Selera makan Sean tiba-tiba menghilang. Harusnya dia sadar sejak awal saat ayahnya mengajak keluar berdua itu untuk membujuknya agar mau berdamai dengan sang ibu. Jika tahu akan jadi begini, Sean lebih memilih tetap berada di dalam kamarnya, walau itu artinya dia harus menahan rasa laparnya.
Sean meletakkan kembali potongan pizza yang hendak dimakannya ke atas piring. Sean lalu menatap sang ayah. Sean berharap ayahnya akan berhenti bercerita, tapi pria paruh baya itu seolah tak peduli dan kembali melanjutkan ceritanya.
“Kami sangat bahagia saat kau lahir, terlebih lagi ibumu. Dia bahkan tak bisa berhenti menangis saat pertama kali menggendongmu dalam dekapannya. Begitu kecil dan mungil, katanya waktu itu.” Min Hyuk tersenyum mengingat lagi saat-saat Sean lahir ke dunia. Itu adalah saat-saat yang paling membahagiakan dalam hidupnya.
Sean terlihat tidak tertarik dengan cerita ayahnya. Dia sudah menebak akhirnya sang ayah akan tetap membujuknya agar mau berbaikan dengan ibunya. Lagi pula bukankah hal yang wajar orang tua merasa bahagia saat anaknya lahir, apalagi jika itu adalah anak pertama mereka. Yang tidak wajar itu kalau mereka tidak merasa bahagia.
“Tapi, selain merasa bahagia, kami juga merasa takut dan gugup. Itu pertama kalinya kami menjadi orang tua. Terkadang kami juga merasa kewalahan. Kami tidak tahu apa yang harus dilakukan saat kau menangis. Waktu itu benar-benar kacau. Kami sering terjaga di malam hari karena kau yang menangis sepanjang malam. Meski kami sering kewalahan, tapi kami berdua sangat bahagia.
“Lalu waktu berjalan dengan cepat hingga Seo Jun dan Soo Jin lahir. Kami kembali merasa bahagia dan gugup. Lebih gugup daripada saat kau lahir, karena kami tidak menyangka akan memiliki anak kembar. Kami juga khawatir padamu. Kami takut tak bisa memberi perhatian karena kehadiran si kembar, tapi tanpa disangka usiamu yang baru tiga tahun saat itu kau seolah memahami keadaan kami. Kau tak banyak menuntut dan selalu mengalah ketika ibu atau ayah sedang sibuk mengurus si kembar.
“Lalu saat si kembar mulai masuk ke masa anak-anak, kami pikir bisa mulai bernapas lega karena keadaan tak akan sekacau saat mereka berdua masih bayi, tapi ternyata tidak. Si kembar sangat berbeda denganmu. Bahkan ibumu sering mengeluh sakit kepala saat menjaga mereka. Tidak ada hari yang mereka lewati tanpa pertengkaran.”
Tanpa Sean sadari kedua sudut bibir Sean bergerak naik. Benar, sifat dan karakter si kembar sangat berbeda dengan dirinya. Ia ingat bagaimana si kembar yang selalu membuat amarah ibu mereka naik ke ubun-ubun karena kenakalan mereka.
“Tapi, ibumu sangat bersyukur ada kau yang selalu membantu menengahi pertengkaran mereka. Ibu juga bilang si kembar lebih takut padamu daripada dengan ibu. Lucu, bukan?”
Min Hyuk tertawa pelan mengingat kata-kata si kembar yang bilang Sean jauh lebih menyeramkan dari Yeon Woo. Makanya saat Sean berubah menjadi pemurung kedua anak itu juga jadi lebih takut pada Sean. Meski Sean sering memarahi si kembar karena selalu bertangkar, kedua anak itu dengan tulus berharap kakaknya kembali seperti dulu.
“Ayah dan ibu sangat bersyukur memiliki putri yang sangat pengertian seperti dirimu.”
Sean tersentak saat sang ayah menyentuh puncak kepalanya dan mengusap rambutnya. Sudah lama sekali ayahnya tidak melakukan hal ini padanya. Terakhir kali saat sang ayah mengusap rambutnya seperti ini waktu dia masih SD dan itu sudah lama berlalu.
“Ayah minta maaf jika selama ini kami tidak bisa memahami dirimu. Kami pikir sudah berusaha yang terbaik untuk dirimu, tapi kenyataannya tidak seperti yang kami bayangkan.”
Sean terdiam. Matanya berkedip-kedip. Sean tidak menyangka jika kata maaf keluar dari mulut ayahnya. Ia memang mengharapkan permintaan maaf itu, tapi entahlah rasanya aneh mendengar kata maaf dari ayahnya.
“Sean-ah,” panggil Min Hyuk.
Sean menatap ayahnya. Mereka saling menatap cukup lama, hingga Min Hyuk menceritakan sesuatu yang tak pernah Sean tahu.
***
Min Hyuk keluar dari restoran pizza setelah Sean berhasil menghabiskan seloyang pizza ukuran medium tadi. Mereka berjalan beriringan menuju tempat mobil Min Hyuk terparkir.
“Kau akan bicara dengan ibumu nanti?”
Sean menganggukkan kepalnya. “Iya.”
“Baguslah, dia sangat khawatir padamu,” ucap Min Hyuk sambil mengusap puncak kepala Sean, tapi hanya sebentar karena Sean menyingkirkan tangannya dari sana.
“Kenapa?” tanya Min Hyuk dengan kedua alisnya yang hampir menyatu.
“Jangan lakukan lagi.”
Min Hyuk mengerutkan dahinya. Ia menatap Sean dengan bingung.
“Jangan mengusap puncak kepalaku lagi,” jawab Sean kemudian.
Min Hyuk mengedipkan matanya beberapa kali. “Kenapa?”
“Aneh.”
“Aneh?”
“Iya aneh, makanya jangan lakukan lagi. Jangan bersikap terlalu manis juga, ayah itu orangnya kaku. Aku saja merinding melihatmu tersenyum seperti tadi. Bersikaplah seperti biasanya.”
Dan tawa Min Hyuk meledak kemudian. Cara Sean mengeluh tentang sikapnya itu sangat lucu. Tak mengindahkan keluhan Sean, pria paruh baya itu kembali mengusap puncak kepala putrinya. Membuat Sean refleks menjauhkan dirinya dari Min Hyuk.
“Ayah!” protes Sean.
Min Hyuk hanya tersenyum menanggapi protes dari putri sulungnya itu. Melihat sikap Sean seperti ini membuatnya bahagia. Sedikit demi sedikit, Sean terlihat mulai kembali seperti dulu. Mengirim gadis itu untuk tinggal nenek dan kakeknya memang pilihan yang tepat.
***
Min Hyuk menepuk pelan pundak Sean setelah mereka masuk ke dalam rumah. Pria paruh itu kemudian melangkah menuju kamar tamu, meninggalkan Sean sendirian di ruang tamu.
Sean tahu maksud dari tepukan sang ayah di pundaknya. Sang ayah menyuruhnya untuk segera bicara dengan ibunya lalu berbaikan.
Sean mendesah. Karena sudah berjanji akan bicara dengan ibunya, ia tak punya alasan untuk mengelak. Dengan langkah lesu gadis itu berjalan menuju kamarnya. Ia, Soo Jin dan ibunya tidur bersama. Sementara Seo Jun tidur bersama ayahnya di kamar tamu.
“Sean.”
Sean tersentak kaget mendengar panggilan itu. Ia menoleh dan mendapati ibunya berdiri di dekat kusen pintu yang menghubungkan ruang tamu dan ruang makan.
Sean kemudian berbalik menatap ibunya. Ia teringat dengan apa yang ayahnya ceritakan tadi di restoran.
“Ayah bukannya mau mengingatkanmu pada kenangan yang membuatmu terluka, tapi ayah merasa kau harus tahu hal ini.”
Senyuman di wajah ayahnya memudar. Raut wajah itu berubah menjadi serius, membuat Sean merasa gugup.
“Apa kau ingat saat dirimu kembali di rawat di rumah sakit karena luka jahitan pasca operasi di kakimu membengkak?”
Sean menganggukkan kepalanya. 3 bulan setelah keluar dari rumah sakit, ia harus kembali di rawat karena luka jahitan pasca operasi patah tulang di kakinya mengalami pembengkakan. Sean juga ingat betapa paniknya kedua orang tuanya waktu itu. Mereka takut luka jahitan pasca operasi itu terinfeksi.
“Mungkin kau berpikir kami tidak tahu apa yang membuat luka itu membengkak, tapi sebenarnya kami tahu.”
Sean tertegun. Tubuhnya tiba-tiba menegang, lalu sekelebat kenangan dari setahun lalu bergantian muncul di kepalanya.
“Hari itu, setelah kau bisa berjalan lagi, diam-diam kau pergi ke tempat latihan, benar?”
