BOGI : Kesialan

1336 Words
Kuketuk-ketukkan tanganku di meja salah satu restoran cepat saji di Mall Of Indonesia. Setengah jam aku duduk ganteng di sini menunggu Rosie berbelanja. Aku paling malas mengikuti perempuan belanja. Ujung-ujungnya, aku yang membawakan belanjaan mereka. Memangnya aku ini tukang angkat barang. “Oom Ogiii ….” Aku terperanjat mendengar suara itu. Itu suara dua keponakan kembarku. Kutolehkan kepalaku ke kiri dan ke kanan. Tidak ada siapa-siapa. Suaranya dekat tapi orangnya tidak ada. Jangan sampai Rosie melihatku dengan dua bocah itu. Kurasakan pahaku ditepuk-tepuk saat aku menunduk ternyata dua bocah kembar itu sudah ada di depanku. Menyeringai layaknya Diandra yang menjahiliku. “Loh kok ponakan ganteng OOm ada di sini?” Kataku gusar. Tetapi lebih ganteng aku. Mereka tidak ada apa-apanya dibandingkan aku. Kuangkat mereka berdua untuk duduk di kursi di kedua sisiku. Mencium kedua pipi mereka secara bergantian sekaligus gemas. “Aku yang bawa.” Sahut suara kak Daffi dan kini dia sudah duduk di depanku. Tampangnya sangat kusut dan kurang tidur. Mau tidak mau, aku tertawa terbahak. “Kenapa kamu, Kak? Dijajah dua anak kembar, ya?” Ejekku. Bisa kubayangkan selama beberapa hari ini kak Daffi tidak bisa tidur. Main kuda-kudaan dengan dua bocah kembar yang tergolong usil. Kak Daffi menatapku kemudian mendengus. “Nggak usah ngejek. Gantian jaga. Aku besok sibuk di restoran.” Aku menatap horror Kak Daffi. Mana bisa aku menjaga dua anak ini? Bisa kupastikan waktuku tersita dengan dua bocah kembar ini. Dan hari menyenangkanku berakhir sudah. Tiba-tiba saja Kak Daffi tertawa terbahak. “Mukamu tuh bagus, Gi.” Tawanya. Aku hanya mendengKus. Memang wajahku bagus dari dulu. “Mukamu tuh macam telan kodok.” Lalu dia terbahak. Dia senang sekali melihatku menderita. Ugh! Diangkatnya jam tangannya kemudian seperti teringat sesuatu, dia menepuk dahinya, “aku lupa, ada yang mau datang ke restoran.” “Terus?” Tanyaku. Jangan bilang kalau dia mau meninggalkan dua bocah ini denganku. Kak Daffi menyeringai menatapku. “Aku titip mereka.” Nah ‘kan! Apes deh aku, “nanti sore antar mereka ke apartemenku. Tapi besok pagi kamu ambil lagi mereka. Sekaligus bawa baju si kembar.” Aku mendengKus. Kenapa hidupnya rumit begitu? “Sekalian saja nanti sore aku ambil baju mereka sama mainan mereka di tempatmu,” kataku, “ribet kamu, Kak.” “Itu lebih bagus lagi,” seringainya, “Hitung-hitung biar hidupmu normal sebentar.” Apa dia bilang? Memangnya selama ini hidupku tidak normal begitu? Dasar! Adik kakak sama saja! “Sialan kamu, Kak! Kamu kira selama ini aku apa? Melambai? Maaf, ya ….” “Aku enggak bilang begitu.” Ucapnya masih tertawa. Hah! terserah! Kak Daffi berdiri dari kursinya, bergumam kata ‘mau jalan’ padaku. Dihampirinya si kembar yang sibuk minum lemon tea milikku. Kuputar mataku pada tingkah mereka. “Oom mau pergi dulu, ya. Kalian sama Oom Ogi aja ya. Oke?” Ucap Kak Daffi seraya mengusap kepala mereka berdua. Si kembar hanya mengangguk tak peduli pada ucapan Kak Daffi yang membuatku ingin tertawa. Kak Daffi memukul bahu kiriku pelan kemudian berkata, “Aku jalan dulu. Oya, itu perlengkapan mereka ada di tas.” Tunjuknya pada tas bergambar kartun snoopy yang ada di punggung Galang.  “Ya.” Sahutku singkat. Benar-benar akan menjadi hari yang suram bagiku. Aku benci jika harus dititipi anak seperti saat ini. Bagaimana bisa aku bertemu dua keponakanku ini bersama Oom mereka yang juga menjengkelkan di sini? Aku yakin, Kak Daffi menelepon rumah dan bertanya pada asisten rumah tanggaku ke mana aku pergi. Aku memang selalu mengatakan ke mana aku pergi agar tidak ada yang mengkhawatirkanku. Setengah hati aku mengiyakan permintaan Kak Daffi—Kakak dari Diandra—untuk menjaga si kembar Galang dan Gilang sesaat. Mengingat Diandra membuatku merindukan Kakak iparku itu. Diandra adalah teman SMA. Diandra merupakan satu-satunya perempuan yang tidak terpikat padaku hingga dia memilih menikahi Kakakku. Aku senang Diandra menjadi keluarga besar Louis. Sungguh. Walaupun Galang dan Gilang keponakan sendiri, tetapi aku mempunyai firasat buruk kedatangan dua keponakan kembarku ini. Firasat sangat buruk akan terjadi dalam hidupku jika menyangkut dua keponakan kembar yang menyebalkan ini. Dua anak ini jahilnya entah menurun pada siapa. Tetapi menurut Kak Daffi, mereka jahil menuruni Kakakku—Galih. Aku mendengkus. Galih? Jahil? Aku tidak melihat dari sudut mananya Kakakku itu jahil. Atau mungkin saat Kakakku itu masih kecil? Entahlah. Tidak, aku tidak benci anak kecil. Kalau anak manis dan penurut, aku dengan senang hati menjaganya, tetapi dua anak ini? ah! Rasanya aku menyerah. Kenapa pula kedua orangtuanya harus berbulan madu lagi? Kenapa tidak dibawa saja dua krucil ini? Untung saja dua anak ini nafsu makannya besar. Jadi, mudah saja membuat mereka diam. Seperti sekarang ini, makan di restoran cepat saji di Mall of Indonesia. Mall termegah di Asia Tenggara. Saat aku mengambil garpu yang jatuh di lantai, sepasang kaki mulus berhigh hells merah menyapa mataku. Kaki siapa ini? Tidak mungkin Rosie. Dia tadi memakai sepatu hitam mengkilat. Bukan merah. Saat aku mendongak sempurna, sepasang mata bulat menatapku marah. Mataku mengerjap pelan saat tahu siapa wanita seksi yang ada di hadapanku. Susan? Bukannya dia Afrika? PLAK! Tamparan keras mendarat di pipiku saat aku belum sempat berkata-kata. Apa-apaan tadi? Lebih ironisnya, si kembar menertawaiku! “Dasar gombal!” teriaknya. “Siapa?” Aku masih shock dengan tamparannya. “Kamu!” Tunjuknya di hidungku dengan marah. Kulirik kiri dan kanan, banyak mata menatapku, “sudah punya anak ternyata kamu, ya! Dasar perayu.” Ini yang aku takutkan. Firasat buruk yang sedari tadi kupikirkan. Lagi, si kembar tertawa. Apa mereka tahu kalau aku tersiksa? Dan dari jauh aku melihat Rosie menghampiriku. Ini gawat. Kenapa dia belanjanya cepat sekali? “Siapa dia?” tanya Rosie padaku. Matanya melihat Susan menilai kemudian alisnya berkerut melihat si kembar yang masih sibuk tertawa. “Aku pacar Bogi!” bentak Susan. Perang dunia Bogi! PLAK! Tamparan lain mendarat di pipiku. Kini dua pipi mulusku ditampar dua perempuan. Astaga! Kupikir aku akan melihat perang dunia. “Laki-laki kurang ajar!” bentak Rosie, “dan siapa dua anak kembar ini?” tanyanya lagi. “Anaknya.” Sahut Susan saat aku hendak membuka mulutku. Yah, terserahlah jika dia berkata begitu. Kemudian, Susan berjalan pergi seraya meneriakkan kata ‘putus’. “Apa?!” suara Rosie menggelegar saat menyadari apa yang diucapkan Susan, “dasar perayu! Kita putus!” Teriaknya kemudian berjalan pergi. Terserah apa yang mau mereka katakan. Hanya mereka saja yang benci aku. Masih banyak yang mengantri di belakangku untuk menjadi pacarku. Aku menghela napas. Kutolehkan pada dua anak kembar yang masih menertawaiku. Aku berdiri dari kursi lalu mengulurkan tanganku pada mereka berdua, “ayo, kita jalan-jalan lagi.” Mereka terlonjak senang menerima uluran tanganku. *** Waktu sudah menunjukkan pukul lima sore ketika aku memutuskan untuk pulang. Dan, si kembar sekarang sudah tidur dalam gendonganku. Kuhembuskan napas keras. Imageku sebagai pria tampan luntur seketika. Bagaimana tidak, semua orang mengira aku adalah ayah biologis anak ini. Menikah saja tidak ada dalam pikiranku dan tidak akan mau aku menikah Aku tidak akan melakukannya. Aku hampir terhuyung ketika seseorang menabrakku. Hampir saja aku menjatuhkan dua anak yang aku gendong. Aku mengumpat. Mengatur napasku yang hampir saja bergerak tidak teratur. Kalau tidak menjaga keseimbangan, dua anak yang ada digendonganku ini bisa jatuh. Dan aku tidak mau kakakku bahkan Diandra murka padaku. Mataku melebar saat tahu siapa yang menabrakku. “Kamu lagi!” Anak perempuan yang tadi pagi menumpahkan kopi ke bajuku ternyata menabrakku lagi. “Enggak bisa, ya, kalau enggak tabrak orang?!” Kataku lagi. Dia menatapku tanpa kedip seakan melihat hantu, “bagaimana kalau anak yang saya gendong jatuh? Matamu di mana?” “Maaf ... enggak … lihat.” Ucapnya gelagapan. Serempak si kembar menangis ribut sekali minta pulang. Berusaha untuk tidak memutar mataku, aku sibuk menenangkannya. Aku tidak pandai menenangkan bayi berusia 1,5 tahun. Mereka semakin menangis ribut hingga telingaku terasa pekak. Aku menatap perempuan yang ada di hadapanku dan bergumam, “mata jangan ada di kaki.” Setelah itu aku melewatinya yang kini memelototiku. Perempuan menyebalkan. Aku berharap tidak bertemu lagi dengannya untuk besok dan seterusnya. Bahkan jika bisa untuk selamanya. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD