Bagian 42

1456 Words
Sean menoleh, menatap ibunya seolah berkata ‘aku tidak mau bicara dengan ibu’, tapi Yeon Woo tidak peduli. Wanita berusia 45 tahun itu berdiri, kemudian berjalan menuju pintu pagar. Sambil mendesah, dengan terpaksa Sean mengekor di belakang ibunya. Sean hanya berharap ibunya tidak akan mengatakan hal-hal yang berpotensi merusak suasana hatinya. Dia benar-benar sedang tidak ingin bertengkar. Sampai di luar, Yeon Woo menoleh ke belakang sambil melotot. Bukan pada Sean, tapi pada Soo Jin yang sedang mengendap-endap mengikuti mereka. Setelah tertangkap basah oleh sang ibu, gadis kelas dua SMA itu hanya bisa cengengesan. “Apa yang kau lakukan?” tanya Sean dengan dahi berkerut, menatap Soo Jin yang hampir melangkahkan kakinya keluar dari pagar. Soo Jin kembali cengengesan lalu menjawab, “aku mau mencari udara segar.” “Masuk!” “Baik.” Nyali Soo Jin lansung menciut saat Yeon Woo menyuruhnya masuk. Bak anak penurut, Soo Jin perlahan mundur, lalu berbalik masuk ke halaman depan rumah neneknya. Tidak lupa Soo Jin juga menutup kembali pintu pagar yang sempat dibukanya. Sean hanya menggelengkan kepalanya saat melihat tingkah adiknya itu. Dia tidak mengerti bagaimana spesies manusia seperti Soo Jin dan Seo Jun bisa menjadi adiknya. Kecuali wajah mereka yang agak mirip dengannya, tidak ada lagi hal yang mirip antara si kembar dan dirinya. Karakter dan sifat dua adiknya itu juga sangat berbeda dengan Sean. Sean dan Yeon Woo berdiri di samping mobil SUV putih milik Min Hyuk. Persis seperti sebulan lalu, saat Sean menolak tinggal di desa selama musim panas. “Jadi kenapa kau bersikap seperti tadi?” tanya Yeon Woo sambil melipat kedua tangannya di depan d**a. Terlihat wanita paruh baya itu sedang berusaha bersikap tenang. “Seperti tadi yang bagaimana?” Sean balik bertanya seolah tidak mengerti. Padahal dia paham maksud dari pertanyaan sang ibu. Kedua bahu Yeon Woo bergerak naik turun ketika ia menghela napas. “Kau mengabaikan ibu. Kenapa kau melakukannya?” Sean mendengkus pelan lalu menarik sebelah sudut bibirnya ke atas. “Lucu sekali.” “Kau tak senang melihat ayah, ibu dan si kembar datang mengunjungimu?” “Aku tak minta kalian datang,” sanggah Sean. Dia memang tidak meminta ayah dan ibunya untuknya datang ke mari. Bahkan karena tak ingin bertemu, Sean melarang mereka untuk mengunjunginya. “Bukankah aku sudah bilang kalau kalian tak perlu datang. Ibu lupa?” Yeon Woo mengusap rambutnya ke belakang, sebelah tangannya berada di pinggang. Dia tidak tahu lagi bagaimana harus bersikap pada Sean. Putri sulungnya itu terlihat masih menyimpan amarah padanya, padahal sudah dua minggu berlalu sejak pertengkaran mereka. Dan Sejak saat itu Yeon Woo mencoba lebih perhatian pada Sean. Mulai dari sering mengiriminya pesan atau meneleponnya, tapi Sean mengabaikan semua pesan dan teleponnya. “Kau masih marah karena menjebakmu untuk tinggal bersama kakek dan nenek?” Sean terdiam. Jujur, awalnya ia memang marah. Tanpa tahu apa-apa, tiba-tiba saja dia di seret ke mari dan harus tinggal di sini selama musim panas. Namun, seiring waktu berlalu, Sean mulai bisa menerimanya. Tinggal di desa tak seburuk yang Sean pikirkan. “Sean-ah dengarkan ibu. Apa yang kau pikirkan tentang kami mengirimu ke desa itu sama sekali tidak benar,” kata Yeon Woo lalu meraih kedua tangan Sean. “Kami tidak berniat membuangmu. Kami menyuruhmu tinggal di sini selama musim panas, demi kebaikanmu.” Sean menarik tangannya sambil mendecih. “Agar aku bisa menenangkan diri? Agar aku bisa kembali seperti dulu?” Amarah yang sejak tadi Sean tahan karena tidak mau bertengkar, akhirnya menjalar naik ke ubun-ubun. “Ibu, kenapa ibu selalu memintaku kembali seperti dulu? Memintaku untuk menerima kenyataan dan melanjutkan hidup? Ibu juga bilang dunia tidak akan kiamat hanya karena aku tidak bisa menari balet lagi. Ini lebih dari sekedar aku tak bisa menari lagi.” Suara Sean tercekat. Gadis itu mulai kesulitan mengatur napasnya karena merasakan amarah yang lebih besar dari yang coba ia tahan. “Sean-ah, ibu-“ “Apa ibu pernah bertanya bagaimana perasaanku, apa aku baik-baik saja. Ibu hanya selalu bilang semua akan baik-baik saja, tapi ibu tidak pernah berusaha memahami apa yang aku rasakan. Ibu bahkan bersikap egois dengan menyuruhku melupakan segalanya dan kembali seperti dulu!!!” bentak Sean. Gadis itu kemudian mengatur napasnya yang terasa sesak pertanda ia akan segera terisak, tapi ia berusaha keras menahannya. Dia tidak boleh menangis di depan ibunya. “Hari ini aku bertemu orang asing yang bahkan tidak mengenalku, dan saat ia tahu apa yang terjadi padaku, orang itu bertanya apa aku baik-baik saja. Sedangkan ibu, apa yang ibu lakukan?” Yeon Woo terdiam. Luapan emosi Sean yang selama ini dipendam bagai pukulan telak bagi Yeon Woo. Ia memang tidak pernah bertanya tentang keadaan Sean atau apa yang putrinya itu rasakan. Selama ini dirinya sibuk menemukan cara untuk membuat Sean kembali seperti dulu, sampai Yeon Woo lupa bahwa perasaan Sean adalah yang terpenting. “Sean, maafkan-“ “Ibu, apa yang aku alami bukan sekedar aku tak bisa menari lagi. Aku kehilangan hal sangat berharga... aku kehilangan impianku.” Sean menghapus air matanya yang jatuh dengan punggung tangannya. Akhirnya pertahanannya selalu runtuh setiap kali Sean teringat impiannya. “Sean-ah, maafkan ibu,” ucap Yeon Woo kembali meraih tangan Sean, tapi gadis itu menepis tangannya. “Aku lelah. Aku tidak mau bicara lagi dengan ibu.” Sean kembali menghapus air matanya dengan punggung tangan, melangkah mundur, lalu berjalan ke arah pintu pagar. Namun, langkahnya terhenti saat Seungha tiba-tiba muncul dari arah berlawan. Raut wajah pemuda itu terlihat kaget, seolah tertangkap basah sedang menguping pembicaraan orang. “Aku baru kembali dari toko kelontong, kakek menyuruhku membeli beberapa minuman lagi,” kata pemuda itu sambil mengangkat kantong plastik berisi minuman yang dibawa. “Ssibal.” Sean mengumpat lalu masuk ke dalam. *** Yeon Woo duduk di teras depan sendirian. Sudah hampir tengah malam dan semua orang mungkin sudah terlelap dalam tidur, tapi bahkan Yeon Woo sama sekali tidak mengantuk. Setelah bicara dengan Sean yang berakhir dengan pertengkaran, ibu dari 3 anak itu sadar. Selama ini mungkin dirinya tidak benar-benar peduli pada Sean. Selama ini dia hanya berusaha mencarikan Sean kegiatan lain agar putrinya itu bisa melupakan balet. Namun, Yeon Woo tidak tahu jika yang dia lakukan justru membuat Sean semakin terluka. Selama ini dirinya juga tidak pernah bertanya tentang bagaimana perasaan Sean yang sebenarnya. Dia sibuk mencari cara mengembalikan putrinya yang ceria, hingga lupa apa yang menjadi sumber kebahagiaan Sean telah hilang. Sean kehilangan impiannya yang berharga. Yeon Woo mengusap wajahnya. Terlihat sekali jika wanita paruh baya itu sedang diselimuti oleh rasa bersalah sekarang. “Belum tidur?” tanya Min Hyuk yang baru saja keluar. Yeon Woo menoleh, menatap suaminya yang sudah duduk di sampingnya. “Aku tidak bisa tidur,” jawabnya kemudian. “Kau memikirkan Sean?” Yeon Woo mengangguk lemah. “Kalian bertengkar lagi? Tadi aku mendengar Sean berteriak. Dia juga masuk dengan raut wajah marah.” Yeon Woo mendesah seolah baru saja mengangkat beban yang sangat berat. “Aku pikir, kita terlalu egois.” Min Hyuk mengerutkan dahinya. “Maksudmu?” “Kau pernah bilang, jika kita tidak tahu apa yang Sean rasakan sebenarnya. Itu benar, tapi kita sendiri juga tidak pernah bertanya pada Sean, apakah dia baik-baik saja. Kita hanya sibuk mencari cara agak dia bisa kembali ceria seperti dulu,” jelas Yeon Woo. Wanita berusia 45 tahun itu memegang kepalanya. Memikirkan tentang Sean membuatnya merasa pusing. “Itu yang Sean katakan padamu?” Yeon Woo mengangguk. “Aku benar-benar merasa bersalah. Dia kehilangan hal berharga dalam hidupnya, dan aku sibuk memintanya untuk bangkit lalu melupakan segalanya. Aku lupa kalau Sean sangat mencintai balet.” “Kau tidak sepenuhnya salah.” Min Hyuk merangkul istrinya lalu mengusap lengannya pelan. “Kau sudah berusaha melakukan tang terbaik untuk membantu Sean.” “Aku rasa keputusan kita mengirim Sean untuk tinggal di sini adalah salah,” lirih Yeon Woo lalu menunduk sambil menangkupkan kedua tangannya ke wajahnya. “Salah?” “Sean jadi semakin membenci kita. Bagaimana kalau dia benar-benar membenci kita....” “Sean tidak akan membenci kita,” potong Min Hyuk. “Menurutku mengirim Sean ke sini adalah ide yang terbaik. Jika kau sadar, gadis itu terlihat banyak berubah.” “Benarkah?” “Sebelumnya gadis itu selalu diam dan tidak mau berinteraksi dengan orang lain, terlebih lagi orang asing, tapi hari ini dia ikut jalan-jalan bersama orang yang tidak dia kenal. Sean juga jadi lebih dekat dengan Seungha.” Yeon Woo menghela napas, ia ingin menyesali keputusannya mengirim Sean tinggal di sini. Karena keputusannya itu membuat hubungannya dengan Sean menjadi semakin buruk, tapi apa yang dikatakan suaminya benar. Sean perlahan mulai berubah. “Tenanglah,” kata Min Hyuk menenangkan Yeon Woo sambil mengusap bahunya pelan. “Kau bisa bicara lagi dengan Sean besok. Dia pasti akan mengerti jika kau sangat peduli padanya.” “Aku akan coba bicara lagi padanya besok.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD