Bagian 41

1411 Words
Sean berlindung di bawah payung kuningnya, berjalan menerobos hujan yang turun dengan deras siang itu. Sesekali Sean tampak menggosokkan kedua tangannya dan mengeratkan mantel yang ia pakai untuk mengurangi hawa dingin yang menyerang tubuhnya. Tampak asap mengepul keluar dari mulut dan hidungnya ketika gadis itu bernapas dan bicara dengan ibunya di telepon. Udara hari itu sangat dingin ditambah dengan hujan yang turun sangat deras. Sungguh perpaduan yang sempurna untuk menyiksa orang. Tin...tin...tin... Sean menoleh, ia melihat dua sepeda motor melaju cepat ke arahnya, sangat cepat sampai Sean tak punya kesempatan untuk menghindar. Brakkk.... Ponsel yang Sean pegang terlempar bersamaan dengan sepeda motor yang menghantam tubuhnya, membuat Sean terpental hingga beberapa meter dari tempatnya berdiri. Bukan hawa dingin lagi yang ia rasakan, tapi rasa sakit di sekujur tubuhnya. Sean mencoba untuk bangun, tapi tubuhnya sama sekali tak bisa digerakkan. Seolah rasa sakit menguasai seluruh tubuhnya. Telinganya kemudian berdengung bersamaan dengan pandangannya yang mulai mengabur. Samar-samar Sean melihat dua orang yang juga tergelatak tak jauh dari tempatnya. Dalam rasa sakit yang menyerang sekujur tubuhnya Sean memanggil ibunya. “Eomma...” rintih Sean “Eomma....” “Eonni?” “Eonni, kau tidak apa-apa?” Soo Jin menggoyang-goyang tubuh Sean untuk membangunkan gadis itu, tapi Sean bergeming seolah tak mendengarnya. “Eonni, kau dengar aku?” panggil Soo Jin sekali lagi dan menggoyangkan tubuh Sean lebih keras. Sean akhirnya membuka matanya lalu duduk tegak di atas kasur lantainya. Penampilannya terlihat kacau dengan keringat dingin yang membasahi wajahnya. Kepalanya terasa sakit seolah baru saja dipukul dengan benda tumpul. “Eonni, kau sakit?” tanya Soo Jin khawatir melihat Sean yang tampak pucat dan berkeringat dingin. Sean menoleh sekilas pada Soo Jin lalu mengusap dahinya yang berkeringat. “Hanya mimpi buruk,” jawab Sean kemudian. Soo Jin menghela napas lega. “Syukurlah, aku pikir kau sakit.” “Lalu kenapa kau di sini?” “Aku disuruh ibu mengajakmu keluar untuk makan malam,” kata Soo jin. “Ada oppa yang tampan itu juga.” Mata Soo Jin tampak berbinar saat menyebut oppa yang tampan itu. Sean tahu siapa yang dimaksud Soo Jin, siapa lagi kalau bukan Seungha. “Kalian kelihatannya sangat dekat. Eonni, kau pacaran dengannya?” tanya Soo Jin yang langsung dipelototi oleh Sean. “Kau gila?” jawab Sean ketus, kemudian beringsut dari kasurnya. “Kau keluar saja dulu, aku menyusul nanti. Aku mau cuci muka.” “Karena mau bertemu oppa yang tampan itu?” goda Soo Jin yang langsung kabur karena Sean kembali melotot padanya. Setelah itu Sean melangkahkan kakinya menuju kamar mandi. Wajahnya basah oleh keringat dan tidak mungkin dia keluar dengan keadaan seperti ini. Sean juga perlu air dingin untuk meyadarkan pikirannya yang masih terbayang akan mimpi buruk yang baru saja dia alami. Sean mendesah setelah membasuh wajahnya dengan air. Dia menatap pantulan wajahnya di cermin di atas wastafel. Ini bukan pertama kalinya Sean bermimpi buruk seperti tadi. Saat awal-awal setelah kecelakaan yang ia alami, hampir setiap malam Sean bermimpi burung tentang kecelakaan itu. Terbangun dengan penampilan kacau karena keringat dingin, kepalanya berdenyut hebat, rasa takut dan berakhir menangis sendirian di dalam kamarnya. Setidaknya Sean melewati 3 bulan pertamanya setelah kecelakaan dengan keadaan seperti itu, dan orang tuanya tidak pernah tahu. Sean menarik napas dalam dan mengembuskannya perlahan. Ia lalu mengusap wajahnya dengan handuk, menata rambut dan membenarkan poninya. “Oke, bersikaplah biasa saja.” *** Sean membuka pintu utama, begitu melangkahkan kakinya keluar semua orang di halaman depan itu menatap ke arahnya, hanya sebentar karena mereka kembali fokus dengan kegiatan yang mereka lakukan sebelum Sean keluar. Sean melihat sang ayah yang sibuk memanggang daging di bantu dengan Seungha. Lalu ibunya sibuk mengomeli Soo Jin yang merengek minta pergi jalan-jalan karena sudah masuk libur musim panas. Seo Jun sibuk dengan game di ponselnya, tapi mulutnya sibuk mengunyah makanan yang disuapkan oleh neneknya. Ah, Seo Jun adalah satu-satunya cucu laki-laki Jae Hwa dan Bum Tae, jadi mereka sangat menyangi bocah kelas dua SMA itu. Lalu kakeknya? Sean tidak melihat keberadaan kakeknya di sana. “Di mana kakek?” tanya Sean pada Jae Hwa. Gadis itu menghindari tatapan Yeon Woo, karena tidak mau bicara dengan ibunya. “Kakek pergi membeli minuman,” jawab Jae Hwa sambil kembali menyuapkan potongan daging panggang ke dalam mulut Seo Jun. “Sendirian?” Sean menatap khawatir ke arah pintu pagar rumah mereka. “Seo Jun sudah menawarkan diri untuk ikut, tapi kakek menolak. Katanya sekalian mencari udara segar,” sahut Yeon Woo. Sean mengabaikan ucapan Yeon Woo. Dia lalu mengambil tempat duduk di samping Seo Jun. “Makan yang banyak.” Yeon Woo memberi Sean beberapa potong daging sapi yang sudah matang. Tanpa melihat sang ibu yang telah memberinya daging, Sean makan dengan tenang. Gadis itu mengambil selembar daun selada, meletakkan dua potong daging panggang di atasnya, ditambah dengan saus ssamjang dan bawang putih, lalu membungkusnya menjadi satu dan memasukkannya ke dalam mulutnya. Sean mengangguk-ngangguk puas dengan mulut sibuk menguyah. “Buatkan aku juga,” pinta Seungha yang mengambil tempat duduk di samping Sean. Sean melirik tajam pada Seungha. “Kau tidak punya tangan... aaaa” Sean mengusap pinggangnya yang baru saja dicubit oleh Jae Hwa. Padahal tempat duduk mereka dipisahakan oleh Seo Jun, tapi tangan neneknya masih bisa dengan mudah mencubit pinggangnya. “Kenapa mencubitku?” protes Sean tidak terima karena Jae Hwa tiba-tiba mencubitnya. “Anak perempuan bicaranya yang halus,” tegur Jae Hwa. “Seungha hanya minta dibuatkan bungkusan daging, jadi tidak perlu bicara seperti tadi. Lagi pula daging yang masuk ke perutmu itu yang memanggang ayahmu dan Seungha.” Sean mendengkus sambil memutar bola matanya malas. Tidak mau mendengar cermahan neneknya lebih lama, Sean mengambil selembar daun selada, mengisinya dengan beberapa potong daging panggang, bawang putih dan saus ssamjang yang super banyak. Lalu jadilah bungkusan daging super besar itu. Seungah membuka mulutnya lebar dengan mata berbinar menanti Sean menyuapkan bungkusan daging itu ke dalam mulutnya. Karena cukup besar, bungkusan daging itu sulit masuk ke dalam mulut Seungha. “Uhuk... uhuk...” Seungha terbatuk setelah menelan bungkusan daging buatan Sean. Pemuda itu segera menyambar gelas berisi air minum di depannya lalu meneguknya hingga habis. “Berapa banyak ssamjang yang kau masukkan?” Mata Sean bergerak-gerak seolah sedang berpikir. “Mungkin tiga atau empat... aaaa!” Jae Hwa kembali mencubit pinggang Sean, kali ini lebih keras hingga membuat gadis itu memekik kesakitan. “Kenapa mencubitku lagi?” protes Sean tidak terima. “Aku sudah membuatkannya bungkusan daging.” “Kau mau membuatnya sakit perut? Kenapa memasukkan ssamjang sebanyak itu?” omel Jae Hwa bersiap memukul Sean, tapi gadis itu dengan cepat menggeser tubuhnya ke dekat Seungha, sehingga tangan Jae Hwa tidak bisa menjangkau tubuhnya. “Nenek jika terus memukulku ini namanya kekerasan.” “Sean, jaga sikapmu di depan nenek,” tegur Yeon Woo. Sean melirik ibunya sekilas, lalu memutar bola matanya malas. Sean kemudian melanjutkan makannya dengan tenang. Memang harusnya seperti itu sejak awal, jika saja dia tidak mengisengi Seungha, Yeon Woo tidak akan menegurnya dan suasana hatinya juga tidak akan jadi seburuk ini. *** Acara makan malam itu berubah jadi acara minum-minum setelah kakek Sean kembali. Bum Tae membeli beberapa kaleng minuman bersoda untuk si kembar dan beberapa botol soju untuk orang dewasa, termasuk Sean dan Seungha. Dari usianya Sean dan Seungha sudah legal untuk minum alkohol. Soo Jin merengek pada ayahnya agar diizinkan mencoba minuman beralkohol itu. Namun sekeras apa pun Soo Jin merengek, tentu Min Hyuk tidak akan mengizinkan putrinya itu untuk minum alkohol karena masih di bawah umur. Tapi, Soo Jin tidak menyerah. Meski telah dilarang, gadis berambut hitam legam itu diam-diam hendak meraih botol soju yang ada di depan Yeon Woo saat semua orang sibuk mengobrol, kecuali Sean yang hanya fokus dengan makanannya. Namun, saat Soo Jin hampir berhasil meraih botol minuman beralkohol itu, tangannya dipukul oleh Yeon Woo. “Soo Jin!” tegur Yeon Woo sambil melebarkan matanya. “Namanya juga usaha,” kilah Soo Jin lalu cengengesan. Gadis kelas dua SMA itu kemudian meminum minuman bersoda yang Bum Tae beli sambil merengut, membuat semua orang di sana tertawa karena sikap Soo Jin yang menggemaskan, kecuali Sean. Gadis itu masih sibuk makan dengan tenang. Hingga setelah suapan terakhir, Sean meletakkan sendok dan sumpitnya ke dalam mangkuk nasi yang sudah kosong, dan meminum segelas air putih. Sean kemudian bangun hendak kembali ke dalam rumah karena ia sudah selesai makan dan tidak berminat berada terlalu lama di sana. Namun, baru selangkah panggilan ibunya menghentikan langkah kaki Sean. “Sean-ah kita perlu bicara.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD