Sean mengerutkan dahi, menatap Seungha. Mengamati pemuda itu dari atas kepala hingga ujung kaki. Seungha tidak terlihat membawa sesuatu. Bukankah tadi dia bilang akan memberi Sean sesuatu, lalu apa yang akan dia beri?
Sean melihat mata Seungha bergerak seolah menunjuk ke suatu tempat. Sean mengikuti arah gerak mata pemuda itu dan matanya menangkap sebuah kantong plastik ada di dekat kakinya. Sejak kapan benda itu ada di sana?
Seungha mengambil kantong plastik itu, lalu memberikannya pada Sean.
“Untukmu. Ini permintaan maafku yang sebenarnya.”
Pemuda itu tersenyum sampai lesung pipi di kedua pipinya terlihat.
Sean mengintip isi di dalam kantong plastik itu. Melihat isinya Sean tidak bisa menahan dirinya untuk tidak tersenyum. Ada makanan ringan, cokelat, s**u kotak, jus, dan es krim di dalam sana. Jadi, ini alasan Seungha pamit pulang lebih dulu tadi. Untuk membeli semua ini untuknya.
“Kau suka? Kau sudah tidak marah lagi, kan?”
Sean berdeham, lalu mengubah raut wajahnya menjadi datar.
“Kita baru berteman, masa' hanya karena tidak sengaja membuat es krimmu jatuh kau akan terus marah dan kita tidak berteman lagi.” Seungha agak mengerucutkan bibirnya, memasang wajah sedih karena Sean yang masih marah padanya.
“Baiklah, sogokan ini cukup untuk memaafkanmu,” kata Sean akhirnya.
“Kau benar-benar memaafkanku?”
Sean menganggukkan kepalanya. “Tapi, ingat jangan membuatku kesal lagi.”
“Tentu saja!”
Keduanya saling menatap sambil mengulas senyum. Suara jangkrik berderik di suatu tempat jadi musik pengiring malam itu. Hingga suasana menjadi lebih intens saat senyum di wajah Seungha memudar dan pemuda itu mendekatkan wajahnya pada Sean, mengikis jarak antara mereka.
Mata Sean bergerak gugup menyadari bahwa jarak yang memisahkan dirinya dam Seungha hanya tersisa beberapa cm saja. Mereka sangat dekat sampai bisa merasakan embusan napas Seungha menerpa permukaan kulit wajahnya. Sean merinding.
Harusnya dalam posisi ini hal yang Sean lakukan adalah mendorong Seungha menjauh dari tubuhnya, tapi Sean justru diam saja. Seolah sorot mata Seungha sudah menghipnotis dirinya. Bola matanya hitam dan jernih, pikir Sean saat menatap kedua mata Seungha.
Jantung Sean berdebar gila saat merasakan tangan pemuda itu menyentuh sebelah pipinya. Tangannya yang besar dan terasa hangat. Lalu Sean merasakan hidung Seungha menyentuh hidungnya. Artinya jarak mereka hampir pupus.
Sean susah payah menelan ludahnya untuk mengendalikan rasa gugupnya. Melihat jarak mereka yang hampir pupus, Sean yakin akan terjadi sesuatu setelah ini.
“Sedang apa kalian?”
Suara seseorang dari persimpangan menyentak kesadaran Sean dan Seungha. Pemuda itu segara mundur, menjauhkan tubuhnya dari Sean. Matanya menatap ke sekitar sambil mengusap tengkuknya. Sean juga melakukan hal yang sama. Rasanya seperti ketahuan akan berbuat hal yang tidak senonoh.
Keduanya beralih menatap jalan di persimpangan. Mereka ingin tahu suara siapa yang menginterupsi mereka tadi.
Kedua mata Sean dan Seungha melebar, mendapati Soo Jin dan Seo Jin berdiri di persimpangan. Si kembar melipat tangan di depan d**a, menatap mereka seolah bertanya ‘kalian sedang apa berduaan di bawah lampu penerangan?’.
Sean dan Seungha menelan ludah. Rasa malu menjalar naik, sampai membuat muka keduanya semerah kepiting rebus.
Sial.
***
“Jadi apa yang sedang kalian bertanya?” tanya Soo Jin dengan tangan bersedekap, lalu menyipitkan matanya. Gadis itu mencoba membaca raut wajah Sean.
“Apa?” Sean balik bertanya dengan raut wajah datar.
Soo Jin mendengkus, menatap kakaknya yang sekarang duduk bersila di depan cermin. Gadis itu meliriknya dari cermin.
“Seungha oppa mau menciummu, benar?”
“Kau gila? Kau terlalu banyak menonton drama dan film romantis.”
Soo Jin memiringkan kepalanya. Dia sangat yakin melihat kakaknya hampir dicium oleh Seungha.
“Lalu kenapa dia memegang pipimu tadi?” tanya Soo Jin sambil mengingat apa yang dia lihat tadi.
“Ah.... pipiku digigit nyamuk. Jadi, dia menepuknya, seperti ini,” jawab Sean sambil menepuk-nepuk pelan pipinya.
Soo Jin menatap kakaknya curiga. Dia yakin itu hanya alasan yang kakaknya katakan.
“Kau tidak percaya?”
“Lalu untuk apa dia memanggilmu ke tempat seperti itu?”
Sean menghela napas, lalu berbalik menatap Soo Jin. “Bukankah tadi aku sudah bilang dia memberikan makanan ringan sebagai permintaan maaf. Kau juga memakannya tadi.”
“Eonni tidak berbohong....”
Bukkkk.....
Sebuah bantal mendarat tepat di wajah Soo Jin.
“Eonni!!!”
“Dari pada mengurusi orang lain, lebih baik pikirkan bagaimana agar kau dan Soo Jin jadi berguna untuk kakek dan nenek selama seminggu ke depan. Jangan hanya menyusahkan mereka!”
Sean bisa melihat wajah Soo Jin merengut, lalu berbaring dengan seluruh tubuh ditutupi selimut.
“Benar, tidurlah dan hemat tenagamu untuk besok. Pastikan tubuhmu itu berguna.”
Sean kembali berbalik menghadap kaca. Diam-diam gadis itu menghela napas. Akhirnya dia bisa membuat Soo Jin menutup mulut. Adik perempuannya itu ternyata jauh lebih cerewet dari yang Sean bayangkan. Akan sangat gawat kalau Soo Jin sampai tahu apa yang sebenarnya terjadi tadi. Sean yakin akan mengadu pada semua orang di rumah dan melebih-lebihkan cerita.
Melebih-lebihkan cerita adalah salah satu keahlian Soo Jin.
***
Pagi itu Sean, si kembar dan kakek neneknya berdiri di pinggir ladang. Hari ini sang kakek meminta bantuan mereka untuk mencabut rumput dan tanaman liar yang ada di sana. Rencananya ladang itu akan ditanami tomat. Kata kakeknya beruntung ada mereka bertiga, jadi dia tidak perlu menyuruh orang untuk membantu mencabut rumput liar itu.
Sean melirik adik kembarnya. Raut wajah kedua adiknya saat ini sama persis seperti saat ia pertama kali diajak bekerja di ladang. Wajah terkejut dan nelangsa.
“Kita akan mencabut semua rumput liar di sana?” tanya Soo Jin sambil menunjuk ladang di depan mereka.
Bum Tae dan Jae Hwa menjawab dengan anggukan kepala. Keduanya lalu membagikan sarung tangan pada ketiga cucunya.
“Pakai sarung tangan itu agar tangan kalian tidak terluka,” kata Bum Tae lalu melangkah ke ladang Jae Hwa mengekor di belakangnya. Dua orang itu kemudian berjongkok mencabuti rumput di bagian pinggir.
Sean memakai sarung tangan pemberian kakeknya, lalu menyusul melangkahkan kaki ke ladang. Sebelumnya gadis itu sempat menepuk bahu Soo Jin.
“Jangan diam saja. Ayo bekerja, jadikan tubuh kalian berguna.”
Soo Jin dan Seo Jun saling menatap. Sepertinya keputusan untuk menghabiskan waktu liburan musim panas mereka di sini adalah salah. Mereka pikir bisa bersantai sambil menikmati suasana pedesaan yang tenang, tapi sekarang mereka harus membantu kakek dan nenek mereka di ladang.
Sekarang mereka tahu alasan Sean menolak untuk tinggal di desa.
***
Soo Jin menyeka keringat yang meluncur melewati dahi dan pipinya. Gadis itu menatap ke sekitar. Ladang milik kakeknya ternyata sangat luas, dan rumput yang mereka cabut baru sebagian. Soo Jin mendongak, matahari bersinar sangat terang di atas sana.
Mata Soo Jin kemudian beralih menatap Seungha. Pemuda itu datang bersama Hyunji untuk membantu mereka. Sekarang pemuda itu sedang mencabut rumput di samping Sean.
Soo Jin memutar bola matanya. Seungha terlihat seperti anak anjing yang selalu mengikuti pemiliknya sambil mengibaskan ekor. Awalnya Soo Jin menganggap Seungha itu tampan dan keren, tapi sekarang tidak lagi. Pemuda itu seperti orang bodoh sekarang.
Soo Jin kemudian beralih menatap Seo Jun. Saudara kembarnya itu tidak jauh berbeda dengan Seungha. Seo Jun mencabut rumput di samping Hyunji. Dengan wajah berseri-seri dan senyum malu-malu pemuda itu sesekali melirik Hyunji. Padahal gadis itu seolah tidak menganggap keberadaan Seo Jun dan hanya fokus pada Seungha.
Soo Jin bisa merasakan setiap inci bagian tubuhnya terasa ngilu. Melihat pria-pria yang sedang kasmaran itu sangat mengerikan. Soo Jin sudah tidak tahan.
“Arrggghhh!!!”
Semua orang di ladang menatap Soo Jin begitu gadis itu berteriak, tapi Soo Jin tidak peduli.
“Oppa tolong berhenti mengibaskan ekormu,” kata Soo Jin sambil menunjuk Seungha.
Seungha mengerutkan dahinya. “Ekor apa maksudmu?”
“Dan kau!” Soo Jin beralih menunjuk kembarannya. “Berhenti tersenyum seperti orang bodoh, itu menjijikkan.”
“Kau bilang apa?”
Seo Jun meletakkan rumput yang baru saja dia cabut, lalu menatap Soo Jin yang ada di depannya.
“Kau tersenyum seperti orang bodoh dan itu terlihat menjijikkan,” ucap Soo Jin mengulangi perkataannya.
Sebelah sudut bibir Seo Jun terangkat naik. “Bilang saja kau iri. Di sini ini hanya kau yang sendirian.”
Soo Jin tertawa mengejek. “Aku iri? Kau gila!”
“Sepertinya aku tahu kenapa semua laki-laki yang kau suka menolakmu....”
Bukkk....
Segegam rumput yang Soo Jin lembar mengenai wajah Seo Jun.
“Kau mengajak berkelahi?” teriak Seo Jun tidak terima Soo Jin melemparinya dengan rumput.
“Iya, kenapa? Kau takut?” tantang Soo Jin.
Dan perkelahian antara dua anak kembar itu tidak terhindarkan. Mereka saling mengejar sambil melempar satu sama lain dengan rumput dan tanaman liar yang sudah dicabut. Bum Tae dan Jae Hwa sudah berusaha melerai mereka, tapi tidak berhasil. Dua anak kembar itu sekarang dalam posisi saling menjambak rambut satu sama lain.
“Lepaskan!”
“Tidak, kau yang lepaskan!”
Seungha melirik Sean. Gadis itu diam saja sambil mengamati dua adiknya yang saling menjambak.
“Bukankah sebaiknya kita pisahkan mereka?” tanya Seungha.
Sean mendesah. Kedua tangannya meremas rumput yang baru ia cabut. Ini yang Sean takutkan saat orang tua mereka mengizinkan si kembar tinggal di sini. Lihat, baru dua hari ditinggal orang tua mereka Soo Jin dan Seo Jun sudah berkelahi dan membuat kekacauan. Bayangkan menderitanya Sean selama 17 tahun terakhir yang menghadapi sikap hiperaktif dua adiknya itu.
“Soo Jin, Seo Jun berhenti!”