Sean dan Seungha duduk di kursi bagian paling belakang. Seungha duduk di samping jendela sebelah kiri dan Sean duduk di samping jendela sebelah kanan. Kursi bagian belakang bus itu kosong, hanya mereka berdua yang duduk di sana, tapi Sean sengaja duduk jauh dari Seungha. Alasannya? Karena ia tak menyukai pemuda itu.
Selama perjalanan Sean hanya menatap kosong ke luar jendela. Gadis itu sama sekali tidak tertarik dan tidak berniat mengobrol dengan Seungha. Sedangkan pemuda itu lebih suka menatap ke arah Sean. Menurutnya pemandangan di sepanjang jalan itu kalah menarik dari paras Sean yang cantik. Sejak awal Seungha memang mengakui jika Sean punya wajah yang cantik, hanya saja kepribadian gadis itu yang buruk. Dingin, suka mengabaikan orang lain, tidak suka bersosialisasi, dan jangan lupakan Sean yang suka bicara kasar. Rasanya kebiasaan bicara kasar Sean itu sangat tidak cocok dengan wajahnya yang cantik.
Setelah 30 menit melaju, bus yang mereka tumpangi akhirnya berhenti di sebuah halte. Sean mengedarkan pandangannya ke sekitar begitu dia turun dari bus. Rasanya seperti pertama kali melihat sebuah peradaban. Seminggu berada di desa, yang Sean temui hanya gunung serta sawah, dan sekarang dia bisa melihat betapa modernnya sebuah perkotaan. Jalan beraspal, gedung-gedung tinggi, kafe, restoran dan pusat perbelanjaan. Mungkin sekarang Sean terlihat seperti gadis udik dari desa yang baru pertama kali menginjakkan kakinya ke daerah perkotaan.
“Kau mau ke mana dulu? Kafe? Tempat karaoke? Pusat perbelanjaan? Atau ke bioskop?” tanya Seungha setelah turun dari bus.
Tak menjawab pertanyaan Seungha, Sean memilih mengeluarkan ponselnya dari dalam tas selempang yang ia kenakan. Setelah benda itu menyela Sean segera membuka aplikasi maps lalu mengetik sesuatu di kolom pencarian.
Warnet terdekat.
Beberapa saat kemudian muncul daftar warnet terdekat beserta rutenya. Lihatlah, tanpa Seungha dia juga tidak akan tersesat. Selama ada ponsel dan aplikasi maps, Sean yakin bisa pergi ke mana pun dan pulang dengan selamat.
Sean kemudian memilih satu dari daftar warnet terdekat dengan rating yang bagus. Gadis itu lalu berjalan mengikuti petunjuk dari aplikasi maps itu, meninggalkan Seungha yang kebingungan melihat dirinya berjalan menjauh dari pemuda itu.
Melihat Sean berjalan menjauh, Seungha segera menyusul gadis itu. Ini pertama kalinya Sean pergi ke sini, mungkin jika di Seoul Sean tak akan tersesat karena sudah hafal jalan, tapi di sini? Sean tidak tahu apa-apa. Jika sampai gadis itu tersesat dan hilang , tentu akan sangat merepotkannya.
“Kau mau ke mana?” tanya Seungha setelah berhasil menyusul Sean. Sekarang dia berjalan di samping gadis itu.
Sean sama sekali tak berniat menanggapi atau menjawab pertanyaan Seungha. Gadis itu hanya fokus pada layar ponselnya. Hari ini dia akan menganggap Seungha tidak ada di sampingnya, seolah-olah dia sedang pergi sendiri. Jadi, Sean sengaja mengabaikan pemuda itu.
***
Setelah berjalan 15 menit, mereka akhirnya masuk sebuah kawasan yang cukup ramai. Seungha menatap takjub pada Sean yang berhasil sampai di kawasan ini tanpa bertanya pada siapa pun termasuk pada dirinya.
Mereka sampai di kawasan di mana sepanjang jalan terdapat deretan pertokoan, kafe, restoran, dan bahkan tempat kursus. Seungha menatap ke sekitar tempat mereka berada, ia ingat daerah ini cukup dekat dengan sekolah Hyunji.
Seungha mengikuti Sean berjalan menyusuri trotoar. Pemuda itu melirik pada Sean yang tampak fokus pada ponselnya sambil sesekali membaca papan nama tempat yang mereka lewati. Mereka sudah melewati beberapa kafe, toko, dan tempat karaoke, tapi Sean masih terus melangkah, membuat Seungha penasaran tempat apa yang gadis itu cari.
“Kau sebenarnya mau pergi ke mana?” Seungha akhirnya bertanya setelah diam sambil mengikuti Sean. Jujur kakinya mulai lelah sekarang. Mereka sudah berjalan selama hampir 30 menit.
Sekali lagi Sean mengabaikan pertanyaannya, membuat pemuda itu menghela napas karena merasa jengkel. Dia tidak pernah tahu jika di abaikan oleh Sean rasanya sangat mengesalkan seperti ini.
Seungha melihat sebuah sepeda motor melaju dengan cepat ke arah Sean. Gadis itu fokus pada ponselnya, jadi tidak melihat ada sebuah sepeda motor yang melaju cepat ke arahnya. Beruntung Seungha dengan cepat menarik Sean dalam lindungannya. Jika tidak Sean mungkin sudah jatuh terkapar bersama pengendara motor tadi.
Sean tertegun, ketika Seungha menariknya dengan cepat. Ia sempat melihat sebuah motor melaju dengan cepat dan hampir menabraknya tadi. Seketika bayangan kecelakaan yang ia alami setahun lalu kembali berputar di depan matanya.
“Kau tidak apa-apa?” tanya Sungha dengan panik, tapi setelahnya pemuda itu mengomel karena Sean terlalu fokus pada ponselnya sampai tidak memperhatikan jalan di depannya. Hampir saja Sean mengalami kecelakaan, jika saja dia tidak cepat menarik gadis itu dalam lindungannya.
“Harusnya matamu itu juga kau gunakan untuk melihat jalan bukan hanya fokus pada ponselmu! Kau lihat, dirimu hampir saja tertabrak motor jika aku tidak cepat menarik tanganmu!”
Sean hanya bergeming saat Seungha mengomel. Kali ini bukan mengabaikan pemuda itu, tapi Sean tidak bisa mendengar apa yang Seungha katakan. Telinga gadis itu berdengung dibarengi dengan berputarnya bayangan kecelakaan setahun lalu.
“Sean,” panggil Seungha ketika melihat gadis itu hanya diam saja seperti orang linglung. Pemuda itu jadi semakin panik karena Sean hanya diam saja saat ia mengomel.
“Hah?”
“Kau tidak apa-apa?”
Sean mengerjapkan matanya gugup ketika kesadarannya kembali pulih. Gadis itu lalu menarik napas perlahan, untuk menenangkan dirinya. Melihat kembali bayangan kecelakaan yang ia alami setahun lalu membuat Sean tiba-tiba panik dan gugup. Dirinya hampir saja mengalami kecelakaan yang sama jika saja Seungha tidak cepat menariknya tadi. Untuk ini Sean berterima kasih pada pemuda itu.
“Kau tidak apa-apa?” Seungha kembali bertanya karena Sean masih diam saja.
“Ya,” jawab Sean singkat lalu kembali berjalan, tapi Seungha dengan cepat menarik tangannya.
“Sebenarnya kau mau ke mana?”
“Bukan urusanmu!” Sean menarik tangannya lalu kembali berjalan meninggalkan Seungha.
“Bukan urusanku bagaimana?” Seungha menyusul gadis itu lalu berhenti tepat di depan Sean. Pemuda sekarang berbalik menatap Sean yang juga menatapnya dengan kesal. “Kakekmu menyuruhku untuk menjagamu!”
“Kalau begitu pura-pura saja tidak mendengar perintah kakekku! Aku bisa mengurus diriku sendiri!”
Seungha menghela napas, ternyata selain dingin dan kasar Sean juga keras kepala.
“Mana bisa aku seperti itu?”
“Bisa. Kau hanya perlu mengabaikanku seperti aku mengabaikanmu!”
Kedua anak muda itu saling bertatapan. Saling menatap tajam pada satu sama lain. Sean benci karena Seungha suka mengurusi hidup orang lain. Sementara Seungha tidak mengerti kenapa Sean sangat keras kepala.
“Seungha oppa!”
***
Sean dan Seungha menoleh ke sumber suara. Hyunji bersama beberapa teman sekolahnya berjalan ke arah mereka.
Sean mendengus malas lalu membuang muka ketika melihat gadis berseragam SMA itu melingkarkan lengannya pada lengan Seungha.
Centil sekali gadis ini, batin Sean.
“Oppa, kau mau ke mana?” tanya Hyunji dengan suara manisnya membuat Sean mendengarnya merasa mual. Ia tidak mengerti kenapa para gadis seperti Hyunji dan juga Soo Jin, adiknya suka sekali berbicara dengan suara manis seperti tadi. Rasanya terdengar menyeramkan di telinga Sean.
“Menemani Sean jalan-jalan,” jawab Seungha kikuk, karena sebelum Hyunji datang dia dan Sean baru saja bertengkar, jadi suasana di antara mereka terasa agak canggung. “Kau sendiri mau ke mana?”
“Aku dan yang lain akan pergi ke tempat kursus balet.”
Seungha buru-buru menoleh pada Sean. Ia ingat kata-kata nenek Jae Hwa soal Sean yang menjadi sensitif setiap kali mendengar soal balet. Dia takut Sean kan marah seperti waktu itu.
Pemuda itu menarik napas lega ketika melihat Sean hanya memalingkan wajah. Setidaknya gadis itu tidak marah seperti terakhir kali.
“Hyunji-ya aku harus pergi sekarang.”
Melihat Sean pergi, Seungha buru-buru melepaskan tangan Hyunji yang melingkar di lengannya lalu menyusul Sean.
Sementara Hyunji menatap punggung Seungha yang sekarang sedang mengejar Sean. Rasanya aneh melihat pemuda itu dekat dengan gadis lain. Selama ini Seungha hanya dekat dengannya. Walau sebenarnya pemuda itu dekat dengan semua orang di desa, tapi memang paling dekat dengannya. Bahkan orang-orang menyebut mereka serasi.
Rasanya seperti mendapat saingan.
***
Seungha menatap takjub pada Sean yang sedang fokus bermain game online. Dengan mata berapi-api Sean menatap layar komputer di depannya, sementara tangannya bergerak lincah di atas keyboard dan juga mouse.
Seungha pikir setelah sampai di kota Sean akan pergi ke pusat perbelanjaan atau kafe, tapi ternyata Sean pergi ke sebuah warnet. Gadis itu sedang fokus pada game online yang sedang ia mainkan, sementara Seungha duduk di sampingnya sambil memperhatikan Sean.
Melihat keahlian Sean memainkan game online itu, membuat Seungha takjub. Tidak menyangka bahwa gadis seperti Sean bisa sangat pandai dalam sebuah permainan game online. Bahkan Sean meraih pangkat yang jauh lebih tinggi darinya dalam permainan itu. Sungguh di luar dugaan.
Sean menarik napas sambil menyadarkan punggungnya pada kursi ketika ia berhasil memenangkan game online yang ia mainkan. Seminggu lebih Sean tak bisa memainkan permainan ini. Di tempat kakek neneknya tidak ada wifi, Sean hanya mengandalkan paket data dan itu sangat mahal. Sean harus berhemat karena sang ibu sekarang mengurangi uang sakunya. Jadi ketika ada kesempatan pergi ke kota, tempat tujuan pertama Sean adalah warnet.
“Kau tidak lapar?” tanya Seungha sembari melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Mereka sudah berada di warnet itu selama lebih dari 1 jam.
Sean hanya diam tak berniat menjawab pertanyaan Seungha. Setelah pertengkaran di pinggir jalan tadi gadis itu jadi semakin enggan menanggapi Seungha, tapi yang terjadi selanjutnya justru membuat Sean malu. Sangat malu sampai ingin menyembunyikan wajahnya.
Krukk....
Perut Sean yang berbunyi cukup keras itu cukup menjadi jawaban untuk pertanyaan Seungha tadi. Pemuda itu lalu terkekeh pelan melihat Sean yang sedang menunduk karena menahan rasa malunya. Seungha tahu pasti gadis itu merasa sangat malu karena perutnya berbunyi sekeras tadi. Untung saja hanya dia yang mendengarnya karena keadaan warnet yang cukup bising dengan suara musik yang mengalun.
“Tak perlu malu. Ayo keluar, aku tahu restoran enak di dekat sini,” ajak Seungha sambil bangkit berdiri.
Sean bergeming di tempatnya. Ia masih malu setelah Seungha mendengar perutnya berbunyi seperti tadi. Rasanya Sean ingin meleleh saja sekarang lalu menghilang. Bahkan saking malunya Sean tak berani mengangkat kepalanya untuk sekedar menatap Seungha, padahal tadi dengan angkuhnya dia selalu mengabaikan pemuda itu.
Melihat Sean masih bergeming di tempat duduknya, Seungha berinisiatif menarik tangan gadis itu lalu mengajaknya keluar. “Ayo! Atau kau tetap di sini dan kelaparan.”
Sean agak kaget saat Seungha tiba-tiba menarik tangannya, tapi anehnya dia membiarkan pemuda itu memegang tangannya dan menariknya keluar dari warnet. Padahal sebelumnya Sean menepis tangan Seungha yang menarik tangannya.