Pagi itu Seungha sedang mondar-mandir di ruang tamu. Dia terlihat mirip dengan robot penyedot debu yang sedang membersihkan ruangan. Seungha sedang bimbang antara pergi ke rumah nenek Jae Hwa dan menemui Sean seperti biasanya atau tetap tinggal di rumah. Ah, andai saja Seungha kemarin tidak menguping pembicaraan Sean dan ibunya, hari ini dirinya pasti bisa menemui Sean. Sekarang rasanya pasti akan sangat canggung jika mereka bertemu.
“Aish.” Seungha mengacak rambutnya frustrasi. Jika dia memaksa pergi, Sean belum tentu mau bertemu dengannya. Namun, tetap diam di rumah juga bukan ide yang bagus.
“Sebenarnya apa yang kau lakukan?”
Seungha menoleh, ia melihat neneknya datang dari arah ruang makan. “Sejak tadi kau terus mondar-mandir seperti orang yang sedang bingung.”
“Sebenarnya memang sedang bingung,” gumam Seungha pelan.
“Kau bilang apa?”
“Bukan apa-apa,” kata Seungha cepat lalu berjalan ke arah sofa di ruang tamu dan duduk di sana.
Seungha menyandarkan punggungnya ke sofa sambil mendesah. Sean benar-benar memenuhi pikirannya. Dia ingin tahu apa yang dilakukan gadis itu sekarang dan bagaimana keadaannya. Melihat Sean yang menangis semalam membuatnya khawatir.
“Kau tidak bertemu dengannya hari ini?”
Seungha kembali menoleh pada sang nenek. “Siapa?”
“Siapa lagi kalau bukan cucunya Jae Hwa. Bukannya kalian sedang dekat?”
Seungha mengusap tengkuknya. “Kami belum terlalu dekat,” katanya malu-malu.
“Kalau belum dekat, kenapa kau sering terlihat bersamanya? Kau suka padanya?”
Pertanyaan dari neneknya itu hampir membuat Seungha tersedak ludahnya sendiri.
“Melihat reaksimu sepertinya kau memang suka padanya. Jadi apa dia juga suka padamu?” tanya Miran lagi yang membuat Seungha hampir tersedak ludahnya sendiri untuk kedua kalinya.
“Nenek!”
“Apa?” Miran melipat kedua tangannya di depan d**a. “Nenek beri tahu, hanya karena Sean sering bersamamu bukan berarti tidak ada orang lain yang menyukainya. Dia itu punya wajah yang cantik, apa lagi setelah dia bernyanyi di pesta Hyunji waktu itu, banyak anak muda di desa yang ingin mendekatinya.”
Seungha mendengkus. Kepalanya sudah cukup pusing memikirkan apa yang harus ia katakan pada Sean jika mereka bertemu. Sekarang neneknya justru mengatakan bahwa ada banyak pria yang ingin mendekati Sean.
“Lalu....”
Seungha mendongak, menatap neneknya. Raut wajahnya seolah mengatakan ‘apa lagi?’.
“Kapan kau akan pulang ke Seoul?” tanya Miran.
Seungha menghela napas, lalu menjawab, “aku baru saja pulang minggu lalu.”
“Bukan pulang hanya untuk sekedar mengunjungi ibumu, tapi benar-benar pulang ke Seoul.”
Seungha terdiam, matanya terlihat ragu menatap sang nenek.
“Aku juga sedang memikirkannya,” kata Seungha lirih.
Pemuda itu bisa melihat kalau neneknya menarik napas panjang kemudian mendekat padanya. “Kau bilang hanya akan tinggal di sini selama setahun, tapi ini sudah lebih dari setahun. Ada yang kau sembunyikan dari kami?”
Dan Seungha kembali terdiam karena tak bisa mengelak. Dia memang tidak memberitahu nenek atau kakeknya alasannya sebenarnya ia tinggal di sini. Yang mereka tahu, dia tinggal di sini hanya untuk menghabiskan waktu selama cuti kuliah.
“Hanya karena kami tidak pernah bertanya padamu, kau pikir nenek dan kakek tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi?” lanjut Miran yang membuat Seungha terkejut.
“Jadi nenek tahu....”
“Tentu kami tahu.”
“Dari ibu?”
Miran kembali menghela napas lalu menyentuh bahu Seungha. “Seungha-ya, nenek tidak tahu sedekat apa kau dan temanmu itu, tapi ini sudah saatnya kau menerima kenyataan. Bahwa dia memang telah pergi, dan kau harus melanjutkan hidup. Jangan hanya tenggelam dalam rasa bersalah dan penyesalan.”
Seungha menundukkan kepalanya, ia kembali terdiam. Dia tahu apa yang dikatakan neneknya adalah benar. Dia memang harus melanjutkan hidupnya dan menerima kenyataan bahwa Dae Won telah meninggal. Namun, bagaimana dengan keluarga Dae Won? Apa dia berhak melanjutkan hidupnya dan bahagia saat membuat orang tua Dae Won kehilangan putra tersayang mereka?
“Aku akan memikirkannya,” kata Seungha pada akhirnya. Untuk saat ini itu yang bisa dia lakukan. Memikirkan apakah dirinya bisa kembali seperti dulu setelah apa yang ia perbuat pada Dae Won.
Miran menepuk pelan bahu cucunya. “Apa pun keputusanmu, nenek hanya ingin kau tahu jika ibumu dan kami sangat menyangyangimu.”
***
Seungha berbaring di gazebo sambil menikmati semilir angin musim panas yang berembus pelan. Kedua tangannya berada di belakang kepala dan di jadikan bantal. Matanya menerawang, menatap atap gazebo berbahan kayu itu.
Seungha teringat perkataan neneknya pagi ini. Dan itu mulai mengusiknya. Sejujurnya, Seungha juga mulai lelah menjalani hidup seperti ini. Dia juga ingin bisa kembali seperti dulu. Melanjutkan kuliah, bertemu teman-temannya dan melakukan hal-hal yang ia sukai. Bukannya terus terbelenggu oleh rasa bersalah dan penyesalan.
Tapi, apa dia berhak untuk kembali seperti dulu?
Dia orang yang telah membuat Dae Won meninggal dunia. Membuat keluarga temannya itu kehilangan putra tersayang mereka.
“Boom!!!”
Hyunji tiba-tiba muncul dan mengagetkan Seungha.
Pemuda itu refleks duduk tegak sambil menyentuh dadanya karena kaget. Sementara Hyunji tertawa puas karena berhasil membuat Seungha kaget.
“Hyunji-ya kau hampir membuatku terkena serangan jantung,” kata Seungha masih menyentuh dadanya. Jantungnya masih berdebar kencang.
Hyunji tersenyum hingga lesung pipi di kedua pipinya terlihat. “Aku sudah memanggilmu beberapa kali.”
“Kau memanggilku?”
Hyunji mengangguk. “3 kali dan sangat keras. Bahkan paman di sana bisa mendengarnya.”
Hyunji menunjuk pria paruh baya yang berdiri tak jauh dari gazebo itu.
“Maaf aku tidak mendengarnya.”
“Kau melamun?” Hyunji duduk di samping Seungha.
Pemuda itu mengangguk lalu mengubah posisinya jadi duduk bersila.
“Memangnya apa yang kau pikirkan?” tanya Hyunji sambil menatap Seungha. Sorot mata gadis berusia 17 tahun itu terlihat polos dan penuh rasa ingin tahu.
“Sesuatu yang hanya dipikirkan oleh orang dewasa,” jawab Seungha lalu mengacak puncak kepala Hyunji.
Gadis itu menyingkirkan tangan Seungha dari kepalanya. “Aku serius bertanya.”
Kedua sudut bibir Hyunji tampak menukik ke bawah, terlihat lucu saat gadis itu merengut.
“Jika memang ada masalah, oppa bisa cerita padaku. Aku akan jadi pendengar yang baik untukmu,” kata Hyunji dengan nada seolah dia adalah orang dewasa yang bisa Seungha andalkan.
Seungha tertawa lalu mengusap kepala Hyunji. “Terima kasih. Aku benar-benar tersentuh, tapi bukankah kau lebih baik memikirkan sekolahmu?”
Hyunji mendengkus sambil kembali menjauhkan tangan Seungha dari kepalanya. “Kau seperti orang tua.”
Dan Seungha tertawa. “Seberapa tua?”
“Bahkan kakek Dong Hwan jauh lebih baik.”
Seungha mendekatkan wajahnya untuk menatap Hyunji lebih dekat. “Apa ada kakek-kakek setampan aku?”
Mata Hyunji melebar melihat wajah Seungha yang begitu dekat dengannya sekarang. Napasnya tercekat di udara, jantungnya berdebar kencang seperti sedang lari maraton. Berada dalam posisi sedekat ini dengan Seungha sangat berbahaya untuk kesehatan jantung Hyunji dan juga paru-parunya. Gadis itu bahkan hampir tidak bisa bernapas sekarang.
“Kau lucu sekali.” Seungha mengusap kepala Hyunji lalu kembali duduk seperti semula.
Hyunji akhirnya bisa bernapas lega saat Seungha menjauh. Gadis itu diam-diam melirik Seungha yang duduk di sampingnya. Dilihat dari samping seperti ini Seungha benar-benar sangat tampan. Bulu matanya yang lentik, hidungnya mancung dan bibirnya....
Hyunji menggelengkan kepalanya. Membuang jauh pikiran m***m yang baru saja terlintas di kepalanya. Bagaimana bisa dia membayangkan mencium Seungha? Dia pasti sudah gila.
Tapi Seungha benar-benar terlihat sangat tampan dari samping.
Hyunji dan Seungha sudah saling kenal sejak ia gadis itu masih kecil. Meski sebelumnya Seungha tinggal di Seoul, mereka sering bertemu karena Seungha yang selalu datang ke desa setiap liburan untuk mengunjungi kakek dan neneknya.
Hyunji masih ingat saat Seungha menolongnya dari anak-anak laki-laki yang selalu mengganggu dan membuatnya menangis. Seungha terlihat seperti seorang pangeran berkuda putih yang datang menyelamatkan sang putri. Seperti itulah Seungha terlihat di mata gadis kecil berusia 10 tahun, dulu. Dan mungkin sejak saat itu Hyunji mulai menyukai Seungha.
Namun, sepertinya perasaan Hyunji pada Seungha akan bertepuk sebelah tangan. Jika di mata Hyunji, Seungha terlihat seperti pangeran berkuda putih, di mata pemuda itu Hyunji adalah adik kecil yang ia sayangi. Tak pernah sekali pun Seungha melihat Hyunji sebagia perempuan.
“Kau tidak sekolah?” tanya Seungha menyadarkan Hyunji dari lamunannya.
“Sekarang hari minggu,” jawab Hyunji berpura-pura tenang. Jantungnya masih berdebar-debar.
“Benarkah? Aku lupa.”
Hyunji mendengkus. “Hari-hari berikutnya kita juga akan sering bertemu.”
Seungha mengernyit. “Kenapa?”
“Karena sudah libur musim panas.”
Seungha mengangguk mengerti.
Seungha kemudian teringat Sean. Jika sudah masuk libur musim panas, itu artinya musim panas ini akan segera berakhir dan Sean akan kembali ke Seoul. Untuk beberapa alasan, Seungha merasa tidak rela jika mereka nantinya berpisah.
“Oppa,” panggil Hyunji.
Seungha menoleh pada gadis itu. “Ya?”
“Apa jadi orang dewasa itu menyenangkan?”
“Kenapa kau bertanya?”
Hyunji mendesah. “Aku hanya penasaran.”
Seungha menarik kedua sudut bibirnya ke atas. “Jangan penasaran. Dunia orang dewasa itu tidak terlalu menyenangkan seperti yang terlihat. Lebih baik sekarang nikmati dulu masa remajamu. Karena setelah dewasa nanti kau pasti akan merindukan masa-masa ini.”
“Apa kau juga merindukan masa remajamu?”
Seungha menganggukkan kepalanya.
“Tentu saja.”