Bagian 47

1431 Words
Sean menyipitkan mata, menatap gadis dengan dress selutut bermotif bunga sedang berlari ke arahnya sambil melambaikan tangan dengan riang. Itu Hyunji. Sean mendengus. Entah kenapa ia tidak suka melihat gadis itu. Mungkin karena Hyunji mirip dengan dirinya di masa lalu. Mata Sean kemudian beralih pada laki-laki di belakang Hyunji. Itu Seungha. Matanya terlihat gugup saat berhadapan dengan Sean. Yah, tentu dia akan seperti ini mengingat kejadian terakhir kali pemuda itu menguping pembicaraan Sean dengan ibunya. Jika Seungha bersikap biasa saja itu artinya dia tidak tahu malu. “Siapa? Pacarnya oppa itu?” tanya Soo Jin berbisik pada Sean. “Bukan,” jawab Sean ketus. “Mereka siapa?” Giliran Hyunji bertanya pada Sean. “Adik-adikku. Dia Soo Jin.” Sean menunjuk Soo Jin yang berdiri di sampingnya lalu bergantian menunjuk Seo Jun yang berdiri di samping Soo Jin. “Lalu dia kembarannya, Seo Jun.” “Kembar?” Hyunji menutup mulutnya karena terkejut. Seperti baru pertama kali bertemu anak kembar berbeda gender. “Iya. Bukankah wajah mereka mirip? Dia Seo Jun versi rambut panjang dan satunya Soo Jin versi rambut cepak,” kata Sean mendeskripsikan kedua adik kembarnya. Soo Jin dan Seo Jun memang punya wajah mirip khas anak kembar. Perbedaan mereka hanya terletak pada gender saja, selebihnya mereka seperti pinang dibelah dua. Bukan hanya wajah saja yang mirip, tapi sifat dan kepribadian mereka juga. “Eonni! Jangankan samakan aku dengan bocah itu!” protes Soo Jin yang tidak dipedulikan oleh Sean. “Kalian memang sama hanya beda gender saja.” Soo Jin memasang wajah cemberut lalu menatap Seungha. “Oppa, apa kami terlihat mirip?” Gadis itu menunjuk dirinya dan Seo Jun bergantian. “Ah...” Seungha mengusap tengkuknya, melirik Sean sekilas kemudian menjawab, “Sebenarnya kalian memang mirip.” Soo Jin mendengus lalu membuang muka. Gadis itu memang selalu merasa kesal setiap kali orang-orang bilang dia dan Seo Jun mirip. Padahal itu adalah hal yang wajar karena mereka berdua kembar. “Kenapa kau harus terlahir jadi kembaranku?” Kali ini sasaran protes Soo Jin adalah kembarannya. Bahkan gadis itu sampai memukul lengan Seo Jun, tapi seolah tidak mendengar protes Soo Jin, Seo Jun hanya diam mematung. Pemuda itu jika tidak mengaduh saat kembarannya memukul lengannya. “Dia kenapa?” tanya Sean melirik Seo Jun diam mematung sambil menatap Hyunji. Bahkan mata pemuda kelas dua SMA itu sama sekali tidak berkedip. Soo Jin menatap kembarannya, lalu mengikuti arah pandangan Seo Jun. Dan itu tepat pada Hyunji. Gadis berambut hitam panjang itu kemudian mengulurkan jari telunjuknya ke bawah lubang hidung Seo Jun. Seperti yang Soo Jin duga kembarannya itu sedang menahan napas. “Dia terkena sindrom terpesona,” jawab Soo Jin lalu mencubit pinggang Seo Jun dengan keras hingga pemuda itu memekik kesakitan. Itu cara yang paling ampuh untuk membawa kesadaran Seo Jun kembali. *** Mereka berlima sekarang duduk di teras depan rumah atas perintah nenek Jae Hwa. Nenek Sean itu bilang tidak baik mengobrol di pinggir jalan, jadi menyuruh mereka untuk masuk. Karena Sean suka menyendiri, dia memilih untuk tidak bergabung dengan mereka. Dia memilih duduk agak jauh dari keempat orang itu sambil memainkan game di ponselnya. Karena sang ayah baru saja mengisi paket datanya, Sean bisa bermain game dengan bebas. “Yak, sial!” Sean mengumpat cukup keras membuat keempat orang yang duduk agak jauh darinya menoleh. “Abaikan saja. Dia memang jadi agak gila saat bermain game,” kata Soo Jin lalu menggigit potongan semangka yang tadi di siapkan oleh neneknya. “Yoo Soo Jin, aku bisa mendengarmu. Kau ingat, nasibmu selama seminggu ke depan ada di tanganku? Jadi jaga bicaramu!” Mulut Soo Jin mengatup rapat. Nyalinya langsung menciut. Dia lupa jika Sean memegang kendali penuh nasibnya dan Seo Jun selama seminggu ke depan. Berulah sedikit saja, Sean mungkin tak akan memberinya uang saku dan melaporkannya pada orang tua mereka. “Jadi kalian akan tinggal di sini selama seminggu?” Pertanyaan Hyunji itu sedikit mengurangi ketegangan yang Soo Jin timbulkan. “Ya,” jawab Seo Jun sambil mengangguk. Pemuda bertubuh jangkung itu kemudian menatap Hyunji malu-malu, membuat seluruh tulang Soo Jin yang melihatnya terasa ngilu dan ingin muntah karena sikap kembarannya. Dia memang sering melihat Seo Jun terpesona pada gadis-gadis, tapi kali ini menurut Soo Jin yang paling mengerikan. Setidaknya setiap kali menyukai seseorang, Seo Jun akan bersikap sok keren. Namun, apa yang baru dia lihat? Seo Jun bersikap manis seperti anak anjing. Benar-benar mengerikan. Bahkan Sean yang duduk cukup jauh saja sampai merinding. Gadis yang sibuk dengan game-nya itu sama sekali tidak menyangka adik laki-lakinya sudah mengalami masa puber dan mulai menyukai lawan jenis. Ternyata selama setahun ini dia melewatkan banyak hal. Bahkan Sean sempat kaget melihat Seo Jun saat adiknya itu pertama kali mengunjunginya beberapa waktu lalu. Sean melihat lemak-lemak di pipi Seo Jun tiba-tiba menghilang, membuat garis rahang pemuda itu terlihat tegas. Seo Jun terlihat lebih dewasa dari segi penampilannya. Di antara Hyunji, Seo Jun dan Soo Jin yang asyik mengobrol serta Sean yang sibuk dengan game-nya, ada Seungha yang begitu pendiam hari itu. Seungha terlihat lebih banyak diam daripada biasanya. Bahkan sejak tadi pemuda itu hanya menatap Sean yang sibuk bermain game. Seperti ingin memanggil nama gadis itu, tapi suaranya tertahan di tenggorokan, jadi Seungha hanya memandangi Sean dari tempatnya. Dan ketika Sean selesai dengan game-nya, pandangan mata mereka bertemu. Mereka saling menatap cukup lama, hingga Seungha memutuskan mengajak Sean keluar dan bicara. Dia ingin minta maaf karena tidak sengaja menguping pembicaraan gadis itu dan ibunya. “Sean-ah, ayo keluar dan belikan mereka es krim,” ajak Seungha setelah bergelut dengan pikirannya menentukan cara yang tepat untuk mengajak Sean keluar dan bicara. Tanpa disangka, Sean berdiri dan mengiyakan ajakannya. “Ayo.” Mereka berdua lalu berjalan menuju pintu pagar. “Aku ikut.” Hyunji yang hendak berdiri untuk ikut bersama Sean dan Seungha kembali duduk ketika Soo Jin menahan tangannya. “Biarkan mereka berdua,” ucap Soo Jin berbisik. “Kenapa?” “Menurutku, Seungha oppa itu menyukai Sean eonni,” kata Soo Jin dengan mulut penuh semangka. Hyunji mengalihkan pandangannya, menatap pintu pagar yang baru saja tertutup setelah Sean dan Seungha keluar dari sana. Perkataan Soo Jin barusan, sangat membuatnya merasa tidak nyaman. *** Sean dan Seungha keluar dari toko kelontong. Sean berjalan sambil makan es krim melon yang Seungha belikan, sementara Seungha berjalan di sampingnya sambil membawa kantong plastik berisi es krim yang tadi mereka beli. Sebenarnya mengajak Sean membeli es krim hanya alasan Seungha untuk bisa bicara berdua dengan Sean. “Sean-ah,” panggil Seungha. “Hem,” sahut Sean tanpa menoleh. Gadis itu sibuk memakan es krimnya sebelum mencair di cuaca yang panas ini. “Soal malam itu....” Seungha menjeda kalimatnya. Otaknya sedang memilih kata-kata yang tepat untuk di ucapkan agar tidak membuat Sean marah. “Saat kau menguping pembicaraanku dan ibu?” potong Sean. Sebenarnya dia juga sudah tahu kalau alasan Seungha mengajaknya keluar untuk membicarakan hal itu. “Kau mau minta maaf?” Seungha menganggukkan kepalanya. Dia memang berniat minta maaf pada Sean. “Aku benar-benar minta maaf. Waktu itu aku tidak sengaja mendengar kau berteriak, dan karena rasa ingin tahuku yang besar, aku berakhir dengan menguping pembicaraan kalian. Aku benar-benar minta maaf.” Dari raut wajahnya, Seungha memang terlihat menyesal. Sean menghentikan langkahnya lalu berbalik menatap Seungha. “Kau benar-benar menyesal?” Seungha mengangguk pasti. “Aku sangat menyesal, dan benar-benar minta maaf.” “Baiklah, aku memaafkanmu.” Mulut Seungha terbuka lebar saat Sean bilang memaafkannya. Ini sangat di luar dugaan. Seunga pikir Sean akan marah dan mengumpat padanya seperti yang biasa gadis itu lakukan, tapi kali ini Sean memaafkannya dengan mudah. “Kau benar-benar memaafkanku?” tanya Seungha untuk memastikan telinganya tidak salah dengar. “Iya,” jawab Sean. “Kau yakin?” Seungha menarik pergelangan tangan Sean ketika gadis itu akan kembali melangkah, membuat Sean tersentak dan es krim yang dimakan gadis itu jatuh ke tanah. “Maaf.” Sean menoleh, menatap tajam pada Seungha yang baru saja membuat es krimnya jatuh. “Akan aku ganti,” kata Seungha buru-buru mengambil es krim dari kantong plastik yang di tangannya. “Ini.” Sean mengambil es rim rasa cokelat yang disodorkan Seungha, lalu kembali melangkah. Dia tidak peduli pada pemuda yang saat ini kembali merengek minta maaf. Siapa suruh membuatnya kesal, padahal baru saja Sean memaafkannya. “Kau masih marah?” tanya Seungha setelah berhasil menyamakan langkah kakinya dengan Sean. “Aku sudah mengganti es krimmu yang jatuh.” Tak peduli dengan Seungha yang merengek, Sean terus melangkah dengan wajah merengut. Siapa yang tidak kesal jika es krim yang sedang dimakan jatuh ke tanah? Aish... padahal dia baru memaafkanku, batin Seungha merutuki kebodohannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD