Seungha mengantar Sean pulang sampai ke depan rumah. Begitu sampai depan pagar, Sean langsung masuk ke dalam, tanpa mengucapkan sampai jumpa ataupun terima kasih pada Seungha.
Pemuda itu menghela napas menatap punggung Sean yang menghilang setelah pintu pagar kayu itu tertutup. Ada sedikit rasa bersalah yang hinggap dalam dirinya. Kakek Sean menyuruhnya mengajak gadis itu jalan-jalan untuk menghiburnya, tapi justru Sean pulang dengan pikiran yang kacau. Terbukti sepanjang perjalanan pulang gadis itu hanya diam saja.
Sean memang pendiam, tapi diamnya gadis itu tadi sangat berbeda. Seungha merasa ada sesuatu yang menganggu pikiran gadis berusia 20 tahun itu. Mungkin rasa sedih setelah melihat papan iklan pertunjukkan balet tadi. Setelah melihat iklan itu raut wajah Sean berubah total. Dari raut wajah dingin menjadi sendu.
Sekali lagi, Seungha menarik napas sebelum pergi dari sana. Ia berharap keadaan Sean besok kembali seperti sebelumnya. Walau artinya gadis itu akan kembali menjadi Sean si gadis dingin dan kasar, tapi itu jauh lebih baik dari pada melihat Sean yang diselimuti kesedihan seperti ini.
***
Jae Hwa menghela napas setelah keluar dari kamar Sean. Sudah 2 hari gadis itu mengurung diri di kamar. Sean hanya keluar untuk mandi, makan pun hanya sekali sehari jika gadis itu ingin. Sikap Sean ini membuat Jae Hwa khawatir.
Jae Hwa tahu sejak kecelakaan itu Sean memang lebih suka mengurung diri di kamar, tapi selama di sini gadis itu lebih banyak menghabiskan waktu di luar. Sean suka menghabiskan waktu dengan berada di sungai belakang bukit sepanjang hari.
“Dia tidak mau makan?” tanya Bum Tae saat melihat Jae Hwa kembali ke ruang makan.
“Tidak. Sean bilang, dia akan makan nanti saat merasa lapar,” jawab Jae Hwa lalu duduk di kursi makan di seberang suaminya.
“Apa terjadi sesuatu saat di kota? Dia jadi seperti itu setelah kembali jalan-jalan bersama Seungha.”
Jae Hwa mendesah pelan. “Entahlah.”
Wanita itu juga berpikir perubahan sikap Sean ini terjadi setelah gadis itu pergi jalan-jalan ke kota bersama Seungha.
“Apakah mereka bertengkar saat jalan-jalan?”
Jae Hwa menggeleng. Dia tidak yakin jika Sean dan Seungha bertengkar saat keduanya jalan-jalan ke kota. Jika mereka memang bertengkar, Sean pasti akan pulang dengan bersungut-sungut karena marah. Namun, malam itu Sean kembali dengan tenang. Bahkan saat dirinya bertanya, apakah mereka berdua bersenang-senang selama jalan-jalan, Sean menunjukkan sebuah foto dirinya yang diambil oleh Seungha. Bukankah itu artinya mereka baik-baik saja.
“Apa Sean merindukan ayah dan ibunya?” tanya Bum Tae mencoba menebak apa yang membuat cucunya itu mengurung diri di kamar selama dua hari terakhir.
“Mungkin dia merindukan mereka,” jawab Jae Hwa. Wajar jika Sean merindukan orang tuannya, hampir 2 minggu tinggal di sini kedua orang tuanya belum mengunjungi Sean. Padahal Yeon Woo janji mengunjungi Sean setiap akhir pekan.
“Sean mungkin merasa sedih. Ibunya bilang akan berkunjung setiap akhir pekan, tapi sudah hampir 2 minggu Yeon Woo belum datang kemari. Bisa saja Sean merasa dibohongi olehnya.”
Bum Tae mengangguk paham. Tentu saja Sean bisa merasa ditipu. Gadis itu berakhir tinggal bersama mereka selama musim panas juga karena ditipu oleh sang ibu.
“Kalau begitu hubungi Yeon Woo dan suaminya, suruh mereka kemari untuk mengunjungi Sean. Bahkan mereka juga tidak pernah menelepon untuk menanyakan putrinya,” ucap Bum Tae memberi perintah pada istrinya. Agak bingung juga kenapa putri dan menantunya tidak pernah menelepon untuk menanyakan keadaan Sean. Padahal niat mereka mengirim Sean kemari agar Sean bisa kembali seperti dulu, tapi mereka seolah tak khawatir dengan keadaan Sean di sini.
“Aku memang akan menghubungi mereka nanti,” sahut Jae Hwa.
***
Sean tidur dengan posisi meringkuk di bawah selimut, padahal cuaca di luar sana sedang panas-panasnya. Pagi tadi setelah menolak ajakan neneknya untuk sarapan bersama, Sean kembali lelap dalam tidurnya. Entahlah, dua hari ini dia tidak ingin pergi ke mana-mana. Bahkan sungai di belakang bukit yang selalu menarik perhatiannya tak membuat Sean beranjak dari kamar sederhana itu.
Sean membuka matanya perlahan ketika merasa udara di sekitarnya menjadi panas dan pengap. Benar, siapa yang tak merasa gerah jika seluruh tubuhnya ditutupi dengan selimut saat cuaca sedang panas-panasnya. Gadis itu menyibak selimutnya lalu mengubah posisinya menjadi duduk, menatap ke sekitar ruangan kamarnya. Dari jendela Sean bisa melihat terik sinar matahari di luar sana. Pantas saja ia merasa gerah.
Gadis itu lantas mencari ponselnya. Ia ingat meletakan benda itu di bawah bantal semalam. Begitu ketemu Sean segera menyalakan ponselnya. Dahi Sean berkerut saat melihat nama Seungha terpampang pada layar. Pemuda itu mengiriminya pesan lewat kakao talk.
“Ah benar, aku memberinya id kakao talk-ku kemarin,” gumam Sean baru ingat telah memberikan id kakao talk-nya pada Seungha saat perjalanan pulang dari kota.
Sean lantas membuka pesan Seungha itu, tapi tidak berniat membalasnya.
Seungha :
Kau sedang apa?
Sean kembali meletakkan ponselnya ke atas kasur lantai, mengabaikan pesan dari Seungha. Yah, dia memang hanya ingin membuka pesan itu, tapi tidak berniat membalasnya. Gadis itu kemudian beranjak menuju kamar mandi. Dia ingin mandi, badannya lengket karena keringat dan itu sangat tidak nyaman. Sean itu cinta kebersihan, dia tidak suka badannya berkeringat.
Sean masuk ke dalam kamarnya sambil mengusap rambutnya dengan handuk. Setelah mandi gadis itu merasa jauh lebih segar sekarang.
Sean mengambil ponselnya di atas kasur. Dahinya berkerut melihat ada beberapa pesan masuk, dan semua dari Seungha. Apa dia tidak punya pekerjaan?
Seungha :
Sean?
Kau tak balas pesanku?
Sedang apa?
Kau tidak pergi ke sungai lagi hari ini?
Kau sakit?
Sean memetuh pelipisnya yang tiba-tiba berdenyut. Membaca semua pesan dari Seungha itu membuatnya pusing. Kenapa pemuda itu sangat suka mengganggunya. Bukankah sudah jelas jika hanya membaca pesannya tanpa membalas itu artinya Sean tidak mau di ganggu, tapi Seungha si bermuka dua itu dengan bodohnya malah mengiriminya pesan beruntun. Menyebalkan.
Jari Sean lalu bergerak lincah untuk membalas pesan Seungha. Setidaknya harus dibalas agar pemuda itu berhenti. Jika tidak berhenti, berarti Seungha itu benar-benar bodoh.
Sean :
Berhenti mengirim pesan!
Atau aku blokir!
Baru Sean akan meletakkan ponselnya lagi, benda itu bergetar. Tanda ada sebuah pesan masuk, dan itu dari Seungha.
“Dia itu benar-benar bodoh ya?” gumam Sean kesal.
Seungha :
Keluar.
Aku ada di depan rumah.
Sean mengerutkan dahinya lagi setelah membaca pesan dari Seungha. Gadis itu lantas menoleh ke jendela kamarnya.
“Dia ada di luar?”
***
Sean keluar dengan mengenakan kaos lengan pendek berwarna biru muda dan celana jeans, rambutnya juga sudah disisir rapi. Gadis itu lalu membuka pintu pagar rumah kakeknya, dilihatnya Seungha benar-benar berdiri di luar sana bersama sepedanya. Tunggu, sepeda?
“Ada apa?” tanya Sean ketus, seperti biasanya.
“Ayo berkeliling,” jawab Seungha sambil menepuk sadel sepedanya.
Sean mengerutkan dahi menatap sepeda gunung milik Seungha itu. “Tidak mau.”
“Kenapa?”
Sean memutar bola matanya malas. Apa pemuda itu tidak tahu alasan Sean menolak ajakannya? Tentu saja karena Sean tidak menyukai pemuda itu.
“Kau pasti bosan di rumah terus, ayo bersepeda denganku.”
Sean melipat kedua tangannya di depan d**a lalu menatap Seungha sebal. Seungha membawa sepeda gunung, yang mana sepeda itu tidak memiliki boncengan dan dia mengajaknya bersepeda, lalu di bagian mana dirinya harus duduk?
“Lalu aku harus duduk di mana? Dasar bodoh,” ucap Sean sarkas.
Mata Seungha membulat tak percaya, Sean baru saja menyebutnya bodoh. Gadis itu adalah orang pertama yang menyebutnya bodoh. Semua orang di desa memujinya tampan dan cerdas, tapi Sean dengan santai mengatainya bodoh.
“Bodoh katamu?” tanya Seungha tidak terima.
“Iya bodoh, kau tuli?”
Seungha memegang tengkuknya yang meneggang. Baru kali ini ia merasa sangat kesal saat Sean bicara kasar padanya. “Bagaimana bisa kau dengan entengnya menyebut seseorang bodoh dan tuli? Wah, gaya biacarmu itu sama sekali tidak cocok dengan wajahmu!”
“Memang kenapa wajahku?”
“Wajahmu seperti Odette, tapi mulutmu itu seperti Odile.”
Sean terperangah menatap Seungha. Agak kesal saat pemuda itu menyamakannya dengan Odile, tapi lebih terkejut saat pemuda itu tahu kedua tokoh dari cerita Swan Lake. Seungha tidak terlihat seperti tahu dongeng-dongeng seperti itu.
“Jadi kau mau ikut tidak?” ajak Seungha sekali lagi setelah rasa kesalnya hilang.
Sean tampak ragu menatap Seungha dan juga sepedanya. Terbesit keinginan untuk ikut bersepeda dengan pemuda itu, tapi malu untuk menjawab ajakan pemuda itu.
“Kau bisa duduk di sini.” Seungha menepuk frame sepedanya.
Sean menatap frame sepeda Seungha, lalu membayangkan dirinya duduk di sana. Sean lantas bergidik ngeri, membanyangkan kedua tangan Seungha mengapit tubuhnya.
“Mau tidak?”
Pertanyaan Seungha itu membawa kesadaran Sean kembali.
“Tidak mau,” tolak Sean. Yang benar saja dia harus duduk di atas frame sepeda dan membiarkan Seungha mengapit tubuhnya dari belakang.
“Kenapa?”
“Kau cerewet sekali!”
Seungha menghela napas. Susah sekali mengajak Sean bersepeda dengannya. Pemuda itu menatap frame sepedanya lalu tersenyum saat tahu kemungkinan alasan Sean menolak ajakannya.
“Apa kau takut akan bedebar-debar saat aku mengapit tubuhmu dari belakang saat naik sepeda?” goda Seungha kemudian.
Mulut Sean terbuka lebar, tak percaya dengan perkataan Seungha barusan. “Aku berdebar-debar karena dirimu?”
Sean memutar bola matanya. “Kau gila!”
“Hei nona! Kau tahu semua gadis di desa ini berebut agar bisa dibonceng oleh pemuda yang kau sebut gila ini.”
Sean hampir saja muntah setelah Seungha mengatakan bahwa semua gadis di desa berebut agar bisa di bonceng olehnya. Ternyata selain bermuka dua, Seungha itu juga sangat narsis.
“Aku berbeda dengan mereka.”
“Aku tahu, makanya aku tertarik padamu.”