Setelah menyesap teh yang Sean buatkan, Seungha hanya duduk diam di atas tempat tidurnya. Memang tadi dia yang menyuruh gadis itu untuk tetap tinggal di sana, tapi dia juga yang mendiamkan Sean karena tidak tahu harus bicara apa. Pemuda itu hanya sesekali diam-diam melirik Sean yang sedang menatap rak buku di samping meja.
“Kau mau baca buku? Aku punya beberapa koleksi komik yang seru,” kata Seungha menawarkan. Barang kali Sean merasa bosan karena hanya duduk diam sejak tadi.
“Tidak,” tolak Sean cepat. Gadis itu lalu mengeluarkan ponsel dari dalam sakunya.
“Password wifi-nya, Cha Seungha.”
Dari ponselnya Sean beralih menatap Seungha. “Ada wifi di sini?”
“Iya," jawab Seungha sambil mengangguk.
Sean menghela napas. Satu hal lagi yang membuatnya iri pada pemuda itu. Ada wifi di rumah Seungha. Beruntung sekali pemuda itu.
Setelah memasukkan password wifi yang Seungha beri tahu, Sean bergegas membuka game yang biasa ia mainkan. Sudah lama dia tak memainkan permainan video dengan genre battle royal itu. Mumpung tersambung dengan wifi, gadis itu ingin main game sampai puas. Karena setelah ini ia tak mungkin menginjakkan kakinya ke rumah Seungha lagi, kecuali jika nenek atau kakeknya yang menyuruh Sean kemari. Gadis itu tak akan sudi menyeret kakinya sendiri ke rumah ini, mengingat betapa tak sukanya Sean pada Seungha.
Seungha memperhatikan Sean yang tampak fokus pada permainan game online-nya. Selagi memperhatikan Sean yang tengah serius dengan permainan game online-nya, lagi-lagi Seungha dibuat terpukau oleh paras cantik yang dimiliki gadis itu. Mata bulat, bibir tipis merah muda, hidung mancung, kulit putih, ah dan jangan lupakan mata cokelat milik Sean. Sorot mata gadis itu selalu mengalihkan fokusnya.
Seungha menarik napas lalu mengalihkan pandangannya dari Sean. Jika terus menatap gadis itu seperti ini, bisa saja dia berakhir dengan benar-benar menyukai Sean. Yah, Seungha sendiri tak masalah jika nanti berakhir menyukai gadis itu. Sean punya wajah yang cantik, walaupun kepribadiannya cukup untuk membuat orang kesal. Siapa pun pasti menyukai Sean, kecuali kepribadian gadis itu. Namun, Seungha tak yakin jika Sean nanti bisa menyukainya seperti dia menyukai gadis itu, ingat lagi betapa tak sukanya Sean pada dirinya.
“Sudah selesai?” tanya Seungha saat Sean meletakkan ponselnya ke atas meja.
“Apa nenekmu masih lama?” Sean balik bertanya. Walau di sini dirinya bisa mendapatkan akses wifi, tapi berdua saja di dalam kamar bersama Seungha seperti ini tetaplah membuatnya tidak nyaman.
“Entah, dia bilang pergi berapa lama?”
“Satu atau dua jam, katanya.” Sean mengingat lagi ucapan nenek Miran sebelum pergi tadi. “Lalu kakekmu di mana?”
Sean bertanya karena tak pernah melihat kakek Seungha, yang katanya kepala desa di sini.
“Dia pasti ada di balai desa,” jawab Seungha sambil melirik ke arah jam dinding. Sudah jam 2 siang. “Kau sudah makan siang?”
Sean menggeleng. Bagaimana dia bisa makan siang kalau di suruh menjaga bayi berusia 21 tahun di sini.
“Mau makan di sini-“
Brakk...
Ucapan Seungha terpotong saat tiba-tiba pintu kamarnya dibuka dengan keras. Dirinya dan Sean otomatis menatap ke arah daun pintu. Hyunji berdiri di sana dengan raut wajah khawatir.
“Oppa.” Hyunji segera menghambur ke tempat tidur Seungha dan duduk di sana. “Aku dengar kau sedang sakit. Apa yang sakit?”
Hyunji bertanya sambil meraba wajah Seungha, membuat pria itu agak risi karena terasa geli.
“Aku hanya demam,” jawab Seungha sembil menyingkirkan tangan Hyunji dari wajahnya. “Kau sudah pulang sekolah?”
Seungha lihat Hyunji datang masih mengenakan seragam sekolahnya.
Tak menggubris pertanyaan Seungha, siswi kelas 2 SMA itu beralih menyetuh dahi Seungha untuk memeriksa suhu tubuh pemuda itu.
“Sudah tidak panas,” gumam Hyunji setelah menyentuh dari Seungha.
“Aku baik-baik saja dan demamku sudah turun.”
Sean mendesis dengan sinis mendengar ucapan Seungha barusan. Baik-baik saja? Jika baik-baik saja kenapa minta ditemani olehnya.
Seungha dan Hyunji menoleh pada Sean. Kaget karena Hyunji yang tiba-tiba datang, Seungha lupa jika ada Sean di kamarnya.
“Oppa, dia?” Hyunji bertanya dengan raut wajah bingung melihat Sean di sana. Dia pikir pemuda itu sendirian di rumah, makanya setelah pulang sekolah Hyunji buru-buru datang kemari tanpa mengganti seragamnya lebih dulu.
Seungha menghela napas. Rasanya seperti ketahuan membawa seseorang wanita masuk ke dalam kamarnya.
“Sean diminta nenek untuk menjagaku,” jelas Seungha. Yah, memang begitu adanya.
Sean melihat Hyunji sedang menatapnya sekarang. Gadis itu menatapnya tak suka, mungkin cemburu melihat dia berdua saja bersama Seungha di dalam kamar pemuda itu. Sekali lihat, Sean bisa menebak jika Hyunji itu menyukai Seungha. Memang sih, kalau dilihat dari wajahnya, Seungha itu tipe pria yang disukai wanita. Memangnya ada wanita yang tak suka pria tampan? Tapi sayangnya Seungha bukan tipe pria Sean.
“Karena babysitter-mu sudah datang aku akan pulang sekarang,” ucap Sean setengah menyindir. Gadis itu lantas bangun dari kursi lalu keluar dari kamar Seungha.
“Terima kasi tehnya!” teriak Seungha, tapi Sean sama sekali tak menoleh sampai keluar dari rumah itu.
Seungha menghela napas. Agak kecewa karena Sean sudah pulang. Pemuda itu lantas menatap ke arah Hyunji yang duduk di tepi tempat tidurnya. Andai saja gadis itu tidak datang, pasti Sean masih ada di sana.
***
“Jadi bagaimana keadaan Seungha?” tanya Jae Hwa pada Sean. Mereka sedang makan malam bersama.
“Demamnya sudah turun,” jawab Sean. Gadis itu mengambil sepotong telur dadar lalu memasukkannya ke dalam mulut. “Dia juga sudah minum teh yuzu yang nenek berikan.”
“Katanya, Seungha sakit setelah hujan-hujan lusa kemarin. Bukankah waktu itu kau juga pulang basah kuyup?”
“Uhuk-uhuk.” Pertanyaan kakeknya itu membuat Sean tersedak telur dadar yang baru saja ia telan. Gadis itu dengan cepat meneguk segelas air di depannya hingga habis.
“Kalian main hujan-hujan berdua?” tanya Jae Hwa yang membuat Sean kembali tersedak.
“Ya, waktu itu dia mengajakku bersepeda,” jawab Sean lalu mengelap sudut bibirnya. Kakek dan neneknya memang tidak tahu jika hari itu dia dan Seungha bersepeda—lebih tepatnya dipaksa bersepeda dengan pemuda itu.
Bum Tae mengagguk mengerti. “Kalian jadi dekat sekarang? Padahal sebelumnya kau sangat tidak menyukai Seungha.”
“Aku masih tidak menyukainya sampai sekarang,” kata Sean cepat. “Dia yang datang menculikku waktu itu.”
Jae Hwa tertawa pelan lalu menyahut, “meski diculik, tapi akhirnya kau mau ikut dengannya, kan?”
Sean mendengus lalu menatap kakek dan neneknya kesal. Ia mau ikut dengan Seungha karena terpaksa, bukan karena kemauannya sendiri.
“Kalau dilihat-lihat kalian berdua terlihat serasi lho.” Kali ini Bum Tae ikut menggoda Sean.
Sean yang mendengar perkataan kakeknya itu tiba-tiba merasa mual. Serasi? Dia dan Seungha? Yang benar saja. Bahkan sejengkal pun pemuda itu tak mendekati tipe idealnya.
“Berhenti membahas si muka dua itu. Aku jadi tidak berselera makan,” ucap Sean sewot. Sementara Jae Hwa dan Bum Tae hanya tertawa cucunya yang sedang kesal.
Dibandingkan dengan saat pertama kali datang ke sini, Sean sedikit berubah. Jika biasanya gadis itu selalu makan dengan tenang, kali ini Sean merespon perkataan mereka dan gadis itu juga tak langsung masuk ke kamarnya setiap kali mereka membahas soal Seungha. Padahal, sebelumnya cucu mereka itu selalu kesal setiap kali membahas pemuda itu di depannya.
Bum Tae dan Jae Hwa bersyukur, membuat Sean dan Seungha terus terlibat membawa sedikit perubahan pada sikap Sean. Mereka berharap bahwa semakin dekat Sean dan Seungha nantinya bisa membuat cucu mereka kembali seperti dulu.