bc

Bukan Rayuan Gombal

book_age16+
744
FOLLOW
4.4K
READ
playboy
boss
drama
bxg
city
small town
enimies to lovers
sassy
love at the first sight
friends
like
intro-logo
Blurb

(Spin off Maybe i Love You)

Siapa yang tidak kenal dengan Daffi Darusman? Pria berusia 34 tahun yang memiliki hidup mapan dan bergelimang harta serta seorang chef terkenal. Atau siapa yang tidak kenal dengan Bogi Louis? pria berusia 23 tahun yang memiliki wajah tampan memesona. para kaum hawa selalu mengejar mereka. Memikat hati wanita dan meninggalkannya adalah keahlian mereka.

Akan tetapi, dibalik itu semua, mereka memiliki masa lalu yang kelam dan berusaha dikubur dalam.

Sampai pada akhirnya, mereka dipertemukan oleh wanita yang tidak jatuh bertekuk lutut di kaki mereka. Wanita yang pada akhirnya menjungkir balikkan dunia mereka berdua.

'Kalau aku mau jahat dan tega, aku akan memaksakan keinginanku seperti dulu. Apapun yang aku mau, harus aku dapatkan. Namun, aku tidak tega melakukan itu. Masalah hatiku ini sepertinya sangat rumit' - Bogi

'Mataku mengamati sekitar. Lagi-lagi ada yang berubah. Untuk saat ini, yang aku tahu, aku membutuhkannya. Aku memerlukannya, dan aku, ingin dia berada di sini lagi. Bersamaku.' - Daffi

chap-preview
Free preview
DAFFI : Permulaan
* Aku menggaruk kepalaku yang sebenarnya tidak gatal saat kurasakan tangan-tangan kecil mulai mencubiti seluruh tubuhku. “Ugh!” Erangku. Kubalikkan tubuh dari posisi tengkurap. Kepala kubenamkan di dalam bantal. Kurasakan sesuatu menimpa punggungku dan diiringi tawa-tawa khas suara anak usia 1,5 tahun. “Oom!”  Suara bocah-bocah kecil memenuhi apartemenku. Masih tengkurap, kuacungkan remote tv ke belakang. “Nonton tv sana. Oom ngantuk,” kataku, “nonton spongebob sana.” Aku tidak bisa tidur nyenyak semalam. Dua keponakanku ini susah sekali diajak tidurnya. Tapi hebatnya, mereka sudah pandai mengoceh. Keponakan siapa dulu. Daffi! “Oom!”Suara pekikan memenuhi telingaku. Salah satu dari mereka memukuli punggungku. “Nda … Oom … Yah ….” “Oom!” Ugh! kenapa dua anak ini selalu menanyakan orangtuanya? Tidak tahukah mereka kalau orangtuanya sedang bulan madu. Bulan madu yang sesungguhnya setelah mereka dengan sabar menunggu si kembar cukup umur untuk di tinggal. Yah, bodoh. Pasti si kembar tidak tahu. Dasar, kejeniusan Daffi berkurang satu. Dan kurasakan kembali cubitan kecil sakit di punggung telanjangku. Aku mengerang sakit. Bisa kubayangkan punggungku pasti merah nantinya. “Oom! Oom!” Lagi mereka merengek. Astaga, Galih, anakmu benar-benar menyebalkan lama-lama! “Oke, oke, oom gantengnya bangun.” Gumamku. Kubuka mataku dan menyingkirkan bantal yang sejak tadi jadi senjataku. Kalau tidak kubuat senjata, anak kembar ini akan menarik-narik rambutku. Dan itu tidak akan keren sama sekali. Tidak akan bisa aku bayangkan kalau kepala indahku ini pitak! Kutolehkan kepalaku ke belakang dan dua kutemui keponakan kembarku menyunggingkan senyumnya. Memperlihatkan deretan gigi mereka yang putih. Jam menunjukkan pukul enam pagi. Dan ini hari sabtu. Haduh, masih pagi! “Apaan sih?” aku menggaruk kepalaku gemas. Aku ingin mencubit dua orang anak kembar ini, “pagi-pagi sudah bangun. Mau apa pagi-pagi?” “Oom Ogi. Yuk ….” Kukerutkan keningku saat Gilang dengan semangatnya meminta bertemu dengan Bogi. Astaga! Keponakan unyuku ini diapakan oleh Bogi? “Mau apa sama oom Bogi? Oom Boginya masih tidur, Sayang.” Aku bangun dari tidurku kemudian duduk memangku mereka berdua. “Oom Ogi.” Kini Galang menatapku. Haisshh, jangan melihat oom begitu. Serasa aku ini melihat Galih yang menatapku dengan pandangan memohon. Yaikkss… “Kita nonton kartun saja. Oke?” Kuraih remote tv dan menyalakannya. Spons berwarna kuning dan bintang laut berwarna merah jambu menyapa kami. “Noh,” aku menunjuk tv, “nonton itu saja. Nggak usah ke tempat oom Bogi.” Ups! Aku menutup mulutku segera. Kenapa aku mengingatkan mereka? Astaga, lupa! Tetapi sepertinya mereka berdua terlalu fokus dengan kartun itu. Kuhembuskan napas lega. Setidaknya aku masih bisa bersemedi di apartemen. Lelah kalau harus jalan-jalan bersama mereka berdua. Mereka terlalu aktif. Kalau hilang di keramaian, aku bisa di mutilasi oleh Galih. Dan sudah pasti di cincang Diandra. Oke ini ekstrem. Tidak mungkin mereka melakukan itu. Pikiranku kembali pada beberapa tahun belakangan ini. Kisah hidup dari ayah dan bunda si kembar. Kasihan sekali mereka. Tetapi semua telah terbayar lunas. Mereka telah bahagia pada akhirnya. Kalau kusimpulkan, mereka itu sama-sama keras kepala dan sama-sama egois. Kuhela napas pelan saat memikirkan betapa kasihannya Galih dan betapa menderitanya Diandra. Sesuatu yang hangat mengalir di pahaku. Dua keponakanku menyeringai polos menatapku. “Pis.” Ujar mereka bersamaan. “Kenapa pipis di sini sih?” Gerutuku. Aku lupa memakaikan mereka popok sekali semalam. Seharusnya anak ini sudah bisa pipis sendiri di toilet. Entah kenapa dua anak ini malah sengaja mengencingiku. Benar-benar keponakan paling unyu. Kugendong si kembar dan membawanya ke kamar mandi. “Yaudah, kita mandi yuk.” Semoga mereka mau mandi. Dan, kejadian yang paling aku takutkan terjadi. Mereka meronta dalam gedonganku. Mereka meronta ke segala arah. Astaga, kenapa kalau sama ayah mereka, mereka baik-baik saja? Heran! “Ndaa …. Ndaa ….” Gilang berteriak memanggil bundanya. “Yah …. Yah ….” Dan Galang berteriak memanggil ayahnya. “Nggak ada ayah dan bunda.” Kataku berusaha tega. Kupererat cengkeraman tanganku pada kedua bocah kembar itu, “adanya oom Daffi yang paling ganteng.” Tambahku seraya membuka pintu kamar mandi dan membawa mereka masuk. “Nggaakk!” Kedua anak itu meronta-ronta yang membuatku memutar mata. Mereka seperti mau diapakan saja. Kalau tetangga dengar, mereka mengira aku menyiksa kedua anak ini. Padahal tidak. “Enggak perlu lebay, Galang, Gilang.” Kataku. Kuturunkan mereka berdua dari gendonganku dan kumasukkan ke dalam bak mandi, kemudian segera aku mengunci pintunya. Kubiarkan mereka berdua berdiri bersisian seraya menangis, sementara aku menyalakan air hangat untuk mereka. “Mandi.” Kataku pada mereka berdua, “kalau enggak mandi, kalian bau. Enggak ganteng seperti oom Daffi bagaimana?” kataku lagi lalu mengarahkan kran air mancur pada mereka berdua. Mereka yang massih menangis, terkejut merasakan air menyemprot piyama tidur mereka. aku tertawa. Kuarahkan kran air mancur pada kepala mereka bergantian. Sekejap saja mereka melonjak-lonjak kegirangan. “Kan, pasti kalian enggak mau keluar dari kamar mandi setelah ini.” Mereka berdua disuruh mandi susah, tetapi setelah masuk ke dalam kamar mandi, susah pula keluarnya. “Dah,” kataku memberikan kran air mancur pada Galang, “sini, oom buka baju kalian. Mandi yang benar.” Mereka menurut. Aku tertawa melihat mereka dengan sabar mengantri untuk dilepaskan piyama tidur mereka yang basah. *** Setelah selesai mandi dan berpakaian, aku membawa mereka jalan-jalan pagi. Biarlah seprei yang kotor itu, sebentar lagi pembersih apartemen akan merapikannya. Aku membawa mereka ke taman bermain yang ada di belakang apartemen. Tidak perlu jauh-jauh untuk membawa mereka bermain. Di sini saja mereka sudah gembiranya minta ampun. “Anaknya, Pak?” Suara halus milik seorang wanita terdengar di sampingku. Aku menoleh dan melihat seorang wanita yang bisa kubilang cantik. “Pasti mata mereka seperti maminya, ya? biru.” Lanjut wanita itu. Kenapa perempuan ini cerewet sekali. Aku memasang senyumku, “menunggu anaknya main?” tanyaku basa-basi. Dia menoleh kemudian tersenyum menggeleng. “Nggak. Cuma suka saja lihat anak kecil.” Ucapnya. Diulurkan tangannya kepadaku. “Namaku Olivia, by the way.” Kuulurkan tanganku dengan malas sebelum menjawab, “Daffi.” Kataku singkat. Olivia mengangguk. “Mana Ibu mereka?” Pikiran usil tiba-tiba menggerayangi otakku. Dengan tersenyum kecil aku menjawab. “Ibu mereka nggak ada. Lagi bulan madu sama suaminya.” Alis Olivia berkerut dan sedetik kemudian matanya melebar. “Kamu sudah cerai? Ya ampun. Cowok seganteng kamu ditinggal istri? Astaga!” Cerocosnya. Kusembunyikan tawaku. Aku tidak bilang apapun padanya dan dia telah menyimpulkan dengan sendirinya. Aku memang tampan. Hanya satu perempuan yang tidak mengakuiku tampan, siapa lagi kalau bukan Selina. Ck! perempuan itu, aku sangsi kalau dia bisa jatuh cinta. “Oom!” Si kembar berteriak senang dan berlari ke arahku. Spontan kupeluk mereka berdua dan memutar-mutar mereka berdua dipelukanku. Aku selalu senang bersama dua keponakanku ini. “Loh kok kamu dipanggil Oom? Kasihan banget sih.” Ucap Olivia lagi. Tidak bisa lagi kusembunyikan tawaku. Aku orang yang bahagia dan tidak perlu dikasihani. “Kamu tuh yang kasihan,” kekehku, “ini keponakanku. Bukan anakku.” Jari lentiknya menunjuk pada si kembar. “Tadi kamu bilang ‘kan ….” “Aku nggak bilang apa-apa tuh.” Kekehku lagi kemudian berjalan pergi meninggalkannya. Perempuan dan kecerewetan mereka akan berakhir bodoh. Si kembar menatapku bingung. “Apa Om?” tanya Gilang. “Ada Tante aneh tadi.” Kataku masih tertawa. Walaupun bicara mereka belum lancar, tetapi aku mengerti apa yang mereka katakan. Aku yakin, mereka tidak begitu mengerti dengan apa yang kukatakan. Aku kemudian tertawa masih menggandeng mereka berdua di kedua tanganku. Dalam sekejap saja mereka berdua mengoceh tidak jelas. Aku hanya tertawa pada ucapan ngalor ngidul mereka berdua. Apapun yang mereka ucapkan, selalu lucu didengar. Tidak heran jika Galih betah seharian hanya dengan menatap mereka berdua yang asyik bermain sambil mengobrol entah apa. Sering kudapati Galih tiduran di samping mereka seraya tersenyum-senyum melihat si kembar yang duduk bermain. Kasihan Galih sebenarnya. Dia melewatkan masa pertumbuhan anak kembarnya. Sebagai gantinya, dia pasti menemani mereka berdua bermain walau hanya dengan duduk melihat saja. Aku kemudian membawa mereka berdua kembali ke apartemen. Rencananya, nanti siang aku membawa mereka ikut denganku mengajar anak-anak kolong jembatan. Aku ingin mengajarkan pada mereka berdua bagaimana hidup diluar lingkaran mewah mereka. Kuletakkan mereka di karpet dan memberikan merekan mainan yang sengaja di bawa Diandra. Dalam sekejap saja mereka sibuk sendiri. Mengoceh tidak jelas satu sama lain. *** Intro musik band legendaris Nirvana menyanyikan lagu In Bloom mulai berdering diponselku. Siapa yang meneleponku pagi ini? Seraya menyiapkan sarapan pagi pada si kembar, aku mengangkat teleponku. “Halo?” “Daf, tumben sudah bangun.” Suara heran milik Galih terdengar. Kuputar mataku jengah. “Sudah,” dengkusku, “dua anakmu itu bangunkan aku dengan cara yang ekstrim. Mukul dan cubit, parah.” Kataku terkekeh pada akhirnya. “Heh, Kak?!” giliran suara Diandra terdengar. “Apaan?” tanyaku seraya mengaduk makanan untuk si kembar. “Anakku kakak kasih makan ‘kan?” semburnya, “entar kita pulang, kembar jadi kurus, awas ya.” “Ya nggak begitu juga kali, Di,” kekehku, “sudah, anteng-anteng saja sana bulan madu. Nikmati deh suasana gunung Bromo. Dingin-dingin empuk.” Kataku kemudian tertawa terbahak. “Kakak jorok!” teriaknya, “sama saja seperti Bogi!” Aku hanya menjawab teriakan marah adik tersayangku itu dengan tertawa. Akhirnya aku bisa senang melihat mereka berdua bahagia. Dua tahun mereka berpisah akibat hal yang sangat tidak disangka oleh siapapun termasuk aku. Dua tahun lamanya mereka berdua sama-sama menderita. Perceraiannya dengan Galih kemudian kehamilan Diandra kala itu. Aku tahu, setegar-tegarnya Diandra, dia itu sangat rapuh. Walaupun ada Rizal yang menjadi penghiburnya di kala Galih meninggalkannya karena terpaksa, tetap saja dia tidak bisa menyembunyikan duka laranya. Aku tahu, adikku itu sangat mencintai Galih. Aku bersyukur karena mereka berdua bisa bersama lagi pada akhirnya. Tinggal diriku ini yang masih sendiri. Dan aku tidak mempermasalahkan itu. Seperti kata Diandra dulu. Kak Daffi single and very happy. Seperti sebuah lagu. “Yasudah, selamat liburan ya, Dek.” Kataku tersenyum. “Iya, Kak,” bisiknya, “Aku sayang sama Kakak. Salam sayang juga buat si kembar dari Bunda sama Ayah ya.” Aku bergumam lalu menjawab, “Kakak juga sayang sama kamu. Nanti Kakak sampaikan salam sayang kalian buat si kembar. Dah, Adek.” Kemudian menutup telepon. ***

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Perfect Marriage Partner

read
821.4K
bc

Oh, My Boss

read
387.0K
bc

Om Bule Suamiku

read
8.9M
bc

Mendadak Jadi Istri CEO

read
1.6M
bc

My Boss And His Past (Indonesia)

read
238.4K
bc

Istri Simpanan CEO

read
214.5K
bc

Undesirable Baby 2 : With You

read
168.3K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook