GANGGUAN

1076 Words
Napas Birendra memburu dengan sangat cepat, jantungnya berdetak sangat kencang, sehingga membuatnya bisa mendengarnya. Kringat dingin mengalir dengan sangat deras dari dalam tubuh. Matanya mulai membelalak dengan sempurna ketika sembulan gorden putih kamar Birendra mulai bergerak. Gerakan itu semakin lama semakin mendekatinya, dan kini Birendra dapat melihat kaki dari sesosok orang yang bersembunyi di balik gorden putihnya. “Mahkluk apa itu? Kenapa tubuhnya semakin lama semakin membesar.” Gumamnya dalam hati. Birendra tidak tahu mahkluk apa sebenarnya yang sedang berusaha untuk menggangunya. Semakin ia bergerak maka semakin besar tubuhnya, kaki-kakinya sangat besar. Kakinya diselimuti dengan bulu  yang sangat tebal. Birendra yakin mahkluk yang berada di kamarnya ini bukanlah genderuwo, karena setahunya genderuwo itu memiliki bulu berwarna hitam, tetapi mahkluk ini memiliki bulu yang bewarna putih tulang. Mahkluk itu memiliki kuku kaki  yang sangat panjang dan runcing, kuku itu bewarna kuning kecoklatan. Mual rasanya ketika melihat sebuah kaki besar dengan kuku-kuku yang sangat mengerikan dan menjijikan. Kuku-kuku  itu juga mengeluarkan belatung yang sangat besar, belatung itu mulai bergerak-gerak begitu menjijikan. Kini suhu kamarnya terasa begitu panas, rasa panas ini terasa begitu menyesakan d**a. Sekilas Birendra melirik mahkluk astral itu dengan sudut matanya sebelah kiri, dan … Deg! Betapa terkejutnya Birendra ketika Birendra melihat sepasang bola mata merah yang sangat besar sedang melihatnya dari balik gorden. Sepasang bola mata merah dan besar itu, seperti ingin mengatakan sesuatu, seperti ingin berbicara. Sepasang bola mata merah itu mengeluarkan sebuah cairan kental berwarna merah pekat. Cairan itu semakin lama semakin deras alirannya, dan kini cairan itu mulai mengalir ke arahnya. Tubuhnya terasa begitu lemas, kaki bergetar dengan sangat kuat. Kakinya mulai tergenang dengan cairan merah pekat itu. Birendra mulai menangis, Birendra sangat ketakutan. “Ibu … Tolong selamatkan Birendra. Ibu ….” Kepala Birendra mulai terasa begitu menyakitkan, rasa sakit yang Birendra rasakan itu membuatnya semakin lama, semakin kehilangan kesadarannya. Pandangannya mulai kabur dan pelan-pelan hanya bayangan hitam yang Birendra rasakan. Ketika Birendra terkapar  tak berdaya tanpa bantuan siapa-pun, tiba-tiba Birendra teringat nasihat Alm. Kakek, jika Birendra mengalami hal-hal mistis, dan Birendra di ganggu oleh mahkluk astral tersebut,  jangan pernah terlitas didalam benaknya, kalau kamu merasa ketakutan, apalagi memohon ampun kepadanya. Kerena hal itulah yang akan membuatnya besar kepala dan ia akan semakin menggangumu dengan intensitas yang menyeramkan, dan hal itu juga yang akan membuat bentuk tubuhnya semakin menakutkan. Dan hal itulah yang akan membuat mahkluk astral itu memiliki energi yang sangat kuat, energi yang akan susah untuk dikalahkan. Energi yang sangat kuat itu ia dapatkan dari gabungan energi yang ia punya dengan energi yang kita punya yang ia serap, sehingga membuat kita kaum manusia yang lemah akan jatuh tak berdaya dihadapannya. Karena nasihat Alm. Kakek,  Birendra tersadar bahwa kita kaum manusia derajat dan kekuatan yang kita miliki lebih besar dari mahkluk apapun yang ada di muka bumi ini. “Hei kamu! Siapa kamu. Kenapa kamu lancang sekali memasuki wilayahku? Kamu pikir aku akan takut kepadamu?  aku mengatakan sekali lagi kepadamu, aku tidak pernah takut dengan apapun kecuali kepada Tuhanku.” Teriak Birendra dengan suara yang lantang kepada mahkluk astral yang sedang menggangunya. “HA … HA ….” Sebuah tawa besar yang mengelegar dengan begitu nyaring sehingga membuat semua barang-barang yang ada di dalam kamarnya menjadi bergetar semua. “Kamu siapa? Tunjukan wujud aslimu.” Teriak lagi kepada mahkluk astral itu. “Wahai kaum manusia yang lemah, kamu tidak akan sangup menatapnya. Aku adalah raja dari raja-raja kegelapan yang ada di muka bumi ini.” Tantang mahkluk astral itu dengan suara yang semakin lama semakin terdengar sangat berat dan sangat kencang. “Tidak! Tidak ada kaum manusia di muka bumi ini yang lemah! Kaum yang sangat lemah di muka bumi ini adalah kaum-mu wahai iblis j*****m!.” Tantangnya balik dengan suara yang lebih lantang dan kini posisinya sudah berdiri tepat di hadapannya. Perlahan Birendra mulai mendekati mahkluk yang sedang bersembunyi di balik gorden putih kamarnya. Kini kesadarannya dan keberaniannya perlahan mulai kembali lagi. Birendra percaya bahwa kaum mereka tidak akan pernah bisa membunuh kaum manusia, kecuali mereka melakukan tipu muslihat dengan cara merasuki jiwa manusia yang saat itu kondisinya sedang kosong, maka mereka baru bisa menyakiti kita. Jadi tidak ada alasan untuk kita  merasa takut kepada kaum yang tersingkirkan dari Surga. Birendra sangat yakin mereka tidak akan pernah bisa membunuhnya, karena untuk menampilkan wujudnya saja mereka sudah mengeluarkan begitu banyak energi. “Tunjukan wujud aslimu.” Bayangan putih dari balik gordennya yang semula sangat besar, dengan sepasang bola mata yang mengeluarkan cairan pekat bewarna merah  yang sempat menggenangi kakinya kini semakin lama semakin surut. Kini sosok bayangan putih itu semakin lama semakin mengecil dan menjauh dari tubuhnya. “Hei! Kamu mau kemana? Jangan pergi! Dasar pengecut! kembali kamu!” Birendra mencoba untuk   meraihnya namun hal yang Birendra dapatkan hanyalah angin semata. Birendra mencoba untuk mendekati jendela kamarnya dan Birendra mulai memberanikan diri untuk membuka gorden bewarna putih tulang ini. Entah kenapa tangannya mulai bergetar, rasa takut yang tadi sudah pergi dari dalam benaknya kini perlahan-lahan mulai muncul lagi. “Tidak! Ini tidak benar. Ini tidak benar. Tidak seharusnya aku merasa takut lagi kepada kaum bedebebah seperti mereka.” Decak kesalnya kepada dirinya sendiri karena Birendra mulai merasa ketakutan lagi. Kini perasaannya mulai bertambah kacau lagi ketika ada sebuah suara burung gagak yang sangat menganggu pendengarannya. Suara burung gagak itu terdengar seperti suara yang sedang mengelilingi rumahnya. Weekk … Weekk … Weekk …. Perlahan Birendra mulai berjalan mundur meninggalkan jendela kamarnya. Dan tiba-tiba lampu kamarnya padam. Deg! “Oh no! kenapa harus sekarang lampu rumahku padam.” Makinya dengan suara yang sangat lantang. Suara yang membuat burung-burung gagak yang sedang mengelilingi rumahnya terdiam. Birendra mulai meraba-raba sekelilingnya dengan harapan Birendra bisa segera keluar dari kamarnya. Ketika Birendra sedang meraba-raba benda yang ada di sekelilingnya, tiba-tiba saja indra perabanya menyentuh sebuah benda yang terasa sangat familiar namun sukses membuatnya berteriak dengan sangat kencang dan histeris. Birendra mulai menangis dengan tersedu-sedu, Birendra sudah tidak tahu apa lagi yang harus Birendra lakukan untuk menyelamatkan dirinya dari gangguan mahkluk astral ini. ketika Birendra berjalan mundur dengan sangat hati-hati tiba-tiba saja tubuh bagian belakangnya menabrak sebuah benda yang sangat besar. Birendra mencoba untuk tetap kuat, dan santai. Birendra mulai mengatur napasnya agar teratur kembali. Birendra menarik napas dengan sangat kuat dan Birendra keluarkan dengan perlahan. Tetapi semua hal yang Birendra lakukan itu terasa  percuma saja, karena kini tubuhnya terasa begitu ringan dan perlahan-lahan Birendra mulai merasakan sebuah sentuhan yang sangat kasar dari bawah kakinya. “Hallo ….” Suara yang Birendra dengar, ketika Birendra menundukan pandangannya.    
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD