Bagian 9

1151 Words
“Atau kau mau minum bir?” Pertanyaan Seungha itu sukses membuat Sean menoleh lalu menatapnya kesal. “Gila!!!” “Jangan salah paham,” ucap Seungha cepat-cepat meralat perkataannya. “Nenekmu bilang usiamu satu tahun lebih muda dariku, itu artinya usiamu 20 tahun, kan? Usia yang legal untuk minum alkohol. Barang kali kau ingin minum bir.” Sean sama sekali tak tertarik dengan penjelasan Seungha. Dengan cepat gadis itu mengambil es krim berbentuk cone rasa cokelat lalu membawanya ke meja kasir. Sial, aku tidak membawa dompet. Sampai di depan meja kasir dan hendak membayar, Sean baru sadar jika dirinya tak membawa dompet. Gadis itu berusaha mencari uang yang mungkin terselip di saku celana jeans-nya, tapi nihil. Sean tak menemukan apa pun di sana. Tak mau menanggung malu karena tak bisa membayar es krim yang dia ambil, Sean segera menoleh pada Seungha. Gadis itu lantas berdeham, memberi pemuda itu isyarat agar membayar es krimnya, tapi entah bodoh atau tidak peka, Seungha hanya menatapnya sambil melongo. Sean mengeraskan rahangnya, menahan rasa kesal karena selain menyebalkan, ternyata Seungha juga bodoh dan tidak peka. “Tolong kau bayar ini,” ucap Sean akhirnya. Mau diberi isyarat bagaimana pun Seungha hanya akan dian sambil menatapnya seperti orang bodoh. “Oh sebentar,” sahut Seungha lalu mengambil es krim yang sama dengan Sean dan membawanya ke kasir. “Pacarmu?” tanya bibi penjaga toko kelontong itu membuat Seungha tersedak salivanya sendiri. “Bukan kok, dia cucunya nenek Jae Hwa,” jawab Seungha sembari menyerahkan uang pada bibi penjaga toko. Pemuda itu lantas melirik Sean, gadis itu tampak tak peduli dengan ucapan bibi penjaga toko dan memilih keluar lebih dulu meninggalkan dirinya. Bahkan Sean belum berterima kasih atas es krim yang dia belikan. Benar-benar gadis yang kasar. “Wah, kau bahkan tak mengucapkan terima kasih padaku,” ucap Seungha setelah keluar dari toko. Ia menatap Sean yang sedang membuka bungkus es krim miliknya. Gadis itu juga balas menatapnya, tapi hanya sekilas. Karena setelahnya Sean kembali fokus pada es krim cokelat di tangannya. “Terima kasih,” ucap Sean pelan. Seungha tersenyum tipis. Meski pelan ia bisa mendengar dengan jelas jika Sean berterima kasih padanya. “Kau mau pulang? Biar aku antar.” “Tidak perlu, kau pikir aku anak kecil yang tidak tahu jalan?” “Lihatlah jalan di depanmu! Jalanan itu akan semakin gelap dengan nyala lampu jalan yang redup.” Sean menatap jalanan di sekitar mereka. Matahari baru saja terbenam beberapa menit yang lalu dan hari mulai gelap. Seungha pasti berpikir jika dirinya adalah gadis penakut yang tak berani pulang sendirian di malam hari, tapi bagi Sean berjalan dalam gelap malam bukanlah apa-apa. Dia pernah hampir mati saat kecelakaan setahun lalu, jadi hal semacam ini tak akan membuatnya takut. “Jika kau mencoba menakutiku itu percuma. Kau buang-buang waktu.” *** Hari benar-benar menjadi gelap ketika Sean berjalan menjauh dari toko kelontong tadi. Gadis itu menoleh ke samping, Seungha berjalan di sana sambil memakan es krimnya. Antara bodoh karena tak mengerti perkataannya yang bilang tak mau diantar dan keras kepala, Sean tidak tahu mana yang dimiliki Seungha. Yang jelas, pemuda itu sekarang sedang berjalan di sampingnya dan berniat mengantarnya pulang. Memang pemuda itu tak banyak bicara seperti biasanya, hanya sibuk memakan es krim yang tadi dibelinya, tapi tetap saja kehadiran Seungha membuat Sean kesal. Jika kau tak menyukai seseorang, meski orang itu tak berbuat apa-apa, kehadirannya tetap saja membuatmu kesal dan jengkel. “Kenapa kau bersikap dingin padaku?” tanya Seungha memecah keheningan antara dirinya dan Sean sejak mereka meninggalkan toko kelontong tadi. “Entahlah,” jawab Sean singkat. Sungguh di luar dugaan gadis itu merespons perkataannya. Seungha pikir Sean akan mengabaikannya seperti yang sudah-sudah. “Kau barusan merespons perkataanku?” Seungha bertanya, takut telinganya salah dengar. Mungkin saja ada makhluk lain yang merespons perkataannya. Konyol. “Kau tuli?” Oke, jadi Sean benar-benar merespons perkataannya. Sungguh hal yang tak terduga dan menakjubkan. Setelah satu minggu Seungha seperti bicara sendiri, akhirnya Sean mau bicara padanya. Mungkinkah karena es krim yang dia belikan? Jika tahu Sean akan luluh dengan es krim, sejak awal dirinya akan membelikan banyak es krim untuk gadis itu, asalkan Sean mau bicara dengannya. “Jadi, kenapa kau bersikap dingin padaku? Aku sudah minta maaf soal kejadian di sungai waktu itu.” Jawaban singkat Sean tadi masih belum membuat Seungha puas. Ia ingin tahu kenapa Sean selalu bersikap acuh dan dingin padanya. Padahal dirinya sudah bersikap seramah mungkin pada gadis itu. Sean menghentikan langkahnya lalu menatap Seungha. Pemuda itu tampak menantikan jawabannya. “Karena kau menyebalkan,” jawab Sean. “Wah, aku menyebalkan?” Seungha menatap Sean tak percaya. Semua orang di desa menyukainya, tapi Sean baru saja menyebutnya menyebalkan. Bagian mana yang menyebalkan dari dirinya? “Apa yang menyebalkan dariku?” “Semuanya, terutama senyum kapitalismu itu.” Gadis itu lalu kembali melangkah, meninggalkan Seungha yang masih berdiri di tempatnya. Pemuda itu masih tidak percaya bahwa Sean menyebutnya menyebalkan, dan lagi senyum kapitalis? Yang benar saja. Tak terima dengan ucapan gadis itu, Seungha segera menyusul Sean. Berhasil menyusul gadis itu Seungha berjalan di depan Sean sambil berbalik menatap gadis itu. “Senyum kapitalis katamu? Senyum semanis ini kau bilang kapitalis? Yang benar saja,” ujar Seungha tak terima. “Minggir.” Sean mendorong kepala Seungha ke samping karena pemuda itu menghalangi jalannya. Seungha melongo sambil menyentuh kepalanya yang baru saja di dorong oleh Sean. Wah, gadis itu benar-benar—kasar. Seungha lalu menatap Sean yang baru saja masuk melewati pintu pagar rumah sang nenek. Gadis itu masuk begitu saja, tanpa mengucapkan sampai jumpa ataupun terima kasih padanya. Padahal dirinya mengantarkan gadis itu pulang. “Wah, dia ini benar-benar...” *** Hari ini Sean hanya ingin berbaring seharian di dalam kamar. Dia tidak ingin pergi ke mana pun, termasuk sungai di belakang bukit. Alasannya? Karena ia tak mau bertemu dengan Seungha. Seminggu ini ia bertemu dengan Seungha di sana—bukan Sean sengaja menemui pemuda itu, tapi Seungha yang selalu muncul di sana dan mengganggunya. Menyebalkan. Sean mendesis kesal ketika menatap layar ponselnya. Sang ibu mengabaikan pesan yang ia kirim semalam. Bukan hanya pesan semalam, tapi pesan-pesan yang Sean kirim sebelumnya selalu diabaikan oleh ibunya. Seolah-olah ibunya tak peduli dengan keberadaannya di sini. “Sean!” Sean bangun dari posisinya ketika mendengar namanya di panggil oleh sang nenek. Sungguh, Sean hanya ingin berbaring saja seharian ini. Dia berharap, neneknya tak akan menyuruhnya melakukan apa pun. Gadis itu kemudian beringsut menuju pintu kamarnya, begitu pintu terbuka ia melihat neneknya sudah berdiri di depan kamarnya dengan wajah yang—semringah. Membuat Sean curiga. “Ada apa nek?” tanya Sean kemudian. “Ada yang mencarimu.” Jawaban neneknya itu membuat dahi Sean berkerut. Ada yang mencarinya, siapa? Sean ingat hari ini adalah hari Sabtu, dan ayahnya tidak bekerja. Mungkin sang ayah datang untuk menjemputnya? Gadis itu segera melesat ke depan rumah, untuk melihat siapa yang mencarinya. Sean sangat berharap sang ayah benar-benar datang untuk menjemputnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD