Brakkkk....
Hyunji, Soo Jin dan Seo Jun tersentak kaget ketika Sean membanting pintu pagar rumah lalu masuk dengan wajah bersungut-sungut. Ketiganya saling menatap, mencari tahu apa yang terjadi pada gadis yang lebih tua 3 tahun dari mereka itu.
Brakkkk....
Ketiganya kembali tersentak saat Sean masuk ke dalam rumah dan membanting pintu depan.
“Sepertinya ada yang membuatnya kesal,” kata Soo Jin yang sudah hafal tabiat Sean. “Dia punya temperamen yang buruk.”
Hyunji mengangguk-angguk mengerti yang dimaksud Soo Jin. Jika diingat lagi Sean bahkan pernah mengusir Hyunji saat mereka pertama kali bertemu. Padahal waktu itu hanya karena Seungha bertanya apakah Sean seorang penari balet.
Kriet....
Ketiga remaja itu kembali menoleh pada pintu pagar. Pintu kayu itu terbuka lalu disusul Seungha yang masuk dengan lesu.
“Dari raut wajahnya, sepertinya dia tersangka yang membuat Sean eonni merasa kesal,” celetuk Soo Jin. “Lihatlah, wajahnya benar-benar menyedihkan.”
“Ini es krimnya.” Seungha menyodorkan kantong plastik berisi es krim yang dia beli tadi.
Soo Jin meraih kantong plastik itu, membawanya ke tengah-tengah. Gadis berambut panjang itu lantas mengambil sebungkus es krim rasa cokelat. Lalu Seo Jun hendak mengambil es krim berbentuk cone rasa stroberi, tapi Seungha melarangnya.
“Jangan yang itu! Itu favorit Hyunji dan hanya tinggal satu!”
“Oh....”
Seo Jun meletakkan kembali es krim rasa stroberi tadi, lalu mengambil es krim rasa melon.
Hyunji samar-samar tersenyum sambil mengambil es krim stroberi tadi. Soo Jin memperhatikannya, lalu mengangguk-angguk setelah ia merasa mengerti apa yang terjadi. Hyunji menyukai Seungha.
Cinta segitiga ya, menarik.
“Jadi apa yang oppa lakukan sampai Sean eonni kesal begitu?” Soo Jin beralih menatap Seungha.
“Ah.... itu.” Seungha mengusap tengkuknya. “Aku membuat es krimnya jatuh.”
Soo Jin mengangguk mengerti. “Ini bukan pertama kalinya oppa membuatnya kesal.”
Seungha mengangguk lemah lalu duduk di samping Soo Jin. Dia memang sering membuat Sean kesal. Bahkan gadis dingin itu bilang kehadirannya saja sudah cukup membuat kesal.
“Oppa bahkan pernah hampir membuatnya tenggelam.”
Hyunji dan Seo Jun menatap Soo Jin. Kedua mata mereka melebar, terkejut karena baru mendengar tentang fakta ini.
“Tenggelam?” tanya Hyunji. Dia baru tahu kalau Seungha pernah membuat Sean hampir tenggelam. Pantas gadis itu sangat tak menyukai Seungha sebelumnya.
“Itu waktu pertemuan pertama kami. Aku benar-benar meninggalkan kesan yang buruk. Sean bahkan sangat tidak menyukaiku sampai beberapa hari kemarin karena kau pernah hampir membuatnya tenggelam,” jawab Seungha kembali mengingat pertemuan pertamanya dengan Sean.
Pertemuan pertama yang meninggalkan kesan buruk bagi Sean, tapi terasa menakjubkan bagi Seungha. Dia masih ingat bagaimana mata cokelat indah milik Sean menatapnya kala itu.
Mata Sean sangat cantik, menurutnya.
“Dia cerita padamu?”
Soo Jin menggeleng. “Aku pernah mendengarnya protes pada nenek saat disuruh berteman denganmu. Dia bilang....”
Soo Jin membenarkan posisi duduknya lalu berdeham.
“Kenapa menyuruhku berteman dengan orang yang membuatku hampir mati tenggelam!!!” ucap Soo Jin sambil menirukan bicara Sean.
Seungha, Seo Jun dan Hyunji menatap takjub pada Soo Jin. Gadis itu bisa menirukan Sean dengan sangat mirip. Bahkan raut wajahnya juga. Mungkin karena mereka bersaudara.
“Tapi, oppa.” Soo Jin mengambil sebungkus es krim lagi. Kali ini rasa cokelat. “Sean eonni memang pemarah. Jadi, biarkan saja. Nanti juga akan baik lagi.”
“Tapi, dulu dia tidak begitu.” Seo Jun yang tadi diam saja ikut bersuara.
Soo Jin mengangguk setuju. Sean memang tidak seperti ini dulu. Kakak perempuannya itu dulu sangat ceria, walau terkadang juga menyebalkan karena sering mengadukan kenakalannya pada orang tua mereka.
“Dulu, Sean noona itu sangat ceria dan jarang sekali marah,” kata Seo Jun menundukkan kepalanya. Tiba-tiba saja pemuda anggota klub basket itu merindukan sosok Sean dulu.
“Memangnya dulu dia seperti apa?” tanya Hyunji.
“Sebentar.” Soo Jin mengeluarkan ponselnya lalu membuka galeri foto. Jari telunjuknya bergerak naik turun mencari sebuah foto. “Ini dia.”
Soo Jin memperlihatkan sebuah foto di ponselnya pada Hyunji dan Seungha. Itu foto Sean bersama si kembar dan kedua orang tua mereka saat Sean berhasil memenangkan kompetisi yang diadakan oleh Shine Ballet tiga tahun lalu.
“Apa kalian pernah melihat Sean eonni tersenyum seperti dalam foto ini?”
Hyunji dan Seungha menggeleng bersamaan.
“Aku bahkan tidak tahu kalau dia bisa tersenyum seperti itu,” ucap Seungha merasa takjub melihat bagaimana Sean tersenyum dalam foto yang Soo Jin tunjukan.
Sean dalam foto itu sangat berbeda dengan Sean yang dia lihat selama ini. Seungha memang pernah melihat Sean tersenyum, tapi senyumnya terasa canggung dan dipaksakan. Namun, dalam foto itu Sean tersenyum ceria.
“Dia benar-benar berbeda.”
Soo Jin memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celana. “Tentu saja. Wajah Sean eonni sekarang sangat menyeramkan. Raut wajahnya datar dan tatapan matanya sangat dingin. Lalu suasana rumah juga berubah karena Sean eonni berunah. Suasananya jadi canggung dan tidak sehangat dulu.”
“Aku rindu Sean noona yang dulu,” ucap Seo Jun lirih.
“Aku juga. Meski sama-sama menyebalkan, tapi dia yang dulu seratus kali lebih baik.”
Seungha menatap dua adik kembar Sean. Menatap keduanya, melihat betapa mereka merindukan sosok Sean yang dulu, membuat Seungha sadar. Ternyata kehilangan impiannya, membuat Sean menjadi orang yang sangat berbeda. Penderitaan karena kehilangan itu mengubah hidup dan kepribadian Sean.
***
Malam harinya, Sean dan si kembar makan malam di rumah Hyunji. Sebenarnya kedatangan Hyunji pagi tadi untuk menyampaikan undangan makan malam dari ibunya. Dan awalnya Sean menolak untuk datang, tapi karena paksaan Soo Jin yang ingin makan enak dan gratis, serta Seo Jun yang ternyata menyukai Hyunji, berakhirlah Sean dengan menuruti si kembar.
Pertama kali melawati pagar rumah Hyunji, Sean sadar jika orang tua Hyuji salah satu warga terkaya di desa. Rumah mereka besar dan bergaya modern. Sangat jauh dengan rumah kakek neneknya.
Ketika datang Hyunji menyambut mereka di halaman depan lalu membawa mereka ke halaman belakang. Katanya, ibu gadis itu sudah menyiapkan makan malam di sana.
Raut wajah Sean berubah masam ketika ia melihat Seungha berada di sana membantu ayah Hyunji memanggang daging. Sean masih kesal karena Seungha membuat es krimnya tadi siang jatuh ke tanah.
“Daging!!!” seru Soo Jin melihat potongan-potongan daging di atas panggangan. Suara mendesis dari daging yang sedang dipanggang itu menggugah selera makannya.
“Aaaaa,” pekik Soo Jin saat Sean tiba-tiba mencubit pinggangnya. “Eonni! Kenapa mencubitku?”
“Apa kau tidak pernah makan daging? Berhenti bersikap memalukan.”
Soo Jin mendengus lalu agak bergeser menjauh dari Sean. Kakaknya mungkin akan melakukan hal yang lebih kejam dari sekedar mencubit pinggangnya nanti.
Ketiganya lalu ikut bergabung bersama Hyunji di meja makan. Di atas meja makan itu ada banyak makanan. Cukup banyak untuk dimakan mereka bertujuh.
“Hyunji bilang adik kembarmu ada di sini, jadi bibi masak lebih banyak.”
“Maaf karena merepotkan bibi,” ucap Sean merasa sungkan karena membuat ibu Hyunji menyiapkan banyak makanan untuknya dan si kembar.
Sumin menggeleng lalu memberikan sepotong daging yang sudah matang ke piring Sean dan dua adiknya. “Bibi sama sekali tidak merasa direpotkan. Justru bibi malah merasa senang, suasanya jadi ramai dan menyenangkan.”
Sean tersenyum lalu menyuapkan sepotong daging tadi ke dalam mulutnya. Ibu Hyunji sangat ramah, mirip seperti putrinya. Namun, Sean tak menyukai sikap ramah yang miliki Hyunji. Menurutnya sikap ramah yang ditunjukkan itu terasa aneh, seperti bukan sifat asli gadis itu.
Seperti yang kalian tahu, Sean itu sangat peka. Ingat, dia pernah menebak kepribadian Seungha dengan tepat.
“Makan yang banyak. Ini sebagai permintaan maafku.”
Sean mendongak, menatap Seungha yang baru saja meletakkan beberapa potong daging matang ke atas piringnya.
“Kau tidak bermodal sekali. Minta maaf tapi menumpang di acara makan malam orang lain.”
“Namanya juga berusaha.”