“Ndra kamu kenapa nak?” tanya Agni yang sedari tadi melihat putranya terlihat begitu murung dan lesu.
“Aku gak kenapa-kenapa Bu,” jawab Birendra dengan lesu
“Yakin kamu gak kenapa-kenapa? kamu sakit?”
“Rendra gak kenapa-kenapa Bu.”
“Tapi wajah kamu keliatan pucat sekali lho Nak,” jelas Agni sembari ia memeriksa kondisi Birendra dengan cara menempelkan punggung tangannya pada dahi Birendra.
“Birendra gak kenapa-kenapa kan Bu.”
“Iya sih, suhu badan kamu normal, tapi kok kamu keliatan pucat sekali sih Nak. Kamu gak usah ke kampus dulu ya. Ibu khawatir dengan kondisi mu.”
“Bu … udah ya … Ibu gak perlu mencemaskan aku seperti itu. Toh aku kan gak kenapa-kenapa, kalau aku kenapa-kenapa aku pasti bilang kok sama Ibu,” jelas Birendra sambil ia menyeruput s**u coklat buatan Ibunya.
“Ya udah kalau gitu. Tapi kalau kamu merasa gak enak badan langsung kabari Ibu ya Nak.”
“Iya Ibuku tercinta. Ya udah kalau gitu aku berangkat dulu ya Bu,” pamit Birendra
“Lhoh kamu gak ngehabisin dulu makanannya?”
“Gak ah Bu, aku udah kenyang banget ini.”
“Ya udah kalau gitu Ibu bungkusin ya buat lauk kamu di kos-kosan,” ujar Agni sambil ia langsung mengambil tempat makan yang ia punya dan ia langsung menata masakannya ke dalam kotak makan yang akan di bawa oleh Birendra.
“Ya ampun Bu, udah gak usah. Toh disana aku bakal jajan kok sama teman-temanku.”
“Nak … gak baik jajan terus. Dah pokoknya ini kamu bawa dan harus kamu makan.”
“Heleh Ibu ii …”
“Nak kamu ati-ati ya, jangan ngebut dan jangan mainan hp di jalan bahaya.”
“Siap Ibu Negara,” goda Birendra sambil ia memberikan hormat kepada ibunya.
“Kamu siapa? Kenapa kamu masih terus mengganguku?” bisik Birendra ketika ia masih bisa merasakan kedatangan mahkluk astral tersebut.
Sedangkan Agni merasa ada yang ganjal dengan Birendra, ia merasa kalau kali ini aura yang dipancarkan oleh Birendra berbeda dengan biasanya. Kali ini aura yang di pancarkan dengan Birendra terlihat begitu gelap dan hal itu membuat bulu kuduk berdiri semua.
“Nak, semoga kamu baik-baik saja. doa ibu selalu menyertaimu,” ucap Agni ketika ia melihat kepergian putranya.
“Bu, Rendra udah berangkat ke Jogja pho?” tanya Candra
“Lhah Bapak ii habis dari mana to? Dari tadi itu Ibu sama Rendra nyariin Bapak kemana-mana lho.”
“Maaf Bu, tadi pagi Bapak langsung ke sawah mau ngeliat apa sawah kita sudah terairi dengan baik atau belum,” jelas Candra sambil ia menaikan sarungnya yang mulai terasa longgar.
“Bapak … Bapak .. sawah terus yang dipikirkan, mbok ya waktunya itu dibagi buat aku dan Rendra,” ucap Agni yang merajuk kepada Candra karena merasa tidak diperhatikan oleh Candra.
“Iyo … iyo … sesuk meneh Bapak bakal luwih perhatian karo Ibu dan Rendra,” ucap Candra sambil ia merangkul istrinya untuk masuk kedalam rumah (Iya … Iya … besuk lagi Bapak akan lebih perhatian lagi sama Ibu dan Rendra)
.
.
“Ndra! Dari mana aja kamu,”
“Ha? Maksud kamu apa?” tanya Birendra yang tidak tahu dengan maksud perkataan sahabatnya itu.
“Lhah ini bocah gak sadar apa kalau tadi skip kelasnya Pak Agus?” ucap Eljo dengan santainya.
“Lhah, sapa yang skip kelasnya Pak Agus? Aku dari tadi ikut terus lho, terus aku itu duduk di samping kamu. Masa kamu gak inget,” jelas Birendra dengan raut wajah yang terlihat kurang mengenakan.
“Ya elah Bro … kalau kamu tadi duduk di sampingku aku pasti udah ngobrol sama kamu.”
“Kamu gak usah bercanda kaya gitu deh Jo, orang kita dari tadi ngobrol terus kok. aneh kamu itu.”
“Asli Ren … daritadi aku ii cuma diem aja di dalam kelas. Sekarang logikanya aja deh, kita tadi ikut kelasnya pak Agus dan kamu tahu sendiri bukan Pak Agus itu gimana, apa kita bisa ngobrol di dalam kelas? Enggak kan,” jelas Eljo
Sedangkan Birendra hanya bisa menarik nafas dengan begitu dalam, karena ia tahu kalau tadi pasti dirinya telah ditutup oleh mahkluk astral itu. Entah apa yang diinginkan oleh mahkluk-mahkluk tersebut sehingga membuatnya menjadi seperti ini.
Entah kenapa sejak kematian kakeknya Birendra menjadi bisa merasakan kehadiran mahkluk-mahkluk astral yang ada di sekitarnya, padahal sebelum itu ia belum pernah melihat mahkluk astral dalam hidupnya.
“Owh iya Ren, tadi Gadis bilang sama aku, kalau kita besok bakal survey lokasi KKN di daerah Bantul.”
“Lhah besok itu? Gak jadi hari sabtu?”
“Yah ini bocah … ngelantur terus kalau omong. Besok itu kan hari Sabtu ini hari jumat makannya kita ada kelasnya pak Agus. Gimana sih kamu Ren.”
“Astaga … kenapa dengan diriku hari ini, kenapa jadi pikun kaya gini,” keluh Birendra menutupi kekhawatirannya.
“Ya elah kakek … kakek … ya udah ayo kita pulang sekarang, masih ingat belum letak kosanmu?” goda Eljo
“Ya inget lah … masa sama kosanku sendiri aku gak inget. Ngaco kamu tu.”
“Ya udah deh kalau inget .”
“Ya udah ayo kita pulang sekarang,” ajak Birendra yang sudah berdiri
“Ren, kayaknya kamu duluan aja deh yang pulang, ini aku tiba-tiba di suruh jemput cewek aku di kampusnya,” ucap Eljo sambil ia memperlihatkan isi percakapannya dengan pacarnya.
“Wooo … bucin … bucin … tadi aja ngajak pulang sekarang nyuruh aku pulang duluan.”
“Ya maaf Ren, namanya aja juga punya pacar. Wajar lah kalau kaya gini, emangnya kamu yang abadi jomblonya,” ledek Eljo sambil ia tertawa terbahak-bahak.
“Anjrit lah. Ya udah aku pulang duluan ya,” pamit Birendra dengan langkah kaki yang tiba-tiba saja terasa begitu berat. Ia merasa kalau kakinya ada yang memegangi dengan begitu kuat sehingga membuatnya kesusahan dalam berjalan.
“Ren!” panggil seorang gadis cantik yang memiliki perawakan yang begitu ideal, tubuhnya tegap dan jenjang, rambutnya hitam panjang sepinggul, matanya begitu cantik.”
“Astaga ! Gadis! Ngangetin aja ilho,” ucap Birendra yang merasa begitu kaget dengan kedatangan Gadis.
“Ya elah … kaya gini aja kaget. Kaya udah tua aja kamu iii,” balas Gadis yang merasa tidak terima ia disebut bikin kaget Birendra.
“Ya … Ya … kenapa?”
“Aku cuma mau bilang sama kamu, kalau besok kita jadi survey tempat KKN lho”
“Oke, tadi si Eljo juga udah bilang sama aku kok.”
“Udah bilang jamnya?”
“Belum sih, memangnya mau survey tempat KKN jam berapa?”
“Rencananya jam delapan pagi gitu biar gak kesiangan,” jelas Gadis kepada Birendra.
“Oke siap.”
“Siap beneran lho, jangan sampai telat! Aku udah janjian sama bapak kepala desanya kalau kita akan pergi ke rumahnya jam sepuluhan.”
“Iya … bawel amat sih jadi orang.”