“Pak, ada yang mau ketemu.” Ucap Angga saat aku sedang menggoreng ikan.
“Siapa sih, Ngga?” tanyaku tanpa melihat padanya, “suruh tunggu saja deh di ruangan saya.” Kataku lagi.
Aku berdecak. Aku sedang frustrasi. Orang yang akan memakai jasa restoranku ternyata membatalkan kerjasamanya. Entah kenapa. Padahal, kalau aku bisa kerjasama dengannya, bisa kupastikan restoranku ini semakin berkembang dan terkenal di mana pun. Aku berdecak lagi. Kekesalanku kualihkan pada dapur. Aku mengacak-acak dapur restoran. Memasak untuk mengalihkan pikiranku yang sedang kacau dan kesal.
“Ya ampun, Pak.” Angga berseru lagi. Sepertinya dia sudah mulai sadar apa yang kulakukan pada dapur ini, “dapur apa kapal pecah?” Angga bersiul melihat kekacauan yang kubuat. Hanya dia yang berani berkata seperti itu saat yang lainnya hanya mengkeret pada bentakanku.
“Bawel!” Bentakku masih menggoreng ikan, “ambilkan saya merica! Cepat!” perintahku.
Sebuah botol merica tiba-tiba ada di depan mataku dan hampir saja membuatku mundur karena terkejut. Botol merica itu dipegang oleh tangan Angga yang mulus. Kenapa mulus begitu tangannya si Angga? Sejak kapan jarinya jadi lentik?
“Enggak perlu lihat tanganku begitu!” Ucap suara yang ada di samping kiriku. Loh suaranya seperti kukenal? Saat aku menoleh, ternyata Selina. “Kamu menyeramkan kalau marah.”
Kuputar mataku pada ucapannya.
“Mau apa ke sini?” tanyaku ketus. Baru kali ini aku berkata ketus begitu padanya. Biasanya
Tangannya terangkat dan menyerahkan sebuah amplop putih padaku. Aku sudah tahu apa isi amplop itu. Kenapa ditolak lagi sih? Aku hanya mengangkat alisku padanya. Pura-pura tidak mengerti.
“Ambil nih,” ucapnya kesal, “aku enggak butuh. Sudah kukatakan berulang kali tetapi kamu enggak paham juga.” Tambahnya.
Selalu saja dia menolak pemberianku. Memangnya aku memberikan uang itu padanya? Bukan! “Itu bukan buat kamu, bodoh!” seruku kesal bukan main, “Itu buat mereka.”
“Aku enggak butuh uang segepok kamu ini!” Semburnya. Tatapannya benar-benar tidak suka atas apa yang kuberikan.
“Terus?!” aku menatapnya kesal. Aku mengepalkan kedua tanganku demi menahan gejolak emosi, “kamu mau kasih makan mereka uang hasil copetan itu?! begitu!” Bentakku.
Aku tidak bisa lagi membendung kesalku padanya. Sangat keras kepala sekali perempuan ini. Sama keras kepalanya seperti batu karang!
Selina menatapku marah. Aku bisa tahu itu. Emosi itu terbentuk dimatanya. Tatapannya tajam seperti hendak menusukku. “Aku enggak perlu, ya, kamu nasehati! Kamu itu bukan orang tuaku, Daffi!” Teriaknya.
Astaga! Membawa-bawa orangtua segala? Yang benar saja! Dua tahun kami berteman, ternyata dia masih saja keras dan tidak mengerti. Dia tidak pernah berubah sama sekali mengenai tabiatnya. Kemudian, dia melemparkan uang itu padaku. Uang ratusan ribu itu beterbangan di seluruh penjuru dapurku. Setelah melakukan aksi itu, dia pergi begitu saja.
Aku memejamkan mata sesaat demi menetralisir perasaan kecewaku padanya. Aku merasa tidak dihargai di sini. Kenapa tidak sekali saja aku dihargai olehnya? Kenapa harus dengan cara begitu dia memberikan uang yang kuberikan padanya? Tidakkah dia bisa baik-baik meletakkan uang itu di meja jika aku tidak menerimanya? Haruskah uang itu dilemparkan padaku? Sejak awal bertemu dengannya, aku berusaha mengerti akan sikapnya namun sampai sekarang, aku tidak juga mengerti.
“ANGGA!!” Teriakku kencang. Terdengar sahutan pelan ‘ya’ di belakangku. “PUNGUT DUITNYA!! SETELAH ITU SUMBANG KE MASJID!!”
Teriakan kemarahanku membahana dan mungkin sampai meja restoran. Aku tidak peduli. Aku benar-benar kecewa. Setidaknya, kalau kusumbangkan uang itu ke masjid, uangku akan diterima baik dan aku mendapatkan berkah atas tindakanku.
“Siap, Pak.” Sahut Angga pelan. Sepertinya dia terlalu takut untuk bersuara kencang. Lalu setelahnya, dia dengan gaduh memunguti uang yang beterbangan.
“YUGO!!” Teriakku lagi. Yugo datang tergopoh-gopoh dengan nampan di tangannya.
“Ya, Pak?” Cicitnya. Wajahnya terlukis ketakutan yang sangat.
Kutarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Tidak seharusnya aku membentak karyawanku. Mereka tidak salah.
“Bereskan dapurnya.” Lalu hidungku mengendus udara. Tercium bau gosong. Kulirik ikan yang sudah hitam dan kuputar mataku, “Bereskan juga ikannya.” Kataku lagi kemudian kulepaskan celemekku dan meletakkannya asal.
“Ya, Pak.” Sahut Yugo pelan. Dia menunduk dengan nampan masih berada di tangannya.
“Saya mau keluar dulu. Mau cari angin.” Ucapku sambil lalu.
***
Entah kenapa aku malah berakhir di sini. Di dermaga Ancol. Kutarik rokokku dan menjentikkan api untuk menyalakan batang rokoknya. Kuhisap dalam-dalam rokokku. Ck! hari ini aku sial sekali. Asap keluar dari mulutku tatkala aku menghembuskannya pelan. Penawaran kerjasamaku gagal dan Selina yang datang dengan kekeras kepalaanya. Dan semoga kesialanku tidak bertambah lagi hari ini.
Sepi. Hanya bunyi deburan air. Kuhisap rokokku dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Asap membumbung tinggi dan menghilang ditiup angina. Tidak sekali atau dua kali aku sial. Akhir-akhir ini aku selalu sial. Entahlah, selalu saja kerjasamaku dengan orang ditolak. Misalnya saat kami sepakat untuk membicarakan kerjasama, tiba-tiba saja mereka membatalkannya. Seperti ada yang mengomandoi.
Astaga! Aku mengacak-acak rambutku. Tidak mungkin itu Joana atau Cello ‘kan? Mereka ada dipenjara. Tidak mungkin! Ini pasti hanya kebetulan saja. Atau mungkin memang nasibku saja yang sial. Sepertinya aku perlu diruwat. Aku menggeleng pelan memikirkan itu.
Apa aku menerima tawaran saja sebagai juri yang ada di stasiun tv itu? Sudah berkali-kali pihak produser stasiun tv itu menghubungiku. Memang, sudah lama sekali aku vakum dari dunia itu. Aku berhenti di dunia itu saat Diandra sedang dalam musibah.
BRUK!
Seseorang menubrukku dari belakang membuat keseimbanganku oleng dan akhirnya ….
BYUR!
Aku tercebur ke dalam laut Ancol.
“SIALAN!!” Teriakku.
Siapa yang berani menjatuhkanku ke dalam air?! Kuedarkan pandanganku dan mataku bertemu dengan seorang wanita yang terjerembab di lantai kayu dermaga. Kulihat sepatu hak tingginya patah. Wanita bawel itu lagi rupanya. Olivia.
“Heh, Perempuan! Kamu enggak lihat jalan, ya?!” Semburku. Aku berenang ketepi dermaga dan berusaha naik ke atasnya. Sial!
Tangannya terulur untuk membantuku namun kutepis. “Enggak usah!” Aku tidak butuh bantuannya!
“Maaf, Daf. Aku enggak sengaja. Sepatu aku patah haknya.” Ucapnya pelan.
Saat aku sudah berada di atas dermaga, kuusap wajahku dengan tangan kananku. “Makanya enggak usah pakai sepatu hak tinggi kalau ke pantai!” Sentakku memelototinya.
Matanya mengerjap pelan melihat kegaranganku. “kamu kenapa, Daf?”
Aku hanya mendengkus dan berjalan melewatinya. Pakai bertanya kenapa lagi? Dasar perempuan aneh! kuperhatikan pakaianku. Hah! basah semua pakaianku. Sial! Ponselku dan dompetku pasti basah. Semoga ponselku tidak mati nanti. Semoga masih bisa dipakai. Bukannya aku pelit untuk membeli ponsel baru, tetapi ini adalah hadiah dari Galih. Kalau sampai mati, ck! aku tidak mau berurusan dengan Galih.
***
Kukeluarkan semua isi dompetku. Mulai dari uang, kertas-kertas tidak jelas sampai ATM. Berjajar rapi diatas meja makan. Sementara aku mengeringkan ponselku menggunakan hairdryer yang kupinjam dari tetangga sebelah. Semoga ponselku masih menyala. Kalau mati, matilah juga aku.
Aku mendengkus pelan. Sial sekali nasibku hari ini. Apa yang terjadi padaku? apakah aku harus diruwat agar kesialan ini pergi? Astaga! Pikiran bodoh macam apa itu?! Kenapa pikiran itu datang lagi, sih?
Ting … tong … ting … tong ….
Siapa sih yang datang sore-sore begini? Kalau Bogi tidak mungkin ‘kan? Dia sudah mengambil barang-barang si kembar sejak setengah jam lalu. Dengan malas, kuletakkan pengering rambut dan ponselku di atas meja makan.
Perlahan, kubuka pintu apartemenku. Lalu mataku menyipit ketika tahu siapa yang datang. Mau apa perempuan ini datang ke sini? Tahu darimana dia alamat apartemenku?
“Veronika? Mau apa kamu datang ke sini?” Masih teringat jelas kelakuannya dulu. Dia meatahkan hatiku dadn aku benar-benar kecewa padanya.
Kulihat airmatanya mengembang dan detik berikutnya dia sudah memelukku. “Daf … tolongin aku, Daf.”
“Lepas!” Kataku berusaha keluar dari pelukannya, “mau apa kamu?”
“Tolong, Daf.” Isaknya masih berusaha memelukku. Aku tidak peduli lagi apapun permasalahannya. “Aku hamil Daf.”
Apa?! Terus apa hubungannya denganku? Meminta aku bertanggung jawab? Begitu? Tidur dengannya pun aku tidak pernah! Tidak akan! Aku tidak mau!
Aku menariknya dan mencengkeram bahunya. Kutatap dia tajam. “Bukan urusan aku ya.” Kataku geram, “bayi itu bukan anak aku!”
“Daf, tolong aku, Daf.” Pintanya lagi. Memelas, “cuma akui kalau ini anak kamu saja. Aku enggak akan macam-macam.”
Lalu berakhir dengan aku dicincang oleh keluargaku? Yang benar saja!
“ENAK BANGET YA KALAU NGOMONG!!” Teriakku. Hampir saja aku mendorongnya hingga jatuh, “KELUAR!” Bentakku. Aku benar-benar marah pada ucapannya yang semaunya itu.
Sebelum dia berkata-kata lagi, aku akhirnya mendorongnya keluar dari apartemenku. Buru-buru kututup pintuku apartemen dan menguncinya. Yang menanam siapa, yang menuai siapa!
Kenapa hari ini aku sangat sial, sih! bukannya merayu perempuan, aku malah dirayu perempuan. SIAL.
***