Bagian 10

1504 Words
Raut wajah Sean berubah menjadi kesal saat melihat Seungha sedang bicara dengan kakeknya di teras rumah. Sudah sangat berharap melihat sang ayah di depan sana, ternyata yang datang adalah orang yang sengaja Sean hindari. Menyebalkan. Sean memperhatikan Seungha yang sedang mengobrol dengan kakeknya. Mengamati pemuda itu selama beberapa menit, membuat Sean sadar jika Seungha punya kemampuan mempengaruhi orang lain. Lihat kakeknya, pria itu bahkan percaya dengan semua hal konyol yang keluar dari mulut Seungha. “Oh, Sean-ah. Hai,” sapa Seungha dengan ramah saat melihat Sean berdiri bersandar pada pintu. Sean berdecak pelan sambil membuang muka. Sean-ah? Sok akrab sekali pemuda itu. “Jadi, kenapa kau mencariku?” tanya Sean ketus. Awas saja jika Seungha mengatakan hal yang tak berguna. “Ah, aku tak melihatmu di sungai hari ini. Jadi aku ke sini,” jawab pemuda itu lalu tersenyum. Senyum kapitalis yang selalu membuat Sean kesal. “Kenapa hari ini kau tidak pergi ke sana?” “Karena aku tak mau melihat wajah menyebalkanmu,” jawab Sean jujur. Memang alasannya tak pergi ke sungai di belakang bukit hari ini adalah tidak ingin bertemu dengan Seungha. Seminggu terakhir pemuda itu terus mengikutinya dan itu membuat Sean kesal. Alasannya pergi ke sungai itu untuk mencari ketenangan, tapi dengan bertemu Seungha di sana, ketenangan yang Sean cari hilang. Yang ada pemuda itu terus mengganggunya dengan ocehan yang sama sekali tak berguna, menurut Sean. “Argh! Nenek kenapa memukulku?” Sean mengaduh ketika sang nenek memukul lengannya. Jae Hwa yang baru saja meletakkan sepiring semangka yang sudah di potong di depan Bum Tae dan Seungha itu kemudian berbalik menatap Sean dan bersiap mengomeli gadis itu. “Kau ini kenapa dingin sekali,” omel Jae Hwa sambil berkacak pinggang. “Seungha itu jauh-jauh ke sini karena mengkhawatirkanmu.” Sean mendesis pelan. Jauh? Ayolah rumah pemuda itu hanya berjarak kurang dari 300 meter dari rumah nenek Sean dan juga untuk apa pemuda itu mengkhawatirkannya. “Dan kenapa kau selalu menyebut Seungha menyebalkan? Dia selalu menemanimu, kan? Harusnya kau bersikap baik padanya.” Mulut Sean terbuka lebar sembari menatap neneknya tak percaya. Menurutnya, selama ini Seungha tidak menemaninya. Apa yang dilakukan pemuda itu lebih cocok disebut mengikutinya, menguntitnya, dan itu membuatnya merasa tidak nyaman. “Apa yang dia lakukan itu sama sekali tidak bisa disebut menemani, dia lebih mirip dengan seorang penguntit menyebalkan,” sergah Sean, merasa tak terima dengan apa yang Jae Hwa katakan. “Aduh! Nenek!” Sean kembali mengaduh saat nenek memukul lengannya untuk yang kedua kali. “Aigoo, kenapa sikap nakalmu ini mirip sekali dengan ibumu!” Jae Hwa teringat perangai Yeon Woo saat masih muda, putrinya itu benar-benar mirip Sean. Keras kepala dan sangat kasar. Ia sendiri tidak mengerti bagaimana bisa ayah Sean jatuh cinta pada wanita seperti Yeon Woo. Dan pada akhirnya semua sifat—menyebalkan Yeon Woo menurun pada Sean. Jae Hwa berharap setidaknya sedikit kepribadian sang ayah menurun pada Sean, tapi Sean justru mewarisi semua kepribadian ibunya. Sembari mengusap lengannya yang baru saja dipukul sang nenek, Sean menatap kakeknya. Berharap sang kakek akan membelanya, tapi sang kakek justru memalingkan wajah sembari tertawa pelan. Sean mendengus, lalu beralih menatap Seungha. Dia menatap pemuda itu tajam. Jika saja sebuah tatapan bisa melubangi kepala seseorang, maka kepala pemuda itu mungkin sudah berlubang sekarang. Sean menatapnya tajam dan menusuk. Menunjukkan bahwa, gadis itu sama sekali tak menyukai Seungha. Hari ini, Sean akan membuat catatan baru tentang Seungha di kepalanya, ‘Pemuda itu dengan mudah mempengaruhi orang dengan senyum kapitalisnya’. *** Bukan tanpa alasan kenapa Sean tak menyukai Seungha. Secara fisik, Seungha punya penampilan yang disukai oleh semua orang. Tinggi, putih, dan wajah yang tampan. Selain itu, Seungha juga selalu bersikap ramah pada semua orang, jadi hampir seluruh penduduk desa menyukainya, kecuali Sean. Selain karena pernah membuatnya hampir mati tenggelam, Sean tak menyukai pemuda itu karena menurutnya Seungha penuh dengan kepalsuan. Sean merasa sikap ramah yang selama ini pemuda itu tunjukkan pada semua orang, bukanlah sifat Seungha yang sesungguhnya. Seperti ada yang disembunyikan pemuda itu di balik sikapnya yang ramah selama ini. Pernah suatu ketika, Sean melihat sisi lain dari Seungha yang tampak menakutkan. Itu adalah hari ketiga Sean tinggal di desa, sore itu dirinya sedang berjalan-jalan di sekitar rumah dan Sean melihat Seungha sedang menolong seorang paman memasukkan beberapa kardus ukuran besar ke dalam truk box. Setelah selesai memasukkan semua kardus itu, Seungha menyeringai. Padahal sebelumnya pemuda itu terlihat tersenyum ramah pada paman yang ia bantu. Sungguh perubahan ekspresi yang menyeramkan menurut Sean. Selain itu, Sean juga pernah melihat betapa dinginnya raut wajah Seungha. Hampir setiap hari Sean pergi ke sungai di belakang bukit dan dia selalu bertemu dengan Seungha di sana. Sean selalu mengabaikan Seungha ketika pemuda itu bicara padanya, berharap dengan begitu Seungha akan berhenti bicara padanya. Dan benar Seungha berhenti mengoceh. Saat itu diam-diam Sean melirik ke arah pemuda itu dan dia dibuat terkejut dengan raut wajah Seungha yang sedang menundukkan kepalanya. Pemuda itu menatap tajam pada bayangan wajahnya sendiri di air. Raut wajah Seungha mirip seorang pembunuh psikopat di film-film thriller yang pernah Sean tonton. Sangat menyeramkan. Ditambah lagi melihat bagaimana dengan mudahnya pemuda itu mempengaruhi nenek dan kakeknya kemarin, Sean jadi semakin tidak menyukai Seungha. Karena pemuda itu Sean kena pukul dan diomeli oleh sang nenek. Padahal menurut Sean apa yang dia katakan sama sekali tidak salah, Seungha memang menyebalkan—menurutnya. Sean lalu memutuskan untuk menghindari Seungha apa pun yang terjadi, dia tidak mau terlibat dengan pemuda bermuka dua itu. Tapi, kalian tahu bukan, bahwa terkadang apa yang kita inginkan tak akan pernah benar-benar jadi kenyataan. Dan itu sedang terjadi pada Sean sekarang. Sekeras apa pun dia berusaha menghindari Seungha dan tidak terlibat dengan pemuda itu, tapi justru nenek dan kakeknya sendiri yang membuatnya terlibat dengan Seungha. Sean menatap sebal pada Seungha yang ikut makan siang di rumah kakeknya. Dia sama sekali tidak mengerti kenapa kakek dan neneknya mengajak pemuda menyebalkan itu makan siang bersama mereka. Seungha bisa makan siang di rumahnya sendiri. “Seungha-ya, bagaimana? Tumis dagingnya enak?” Jae Hwa bertanya dengan sangat ramah, sampai membuat Sean jengkel. Dia tahu neneknya adalah orang yang baik dan ramah, tapi menurutnya sikap neneknya itu tidak perlu ditujukan itu seseorang yang bermuka dua seperti Seungha. “Eumm,” jawab Seungha sambil mengangguk dengan mulut sibuk mengunyah. “Cih.” Sean mendesis pelan lalu membuang muka. Seungha benar-benar bermuka dua. “Makan yang banyak, ya.” Jae Hwa meletakkan dua potong daging ke dalam mangkuk nasi Seungha. Sean yang sudah tak tahan dengan pemandangan di depannya itu kemudian menghela napas kesal. Neneknya memperlakukan Seungha dengan baik, sedangkan dirinya terus diomeli karena memasang raut wajah dingin sejak Seungha masuk ke dalam rumah mereka. Bukankah ini tidak adil? “Jangan memasang raut wajah kesal di depan makanan, itu tidak baik.” Baru saja dipikirkan, neneknya kembali mengomeli Sean. “Nenek tahu kan aku tidak menyukai dia,” ujar Sean sembari menunjuk Seungha yang duduk di depannya dengan sumpit. “Kenapa menyuruhnya datang dan makan bersama kita? Dia bisa makan di rumahnya sendiri.” “Aduh!” Sean mengaduh saat sang nenek memukul punggungnya. Tidak terlalu keras memang, tapi tetap saja sakit. “Anak ini, kenapa kau tidak menyukai pemuda sebaik Seungha?” Sean hampir saja memuntahkan makanannya saat mendengar sang nenek menyebut Seungha baik, tapi Sean menahan diri. Masih sayang pada tubuhnya, jika dia benar melakukannya neneknya mungkin akan memukulnya lebih keras. “Tidak perlu sebuah alasan untuk tidak menyukai seseorang,” jawab Sean yang langsung di sambut oleh cubitan Jae Hwa di pinggang Sean. Gadis itu otomatis mengaduh sambil mengusap pinggangnya yang baru saja dicubit oleh Jae Hwa. Sean yakin akan ada bekas merah di sana. Sang nenek mencubitnya dengan keras. Sean lalu mendelik ke arah Seungha. Pemuda itu sedang menunduk, tapi Sean bisa melihat dengan jelas Seungha sedang menyeringai. Lihatlah pemuda itu memang bermuka dua. Sean menghela napas tak percaya melihat bagaimana Seungha tadi menyeringai. Pasti pemuda itu merasa sangat senang karena telah membuatnya tampak seperti gadis jahat dan dirinya terlihat seperti pemuda yang baik. Benar-benar bermuka dua. “Sudah, tidak baik ribut di depan makanan.” Bum Tae yang sejak tadi diam hanya mengamati akhirnya ikut bersuara. Sean lantas menoleh pada sang kakek. Menatap melas meminta pembelaan pada kakeknya, tapi apa yang dikatakan sang kakek berikutnya membuat Sean merasa kakeknya sama saja dengan neneknya. “Kakek yang minta Seungha kemari, sekalian minta dia menemanimu jalan-jalan ke kota.” *** Sungguh Sean sudah menolak rencana sang kakek yang meminta Seungha-si bermuka dua itu untuk menemaninya jalan-jalan ke kota. Dirinya memang sudah mulai bosan dengan suasana desa dan ingin pergi jalan-jalan, tapi sendirian karena Sean suka ketenangan. Seungha itu berisik, menyebalkan dan bermuka dua. Sean tidak mau ditemani oleh pemuda itu, jalan-jalan yang harusnya terasa menyenangkan pasti akan berubah mengesalkan karena kehadiran Seungha. Namun, meski sudah berusaha menolak, kakeknya tetap bersikeras menyuruh Seungha menemaninya. Katanya, takut Sean akan tersesat nanti. Dan berakhirlah Sean pergi ke kota bersama Seungha. Gadis itu hanya berharap pemuda itu nanti tidak akan melakukan hal yang merusak suasana hatinya, walau sebenarnya kehadiran Seungha saja sudah merusak suasana hatinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD