Bagian 8

1440 Words
Seungha mempercepat langkahnya untuk menyusul Sean yang sudah berjalan jauh di depannya. Gadis itu berjalan terlalu cepat, sampai dirinya harus sedikit berlari untuk menyamakan langkahnya dengan Sean. “Jalanmu cepat sekali,” ucap Seungha setelah berhasil menyamakan langkahnya dengan gadis itu. “Kau mau pulang?” Hening. Seperti biasa Sean selalu mengabaikan ucapannya. Seungha pikir setelah Sean minta maaf, gadis itu akan mulai bicara dengannya atau setidaknya merespons perkataannya—tapi ternyata tidak seperti itu. Entah, Sean masih tak suka padanya karena kejadian di sungai beberapa waktu lalu atau Sean memang berkepribadian seperti ini. Gadis yang—pendiam cenderung kasar, mengingat bagaimana tadi gadis itu mengumpat padanya. “Kau masih kesal padaku? Atau kau memang aslinya seperti ini?” Seungha sengaja menggantung kalimatnya saat Sean melirik padanya. Akhirnya ia bisa menarik perhatian gadis itu. “Seperti apa?” “Gadis kasar yang suka bicara kasar?” “Dagchyeo!” Seungha terkekeh pelan mendengar Sean kembali mengumpat padanya. Lihat, Sean memang suka bicara kasar. “Tuh kan kau baru saja mengumpat.” Sean mendengus kesal lalu mempercepat langkahnya, meninggalkan Seungha yang masih berusaha menyusulnya. Sejujurnya Sean ingin mencari cara agar pemuda itu berhenti mengikutinya. Mereka tak sengaja bertemu di sungai tadi, dan Seungha masih terus mengekor di belakangnya bahkan setelah mereka turun dari bukit. Sean lebih suka sendirian. Tak suka terlibat dengan orang lain, dan jika harus terlibat itu karena terpaksa. Jujur kehadiran Seungha sangat amat mengganggunya. Merusak ketenangan dalam hidup Sean. Sudah tak tahan Sean menghentikan langkahnya lalu berbalik dengan kesal, membuat Seungha sedikit kehilangan keseimbangannya karena Sean yang tiba-tiba berhenti. Untung ia tidak jatuh terjungkal. Pasti sangat sakit dan juga memalukan jika hal itu terjadi. “Kenapa kau terus mengikutiku?” tanya Sean jengkel. Siapa yang tak jengkel jika ada seorang tak disuka terus mengikutinya? Seungha mengerjapkan matanya. Agak takjub mendengar Sean bicara padanya, jadi otaknya agak lambat mencerna pertanyaan Sean. “Kau tak punya pekerjaan?” Seungha menggeleng polos. Dirinya memang tidak memiliki pekerjaan atau kesibukan lain. Seungha yang seorang mahasiswa tahun kedua itu sedang cuti kuliah sejak setahun lalu. Dan sejak saat itu Seungha memutuskan tinggal di desa ini bersama kakek dan neneknya. Katanya untuk mencari suasana baru sebelum memutuskan kembali melanjutkan kuliahnya. Biasanya Seungha hanya menghabiskan waktu dengan mengelilingi desa dan membantu penduduk desa yang memang butuh bantuan, tapi setelah bertemu Sean rasanya dia punya kegiatan baru. Mengikuti gadis itu. “Kalau begitu cari pekerjaan atau kegiatan lain, jangan mengikutiku! Kau bisa mencabut semua rumput liar di pinggir jalan sana!” “Tidak mau.” Ucapan Seungha itu sukses membuat Sean semakin kesal, hingga kepalanya terasa berasap. Kenapa Seungha sangat menyebalkan? “Menyebalkan!” Sean bergumam pelan lalu kembali melanjutkan langkahnya. Bicara pada Seungha dan menyuruh pemuda itu berhenti mengikutinya adalah hal sia-sia. Yang ada Seungha semakin membuatnya kesal. Jadi Sean memilih untuk mengabaikan pemuda itu. Benar abaikan saja, jika terus diabaikan dia pasti akan berhenti dengan sendirinya. “Kau mau ke mana?” Tak menggubris pertanyaan Seungha, Sean terus melangkah lalu mengangkat sebelah tangannya dan mengeluarkan jari tengahnya. Mata Seungha terbuka lebar melihat bagaimana tingkah gadis itu. Sean benar-benar gadis kasar. Hari ini Seungha akan menarik ucapannya kemarin, tentang menyebut Sean adalah gadis yang anggun—melihat bagaimana perangai gadis itu hari ini, kata anggun sepertinya sangat jauh dari Sean. Namun, soal paras cantik yang dimiliki gadis itu, Seungha tak akan berkomentar apa pun. Sean memang cantik, sangat cantik sampai membuatnya tak bisa melupakan wajah gadis itu. Hanya sampai terus teringat wajah cantik Sean, belum sampai pada tahap gadis itu membuatnya berdebar-debar. Mungkin sebentar lagi? *** Sore itu Sean yang baru saja keluar dari kamar mandi mengerutkan dahinya saat sang nenek tiba-tiba muncul dan menyodorkan sebuah bungkusan berbentuk kotak padanya. “Ini?” tanya Sean ragu-ragu. Melihat corak kain yang jadi pembungkus kotak itu, sudah jelas bungkusan itu bukan untuknya. “Tolong kau berikan pada istri kepala desa. Nenek janji memberinya kimchi kemarin,” jawab Jae Hwa. “Istri kepala desa?” “Neneknya Seungha.” Sean mengedipkan matanya beberapa kali. Ia sama sekali tidak mengerti kenapa sang nenek menyuruhnya mengantar bungkusan yang saat ini sudah berpindah ke tangannya. Dia sama sekali tidak tahu letak rumah kepala desa. Sean baru seminggu tinggal di sini dan belum hapal dengan jalanan desa ini, kecuali jalan untuk menuju sungai di belakang bukit, karena setiap hari pergi ke sana. Niatnya untuk menenangkan diri, tapi setiap kali pergi ke sana Sean akan bertemu Seungha dan itu membuatnya kesal. Ingat itu lagi Sean jadi kesal. “Kenapa tidak nenek sendiri saja? Aku tidak tahu rumah kepala desa,” ucap Sean berusaha menolak permintaan neneknya dengan sopan. Sebenarnya bukan karena tidak tahu jalan. Dia bisa saja bertanya pada orang di mana rumah kepala desa, tapi karena Seungha. Mengingat betapa menyebalkannya pemuda itu, Sean tidak mau bertemu Seungha. Rasanya cukup melihat wajah menyebalkan Seungha di sungai belakang bukit, Sean tidak mau harus melihatnya di tempat lain dan harus terlibat dengannya. Tujuan Sean adalah melewati musim panas ini dengan segera dan tenang. Dengan begitu ia akan segera kembali ke kehidupan normalnya di Seoul. Jadi, dia tidak mau terlibat dengan siapa pun di sini, tertuma dengan Seungha. “Tidak bisa, kakekmu sedang sakit pinggang. Jadi, nenek harus menjaganya.” “Apakah parah?” tanya Sean khawatir. Pantas saja ia tak melihat kakeknya sejak pagi. “Tidak, dia hanya kelelahan karena terlalu hiperaktif di usianya yang sudah tak muda,” jawab Jae Hwa sambil tertawa. Karena sudah tua dia dan suaminya memang sering sakit pinggang. Sean menghela napas lega. Dirinya memang terlihat tak peduli pada siapa pun, tapi mendengar bahwa kakeknya sedang sakit tetap saja membuatnya khawatir. “Jadi tolong kau antarkan ini ke rumah Seungha, ya.” “Tapi, nek?” “Rumahnya dekat. Dari sini kau jalan lurus, lalu sampai di persimpangan kau belok kanan, rumahnya ada di depan toko kelontong.” “Baik, nek,” ucap Sean pasrah. Tak ada pilihan lain, dia memang harus mengantar bungkusan ini ke rumah kepala desa. Lebih baik dia berdoa agar tak melihat wajah menyebalkan Seungha di sana. *** Wajah Sean berubah masam saat melihat wajah Seungha muncul setelah pintu pagar kayu di depannya terbuka. Sepertinya Tuhan tak pernah mengabulkan doanya. “Sean-ah? Kau datang mencariku?” tanya Seungha dengan senyum—menyebalkannya. Sean membuang muka lalu memasang ekspresi seperti ingin muntah. Dia ingin bertemu dengan Seungha? Yang benar saja. Jika bukan karena neneknya, Sean tak akan sudi menginjakkan kakinya ke sini dan melihat wajah menyebalkan pemuda itu. “Untuk nenekmu dari nenekku,” ucap Sean sambil menyerahkan bungkusan yang ia bawa. “Oh, terima kasih.” Setelah memberikan bungkusan itu, Sean segera berbalik dan berniat pergi. Tugasnya sudah selesai bukan? Jadi dia tidak perlu berlama-lama ada di sana dan melihat Seungha. “Kau mau langsung pergi?” tanya Seungha sambil menarik lengan Sean. Mencegah gadis itu untuk pergi. Rasanya kurang puas melihat wajah dingin Sean hanya sebentar. “Kau mau es krim?” Seungha menarik kedua sudut bibirnya saat kalimat yang baru dia ucapkan berhasil membuat kembali berbalik menghadapnya. “Sebagai rasa terima kasih, aku akan membelikanmu es krim.” “Es krim?” tanya Sean sambil mengerutkan dahinya. Kedua tangannya bersedekap di depan d**a. Seolah kata es krim adalah hal aneh yang baru dia dengar. “Iya es krim, kau pikir di sini tak ada penjual es krim?” Sean terdiam. Dia memang berpikir seperti itu. Ayolah, desa ini hanya di kelilingi sawah dan gunung, seminggu berada di sini Sean juga tak melihat ada toserba atau minimarket. Jadi, di mana mereka membeli es krim—dan minuman bersoda yang Seungha berikan tempo hari. “Hey, desa ini bukan sebuah pedalaman di dalam hutan belantara, tentu saja kau bisa menemukan es krim di sini,” ujar Seungha lalu tertawa. Lucu saat Sean mengira bahwa di desa ini mereka tak bisa menemukan es krim. “Tunggu di sini dan jangan ke mana-mana. Aku akan menaruh ini di dalam dulu.” Setelah itu Seungha melesat dengan cepat masuk ke dalam rumah. *** Sean benar-benar merasa seperti orang bodoh sekarang. Terlalu bodoh karena mengira desa ini adalah tempat terpencil di mana kau tidak bisa menemukan apa pun. “Mau es krim rasa apa? Cokelat, melon, stroberi, kacang merah, vanila, jeruk, semangka,” ucap Seungha mirip dengan penjual es krim. Sean mendengus kesal, lalu beralih menatap box pendingin berisi berbagai macam merek es krim dengan bermacam-macam varian rasa. Mereka sedang berada di toko kelontong tepat di depan rumah Seungha. Padahal neneknya tadi sudah bilang jika rumah Seungha berada di depan toko kelontong. Bagaimana bisa ia sama sekali tidak sadar jika ada toko kelontong ini? Sekarang Sean rasanya sangat malu sampai tidak bisa mengatakan apa-apa. “Atau kau mau bir?”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD