Sean tidak tahu jika menjadi dewasa akan serumit ini. Dewasa itu ternyata bukan hanya tentang usia, tapi bagaimana kita bisa mengendalikan diri, mengatur masalah, menahan amarah dan bertanggung jawab atas diri kita dan orang lain.
Sean sudah berusaha mengendalikan diri dan menahan amarahnya. Ia mencoba sebaik yang ia bisa, tapi kemudian amarahnya meledak ketika Sean tak bisa menahannya lebih lama lagi.
Ah, jika saja amarahnya ini karena sang ibu menolak membelikannya sepatu balet baru atau leotard baru, Sean mungkin akan dengan mudah berdamai dengan sang ibu. Namun, yang terjadi sekarang sangatlah berbeda. Amarahnya bukan lagi karena sang ibu tak memenuhi keinginannya, tapi karena sang ibu tak memahami dirinya.
Katakanlah darah lebih kental dari air yang artinya ikatan keluarga lebih penting daripada dengan hubungan orang lain yang tidak sedarah. Namun, orang-orang penting yang disebut keluarga itu terkadang menjadi orang yang tidak memahami dirimu.
Dan itu memang benar. Sean tak menyalahkan ibu atau ayahnya atas apa yang terjadi padanya, tapi setidaknya Sean ingin mereka memahami dirinya. Mengerti jika yang di alami bukan hanya sekedar tak bisa menari balet, tapi juga kehilangan hal berharga dalam hidupnya.
Yah, awalnya memang mereka berusaha memahami dirinya. Mencoba mengerti bahwa Sean sangat terluka karena kehilangan impiannya, tapi seiring berjalannya waktu mereka jadi tidak peduli. Mereka jadi sibuk menyuruhnya untuk bangkit dan melupakan perasaannya yang terluka.
Mungkin karena mereka malu. Putri yang sebelumnya selalu mereka banggakan berubah jadi gadis pemurung dan tidak punya gairah hidup.
“Ahhhh.”
Sean mendesah sambil menerawang langit-langit kamarnya. Hari ini, pertama kali dirinya menghabiskan sepanjang harinya dengan tetap berada di dalam kamar. Sean keluar hanya untuk mandi atu sekedar buang air kecil. Sean bahkan melewatkan sarapan dan makan siangnya hanya untuk mengindari bertemu sang ibu. Dan sekarang dia juga melewatkan makan malamnya.
Sean pikir kedua orang tuanya dan si kembar akan kembali ke Seoul setelah sarapan atau makan siang, tapi ternyata mereka akan pulang besok pagi tanpa si kembar. Entah apa yang terjadi hari ini, tiba-tiba Sean mendengar bahwa si kembar akan menghabiskan waktu liburan musim panas mereka dengan tinggal di sini selama seminggu.
Membayangkan seminggu akan tinggal bersama Soo jin dan Seo Jun membuat pikiran Sean terguncang. Dia memang sudah 17 tahun hidup bersama mereka berdua dan segela kekacauan yang mereka perbuat, tapi setelah tinggal di sini selama satu bulan, Sean benar-benar merasakan ketenangan tanpa pekikan suara kedua adiknya itu.
“Apanya yang menyuruhku menenangkan diri. Mereka malah membiarkan si kembar menginap selama seminggu,” gerutu Sean sambil membayangkan betapa kacaunya tujuh hari ke depan dengan keberadaan Soo Jin dan Seo Jun di sana.
Tak akan ada lagi ketenangan yang Sean rasakan selama seminggu ke depan. Membayangkannya saja sudah membuat kepala Sean sakit.
Tok...tok...tok...
Sean menoleh ke arah pintu kamarnya. Pintu kayu itu terbuka sedikit, di ikuti kepala ayahnya yang muncul dari balik pintu.
Dengan mata menyipit Sean menatap sang ayah.
“Mau ikut dengan ayah?”
***
Di sinilah Sean sekarang berada dalam mobil menuju ke suatu tempat hanya bersama ayahnya. Anehnya, tadi Sean tidak bertanya mereka akan pergi ke mana. Dia hanya refleks mengikuti sang ayah yang mengajaknya pergi. Sean berharap mereka akan pergi ke suatu tempat yang membuat perutnya kenyang. Melewatkan hari ini tanpa makan apa pun membuat gadis itu kelaparan sekarang.
Sean melirik ayahnya yang sedang fokus menyetir. “Kita mau ke mana malam-malam begini?”
Akhirnya Sean bertanya ke mana mereka akan pergi. Gadis itu berharap akan mendengar jawaban yang bisa menggugah selera makannya. Cacing-cacing dalam perutnya sudah mulai bernyanyi sekarang.
“Baru jam 8 malam,” jawab Min Hyuk sambil melirik jam tangannya sekilas. “Kita akan pergi ke tempat yang membuat perutmu kenyang. Seharian ini kau belum makan, kan?”
Sean mengalihkan pandangannya ke jendela di sampingnya. Gadis itu tak bisa menahan senyumnya saat sang ayah bilang akan mengajaknya makan. Akhirnya perutnya akan terisi juga setelah kelaparan seharian ini.
Sean buru-buru mengubah raut wajahnya menjadi datar. Ayahnya tak boleh tahu jika dia merasa senang sekarang. Dia harus bersikap seolah ajakan makan ayahnya itu adalah hal yang biasa-biasa saja.
Mobil Min Hyuk berhenti di kawasan yang di mana ada banyak restoran di sepanjang jalan. Setelah memarkirkan mobilnya, pria paruh baya itu mengajak Sean segera keluar.
“Kau mau makan apa?” tanya Min Hyuk sesaat setelah Sean keluar dari mobil.
Sean mengedarkan pandangannya menatap deretan restoran yang ada di sekitar mereka.
“Terserah,” jawabnya kemudian.
Meski merasa senang karena akhirnya dirinya akan makan setelah bertahan seharian dengan perut kosong, Sean harus bersikap seolah masih marah. Ia tidak boleh menunjukkan rasa senangnya karena akan segera makan setelah ini.
“Bagaimana kalau pizza?” Min Hyuk menunjuk sebuah restoran pizza yang tak jauh dari mereka.
Sean mengikuti arah jari telunjuk ayahnya. Pizza sepertinya bukan ide yang buruk. Sean sudah membayangkan menghabisan satu pan pizza ukuran medium yang dilapisi saus tomat dan mustard, lalu ditaburi dengan toping keju, daging cincang, irisan daging sapi. Membayangkannya saja membuat Sean menelan ludah tanpa sadar.
***
Sean dan ayahnya duduk di salah satu kursi kosong di dekat jendela. Di depan mereka sudah ada satu pan pizza ukuran medium dengan beraneka macam toping dan dua gelas cola dingin. Dengan mata berbinar Sean menatap pizza itu. Mulutnya tak sabar mencicipi lezatnya pizza dengan toping irisan daging sapi, keju dan tomat. Jadi ketika sang ayah memberi sepotong pizza ke atas piringnya, Sean segera melahapnya tanpa banyak bicara.
Meski tak menatap ayahnya, Sean tahu jika pria itu sedang menatapnya sambil tersenyum. Mungkin karena dia yang makan seperti orang yang kelaparan, tapi Sean memang sedang kelaparan. Dia belum makan apa pun seharian ini dan pizza adalah makanan pertamanya hari ini. Jadi, wajar Sean bersikap agak berlebihan, tapi tenang saja. Sean masih makan seperti layaknya manusia.
“Pelan-pelan.” Min Hyuk mengusap sudut bibir Sean yang belepotan karena saus tomat. “Kau sangat lapar, ya?”
Sean tanpa sadar mengangguk dan membuat Min Hyuk tersenyum. “Kau yakin bisa menghabiskan seloyang pizza ini sendirian?”
Sean mendongak menatap ayahnya. “Ayah tidak makan?”
Min Hyuk menggeleng. “Tidak, ayah sudah kenyang.”
Lalu saat pizza di piring Sean tinggal satu gigitan terakhir, Min Hyuk memberi sepotong pizza lagi ke atas pirin Sean. Gadis itu memakannya dengan lahap. Sean benar-benar lapar.
“Sean-ah.”
“Ya?”
“Berapa jarak usiamu dengan si kembar?” tanya Min Hyuk sambil melipat kedua tangannya di atas meta. Menatap Sean yang sedang makan dengan lahap.
“Tiga tahun,” jawa Sean lalu memasukkan potongan kecil pizza ke dalam mulutnya dengan garpu.
“Mau dengar cerita menarik?”
Sean menatap ayahnya sambil mengunyah pizza yang baru saja masuk ke dalam mulutnya. Gadis itu tampak penasaran, cerita apa yang akan ayahnya ceritakan.
“Setahun setelah pernikahan ayah dan ibu, kau hadir dalam kehidupan kami dan membuat kami menjadi orang tua. Ayah masih ingat perasaan saat menatapmu pertama kali setelah kau lahir. Ayah sangat bahagia. Ibumu juga.”
Sean yang hendak menyuapkan sepotong pizza ke dalam mulutnya itu berhenti. Mendengar ayahnya menyebut sang ibu, Sean sadar ayahnya sedang berusaha membuatnya berdamai dengan ibunya, dan pizza yang sedang ia makan sekarang adalah sogokannya.
Untuk sesaat Sean menyesal telah ikut pergi bersama sang ayah. Jika dia tahu ayahnya mengajaknya makan untuk membuatnya berdamai dengan sang ibu, Sean tentu tak akan ikut dengan sukarela seperti tadi.
Bagaimana bisa rasa marah dan kecewanya digantikan dengan seloyang pizza ukuran medium?