Sean terdiam. Dia tidak mengelak tuduhan itu karena memang benar ia pergi ke tempat latihan tanpa sepengetahuan orang tuanya. Waktu itu Sean tidak percaya jika dirinya tak bisa menari lagi. Sean berpikir dengan berusaha dan kembali berlatih, dirinya akan tetap bisa menari. Karena itu setiap hari, tanpa sepengetahuan orang tuanya Sean diam-diam pergi ke tempat latihan.
Namun, sekeras apa pun usahanya tubuhnya sudah tak sama seperti sebelum kecelakaan itu terjadi. Teknik-teknik yang sebelumnya mudah ia lakukan, jadi terasa sangat sulit. Bahkan Sean terjatuh berkali-kali saat mencoba teknik-teknik itu.
Mengingat hari-hari itu, Sean merasakan kehangatan di matanya. Itu adalah saat-saat Sean berada di titik terendah dalam hidupnya. Berkali-kali ia meyakinkan dirinya bahwa ia masih bisa menari, berkali-kali juga Sean ditampar oleh kenyataan. Dirinya tak akan pernah bisa menari balet lagi.
“Kami tahu, pembengkakan itu terjadi karena kau memaksa berlatih dengan kondisi seperti itu. Meski kau selalu pergi diam-diam, ibu selalu ada di belakangmu dan mengikutimu. Dia melihat bagaimana kerasnya kau berlatih, dia juga melihatmu jatuh berkali-kali....” Suara ayahnya terdengar tercekat.
Ayahnya kemudian menarik napas dalam lalu menghembuskannya perlahan. Memberi jeda sebentar untuk menenangkan dirinya.
Lalu setelah satu tarikan napas panjang ayahnya kembali melanjutkan, “Ibu selalu menangis tanpa suara setiap kali melihatmu jatuh. Hatinya hancur saat melihatmu duduk dengan memeluk lutut di sudut ruangan. Dia sama hancurnya denganmu Sean....”
Tak bisa menahan perasaanya, Sean akhirnya menangis. Ia tidak tahu jika ibunya selalu mengikuti dan melihatnya latihan. Ia tidak tahu jika ibunya merasa hancur saat melihatnya jatuh berkali-kali. Selama ini Sean pikir ibunya orang yang egois karena tak memahami perasaannya, tapi ternyata Sean salah. Mungkin dialah orang yang paling egois di antara mereka. Merasa paling terluka sampai tak sadar bahwa orang-orang di sekitarnya juga merasakan hal yang sama.
“Mungkin ibu terlihat egois dan sering marah-marah, tapi percayalah itu adalah bentuk pertahanan dirinya. Ibu tidak mau terlihat bersedih di depanmu, dia harus terlihat tegar untuk membantumu bangkit. Sean, ibu sangat peduli padamu lebih dari yang kau tahu.”
Ucapan ayahnya bagaikan pukulan bagi Sean yang menyadarkan dirinya. Selama ini dirinya terlalu tenggelam dalam rasa kehilangan, Sean tidak sadar jika ibunya ternyata sangat peduli padanya. Ibunya juga sama-sama terluka seperti dirinya.
“Sean, apa pun yang ibu lakukan itu semua demi kebaikanmu. Dia hanya ingin kau kembali bahagia. Ibu hanya ingin melihat senyum di wajahmu.”
Kedua bahu Sean bergerak naik turun saat gadis itu mulai terisak. Ia benar-benar merasa bersalah atas apa yang ia katakan pada ibunya kemarin. Sean minta agar sang ibu memahami dirinya, tapi Sean sendiri tak mau mencoba memahami ibunya.
Sean menghirup cairan yang hampir keluar dari hidungnya. Ia kemudian meraih beberapa lembar tisu yang disodorkan oleh sang ayah. Sean menutup hidungnya dengan tisu pemberian ayahnya, lalu mengeluarkan cairan di dalam hidungnya.
Terdengar suara cukup keras saat Sean mengeluarkan ingusnya, hingga membuat beberapa pengunjung menatap ke arahnya. Sean tidak peduli. Dia sedang meratapi kesedihannya sekarang.
Setelah merasa tenang, ayahnya meraih tangan Sean. Gadis itu bisa melihat ayahnya sedang menatapnya dalam.
“Ayah mohon bicaralah dengan ibumu dan berbaikanlah dengannya. Dia sangat sedih karena kau mengabaikannya.”
Sean menganggukkan kepalanya. “Aku akan bicara dengan ibu.”
Sean melihat ayahnya tersenyum lalu mengusap puncak kepalanya.
“Anak baik.”