Mengenakan kaos lengan pendek berwarna biru muda dan hotpants berwarna hitam, Sean siap pergi ke sungai di belakang bukit. Sore itu kakek dan neneknya kembali pergi ke ladang karena masih ada hal yang harus di kerjakan di sana. Mereka tak memintanya untuk membantu, jadi Sean berencana pergi ke sungai di belakang bukit. Sudah beberapa hari ini dia tidak pergi ke sana, dan Sean mulai bosan hanya berdiam diri di rumah seharian—kecuali ada wifi di sini mungkin Sean akan betah terus berada di dalam kamar.
Setelah mengikat tali sepatunya, Sean beranjak menuju pintu pagar rumah kakeknya. Ketika pintu itu terbuka Sean dibuat terkejut dengan sosok yang ada di depan sana, tapi hanya sebentar, karena setelahnya raut wajah Sean berubah kesal. Seungha berdiri di depan sana bersama sepedanya.
“Hai.” Seperti biasa pemuda itu menyapa dengan ramah dan Sean mengabaikannya.
Gadis itu menutup pintu pagar rumah, lalu melangkah dengan cepat meninggalkan Seungha. Ingat, Sean tidak berniat terlibat dengan Seungha dan dia sedang melakukannya sekarang, yaitu mengabaikan pemuda itu.
“Kau mau ke mana?” tanya Seungha setelah berhasil menyusul Sean dengan sepedanya. Pemuda itu mengayuh sepedanya dengan pelan, jadi bisa menyamakan kecepatan sepedanya dengan kecepatan langkah Sean.
Hening. Sean tak menjawab pertanyaan Seungha dan terus melangkah. Mengabaikan pemuda yang naik sepeda di sampingnya itu, seolah tak ada siapa pun di sana.
“Kau marah padaku?” Seungha mencoba bertanya lagi, berharap Sean akan menjawabnya kali ini. Namun, gadis itu tetap diam saja. Jangankan menjawab pertanyaannya, melirik saja tidak.
Seungha menghela napas, tidak tahu lagi dengan kepribadian Sean. Padahal, kemarin gadis itu mau menjaganya saat sang nenek sedang pergi dan bersikap cukup ramah padanya—walaupun keramahan Sean waktu itu terkesan cukup dingin untuk orang lain. Ingat saat Sean selalu mengabaikan ucapannya, kemarin gadis itu merespons semua perkataannya, Sean bahkan mau membuatkannya teh saat ia minta. Bukankah itu sebuah kemajuan?
Namun, sepertinya tidak. Tidak ada kemajuan dalam hubungan mereka. Karena hari ini Sean kembali bersikap dingin dan mengabaikannya. Meski begitu Seungha tidak berhenti mengikuti Sean. Sejak awal pemuda itu memang ingin dekat dengan Sean. Bukan karena parasnya yang cantik, tapi Seungha merasa mereka punya kemiripan.
Mungkin di luar Seungha terlihat ramah karena selalu tersenyum pada siapa pun dan sering membatu penduduk desa, tapi ada yang pemuda itu sembunyikan dibalik sikapnya yang terkesan ramah dan terlihat selalu ceria. Pendapat Sean tentang dirinya memang benar. Seungha sendiri tidak tahu bagaimana bisa Sean menebak kepribadiannya dengan tepat, dan karena itu Seungha jadi semakin ingin dekat dengan Sean.
Entahlah, Seungha merasa Sean juga tak jauh berbeda dari dirinya.
***
Sean mempercepat langkahnya sambil mendengus kesal sepanjang jalan. Setelah diabaikan, Seungha bukannya pergi, tapi malah terus mengikutinya seperti anak anjing mengikuti tuannya. Sean tidak tahu, apakah Seungha itu bodoh atau memang bermuka dua. Jika jadi pemuda itu, setelah diabaikan seperti tadi Sean akan langsung pergi karena dia punya harga diri yang tinggi, tapi sepertinya Seungha bahkan tidak punya harga diri.
Jangan-jangan dia pikir aku mau berteman dengannya karena menjaganya kemarin?
Sean menggelengkan kepalanya pelan. Jika Seungha memang berpikir dia akhirnya mau berteman dengan pemuda itu, maka itu sangat konyol. Dia mau menjaga Seungha kemarin karena terpaksa. Jika bukan karena nenek Miran, Sean tak akan sudi menjaga pemuda itu.
Tiba-tiba Sean berhenti melangkah. Makhluk kecil yang berada 5 meter di depannya membuat Sean tiba-tiba menjadi gugup dan panik. Sial, harusnya dia tidak menyebut Seungha seperti anak anjing tadi. Sekarang makhluk itu ada di depannya.
Sean punya kenangan tidak menyenangkan dengan makhluk lucu dan menggemaskan itu. Jadi, sampai sekarang Sean selalu takut setiap kali melihat anak anjing. Walaupun dari penampilannya anak anjing itu tak mungkin bisa menyakiti Sean.
“Ada apa?” tanya Seungha karena Sean tiba-tiba berhenti.
Sean diam tidak menjawab. Gadis itu sibuk mengatasi rasa panik dan gugup yang tiba-tiba menyerangnya. Sean refleks mendekat ke arah Seungha sambil memegang ujung kemeja pemuda itu saat anak anjing di depan mereka tiba-tiba mendekat.
Seungha menoleh pada Sean yang sekarang memegang ujung kemejanya dengan erat. Meski diam saja, raut wajah Sean menunjukkan bahwa gadis itu sedang takut sekarang.
“Kau takut anjing?” Seungha bertanya untuk memastikan.
“Bisa kau usir dia?” Sean balik bertanya dengan suara pelan.
Seungha refleks ingin tertawa tapi dia tahan, jadinya pemuda itu hanya tersenyum. Agak lucu melihat Sean ketakutan pada anak anjing di depan mereka. Padahal Sean terlihat seolah tidak takut pada apa pun, tapi ternyata takut pada makhluk lucu dan menggemaskan itu.
“Ayo naik!”
“Ha?” Sean menatap Seungha bingung.
“Naik ke sini!” Seungha menepuk frame sepedanya.
Sean yang paham maksud Seungha dengan cepat naik ke atas frame sepeda pemuda itu, dibantu Seungha dengan memegang pinggang Sean dan mengangkatnya. Walau agak terkejut saat tangan Seungha menyentuh pinggangnya, tapi Sean diam saja. Bersikap dia tak merasakan apa-apa, meski agak berdebar.
“Kita pergi sekarang.”
Sean mengeratkan pegangnya pada stang sepeda saat Seungha mulai mengayuh pedal dan membuat sepeda itu melaju. Gadis itu memejamkan matanya rapat, ketika mereka melewati anak anjing berbulu putih tadi. Bahkan dengan mata tertutup seperti ini Sean masih merasa takut.
“Anak anjing itu sudah tidak ada, buka matamu,” kata Seungha setelah mereka melewati anak anjing tadi dan bersepeda cukup jauh.
Sean perlahan-lahan membuka matanya. Dan benar mereka sudah cukup jauh dari anak anjing tadi.
“Dari mana kau tahu aku memejamkan mata?” tanya Sean. Posisinya ada di depan Seungha, jadi bagaimana bisa pemuda itu tahu bahwa dia sedang memejamkan matanya.
“Hanya menebak,” jawab Seungha sambil tersenyum, meski Sean tak bisa melihatnya.
“Hah?”
“Bukankah manusia memang seperti itu. Mereka akan memejamkan matanya, saat melihat hal-hal yang membuat mereka takut. Aku juga begitu.”
Sean diam tak merespons perkataan Seungha. Gadis itu memilih menatap lurus pada jalanan di depan mereka. Jujur, Sean merasa malu. Terlihat seperti gadis yang tak takut apa pun, tapi Seungha baru saja mengetahui satu kelemahannya. Sean merasa pemuda itu mungkin sedang meremehkannya sekarang.
“Kau mau pergi ke mana?” tanya Seungha kemudian. Sudah biasa diabaikan Sean, jadi dia mengganti topik pembicaraan. Beruntung jika nanti Sean meresponsnya. Jika tidak, mungkin Seungha akan kembali diam saja.
“Ke sungai di belakang bukit,” jawab Sean pelan lebih seperti bergumam.
“Sepertinya kita tidak bisa pergi ke sana.”
Sean mengerutkan dahinya. “Kenapa?”
“Hujan deras beberapa hari lalu membuat air sungainya meluap, jalan menuju ke sana jadi licin dan berbahaya. Kau tahu ada banyak batu di sana, kan? Salah melangkah saja kau bisa tergelincir dan terluka.”
Dengusan kesal terdengar keluar dari mulut Sean. Niat ingin menikmati ketenangan di sungai belakang bukit, tapi gara-gara hujan deras beberapa hari lalu dia jadi tak bisa pergi ke sana. Sekarang dia harus pergi ke mana? Seharian terus berada di rumah mulai membuat Sean bosan.
“Mau ke gazebo?” ajak Seungha. “Waktu itu karena turun hujan aku tidak bisa menunjukkan sesuatu padamu.”
“Apa yang ingin kau tunjukkan?” tanya Sean tampak berpikir. Ia ingat tempat di sekitar gazebo itu punya pemandangan yang cukup indah.
“Kalau kau penasaran, kita pergi ke sana.”
Sean diam, menimang ajakan Seungha. Sebenarnya pergi ke gazebo itu bukan ide yang buruk, tapi bagaimana jika nanti turun hujan lagi seperti waktu itu. Mereka tentu akan kembali terjebak di sana. Sean tentu tidak mau, cukup sekali saja ia terjebak derasnya hujan di sana bersama Seungha.
“Kau takut akan turun hujan?”
Sean menoleh ke belakang, walau tak bisa melihat dengan wajah Seungha. Ia penasaran bagaimana bisa pemuda itu tahu apa yang sedang ia pikirkan.
“Tenang saja. Menurut ramalan cuaca, hari ini akan cerah dan tidak akan turun hujan. Lihatlah langitnya!”
Sean refleks mendongak menatap langit biru di atas mereka. Hari ini langitnya benar-benar sangat cerah. Bahkan tak ada satu awan pun yang bergumpal di atas sana.
“Jadi bagaimana? Kau mau ke sana?” Seungha kembali bertanya, karena Sean masih terlihat ragu.
Pemuda itu lantas mempercepat kayuhan sepedanya setelah Sean menganggukkan kepala. Itu artinya Sean setuju untuk pergi ke gazebo. Selagi mengayuh sepedanya, Seungha tak bisa berhenti tersenyum karena Sean setuju dengan ajakannya. Padahal ini hanya hal sepele, tapi Seungha merasa sangat senang. Mungkin dia mulai menyukai Sean?
***
Sepeda Seungha berhenti tepat di depan gazebo. Setelah membantu Sean turun dari frame sepeda, pemuda ikut turun dari sepedanya. Meski tempat itu adalah pusat desa, tapi suasana di sini cukup sepi. Hanya ada beberapa orang yang berlalu-lalang keluar masuk kantor balai desa.
“Karena semua sibuk bekerja di ladang, tempat ini lumayan sepi. Cocok denganmu yang suka ketenangan, benar?”
Sean tak menggubris perkataan Seungha memilih memperhatikan sekitar mereka. Ia agak penasaran apa yang ingin Seungha tunjukan padanya setelah sampai di tempat ini. “Jadi apa yang ingin kau tunjukkan padaku?”
“Tersenyum satu kali, lalu aku akan menunjukkannya padamu,” goda Seungha yang langsung mendapat tatapan tajam dari Sean, dan juga kata-k********r tentunya.
“Kau mau mati? Sudah bosan hidup?”
Seungha terkekeh, meski Sean sedang mengumpatnya sekarang, tapi justru gadis itu terlihat menggemaskan di mata Seungha. Pemuda itu mungkin mulai gila, karena terjerat pesona Sean.
“Aku hanya bercanda,” kata Seungha akhirnya. Gawat jika Sean benar-benar marah karena ucapannya, bisa-bisa gadis itu mengambek lalu pulang dengan jalan kaki. Hubungan mereka bisa menjadi sangat kacau nantinya. “Ayo.”
Seungha memimpin jalan di depan, sementara Sean berjalan mengekor di belakangnya. Mereka berjalan melewati sebuah jalan setapak. Jalanan itu cukup sempit, hanya cukup di lalui oleh dua orang. Sean dibuat terpukau dengan jalan setapak yang mereka lalui. Di sepanjang jalan itu, berjejer rapi lampu-lampu taman.
Sean lantas membayangkan melewati jalanan ini saat malam hari. Pasti jalanan ini terlihat sangat indah dan romantis karena nyala lampu-lampu di sepanjang jalan ini. Sean tidak tahu jika di desa ada tempat seperti ini juga.
“Indah, kan?”
“Ya.” Sean menyahut tanpa sadar, membuat Seungha yang sekarang berjalan di samping gadis itu tersenyum.
“Setelah ini ada hal lain lagi yang akan membuatmu terkejut.”
Sean tak terlalu mendengarkan perkataan Seungha. Gadis itu sedang terpesona dengan pemandangan di sekitarnya. Di sisi kanan dan kiri jalan setapak ini ada banyak pepohonan, mirip seperti hutan buatan. Namun, yang selanjutnya Sean melihat sebuah tempat yang membuatnya lebih terkejut.
“Bagaimana?”