Bagian 49

1089 Words
“Jadi, ini sebesar ini usahamu,” kata Sean sinis. “Tentu, bukankah daging panggang jauh lebih mahal dari es krim?” Sean mendengkus, lalu menatap Seungha dengan sinis. “Dasar tidak bermodal,” ejek Sean. “Bahkan kau tak membeli daging ini dengan uangmu, paman Junsik yang membelinya.” “Tapi, aku yang memanggangnya. Bukankah sama saja?” Sean hampir saja meraup wajah Seungha lalu mencakarnya dengan kuku jarinya yang panjang. Namun, Sean menahan dirinya. Ia tahu sedang bertamu di rumah orang, dan harus menjaga sikap. Jadi, Sean hanya menatap Seungha tajam, berharap nyali pemuda itu akan menciut dan menyingkir dari mukanya. Namun, entah bebal atau punya 9 nyawa seperti kucing, Seungha bukannya takut dan menyingkir. Pemuda itu justru menatap Sean sambil memasang senyum paling manis di wajahnya yang tampan. “Oppa, bisa kau singkirkan senyum itu? Kau membuatku kehilangan selera makan,” kata Soo Jin memasang wajah ingin muntah saat menatap Seungha. Garis wajah pemuda itu tertarik kusut. Senyum manis yang sebelumnya menghiasi wajahnya perlahan memudar. Perlahan pemuda itu menyingkir dari meja makan untuk kembali memanggang daging. Namun, sebelum itu Seungha sempat mengusap puncak kepala Sean. “Makan yang banyak, ya.” “Yak! Dasar b******n gila....” Soo Jin buru-buru menutup mulut Sean dengan kedua tangannya. Mencegah gadis itu mengucapkan berbagai macam kata u*****n yang berpotensi mencoreng nama Sean di depan kedua orang tua Hyunji. “Eonni, sabar,” bisik Soo Jin untuk menenangkan Sean. “Noona, makan ini untuk menghilangkan rasa kesalmu,” kata Seo Jun sambil memberi sepotong daging ke atas piring Sean. Sean menyingkirkan tangan Soo Jin dari mulutnya, lalu menatap nyalang ke arah Seungha yang sudah kembali ke depan panggangan. Pemuda itu juga menatapnya, sambil tersenyum seolah tidak takut dengan tatapannya. Sepertinya Seungha malam itu sudah tidak waras sampai tak punya rasa takut padanya. Padahal, siang tadi pemuda itu mirip anak kecil yang merengek minta mainan setelah menjatuhkan es krimnya. Sean menggenggam erat sumpit di tangannya. “Awas kau.” *** Makan malam itu berjalan lancar dan menyenangkan. Semua orang menikmati makan malam dengan senang, kecuali Sean. Karena temperamennya yang buruk, gadis itu masih merasa kesal karena ulah Seungha tadi. Bahkan daging sapi panggang dan berbagai makanan lezat yang tersaji di atas meja tak mampu mengurangi rasa kesal Sean. Dan tersangka yang sudah merusak suasana hatinya sekarang makan dengan lahap tanpa rasa bersalah. Benar-benar menyebalkan. “Sean-ah.” Sean mengalihkan pandangannya pada Sumin yang baru saja memanggilnya. “Ya?” “Bibi dengar tadi kau mengumpat.” Sean mengusap tengkuknya lalu saling melirik dengan Soo Jin dan Seo Jun. Dia memang mengumpat tadi, dan itu karena kesal. Namun, sekarang Sean justru malu saat ditanya seperti itu oleh ibunya Hyunji. “Iya, maafkan saya telah bicara kasar.” Sumin menggelengkan kepalanya. Di luar dugaan wanita paruh baya itu justru memuji Sean. “Tidak perlu minta maaf, kalau kesal mengumpat saja. Tidak apa-apa. Meski kau seorang wanita yang harus bersikap lemah lembut, tapi penting juga untuk tahu caranya mengumpat. Jangan seperti Hyunji.” Sumin melirik putrinya. Gadis yang sedang makan itu balik menatap Sumin. “Eomma, kenapa aku dibawa-bawa?” protes gadis yang juga menyukai balet itu. “Kenapa? Memang benar, kan? Kau itu tidak bisa mengumpat. Bahkan marah pada orang yang sudah membuatmu kesal saja tidak bisa. Hyunji-ya, jangan terlalu baik, manusia itu juga harus punya sisi buruk agar tidak diremehkan orang lain.” Hyunji mendengkus lalu menatap sang ayah. Gadis itu minta pembelaan, tapi ayahnya juga sependapat dengan ibunya. “Ibumu benar. Kau terlalu baik.” “Oppa.” Hyunji beralih pada Seungha, berharap pemuda itu akan mengatakan bahwa menjadi orang yang terlalu baik itu tidaklah salah. “Mereka benar.” Kedua sudut bibir Hyunji otomatis menukik ke bawah, lalu menatap kesal pada Seungha. Dia pikir pemuda itu akan berpihak padanya, tapi ternyata Seungha sama saja dengan ayah dan ibunya. Hyunji bukannya tidak bisa mengumpat, dia hanya menahan dirinya. Setidaknya ia ingin terlihat seperti gadis baik dan lemah lembut di depan orang yang dia sukai. Sean mengamati Hyunji yang duduk di samping Seo Jun. Ia mencoba untuk menahan dirinya agar tidak tertawa. Kata-kata ibu Hyunji tentang gadis itu yang tidak bisa marah, sangat lucu menurut Sean sampai membuatnya ingin tertawa. Sepertinya Sean memang punya kemampuan menilai orang lain. Terbukti benar jika Hyunji itu seperti Seungha. Mereka sama-sama bermuka dua. Benar-benar pasangan yang serasi. “Apanya yang tidak bisa marah? Dia bahkan pernah berteriak padaku,” kata Sean pelan lebih mirip bergumam. “Eonni, kau mengatakan sesuatu?” Soo Jin bertanya karena mendengar Sean bergumam, tapi tidak jelas. Sean menggelengkan kepalanya. “Aku tidak mengatakan apa-apa.” Gadis berusia 20 tahun itu lantas menyuapkan sepotong daging ke dalam mulutnya dengan sumpit. Selagi mengunyah makanan yang masuk ke dalam mulutnya, Sean tidak bisa menyembunyikan senyumnya. Gadis itu merasa sangat senang, karena tahu kepribadian Hyunji yang sebenarnya. Dia sangat mengesankan. *** Selesai makan dan merasa perut mereka kenyang, Sean dan dua adik kembarnya berpamitan untuk pulang. Sebelumnya mereka juga mengobrol dengan kedua orang tua Hyunji. Seperti yang nenek mereka katakan, ‘jangan buru-buru pulang setelah selesai makan. Setidaknya mengobrol dulu dan jangan lupa berterima kasih. Dengan begitu kalian akan terlihat seperti manusia, bukannya seperti hewan liar yang langsung kabur setelah diberi makan’. Sean berjalan di belakang Soo Jin dan Seo Jun. Sesekali gadis itu meregangkan kedua tangannya yang terasa pegal. Namun, saat yang ketiga kalinya seseorang menarik tangannya. “Aaaa!!!” pekik Sean saat merasakan tangannya di tarik ke sebelah kanan di sebuah persimpangan. Kedua mata Sean melebar melihat Seungha berdiri di depannya. Sebelah tangan pemuda itu membungkam mulutnya agar tidak berteriak. Dan sebelahnya lagi memegang tangannya. Tubuhnya didorong ke tembok pagar di samping jalan. “Ssst! Jangan berteriak,” ucap Seungha sambil memperhatikan sekitar mereka. Memastikan tidak ada orang yang melihat tindakannya, karena mereka yang melihat pasti mengirinya dirinya mencoba menculik Sean. Sean menyingkirkan tangan Seungha dari mulut dan tangannya, lalu mendorong pemuda itu menjauh darinya. “Kau gila,” murka Sean. Tadinya dia takut jika yang menarik tangannya adalah makhluk tak kasat mata atau beruang yang masuk ke desa. Namun, ternyata yang menarik tangannya adalah Seungha. “Kau hampir membuatku terkena serang jantung!!!” protes Sean. “Aku minta maaf,” kata Seungha lalu tersenyum. “Tapi jika tidak begini kau pasti tidak akan mau bicara denganku.” Benar, jika Seungha tidak menarik tangan Sean seperti tadi, gadis itu tidak akan mau bicara dengannya. Sean mendengkus, lalu melipat kedua lalu melipat kedua tangannya di depan d**a. “Apa yang ingin kau katakan?” “Aku ingin memberimu ini.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD