Bagian 51

1312 Words
Sean menghela napas, lalu menyandarkan punggungnya pada batang pohon ginkgo. Ia mengamati kedua adiknya yang duduk berhadapan di gazebo. Letak ladang milik kakek mereka dekat dengan pusat desa, dan tempat ini cukup sejuk untuk beristirahat. Sean baru saja menasihati si kembar atas perkelahian yang mereka lakukan di ladang tadi, dan sekarang si kembar sedang menjalani hukuman dari Sean. Mereka harus duduk berhadapan, lalu mengatakan kalimat pujian untuk satu sama lain. Itu adalah hukuman yang ibunya sering berikan pada si kembar jika mereka berulah seperti tadi. “Mereka sangat merepotkan,” gumam Sean. “Mereka selalu bertengkar setiap hari?” tanya Seungha. Pemuda itu duduk di samping Sean. “Tidak ada hari yang mereka lewatkan tanpa bertengkar,” jawab Sean. Dia ingat ibunya yang selalu mengeluh karena si kembar. “Ah, Hyunji mau ke mana?” Setelah perkelahian si kembar, Hyunji buru-buru pulang. Katanya dia melupakan hal penting yang harus ia lakukan hari ini. “Dia lupa jika hari ini ada latihan.” Sean ber-o ria. Sebenarnya, keberadaan Hyunji tidak terlalu penting untuknya. “Untuk yang terjadi kemarin malam.” Sean menoleh, menatap Seungha. Mendadak gadis itu merasa tenggorokannya kering. Ingatan Sean kembali membawanya ke malam kemarin, saat Seungha hampir menciumnya, mungkin. Perasaan gugup yang tersisa kemarin kembali menjalar naik ke tubuh Sean. Sebenarnya, kemarin bukan kali pertama Seungha berusaha menciumnya. Pemuda itu pernah hampir menciumnya di depan toko kelontong, tapi waktu itu mereka belum sedekat sekarang. Bahkan waktu itu saat Seungha terus mendekat ke arahnya, Sean berpikir menendang ‘aset berharga’ pemuda itu untuk menyelamatkan diri. Namun, kemarin sungguh di luar dugaan Sean. Ia sendiri tidak tahu kenapa diam saja saat Seungha terus mendekat. Yang Sean tahu jantung berdebar cepat, lalu ketika tangan Seungha menyentuh pipinya Sean merasakan seluruh tubuhnya berdesir. Sesuatu meletup-letup dalam dirinya. Itu perasaan yang aneh menurut Sean, tapi entah kenapa ia menyukainya. Sean bisa merasakan wajahnya menghangat, ia yakin pipinya memerah sekarang. Mengingat apa yang terjadi kemarin membuatnya merasa gugup, kenapa Seungha harus membahasanya? Padahal Sean berusaha melupakannya. Ia tidak mau banyak berharap. Mungkin saja Seungha tidak berniat melakukan apa-apa dan hanya menggodanya. Seperti yang sering pemuda itu lakukan. “Aku minta maaf, aku tidak bermaksud melakukan apa-apa,” kata Seungha. “Ah, aku sudah melupakannya,” balas Sean lalu kembali menatap ke arah si kembar. Seperti yang Sean duga. Yang kemarin bukanlah apa-apa. Seungha tidak berniat melakukan apa-apa padanya. Intinya yang terjadi kemarin adalah kesalahan. “Kau tidak marah, kan?” Dari sudut matanya, Sean bisa melihat jika pemuda itu merasa khawatir dan takut. Mungkin karena temperamennya yang mudah marah, Seungha berpikir apa yang dia lakukan kemarin bisa membuat Sean marah lagi. “Tidak,” ucap Sean singkat. “Syukurlah, aku takut kau marah lagi padaku. Padahal kita baru dekat dan mulai berteman.” Harusnya secara normal ia merasa marah, tapi perasaan meletup-meletup yang ia rasakan kemarin mendominasi Sean. Sean samar-samar menghela napas. Tiba-tiba saja dirinya merasa kecewa. Mungkin karena terhanyut oleh perasaan aneh yang ia rasakan kemarin, Sean jadi berharap lebih. Padahal dia sudah tahu kalau yang terjadi kemarin bukanlah apa-apa. Aku mungkin sudah gila. *** Sore itu, setelah mandi Sean berbaring di dalam kamarnya. Mencabut semua rumput liar di ladang ternyata menguras tenaga yang lebih banyak dari yang Sean bayangkan. Padahal pekerjaan itu dilakukan oleh 6 orang. Harusnya 7 orang bersama Hyunji, tapi gadis itu tiba-tiba pergi. Sean merasakan setiap inci bagian tubuhnya terasa pegal. Sore ini Sean hanya ingin berbaring sampai waktu makan malam tiba. Dia butuh istirahat. Sean terlalu lelah, bahkan dia tidak punya tenaga untuk meladeni si kembar yang merengek. “Eonni!” Sean mendesah seolah baru mengangkat beban yang berat ketika mendengar Soo Jin memanggilnya. Baru saja ia memikirkan si kembar, Soo Jin sekarang masuk ke dalam kamar dan bersiap merengek padanya. “Eonni, ayo pergi jalan-jalan!” ajak Soo Jin sambil membalik tubuh Sean yang menghadap ke jendela agar menghadap ke arahnya. Sean menatap risi pada adik perempuannya itu. “Bisa keluar, aku ingin istirahat.” “Ayo jalan-jalan ke kota!” Mata Soo Jin berkedip-kedip untuk mulai merayu Sean, tapi Sean tidak tertarik. “Kau tidak lihat sudah sore?” “Lalu kenapa? Hanya 30 menit dari sini ke kota naik bus.” “Tapi, busnya datang satu jam sekali.” “Tidak apa-apa, kita bisa berangkat ke halte mendekati jam kedatangan bus.” “Aku tidak mau,” tolak Sean. Dia sangat lelah dan ingin istirahat. “Tapi aku ingin lihat suasana kota Haenam di malam hari,” kata Soo Jin mulai merengek. “Kau pergi saja sendiri dengan Seo Jun.” “Kalau kami tersesat bagaimana?” Sean mendesah. Ingin rasanya ia melempar adik perempuannya ini ke halaman bersama jangkrik-jangkrik yang berderik di luar sana. “Ada aplikasi maps dan semacamnya. Gunakan otakmu!” kata Sean sarkas. “Tapi, aku buta arah.” “Arrgghhh!!!!” geram Sean lalu mengubah posisinya menjadi duduk. “Bisa kau jangan ganggu aku? Aku ingin istirahat!” Kedua sudut bibir Soo Jin menukik ke bawah. “Dasar kakak tidak bertanggung jawab.” “Kau bilang apa?” “Eonni tidak bertanggung jawab!” Soo Jin mengulangi ucapannya dengan keras. “Bukankah ayah dan ibu menyuruhmu untuk menjaga kami? Tapi, aku minta ditemani jalan-jalan saja kau tidak mau. Menyebalkan.” Sean memijit pelipisnya yang tiba-tiba berdenyut. Sejak awal dia tidak pernah bilang setuju saat orang tua mereka memintanya menjaga si kembar. Dua anak remaja itu terlalu merepotkan untuknya. “Soo Jin-ah aku tidak mau bertengkar denganmu! Jika ingin bertengkar, lakukan dengan Seo Jun. Bertengkarlah sepuas kalian.” “Eonni! Aku tidak mengajakmu bertengkar. Aku hanya ingin....” “Kenapa kalian ribut-ribut?” Sean dan Soo Jin bersamaan menoleh ke arah pintu. Nenek Jae Hwa berdiri di sana dengan tatapan bingung. Suara Soo Jin dan Sean yang sedang berdebat terdengar sampai ke kamarnya. Soo Jin lantas berdiri lalu menghampiri neneknya. “Aku minta di ajak jalan-jalan ke kota, tapi eonni tidak mau menamaniku dan menyuruhku pergi sendirian bersama Seo Jun,” adu Soo Jin dengan nada suara yang dibuat-buat. Sean mendelik menatap adiknya. “Aku lelah, jadi aku menyuruhnya pergi sendiri.” “Tapi, aku buta arah,” sela Soo Jin. Sean sudah ingin melempar Soo Ji dengan bantal jika neneknya tidak ada di sana. Sekarang dia tahu apa yang dirasakan ibunya saat Soo Jin terus merengek minta sesuatu. “Sean-ah, temani adik-adikmu jalan ke kota.” “Nenek, aku ingin istirahat,” protes Sean. “Sekalian makan malam di luar. Nenek tidak masak makan malam karena harus pergi ke pertemuan rutin di aula desa bersama kakekmu setelah ini.” “Kami bisa makan mie instan.” “Aku dan Seo Jun masih dalam masa pertumbuhan. Kami harus makan makanan bergizi,” sela Soo Jin. Tidak lupa gadis itu menjulurkan lidahnya ke arah Sean. “Benar, mereka harus makan makanan bergizi! Ajak Soo Jin dan Seo Jun makan malam di luar.” Setelah itu nenek Jae Hwa keluar dari kamar. Menyisakan Sean dan Soo Jin di dalam sana. Soo Jin tersenyum penuh kemenangan karena Sean tidak bisa membantah nenek mereka dan harus menemaninya ke jalan-jalan ke kota. Bukkk.... Bantal yang di lempar Sean mengenai dinding. Berbekal pengalaman pernah dilempar bantal oleh Sean, kali ini Soo Jin bisa menghindari lemparan Sean. Bukkk.... Lemparan bantal yang kedua tepat mengenai wajah Soo Jin. “Eonni!!!” *** “Nenek kami pergi dulu,” pamit Soo Jin. Dengan bersemangat gadis itu menggandeng kembarannya berjalan menuju pintu pagar. Sean mengekor di belakang mereka dengan wajah murah. Dia masih tidak ikhlas meninggalkan kasur lantainya yang cukup nyaman dan harus menemani si kembar jalan-jalan. Kriet... Pintu pagar kayu itu berderit saat Soo Jin membukanya. “Kalian sudah siap?” Kedua mata Sean terbuka lebar mendengar suara yang tidak asing itu. Sean memiringkan tubuhnya, untuk mengintip siapa yang ada di luar sana. Dia jadi lebih kaget setelah tahu siapa itu. Seungha dengan pakaian rapi berdiri di luar sana. Mau apa dia?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD