BOGI : Insiden

1952 Words
Aku menikmati kopi pagiku. Kuangkat kedua kakiku di atas meja ruang tamu rumah Pahlawan. Temanku yang satu itu benar-benar menyebalkan. Bayangkan saja, dia meneleponku pagi-pagi hanya mendengarkan ceramah tidak bermutu darinya. Akan tetapi, aku tidak bisa jauh dari Pahlawan. Hanya dia satu-satunya teman yang tidak pernah menuntut penjelasan dariku ketika aku sedang bermasalah. Kurasa tidak salah jika orangtuanya memberi namanya demikian. “Kamu tau ‘kan, Gi, kalau kamu itu sudah tua? Enggak kepikiran mau berbuat sesuatu yang baik?” Sialan. Aku memutar bola mataku mendengar ceramah entah apa. Rumahnya yang kecil ini membuatku mendengar apapun yang dia bicarakan, tetapi aku mencoba menulikan pendengaranku ketika berkaitan dengan tobat dan usia. Aku tidak mau berlama-lama di tempat ini. Secepat mungkin aku harus pergi memantau sekolah. Dad menyerahkan sekolah peninggalan keluarga padaku. Kuhembuskan nafas kesal. Aku tidak suka duduk di belakang meja. Untung hari sabtu ini aku tidak ke kampus. Kalau sampai ke kampus, tidak ada kesempatanku bertemu si seksi Rosie. Aku mendengus memikirkan hal itu. Aku tidak mau menebar benih di mana-mana. Seplayboynya aku, sebejatnya aku, aku tidak akan menancap ke sembarang tempat. Aku tertawa sendiri pada kalimat yang terlintas di kepalaku. Ponselku berdering nyaring di ponsel yang kuletakkan di atas meja sementara Pahlawan sedang berbicara entah apa dari arah dapur. Dengan malas, aku meraih ponselku. Nama Susan terpampang jelas di layar ponsel, perempuan yang kukencani beberapa bulan ini. Dia juga sangat seksi. “Apa, sayang?” “Bogi … long time no see. Gimana kabarmu, babe? Aku lagi di Afrika nih.” Lapornya. “Buat apa ke sana? Ketemu jerapah?” tanyaku menggodanya. Susan tertawa. “Nggak lucu,” kikiknya, “kangen kamu, sayang. Lagi apa?” “Lagi mikir kamu.” Kataku. Mudah sekali aku menggombal. Dengan sedikit rayuan, mereka akan menggelepar seperti ikan. “Sungguh?” “Yeah. Aku kangen kamu.” Bisikku lalu menyeringai. “Sial kamu, Bogi. Aku jadi tambah kangen sama kamu.” Dia merutuk yang membuatku menyeringai semakin lebar. Aku tertawa pelan. Terdengar bunyi ‘bip’ berulang kali di ponselku. Sepertinya Rosie meneleponku. “Honey, aku mau berangkat ke kantor dulu ya.” Kataku berdusta pada Susan. Mudah sekali mengelabui wanita seperti Susan. “Bukannya ini sabtu?” “Ada hal penting yang harus aku kerjain, baby,” kataku berpura-pura memohon, “nanti malam aku telepon kamu lagi. Oke, honey?” “Oke,” bisiknya, “bye, honey. Miss you.” “Bye … miss you too.” Kataku kemudian kututup telepon darinya. Setelah ini, kutekan tombol hijau sekali lagi untuk mengangkat telepon dari Rosie. “Hallo, honey? Miss me?” Pahlawan keluar membawa sepiring telur orak-arik lalu meletakkannya di atas meja setelah sebelumnya mendepak kakiku agar turun dari meja. Dia menggeleng kepala ketika melihatku masih menerima telepon. “Pasti dari perempuan yang entah keberapa.” Aku memelototinya. Rosie masih saja mengoceh yang kutanggapi hanya dengan gumaman. “Oke, Cantik. Aku pergi dulu, ya.” “Kamu dengar enggak sih apa yang aku bilang tadi?” Aku tertawa, “iya, Cantik. Aku dengar kok. Kamu ngajak jalan. Betul ‘kan? Bye, see you.” Aku tersenyum seraya mematikan ponselku. Begitu mudah memancing ketika para ikan sedang lapar. Sekali pancing bisa dapat dua. Di dunia yang indah ini tidak perlu bersusah hati. Hidup hanya satu kali, tak kubiarkan terlewat begitu saja. Aku tidak menghubungi wanita-wanita itu. Selalu mereka menghubungiku terlebih dahulu. Bagaimana hidup ini menyenangkan, bukan? Dianugerahi wajah tampan kenapa tidak dimanfaatkan saja. Ya ‘kan? Tidak seperti kakakku itu. Sepanjang hidupnya hanya berputar pada pekerjaan dan kemudian ada Sherly, putarannya beralih ke Sherly. Setelah itu putaran itu sepenuhnya pada Diandra. Sampai-sampai kakakku itu seperti orang yang gila. Selama mereka berpisah, selama itu pula kakakku itu seperti kosong pandangannya. Kasihan sekali. Aku bergidik mengingat kakakku. Hidupku akan menyenangkan. Tidak seperti dia. Sebuah tangan melambai di hadapanku yang membuatku berkedip beberapa kali. “Kamu dengar nggak sih apa yang lagi kubicarain, Gi?” Pahlawan—sahabatku menatapku tajam. “Apa?” tanyaku malas. Aku bosan mendengar ceramah tidak berguna darinya. Lebih baik aku membayangkan gadis-gadis cantik. “Ceramah di masjid sana. Jangan di sini.” kataku lagi, mengusirnya. Sudah syukur aku mau datang ke rumahnya. “Kamu tetap begini, Gi?” tanyanya. Aku meliriknya sekilas. Aku tahu ke mana arah pembicaraannya. Dia selalu bertanya pertanyaan itu berulang. Dan aku menjawab pertanyaan yang sama berulang juga. “Aku ini ateis. Buat apa ibadah kalau Tuhan enggak pernah menolong aku. Bagiku, Tuhan itu enggak adil.” Kudengar helaan napas kasarnya diiringi kalimat penuh sesal karena sudah mempunyai teman sepertiku, yang membuatku terkekeh. Tidak ada gunanya dia menasehatiku. Aku sedang menikmati indahnya hidup. “Mengagumi karya ciptaan Tuhan dalam bentuk wanita adalah hal yang enggak boleh dilewatkan, Pahlawan. Memacari mereka adalah hal yang kulakukan untuk beberapa tahun mendatang.” “Gi, Tuhan itu ada. Tuhan itu selalu ada disaat kita butuh, Gi. Enggak boleh kamu meragukan Tuhan. Tuhan bisa murka, Gi.” Aku berdecak saat mendengar dia berceramah lagi. Sudah puluhan dia berceramah dan puluhan pula aku hanya memandangi sahabatku itu tanpa minat. Sampai saat ini, Tuhan belum menunjukkan keberadaan-Nya padaku. Dan aku semakin yakin bahwa Tuhan tidak peduli padaku. “Semoga suatu saat nanti kamu diberikan hidayah, Gi. Ketika hari itu datang, aku yakin kamu pasti percaya Tuhan ada disetiap nafasmu.” Ucapnya yang kujawab dengan anggukan tidak yakin. Hidayah apa? Aku melihat arlojiku. Sepertinya aku harus ke lokasi selanjutnya. Aku beranjak dari dudukku. Pahlawan yang meminum air mineralnya menatapku heran. “Mau ke mana?” tanyanya. “Biasa, ke tempat bisnis.” Kataku menaikkan alis naik turun. Pahlawan menggeleng. Aku tertawa. “Ke sekolah. Dad minta aku jadi pemilik sekolah yang baru. Ganti Kak Galih sementara. Dia mulai sibuk.” Pahlawan mengangguk mendengar penjelasanku lalu tersenyum hingga mempertontonkan lesung pipitnya yang membuatku iri. Aku mendengus. Setelah berpamitan padanya, aku melesatkan mobil Mercedesku ke pusat Kota Bekasi tempat di mana sekolah elit bertaraf internasional berada. Jarak dari rumah Pahlawan di Jatikramat ke lokasi jika ditempuh bisa mencapai satu jam. Terlebih lokasi sekolah Tunas yang berada di salah satu kawasan perumahan elit kota Bekasi ini sering dilalui berbagai macam kendaraan. *** Kukancingkan jas yang kupakai dan keluar dari mobil Mercedes milik Kak Galih yang kubawa. Kulemparkan kunci mobilku pada satpam yang tersenyum padaku. “Tolong parkirkan, Pak.” Kataku sambil lalu. “Siap, Pak.” Aku berbalik lalu menggeleng. “Jangan panggil saya Pak.” Satpam sekolah yang telah mengenal baik aku itu tertawa. “Kan biar formal, Mas Bogi.” Ucapnya. Senyum menghiasi wajah setengah bayanya. Rambut-rambut putih terlihat menyembul dari balik topi satpam yang dia pakai. Aku berdecak, “boleh panggil saya yang lain asal jangan Om dan Pak.” Gelengku dramatis dan berlalu pergi. Terdengar tawa renyah Pak Lukman. Hah! Hanya keponakanku yang kuperbolehkan memanggilku dengan sebutan om. “Selamat datang, Pak.” Kepala sekolah baru menyambut kedatanganku, menggantikan kepala sekolah lama karena sudah pensiun. Kuputar mataku saat kepala sekolah ini memanggilku Pak. Kuulurkan tanganku lalu tersenyum. “Adittrian Bogi Louis. Panggil saja Bogi. Jangan ada embel-embel Pak.” Usiaku masih muda, demi gadis-gadis cantik! Kepala sekolah yang usianya sekitar 50 tahun itu tersenyum mengangguk. Diulurkan tangannya menjabat tanganku kembali. “Kalau begitu saya panggil Mas Bogi saja.” Aku tertawa pelan pada ucapannya. “Nama saya Burhan. Kepala sekolah yang baru.” Ucapnya memperkenalkan diri. Aku mengangguk paham. Kuedarkan pandanganku menatap sekeliling sekolah berlantai tiga yang sudah sepi. Para siswa pasti sudah belajar. Aku tersenyum tipis mengingat saat sekolah dulu. Hampir separuh dari populasi perempuan di sekolah ini dahulu pernah menjadi pacarku. Jangan salahkan aku, salahkan mereka yang mendekatiku terlebih dahulu. Seperti yang pernah aku katakan tadi, mereka seperti ikan yang kelaparan ketika melihatku yang mereka ibaratkan sebagai umpan. “Saya mau keliling dulu, Pak.” Kataku pada Pak Burhan. Tangan kanannya terentang ke samping mempersilakanku berjalan lebih dulu. “Mari, Mas Bogi. Saya temani.” Aku menggeleng. “Saya jalan sendiri saja, Pak. Mau nostalgia.” Kekehku. Pak Burhan tertawa pelan pada ucapanku dan mengangguk. Sebelum aku keliling sekolah, aku masuk ke ruangan yang diperuntukkan untuk pemilik yayasan, ruangannya berada tepat di sebelah kanan ruang guru, terpisah dengan bangunan utama dari kelas yang dipakai untuk belajar mengajar. Kubuka jasku dan juga kemejaku. Aku tidak suka memakai setelan seperti ini. Kuganti dengan kaus putih yang sengaja kubawa dalam tasku. Aku menyunggingkan senyumku lalu mulai keluar ruangan. Aku berkeliling melihat sekolah dari kejauhan. Sejauh ini, sekolah ini sudah banyak perubahan. Sudah dicat lebih baru, warna hijau tua. Sudah diperbaiki. Kakiku berhenti di kantin. Ibu kantin menyapaku senang. “Eh Mas Bogi. Baru keliatan lagi. Mau makan, Mas? Apa minum? Kopi mau?” tawarnya. “Boleh deh, Bu. Kopinya satu, ya.” Anggukku kemudian duduk di salah satu kursi kantin. Kulirik jam tanganku, pukul sepuluh. Sebentar lagi pasti ramai kantin ini. Penuh dengan anak-anak sekolah. Mataku segar! Aku berdehem pelan. Aku harus jaga image. Mana bisa mata dan mulutku bersiul sana-sini. Ibu kantin datang menghampiriku. Ibu kantin meletakkan secangkir kopi di mejaku dan setangkup roti. Dia sudah tahu kebiasaanku jika jajan di kantin rupanya. Padahal aku sudah mulai lupa kebiasaanku. One, Twenty one guns Ponselku bernyanyi saat semua siswa memasuki kantin. Pandangan mereka tertuju padaku. Terutama siswinya. Sayang sekali, mataku tidak sebiru Kak Galih, mataku berwarna hitam. Jika mataku berwarna biru, akan lebih mudah lagi aku memikat. Ponselku bernyanyi lagi. berteriak-teriak meminta diangkat. Aku berdecak mengabaikan pandangan siswa yang lalu lalang. Kurogoh saku celana yang kupakai dan mengeluarkan ponselku. Rosie meneleponku. Aku menyengir. “Halo?” Sapaku seraya berdiri dan memegang cangkir kopi di tangan kiri. “Kamu di mana? Jadi, kan, kamu temani aku. Katanya kamu janji mau ajak aku jalan.” Suara manja milik Rosie terdengar di telingaku. Aku tersenyum pada kemanjaannya. “Iya jadi. Sebentar lagi aku ke sana. Oke?” Janjiku. “Oke deh. Aku tunggu.” “Oke, Sayang. Sampai ketemu.” Kataku kemudian kututup telepon lalu memasukkan kembali ponselku ke dalam kantung celana. Aku mendesah pelan. Mataku berkeliling memandang kantin yang penuh sesak. Banyak siswi cantik. Seorang siswi lumayan cantik melewatiku seraya menatapku. “Hai.” Sapaku. Dia cekikikan dan tersenyum padaku. “Halo.” Sapanya. Entah siapa namanya. Lumayan sih tapi …. “Kalau pakai bedak jangan terlalu tebal. Kayak dempul. Enggak bagus buat muka kamu yang masih mulus.” Kataku menahan tawa. Siswi itu tersenyum kepadaku dan menundukkan kepala. Bukannya marah, dia malah seperti merpati. Aku sudah lama tidak jahil. Biasanya aku dan kak Daffi jahil kepada siapapun. Terutama jahil kepada Diandra. Aku tertawa pelan kemudian menyesap kopiku lagi. Cangkirku sudah mulai habis isinya. Lebih baik aku berangkat sekarang. Aku tidak mau Rosie menungguku terlalu lama. Kubawa cangkirku dan berjalan menuju ibu kantin yang melayani pembeli saat tiba-tiba seorang siswa entah itu laki-laki atau perempuan menabrakku. Dan, kausku kotor! “Bajuku! Kamu bagaimana, sih?” Aku menggerutu karena ketumpahan kopi hitamku. Sepasang tangan bergerak menghapus noda di bajuku yang berakhir berantakan. Baju putihku menjadi cokelat tidak jelas di bagian depan, membentuk lingkaran tidak jelas. “Anda yang bagaimana. Sudah tahu aku lagi jalan.” Suaranya perempuan. Baru kali ini ada yang berani memarahiku. Baru kali ini ada yang kurang ajar padaku. Aku mendongak lalu menyingkirkan tangannya dari bajuku. “Enggak perlu bersihkan bajuku. Bilang saja kamu cari perhatian.” Kataku kesal. Tidak ada cantiknya sama sekali anak ini. Sudah pendek, menyebalkan pula. Ibu kantin berdiri di samping anak perempuan ini dan menarik lengannya. “Sudah.” Ucap ibu kantin saat anak itu ingin mengatakan sesuatu lagi. Mata Ibu kantin menatapku kemudian tersenyum tipis. “Mau saya bantu bersihkan, Mas?” tawar ibu kantin kepadaku. Aku menggeleng. “Nggak perlu, Bu. Saya permisi.” Kataku lalu beranjak pergi. Meninggalkan suara sumpahan dari perempuan tadi. Dasar perempuan jelek! ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD