PENUNGGU TOILET KRAMAT

1093 Words
“Pak lurahnya baru pergi ke kantor Bupati,” jelas Gadis pada teman-temannya yang menunggu di ruang tamu kantor kelurahan tempat mereka akan melakukan KKN. “Yah, terus gimana dong? Kita udah datang jauh-jauh lho,” keluh salah satu anggota KKN yang merasa di PHP. “Tapi kamu udah janjian kan Dis?” tanya Birendra “Udah ya. aku udah janjian kemarin dan katanya bisa gitu.” “Ya udah kalau gitu kita pulang aja yuk,” ajak Eljo yang merasa percuma tetap berada di kantor kelurahan dengan keadaan kepala desa tidak ada di kantor. “Eee … jangan dulu … kata sekretaris desa, pak lurah nanti balik lagi kok kesini. Jadi kita tunggu dulu ya, nanggung lho kita udah sampai disini masa kita gak ketemu sama pak lurah,” jelas Gadis kepada teman-temannya. “Oke kalau gitu kita tunggu aja dulu, nanggung juga kalau kita langsung balik ke kota.” “Tapi Dis, kita nunggu disini gak apa-apa kan?” tanya Eljo yang merasa tidak enak menunggu di ruang tamu dengan begitu banyak orang. “Tadi kata seketaris desanya gak apa-apa kok kalau kita mau nunggu disini,” jelas Gadis sambil ia duduk di samping Birendra. “Oke kalau gitu.” Teman-teman Gadis mulai merasa bosan ketika mereka sudah menunggu kedatangan kepala Desa untuk waktu yang cukup lama. “Dis, bener gak sih kalau pak lurah nanti bakal balik kesini lagi?” tanya Eljo yang merasa begitu bosan menunggu kedatangan pak kepala desa. “Bener lho, tadi seketaris desa bilang gitu, kita tunggu sampai jam dua ya, kalau sampai jam dua bapak kepala desa gak datang-datang yaaa … kita pulang aja,” jelas Gadis pada teman-temannya. “Oke kalau gitu kita tunggu dua jam lagi ya,” ucap Birendra yang menyetujui usulan Gadis. “Gaes … ada yang mau beli minum gitu gak? Aku haus banget ini,” kata Rose yang merasa begitu haus. “Iya bener banget, aku juga ngerasa haus banget ini.” “Ya udah kalau gitu aku sama Birendra cari minum dulu gimana? terus kalian tunggu aja disini,” kata Eljo “Oke aku setuju.” Akhirnya Birendra dan Eljo pun pergi untuk mencari minuman untuk teman-temannya, tetapi saat Eljo dan Birendra berada di tempat pakir tiba-tiba saja perut Birendra terasa begitu sakit dan ia sudah tidak tahan lagi untuk menahannya dan mau tidak mau Birendra akhirnya menggunakan toilet tua yang berada di samping kantor kepala desa. Toilet itu terlihat begitu usang dan kotor, dindingnya saja banyak didapati dengan lumut yang begitu banyak, bahkan lantainya saja berwarna begitu kuning. Sekilas toilet itu terlihat sudah lama tidak di gunakan, namun Birendra mendengar ada sebuah suara di dalam bilik toilet yang berada di pojokan. Birendra juga melihat banyak air yang mengalir dari dalam kran air, yang artinya toilet ini pasti sering digunakan kalau tidak sering digunakan pasti tidak akan ada air dalam toilet tersebut. “Permisi … saya numpang buang besar, minta ijin ya,” ucap Birendra saat ia mulai melangkahkan kakinya kedalam toilet tersebut. Entah kenapa BIrendra merasa kalau ia sedang diawasi oleh seseorang tapi ia tidak tahu apa itu. Birendra berusaha untuk tetap berpikiran positif dan menganggap hal itu hanyalah perasaannya saja, karena ia yakin kalau toilet ini pasti sering digunakan oleh orang-orang sehingga untuk hal-hal mistis pasti tidak akan terjadi kepadanya. Namun hal itu hanyalah ekspektasinya saja, karena ketika Birendra hendak mengambil gayung di dalam bak mandi ia merasa kalau ada sebuah tangan yang menyentuh tangannya dengan begitu kuat dan hal itu sukses membuat Birendra merasa begitu ketakutan. Ingin rasanya untuk segera menghentikan hajatannya, namun ia tidak bisa menghentikan rasa sakit yang begitu kuat dari dalam perutnya. Ia merasa kalau saat ini perutnya terasa begitu sakit. “Oke .. tenang Ren … tenang … disini itu banyak orang jadi gak mungkin kalau kamu akan diganggu oleh mahkluk astral dan ini juga masih siang jadi kamu aman,” ucap Birendra pada dirinya sendiri. Disaat Birendra merasa begitu ketakutan tiba-tiba saja ia mendengar suara orang sedang mandi Byuuurrr … Byuurrr … “Anjimmm … siapa juga yang mandi di kantor kelurahan?” decak Birendra yang merasa aneh dengan suara orang mandi di lingkungan kantor kepala desa. Birendra yang merasa ada banyak kejanggalan akhirnya memutuskan untuk segera menyelesaikan presesi buang air besarnya. Setelah selesai Birendra langsung membuka pintu kamar mandi dan saat itu ia menemukan Eljo sedang berdiri di depan kamar mandi yang telah digunakan oleh Birendra. “Asemm iii, kamu ii bikin kaget orang aja. Kamu ngapain kesini?” ucap Birendra pada ELjo yang hanya diam saja dengan tatapan mata yang begitu kosong. “Jo!” teriak Birendra ketika ia tidak mendapatkan jawaban dari Eljo. “Aku mau masuk dulu,” ucap Eljo sambil ia langsung masuk kedalam toilet yang habis di gunakan oleh BIrendra. Sedangkan Birendra langsung pergi meninggalkan Eljo sendirian di dalam kamar mandi yang menurut Birendra sangat menakutkan. Namun yang bikin Birendra bertambah bingung dan kaget adalah saat ia sampai di tempat pakiran sepada motor, ia menemukan Eljo yang sedang asyik bermain game. “Lhoh Jo, kok kamu ada disini?” tanya Birendra yang terlihat begitu kebingungan. “Lhah, dari tadi aku disini ya … kamu aja yang terlalu lama buang air besarnya.” “Aslii … kamu jangan bercanda kaya gitu lah Jo,” “Lhah, siapa yang bercanda? Aku dari tadi nungguin kamu disini lho. Kalau kamu gak percaya coba kamu tanya Aji, aku dari tadi push rank sama Aji kok. iya kan Ji,” “Iya kok, daritadi Eljo sama aku disini,” ucap Aji yang mendukung perkataan Eljo. “Serius? Tapi di antara kalian pasti ada yang pergi ke kamar mandi kan?” “Gak ada lho Ren … memangnya kenapa sih? Kamu ngeliat setan di siang bolong?” goda Aji sambil ia tertawa. Ia merasa kalau saat ini Birendra sedang mencoba untuk menakut-nakuti teman-temannya, karena selama ini mereka telah mendengar begitu banyak kisah mistis yang berada di tempat mereka akan melakukan KKN. “Serius Ji … jangan bercanda lah. Gak lucu lho.” “Lhah, siapa emangnya yang lagi bercanda? Kita semua gak ada yang bercanda lho Ren. Memangnya ada apa sih di dalam kamar mandi?” timbal Eljo yang melihat ekspresi wajah  Birendra yang menggambarkan kejujuran dan rasa takut yang amat besar. “Ya udah,  mungkin aku tadi hanya salah lihat. Ya udah, ayo kita cari minuman sekarang. kasihan anak-anak udah nungguin kita,” ucap Birendra yang tidak ingin memperpanjang ceritanya. “Oke, kalau gitu kita ke minimarket di depan kantor kelurahan itu ya,” usul Eljo sambil ia menunjuk ke sebuah minimarket yang terletak di depan kanto kepala desa.    
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD