Bagian 12

1451 Words
Sejujurnya Sean sama sekali tidak mengerti, kenapa dirinya pasrah begitu saja saat Seungha menarik tangannya keluar dari warnet tadi. Entah karena terlalu malu atau terlalu lapar, otaknya lupa jika Seungha adalah pemuda yang harus ia hindari. Harusnya dia menepis tangan pemuda itu tadi, bukannya pasrah mengikuti pemuda itu seperti gadis penurut. “Kau tidak makan?” tanya Seungha saat melihat Sean hanya diam saja menatap makanan yang tersaji di atas meja. Mereka berdua duduk berhadapan di dalam sebuah restoran. Seungha bilang restoran ini punya menu tonkatsu yang enak, dan dia ingin Sean mencobanya, tapi sejak makanan itu di antar oleh pelayan restoran, Sean hanya diam menatap makanan yang berbahan dasar daging babi itu tanpa menyentuhnya. “Kau tak suka tonkatsu?” Seungha kembali bertanya, tapi lagi-lagi Sean hanya bergeming. Gadis berambut pendek itu sedang meratapi sikapnya yang pasrah saat Seungha menarik tangannya tadi. “Atau kau mau aku suapi?” Pertanyaan yang keluar dari mulut Seungha itu sukses menarik atensi Sean. Gadis itu menatap Seungha dengan tajam, lalu dengan cepat meraih pisau dan garpu untuk memotong tonkatsu di depannya. Setelahnya Sean memasukkan satu potong tonkatsu ke dalam mulutnya. Yang benar saja dia mau disuapi oleh Seungha. Seungha yang melihat tingkah Sean itu hanya tersenyum kecil. Merasa lucu karena Sean terlihat tak suka dengan usulnya sampai langsung menyatap tonkatsu itu padahal sejak tadi hanya ditatapnya saja. “Ternyata kau cukup hebat dalam permainan game online tadi,” ucap Seungha mencoba membuka obrolan dengan Sean. Tidak enakkan mereka makan berdua tapi hanya diam saja? Orang-orang yang melihat pasti mengira mereka sedang bertengkar, padahal sebenarnya Sean yang selalu mengabaikannya. Dan benar Sean tak berniat merespon perkataannya. Gadis itu hanya diam, fokus menyantap makanannya. Seungha sendiri tidak mengerti, kenapa Sean selalu mengabaikannya dan cenderung tak menganggap keberadaannya, seperti hari ini. Gadis itu bilang tak menyukainya karena Seungha menyebalkan, tapi Seungha tidak mengerti bagian mana dari dirirnya yang menyebalkan di mata Sean. Selama ini dia sudah bersikap ramah pada gadis itu dan selalu menemani Sean di desa karena tak punya teman di sana. Namun, Sean malah menyebutnya sebagai penguntit. Seungha kemudian menarik napas, dan kembali fokus pada makanannya. Pemuda itu tak berniat bersuara lagi, karena pasti Sean tak akan merespon perkataannya. Jadi, lebih baik dia diam saja. *** Jam menunjukkan pukul 7 malam, Seungha merasa masih terlalu sore untuk pulang sekarang. Jadi dia berinisiatif mengajak Sean jalan-jalan dulu. Barang kali ada tempat lain yang gadis itu ingin kunjungi. “Kau mau pergi ke mana lagi?” tanya Seungha. Mereka berjalan berdampingan. Hening. Lagi-lagi Sean mengabaikan perkataannya. Seungha menarik napas. Ia hampir frustrasi karena terus diabaikan oleh gadis itu. Apakah Sean sangat tak menyukainya, sampai bersikap seperti ini? Keduannya kembali berjalan dalam keheningan, menyusuri jalanan dengan lampu kelap-kelip yang menyala di sepanjang jalan. Sebenarnya suasana jalanan itu terlihat romantis karena nyala lampu kelap-kelip itu, tapi karena hubungan Sean dan Seungha yang tidak terlalu baik, suasana di antara mereka jadi agak menegangkan. Seungha kembali menarik napas saat memperhatikan pasangan yang berjalan melewati mereka. Lihatlah jalanan ini dipenuhi oleh dengan pasangan kekasih. Pemuda itu lantas melirik Sean yang berjalan di sampingnya. Mereka memang bukan pasangan, tapi orang-orang yang melihatnya pasti mengira bahwa mereka adalah pasangan kekasih yang sedang bertengkar. Kenapa? Karena raut wajah Sean yang begitu dingin. Lihatlah, gadis itu seperti sedang marah sekarang. Seungha menghentikan langkahnya saat menyadari Sean tak berjalan di sampingnya. Pemuda itu lantas berbalik, melihat Sean yang berhenti agak jauh darinya. Kedua alis Seungha bertautan, menatap Sean yang diam saja di tempatnya sambil menatap ke seberang jalan. Seungha mengikuti arah pandangan gadis itu. Sebuah papan iklan yang cukup besar terpampang di seberang jalan. Itu adalah iklan sebuah pertunjukkan balet dari sebuah sekolah seni. Seungha kembali menatap Sean. Entahlah, dirinya tiba-tiba merasa sedih melihat bagaimana raut wajah Sean saat ini. Itu raut wajah sedih karena kehilangan sesuatu yang berharga. Ia tahu betul bagaimana rasanya, karena Seungha juga pernah mengalaminya. *** “Yoo Sean!” Tidak tahu, Seungha tiba-tiba saja memanggil gadis itu. Nama Sean keluar begitu saja dari mulutnya. Setelah gadis itu menoleh padanya, Seungha justru diam saja. Dia hanya memanggil Sean, tapi tidak tahu apa yang ingin dia katakan pada gadis itu. Mungkin melihat raut wajah sedih Sean membuatnya tak tega, jadi tanpa sadar dia memanggil nama gadis itu. Mereka bertatapan cukup lama. Dari sorot matanya, sepertinya Seungha tahu apa yang sedang dirasakan Sean saat ini. Tentu saja gadis itu merasa sedih. Jika Sean benar-benar berhenti menari balet karena cedera di kakinya, pasti gadis itu sedih saat melihat papan iklan tadi. Hanya tebakan Seungha memang, tapi sepertinya memang begitu adanya. Pemuda itu tak berani bertanya, takut Sean marah karena ia menyebut balet. “Mau aku fotokan?” Lagi-lagi pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulut Seungha. Entah apa yang sedang dipikiran oleh pemuda itu. “Tidak perlu,” jawab Sean cepat lalu kembali melangkah. “Tidak apa-apa. Barang kali foto ini nanti bisa jadi kenangan,” cegah Seungha sembari mengeluarkan ponselnya. “Sayang sekali kalau tidak berfoto di sini. Banyak lampu kelap-kelip di sini.” “Aku tidak suka di foto.” Sean menyingkirkan ponsel Seungha dari depan wajahnya, lalu berjalan melewati pemuda itu. “Ayolah! Sekali saja. Jika kau menolak, aku akan sangat malu.” Sean menghentikan langkahnya, lalu berbalik menatap Seungha. “Orang-orang sedang memperhatikan kita,” ucap pemuda itu agak berbisik. Sean memperhatikan sekitarnya dan benar beberapa orang di jalan itu sedang menatap mereka sekarang. Mungkin karena Seungha memanggil namanya cukup keras tadi, mereka jadi pusat perhatian sekarang. Sean mendengus pelan. Untuk apa coba Seungha memanggilanya tadi, jika hanya membuat mereka jadi pusat perhatian. Menyebalkan. “Baiklah, sekali saja,” ucap Sean akhirnya. Agak kasihan juga melihat pemuda itu harus menaggung malu karena dirinya menolak di foto. “Oke, nanti kau gantian memotretku juga, ya?” “Terserah,” sahut Sean malas. *** Sean dan Seungha duduk bersebelahan dalam perjalanan pulang. Bukan keinginan Sean duduk di samping pemuda itu. Seluruh tempat duduk di dalam bus itu sudah terisi penuh, dan yang tersisa hanya di sebelah Seungha. Sean bisa saja berdiri selama perjalanan pulang, tapi mereka banyak berjalan kaki hari ini dan kakinya mulai terasa sakit. Setelah kecelakaan itu, kakinya memang mudah terasa sakit jika melakukan aktivitas yang berat. Jadi, mau tidak mau Sean duduk di samping Seungha. Gadis itu memilih duduk dekat jendela. “Berikan aku id kakao talk-mu, akan aku kirimkan fotonya nanti,” ucap Seungha setelah melihat hasil foto Sean di ponselnya. “Tidak perlu. Kau bisa menghapus foto itu,” tolak Sean. Lagi pula dia memang tidak ingin di foto tadi. Dirinya akhirnya mau difoto karena merasa kasihan pada Seungha. “Kenapa? Kau terlihat cantik di foto ini.” Seungha memperlihatkan foto Sean yang ia ambil tadi. Sean melirik sekilas tanpa minat, jujur agak ngeri saat pemuda itu menyebutnya cantik. “Mungkin saja kau mau mengunggah foto ini ke akun sosial mediamu.” “Aku tidak punya akun sosial media.” “Atau menunjukkan foto ini pada kakek dan nenekmu? Mereka pasti juga senang melihatnya.” Sean menghela napas. Dia harus melakukan sesuatu untuk membuat mulut Seungha berhenti bicara. Gadis itu kemudian mengeluarkan ponselnya, menyalakan benda itu lalu menunjukkan id kakao talk-nya pada Seungha. Dengan begini, harusnya pemuda itu akan menutup mulutnya, kan? “Oke, sudah aku kirim fotonya.” Sean memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas selempangnya. Tak berniat melihat foto yang baru saja Seungha kirim, yang terpenting pemuda itu tidak akan mengganggunya lagi sekarang. Sean menatap kosong keluar jendela. Ingat lagi pada papan iklan pertunjukkan balet dari sekolah seni yang ia lihat di jalan tadi. Rasa rindu kembali tampil dalam sebuah pertunjukkan balet, menyelinap dalam diri Sean. Andai saja kecelakaan itu tak pernah terjadi padanya, pasti sekarang Sean masih bisa menari balet seperti dulu. Impiannya dalam sekejap terenggut karena kecelakaan itu. Dalam sekejap dirinya jatuh ke dalam tempat bernama kehancuran. Butuh waktu bagi Sean melewati titik di mana dirinya benar-benar merasa hancur, saat tahu ia tak bisa menari lagi. Dan sampai sekarang Sean masih berusaha menerima kenyataan, bahwa dia dan balet memang harus berpisah. Selamanya. *** Seungha memperhatikan Sean yang menatap keluar jendela. Pemuda itu mendengar Sean beberapa kali menghela napas dan itu membuatnya agak khawatir. Ia ingat bagaimana raut wajah Sean ketika melihat papan iklan tentang pertunjukkan balet tadi. Sean terlihat begitu sedih tadi dan sekarang pun pasti masih begitu. Sejujurnya, Seungha ingin mencoba menghibur gadis berambut pendek itu, tapi ingat perangai Sean, gadis itu pasti tak akan menyukainya. Beruntung jika Sean hanya menatapnya tajam, bagaimana jika kata-k********r yang keluar dari mulutnya. Ingat Sean itu sangat pandai bicara kasar dan juga sangat kasar Jadi, Seungha memutuskan untuk tetap diam sambil memperhatikan gadis itu diam-diam. Setidaknya gadis itu punya paras yang cantik dan dia tidak akan bosan terus memperhatikan Sean selama perjalanan pulang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD