Akhirnya setelah menunggu cukup lama Birendra dan teman-temannya akhirnya bisa bertemu dengan bapak kepala desa. Mereka pun mengatakan tujuan mereka kepada bapak kepala desa tersebut dan dengan senang hati niatan mereka pun di setujui oleh bapak kepala desa. Birendra dan teman-temannya merasa begitu senang karena proposal KKN mereka di setujui oleh kepala desa.
Setelah berbincang-bincang dengan kepala desa, akhirnya mereka memutuskan untuk kembali ke kota. Tetapi sebelum kembali ke kota beberapa teman KKN Birendra mengajak pergi ke pantai terlebih dahulu, namun Birendra menolaknya karena ia memiliki firasat buruk. Akhirnya dengan terpaksa Birendra dan Eljo kembali ke kota tanpa teman-teman mereka.
.
.
Setelah sampai di kos-kosan Birendra langsung masuk kedalam kamarnya, entah kenapa ia ingin sekali untuk beristirahat karena beberapa hari ini Birendra selalu di ganggu oleh mahkluk-mahkluk astral tersebut, sehingga membuat Birendra merasa begitu kelelahan.
.
.
“Nak, maafkan kakek yang datangnya terlambat. Maafkan kakek.” Suara kakek berubah begitu sangat memilukan hati, raut wajah kakek berubah menjadi murung.
“TIdak kakek. Kakek tidak bersalah. Birendra tidak apa-apa kakek. Birendra hanya bermimpi saja, tidak ada hal buruk yang menimpa Birendra.”jelas Birendra kepada kakek dengan nada suara yang penuh semangat. Birendra merasa begitu bahagia ketika ia bisa melihat kakeknya lagi.
“Birendra, coba bukalah tanganmu.” Perintah kakek dengan sangat lembut. Birendra yang selalu mematuhi semua perintah yang kakek berikan kepadanya, pada akhirnya membuat Birendra membuka tangannya yang sedari tadi selalu menggengam.
“Kakek, ini apa kakek?” tanya Birendra kepada kakek dengan dahi mengeryit.
“Birendra, itu adalah mustika merah delima. Mustika yang akan selalu melindungimu dari serangan kaum jin maupun kaum iblis. Pakailah mustika itu kemanapun kamu pergi.” Jelas kakek kepada Birendra.
Birendra hanya bisa memandangi mustika merah delima pemberian kakek. Mustika itu terlihat sangat cantik, warnanya sangat meneduhkan hati.
“Birendra, selain mustika merah delima yang akan menjagamu. Kakek juga akan mengutus abdi kakek untuk selalu menajagamu sampai kapanpun.” Lanjut kakek
“Abdi kakek? Maksud kakek apa?” tanya Birendra dengan sorotan mata penuh dengan tanda tanya yang begitu besar.
“Kamu akan segera mengetahuinya Birendra.” Kakek menggeser tubuhnya dan kini Birendra dapat melihat dengan jelas sosok mahkluk tingi besar dengan tubuhnya yang dilapisi bulu-bulu bewarna putih, giginya sangat tajam, matanya begitu besar.
“Kakek!” teriak Birendra kepada kakek dengan sangat histeris.
“Tenang Birendra, tenang. Ini adalah genderuwo putih yang akan menjagamu. Ini adalah salah satu mahkluk yang menunggu salah satu alas yang sangat terkenal di wilayah Jawa Tengah bagian utara. Alas yang penuh dengan misteri didalamnya.” Jelas kakek kepada Birendra.
Birendra yang masih belum paham dengan maksud dan tujuan kakek hanya bisa terdiam. Kakek mempersilahkan untuk sang abdi memperkenalkan dirinya kepada Birendra yang sedari tadi tidak memahami apa maksud dan tujuan kakek.
Suara abdi kakek terdengar sangat besar, suara itu membuat Birendra sangat ketakutan.
“Maafkan saya den bagus, saya akan mengubah suara dan penampilan saya menjadi selayaknya manusia normal pada umumnya.” Jelasnya kepada Birendra sambil ia mengubah penampilannya menjadi seorang manusia.
Kini abdi kakek telah merubah wujudnya selayaknya manusia pada umumnya.
“Abdi inilah yang akan selalu melindungimu Ren.”
“Tidak!” Birendra menolak pemberian kakek dan ia melempar mustika merah delima pemberian kakek ke luar kamarnya. ia tidak menyukainya. Ada sesuatu hal yang membuat Birendra merasa ketakutan. Dan hal itu yang tidak bisa ia ungkapkan dengan kata-kata.
Tiba-tiba wajah kakek berubah menjadi sangat menakutkan … lalu angin berhembus dengan sangat kencang dan muncullah suara itu lagi, suara yang membuatnya sangat ketakutan.
“Pergi!” teria Birendra dengan sangat kencang.
Jendela kamarnya bergetar dengan sangat kencang, semua barang-barang yang ada di dalam kamarnya berterbangan dan pada akhirnya terjatuh dan berserakan di lantai, angin bertiup dengan sangat kencang di dalam kamarnya sehingga memporak poranda kan kamar dan seisinya.
Birendra mencoba menutupi wajahnya dengan siku tangan sebelah kanannya, dan Birendra berusaha untuk berjalan kearah jendela untuk menutupnya. Sedangkan jarak Birendra dengan jendela cukuplah dekat namun kencangnya hembusan angin membuatnya susah untuk berjalan dan menutup jendela.
Kring … Kring … Kring ….
Suara alarm membangunkannya dari mimpi buruk, sekujur tubuhnya terasa begitu lemas, tubuhnya basah kuyup karena kringat panas dingin yang mengucur dengan deras dari seluruh badannya.
Birendra duduk termenung di atas bibir tempat tidurnya. “Birendra ini kenapa. Kenapa aku bermimpi dalam mimpi dan kenapa aku merasa mimpi itu seperti kejadian yang sangat nyata. aku bahkan tidak bisa membedakan antara kenyataan dan mimpi.” Gumamnya dengan dirinya sendiri dan Birendra mencoba untuk mencubiti pipi, dan tangannya.
“Aow … sakit.” Birendra merintih kesakitan karena cubitannya yang ternyata terasa menyakitkan untuknya.
“Oke, ini artinya aku sudah tersadar dan saat ini aku tidak sedang bermimpi.” Birendra bernafas lega ketika ia mengetahui kalau dirinya sudah tersadar dari mimpi buruk dan kini ia sudah merasa lebih aman.
Tok … Tok …. Sontak suara ketukan itu membuat Birendra terperanjat dan ia pun segera menarik selimutnya. Badannya mulai bergetar lagi. Detak jantungnya berdetak dengan sangat kencang.
“Aku mohon jangan. Aku mohon jangan lagi. Aku mohon.” Ucapnya dengan sangat lirih, pikirannya sudah kemana-mana. Fisik dan mentalnya sudah sangat lelah untuk menghadapi serangan-serangan dari kaum jin dan iblis lagi.
“Ren? Rendra! bagun udah magrib ini,” mendengar hal itu membuat Birendra berani membuka selimutnya yang sedari tadi ia gunakan untuk menutupi tubuhnya, Birendra menghela nafas lega ketika ia mengetahui siapa yang sedang mengetuk pintu kamarnya.
“Ya, sebentar.” Jawabnya dari dalam kamar. Birendra mulai berjalan ke arah pintu kamarnya, tetapi Birendra masih merasa khawatir dan takut jika yang mengetuk pintunya itu bukanlah Eljo melainkan adalah mahkluk misterius yang sedang menyamar sebagai sahabatnya.
Lumayan lama Birendra berdiam diri di depan pintu kamarnya, tangannya bergetar dengan sangat hebat saat Birendra mulai mencoba untuk memegang daun pintu kamarnya. “Eljo?” panggilnya sekali lagi kepada seseorang yang tengah berdiri di depan kamarnya. Hatinya mulai terasa gundah ketika tidak ada sahutan dari balik pintu kamarnya. Birendra mulai melangkah mundur sedikit demi sedikit, dan Birendra mencoba untuk memanggil Eljo lagi, “Jo?” kini panggilannya terasa begitu kencang daripada panggilannya yang sebelum-sebelumnya.
“Woy! Kenapa manggil-manggil terus?” teriak Eljo dari balik pintu kamar Birendra.
Birendra mulai bergegas keluar kamar ketika Birendra merasa semua keadaan baik-baik saja.
Birendra melihat sekeliling kosannya terasa begitu aman dan Birendra yakin ini bukanlah mimpi yang menyeramkan lagi. Birendra menganguk-angukan kepalanya beberapa kali yang ternyata sedari tadi anggukannya di lihat oleh Eljo yang sedari tadi berdiri di dapan kamar Birendra.
“Kamu kenapa Ren? Kok dari tadi aku ngeliat kamu kaya aneh banget gitu,” tanya Eljo dengan gaya bicara yang khas dan penuh dengan logat jawa medok.
Birendra menggaruk-garuk kulit kepalapanya yang tidak terasa gatal sama sekali dan Birendra hanya bisa meringis sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Birendra tidak ingin menceritakan pengalamannya yang mulai diterror oleh mahkluk-mahkluk astral lagi.