan sedari tadi Birendra tidak melihat keluarganya yang biasanya kalau jam segini pasti sedang menikmati waktu ngeteh bersama di joglo kecil yang terletak di depan rumah . Birendra mencoba untuk tetap tenang, walaupun sebenarnya perasaannya sedikit gelisah. Entah kenapa ia merasa begitu ketakutan dan gelisah, ia merasa kalau ada sesuatu yang akan muncul dalam hidupnya, namun ia tidak tahu hal apa itu. “Tidak! Kenapa harus sekarang?” pekiknya, ketika Birendra mencium aroma bunga melati yang sangat kuat. Aroma ini terasaa seperti aroma yang Birendra rasakan ketika Birendra berada di dalam basement kantor. “Tidak mungkin arwah-arwah itu mengikutiku sampai kesini. aku yakin betul rumahku sudah di berikan pagar mistis yang tak terlihat oleh kasat mata, dan pagar itu di buat dengan tujuan untuk melindungi keluargku  dari serangan mahkluk-mahkluk astral yang jahat. Ya, tidak mungkin mahkluk itu sampai datang kesini.” Gumam Birendra dalam hati. “Birendra ... Birendra … Rendra …” Suara misterius yang mulai memanggil. Suara itu terdengar sangat lembut dan suara itu terdengar begitu familiar di dalam pendengaran Birendra. “Nak? Ayo bukakan pagar rumahmu.” Suara itu terus mengusiknya, ketika Birendra masih duduk termenung diatas motor matic miliknya, dan saat itu juga Birendra teringat suara siapa itu sebenarnya. Birendra hanya tersenyum sedikit ketika Birendra mengetahui suara siapa itu. “Kamu kira Aku tidak tahu siapa kamu wahai arwah penasaran! Aku bukanlah manusia bodoh yang bisa kamu tipu!” Makinya dengan suara yang begitu lantang kepada sesosok mahkluk astral yang sedari tadi selalu menggangunya. “Dasar anak bodoh!!” Maki suara misterius itu dengan suara yang sangat berat dan kering. Birendra tersenyum bahagia karena Birendra bisa membuat mahkluk astral itu marah kepadnya, dan membuatnya pergi meninggalkan rumah mereka. Birendra dapat merasakan kepergian mahkluk astral itu dari rumahnya. Birendra dapat merasakannya ketika semua lampu yang ada didalam rumahnya menyala dengan sangat terang, dan Birendra dapat merasakan aura yang berbeda. Aura itu terasa  jauh lebih baik daripada aura yang Birendra rasakan ketika Birendra pertama kali datang kerumah. Akhirnya Birendra memutuskan untuk segera masuk kedalam rumah dan segera bergegas untuk mandi. Ketika Birendra membuka pintu rumahku tiba-tiba ada sebuah hembusan angin yang sangat kuat dari dalam rumah. Hembusan angin itu membuatnya sedikit bergeser dari posisinya berdiri saat itu. Birendra yang terkena hembusan angin itu hanya bisa berdiam diri dan berfikir hembusan angin apa itu, bagaimana bisa dari dalam rumah mengeluarkan hembusan angin yang sangat kuat. “Ah, suadahlah. Mungkin itu hanya angin biasa, dan tidak perlu begitu dipikirkan.” Birendra mencoba untuk acuh tak acuh dengan hal yang Birendra alami saat itu. “Lhoh nak, kamu sudah pulang ya? Kok ibu tidak mendengarkan suara motor kamu ya tadi?” Tanya ibunya ketika ia melihat Birendra yang tiba-tiba muncul dari depan rumah. “Hah? Masa ibu tidak tahu kalau Birendra sudah pulang sedari tadi?” tanya Birendra  dengan wajah yang cukup polos dan dengan suara yang mulai serak. “Iya ibu benar-benar tidak mendengar suara motor kamu. Jadi tadi ibu terkejut  ketika melihatmu tiba-tiba muncul dari luar.” jawab ibu dengan muka keheranan “Ya, mungkin karena ibu tadi sedang di belakang rumah atau ibu sedang fokus mengerjakan sesuatu, sehingga membuat  ibu tidak bisa mendengarkanku.” Jawab Birendra dengan santai, walaupun Birendra tahu dengan betul kejadian apa yang telah terjadi kepadanya saat itu. “Hmm.. Bisa jadi ya. Ya sudah kamu segera mandi, habis itu kamu segera sembahyang ya nak. Ibu siapkan makan malam untukmu.” “Oke.” Satu kalimat yang terucap dari mulut manisnya dan Birendra segera berlalu meninggalkan ibu sendirian di ruang tamu rumah mereka. Tok.. Tok.. suara ketukan dari luar kamar mandi “Ya!” teriak Birendra dari dalam kamar mandi yang saat itu sedang bersiap-siap untuk melakukan ritual mandi seperti biasanya. “Nak, ibu pergi dulu ya kerumah bapak Sobri. Makanan sudah ibu siapkan, dan kamu nanti langsung istirahat saja setelah makan dan kamu tidak usah menunggu ibu, bapak, dan nenek kamu pulang ya nak.” “Oke.” Teriak Birendra dari dalam kamar maandi. Birendra mulai melakukan ritual mandinya dengan bersenandung di dalam kamar mandi, “Asyik bisa bersenandung saat mandi nih,” Perasaannya begitu bahagia ketika ia berada didalam rumah sendirian. Ya, walaupun Birendra mengetahui hal yang Birendra lakukan itu adalah hal yang pamali bagi sebagian besar orang Jawa, bersenandung didalam kamar mandi berarti mengundang mahkluk-mahkluk tak kasat mata untuk menemuimu. Birendra mulai mengambil gayung yang ada di pingir bibir bak kamar mandinya dan Birendra mulai menguyur sekujur  tubuhnya dengan air yang sangat menyegarkan. Untuk guyurkan pertama sampai guyuran keenam Birendra tidak merasakan sesuatu yang aneh sama sekali, namun saat memasuki guyuran ke-tujuh Birendra merasakan sesuatu hal yang sangat aneh yang Birendra alami saat Birendra menguyur sekujur tubuhnya dengan kondisi mata tertutup. Birendra merasakan ada sebuah mata yang sangat besar sedang menatapnya di sudut kamar mandi bagian atas. Birendra menggeleng-gelengkan kepalanya dan Birendra mulai mempercepat  ritual mandinya. Guyuran ke Sembilan Birendra dapat merasakan ada sebuah sentuhan yang sangat kasar di bahu kanan miliknya. Sentuhan itu membuatnya refleks menoleh kebelakang, dan Birendra tidak menemukan apa-apa kecuali tembok usang yang bercat krem yang sudah mulai mengelupas. Dan hal yang menegangkan pun dimulai ketika Birendra menolehkan kepalanya ke posisi semula. “AAaa…” Teriak Birendra dengan sangat kencang dan histeris. Bagaimana Birendra tidak terkejut, ketika Birendra menoleh ke depan, dan Birendra dipertontonkan dengan sebuah kepala tanpa badan sedang melayang tepat didepannya. Masih teringat dengan jelas kepala yang melayang itu penuh dengan belatung yang sangat menjijikan, mulutnya menganga dengan sangat lebar sehingga mengeluarkan lidahnya yang sangat panjang dan lidah itu terlihat sangat menjijikan karena lidah itu penuh dengan nanah dan cairan kental berwarna merah pekat. Hal itu sontak membuat dirinya langsung berlari kedalam kamar dan Birendra mulai mengunci dirinya dari dalam. Birendra segera mengambil pakaiannya dari dalam almari dan Birendra segera mengenakan pakaian itu. Ketika Birendra sedang terduduk di pinggir ranjang tempat tidurnya, tiba-tiba ada sebuah ketukan dari luar jendela kamar. Birendra langsung menoleh ke jendela kamarnya yang langsung menghadap ke sebuah lahan kosong yang penuh dengan pohon bambu. Saat itu Birendra masih bisa berpikiran positif, ketukan jendela itu adalah ketukan dari pohon bambu yang bergerak akibat hembusan angin malam. Tetapi hal itu berlangsung sebentar saja, ketika  ketukan itu lama-lama berubah menjadi sebuah ketukan yang sangat cepat dan tak berirama. Tok … Tok … Tok.. Tok.. ketukan itu semakin lama semakin cepat, dan tiba-tiba… Gorden kamarnya mulai menyembul seperti ada seseorang yang bersembuyi di belakangnya, dan…        
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD