Bagian 52

1594 Words
Perjalanan dari desa menuju kota biasanya hanya membutuhkan waktu 30 menit menggunakan bus. Namun, entah kenapa Sean merasa perjalanan kali ini terasa lebih lama. Seolah bus yang mereka naiki melaju dengan kecepatan paling lambat. Sean menghela napas. Matanya menatap lurus ke luar jendela. Ditatapnya langit sore berwarna jingga kemerahan yang menandakan matahari akan segera terbenam. Harusnya, sekarang ia berbaring dengan nyaman di dalam kamar. Bukannya menuruti kemauan si kembar yang merepotkan. “Kenapa?” Sean menoleh. Seungha duduk di sampingnya. Sedangkan si kembar duduk di kursi di depan mereka. “Hanya lelah. Kau tidak lelah?” “Setelah mencabuti semua rumput itu, sebenarnya aku juga merasa lelah.” Sean mengangguk setuju. Ladang milik kakeknya cukup luas dan mereka mencabut semua rumput serta tanaman liar di sana secara manual. Sebenarnya bisa menggunakan traktor, tapi hari itu traktor yang biasa digunakan tiba-tiba rusak dan rumput-rumput itu harus segera di cabut. Jadilah, sang kakek memanfaatkan tenaga mereka. “Lalu, bagaimana kau bisa ikut dengan kami?” tanya Sean. Dia sempat kaget tadi saat melihat Seungha berdiri di depan pagar. “Aku yang mengajak,” jawab Soo Jin. Gadis itu menoleh ke belakang. “Meski eonni akhirnya mau menemani kami, aku tidak yakin bisa pergi dengan aman bersamamu. Karena aku buta arah, aku yakin eonni juga tidak jauh berbeda. Jadi, demi keselamatan kita bersama aku mengajak Seungha oppa.” “Aku tidak jauh berbeda denganmu?” Soo Jin menganggukkan kepalanya. Tak... “Aww!!!” Soo Jin mengaduh saat Sean menyentil dahinya dengan keras. “Eonni!!!” Soo Jin mengusap dahinya baru disentil. Rasanya panas dan perih. Sentilan Sean lebih sakit dari ibunya. “Jangan kau sama ‘kan aku denganmu!” Soo Jin mendengkus lalu berbalik. “Menyebalkan.” Sean hampir menarik rambut Soo Jin, tapi ditahannya. Sean tidak mau membuang tenaganya percuma hanya untuk berkelahi dengan Soo Jin. Setelah sampai di kota dia butuh lebih banyak tenaga untuk mengikuti si kembar. “Kalian benar-benar terlihat seperti saudara,” kata Seungha. Sean mengalihkan pandangan pada Seungha. Gadis itu mengerutkan dahi. “Maksudnya?” “Kalian terlihat dekat satu sama lain.” “Benarkah?” Seungha menganggukkan kepalanya. “Benar-benar seperti saudara.” “Padahal aku merasa kami tidak terlalu dekat,” gumam Sean lalu kembali menatap ke luar jendela. Sebenarnya Sean cukup dekat dengan Soo Jin dan Seo Jun dulu, sebelum dirinya mengalami kecelakaan. Meski jarang bertemu karena Sean disibukkan dengan latihan, setidaknya setiap hari libur ia akan menghabiskan waktunya bersama ayah, ibunya dan si kembar. Namun, setelah kecelakaan itu Sean lebih banyak mengurung diri di kamar. Gadis itu tidak mau berinteraksi dengan dunia luar, teman-temannya dan juga kedua adiknya. Dan sejak saat itu hubungan mereka merenggang. Sean tidak peduli kekacauan apa yang diperbuat oleh si kembar. Sean tidak peduli apakah kedua adiknya itu berkelahi. Baginya rasa sakit karena kehilangan impiannya, jauh lebih besar dari pada kepeduliannya pada mereka. Sean menghela napas. Mengingat apa yang terjadi padanya setahun terakhir membuatnya berpikir, bahwa ia bukan hanya membuat ayah, ibunya khawatir, tapi juga membuatnya jauh dengan kedua adiknya. Bahkan Sean baru sadar akan kehadiran dua adiknya saat mereka menghabiskan waktu di desa. “Aku tahu mereka agak merepotkan, tapi sepertinya mereka sangat menyayangimu,” kata Seungha pelan. “Mereka bilang merindukan dirimu yang dulu.” Sean menatap Soo Jin dan Seo Jun yang duduk di depannya. Ucapan Seungha barusan membuatnya berpikir. Ternyata selama tenggelam dalam kesedihan, Sean telah mengorbankan banyak hal. Termasuk Soo Jin dan Seo Jun. *** “Eunghhh.” Sean melenguh saat sinar matahari yang menerobos melalui celah jendela mengenai wajahnya. Masih dengan mata terpejam, Sean merentangkan kedua tangannya lalu meregangkan tubuhnya. Sean merasa setiap tulang dan sendi dalam tubuhnya terasa ngilu. Seolah tulang-tulangnya ingin terlepas dari tempatnya. Kemarin malam, setelah mendengar apa yang Seungha katakan Sean berniat menebus kesalahannya pada si kembar karena mengabaikan mereka. Sean ingin bersikap baik pada mereka. Namun, ternyata apa yang ia lakukan kemarin adalah awal dari penderitaannya pagi ini. Soo Jin dan Seo Jun benar-benar menggila semalam. Karaoke, game arkade, escape room, mereka mencoba hampir semua permainan yang ada di kota. Dan karena sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk bersikap baik pada si kembar, Sean terpaksa menuruti kedua adiknya itu. Jika tahu dia akan terbangun dengan keadaan seperti ini, lelah dan seluruh tubuh terasa pegal, Sean tidak akan membuat janji apa pun. Dengan susah payah Sean berusaha bangun. Lalu, dengan langkah tertatih Sean berjalan keluar kamar. “Mau sarapan?” tanya Jae Hwa saat melihat Sean keluar dari kamar. “Aku mau cuci muka dulu,” jawab Sean. Gadis itu berjalan menuju ke kamar mandi. “Kenapa jalanmu seperti itu?” “Si kembar menyiksaku kemarin.” Jae Hwa mengerutkan dahinya, menatap Sean yang masuk ke kamar mandi. 5 menit berlalu, setelah keluar dari kamar mandi Sean menuju ruang makan. Ia melihat neneknya menyiapkan sarapan untuknya. Gadis itu menarik salah satu kursi makan dan duduk di sana. Neneknya kemudian memberikan semangkuk nasi pada Sean. “Mana si kembar?” tanya Sean tak melihat keberadaan dua adiknya sejak ia bangun. “Mereka pergi bersepeda,” jawab Jae Hwa lalu duduk di kursi di depan Sean. “Sepeda?” “Tadi Seo Jun menemukan sepeda tandem di gudang, lalu mencobanya. Ternyata sepeda tua itu masih berfungsi dengan baik.” “Dia menaikinya dengan Soo Jin?” Jae Hwa mengangguk. “Katanya mereka ingin keliling desa dengan sepeda itu.” Sean membayangkan betapa ramainya sepanjang jalan dengan teriakan kedua bocah itu. Soo Jin dan Seo Jun pasti akan saling mengeluh karena merasa mengayuh sendirian sepeda tandem itu. Beruntung jika mereka dan sepedanya tidak jatuh ke selokan karena ulah keduanya. “Sean-ah.” “Ya?” “Nenek senang kau sudah berbaikan dengan ibumu.” Sean juga merasa lega telah menyelesaikan kesalahpahamannya dengan sang ibu. Rasanya satu hal yang mengganjal dihatinya sudah diangkat. “Aku memutuskan untuk bicara baik-baik.” “Benar, segala masalah yang terjadi harus dibicarakan baik-baik. Dengan begitu tidak akan ada yang namanya salah paham. Sekarang kau tahukan jika ibumu sangat peduli padamu?” Sean mengangguk. “Ya aku tahu.” Selama ini karena merasa paling menderita Sean tidak sadar betapa pedulinya kedua orang tuanya. Namun, setelah bicara dan mengatakan apa yang selama ini mengganjal di hatinya, Sean akhirnya tahu jika kedua orang tuanya sangat peduli padanya. “Nenek berharap, luka dihatimu juga akan segera sembuh. Semua orang merindukan dirimu yang ceria.” Sean tersenyum menatap neneknya. Ia tahu itu, bahwa semua orang merindukan dirinya yang dulu. Namun, apa mungkin untuk kembali seperti dulu? Rasanya Sean mulai lupa seperti apa dirinya dulu. Meski berusaha berdamai dengan kenyataan bahwa dia tidak menari lagi, luka karena kehilangan hal berharga itu tidak mudah untuk disembuhkan. Sean merasa luka dihatinya semakin dalam setiap harinya. Hanya ia yang berpura-pura terlihat baik-baik saja. *** Sejak hujan deras yang menyebabkan sungai di belakang bukit airnya meluap, Sean tak pernah lagi menginjakkan kakinya di sana. Namun, hari ini Sean ingin pergi ke tempat itu. Beberapa hari ini cuacanya sangat panas, Sean yakin air sungai yang sebelumnya meluap pasti sudah surut sekarang. Sungai di belakang bukit adalah tempat yang sangat tenang, walau sejak pertemuan dengan Seungha di sana ketenangan di tempat itu jadi berkurang. Begitu melewati jalan setapak, Sean di sambut dengan hawa sejuk yang berasal dari hutan. Sean berjalan dengan hati-hati. Hutan di bukit itu sangat lembap. Jadi jalanannya agak licin. Banyak bebatuan di sisi kanan dan kiri jalan. Jika sampai tergelincir di sana, tubuh Sean pasti menghantam batu-batu itu. “Oh....” Sean tidak tahu ini sebuah kebetulan atau tidak. Tapi, kata orang sebuah kebetulan yang terus terjadi itu namanya takdir. Jika benar begitu, pertemuannya dengan Seungha apa bisa disebut sebagai takdir juga? Mereka selalu tidak sengaja bertemu di sini. Bahkan, sungai ini adalah tempat pertemuan pertama mereka. Sean ingat bagaimana bodohnya Seungha yang mengira dirinya mencoba bunuh diri itu. Dengan dalih berusaha menyelamatkan Sean, pemuda itu justru hampir membuat Sean hampir tenggelam. Pertemuan pertama mereka meninggalkan kesan yang sangat buruk bagi Sean. Sean menatap ke arah Seungha yang berbaring di atas sebuah batu besar di pinggir sungai. Sebelah tangan pemuda dijadikan bantal, dan sebelahnya lagi untuk menutupi matanya dari sinar matahari. Sean berjalan mendekat ke sebuah batu yang cukup besar. Setelah melepas sepatunya, Sean duduk di sana. Gadis itu melirik Seungha yang berjarak 2 meter dari dirinya. Melihat pemuda itu bergeming, sepertinya Seungha tidak menyadari kedatangannya. Padahal biasanya pemuda itu akan menyapa Sean sambil melambaikan tangan setiap kali melihatnya datang. Sean tidak berniat menyapa Seungha. Suasana di sekitar sana menjadi tenang karena pemuda itu diam saja, dan Sean tidak mau merusak ketenangan itu. Alasannya pergi ke sini adalah untuk mencari ketenangan. Dari Seungha, Sean mengalihkan pandangannya ke tengah sungai. Air sungai itu tampak berkilau karena pantulan cahaya matahari yang mengenai permukaannya. Sangat indah. Lalu, gemercik suara air sungai yang mengalir membuat Sean merasa tenang dan nyaman. Pergi ke sini saat pikirannya kacau, ternyata adalah keputusan yang tepat. Sungai ini selain punya suasana yang tenang juga punya pemandangan yang indah. Sean seperti menemukan harta karun saat menemukan tempat ini. “Pikiranmu sedang kacau?” Sean tersentak kaget saat Seungha tiba-tiba bersuara. Dia pikir pemuda itu tidak menyadari kehadirannya di sana. Sean lantas menoleh ke arah Seungha. Sebelah tangan yang digunakan untuk menutupi matanya sekarang berpindah di belakang kepalanya. Seungha menatap dedaunan dari pohon-pohon di pinggir sungai itu. Daun-daun itu bergerak, saling bergesek satu sama lain hingga menimbulkan bunyi gemeresik karena tertiup angin. Sean melihat d**a Seungha naik turun saat pemuda itu menghela napas. “Tempat ini selalu jadi pilihan terbaik saat pikiranku kacau. Kau juga begitu?” tanya Seungha. Sekarang pemuda itu menatap Sean. “Kau juga berpikir begitu?”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD