Aku menghela napas lega pagi ini, tidak seperti kemarin. Setidaknya Mami dan Papinya Diandra sudah pulang jadi aku bisa bebas pergi sesuka hatiku tanpa ada yang mengikuti. Setelah mengantarkan si kembar ke Tambun Bekasi, aku ke tempat kost Bob di Jatiwaringin. Semoga temanku itu sudah bangun pagi ini. Dan semoga saja tidak ada hal ‘aneh’ di sana.
Kupasang headset bluetoothku kemudian menelepon Bob seraya menyetir mobil. “Apa? Kamu enggak tau ini jam berapa?” Bob menyahut pada dering keempat.
“Bagusnya kamu sambut teleponku.” Dengusku. Bukannya berkata lebih sopan sedikit, dia malah berkata seolah-olah aku mengganggunya.
“Iya. Apa, Gi?”
Aku tidak menjawab. Sebaliknya aku mendengus.
“Eh, Gi, ke mana kamu malam minggu? Bukannya kumpul, ini malah sibuk sendiri. Cewek mana lagi yang kamu peluk?”
Aku tertawa. Sudah sadar dia ternyata dengan siapa dia menerima telepon.
“Aku jaga keponakan di rumah.” Jawabku santai seraya membelokkan mobilku ke arah Jati Waringin.
Terdengar tawa menyebalkan dan nyaring dari Bob. Aku mendengus mendengar Bob tertawa bahagia dan menari di atas penderitaan orang lain. Indah sekali!
“Enggak terbayang sama sekali. Bogi yang playboy kerepotan jaga dua bocah kembar Louis yang nakalnya minta ampun.”
Aku berdecak. “Bagus, ya. Bukannya kasihan, kamu malah ketawa.”
“Aku memang bagus.” Tawanya lagi.
“Eh, kamu ada di mana?” tanyaku tanpa memedulikan tawanya yang mengejek.
“Di rumah. Ada teman-teman, nih. Mampir, ya. Ditunggu.”
“Iya. Aku ke sana. Eh, ada cewek, enggak?”
“Adikku ada. Mau?” Kekehnya.
“Enggak. Terima kasih.” Cibirku. Masa aku dengan adiknya Bob yang masih berumur satu tahun. Si Citra itu. Astaga! Yang benar saja.
“Hati-hati di jalan. Awas ada ….”
“Jangan nyebut-nyebut nama itu!” Ancamku memotong ucapannya.
“Badut!” Lanjutnya tertawa terbahak kemudian menutup telepon.
“Bobby!” Bentakku kesal. Teman macam apa dia itu! Bah!
Aku phobia sekali dengan yang satu itu. Membuatku merinding. Sekarang saja aku sudah merinding setengah mati. Ingatan mengenai awal ketakutanku terhadap badut sungguh samar-samar. Aku tidak ingat bagaimana awalnya aku membenci badut.
***
Hampir dua jam lebih aku berkutat dengan macetnya kota Bekasi, akhirnya aku sampai juga di tempat Bob. Aku lupa ini adalah hari di mana semua keluarga berkumpul jadi satu untuk menghabiskan sisa minggu.
“Nih!” kataku menyerahkan dua kotak pizza ukuran jumbo yang di pesan Bob tadi saat dia mengirimi pesan singkat. Aku melemparkan pizza itu ke lantai hingga menimbulkan bunyi berdebam. Sontak teman-temanku yang tertidur membuka mata mereka.
Bob, Tilas, Bayu bahkan Pahlawan menyambut pizzaku dengan bahagia. Setiap sabtu malam, kami biasa berkumpul seperti ini, tetapi karena aku tidak bisa jadi hanya mereka.
“Biasanya kamu jam segini masih pelukan.” Tilas mencibirku seraya mencomot sepotong pizza.
Aku berdecak. “Fitnah. Aku enggak pernah peluk orang kalau tidur. Bantal guling sih iya kupeluk.”
“Playboy tanggung.” Celetuk Bayu.
“Kalau mau jadi playboy, sekalian jadi playboy k*****t. Jangan nanggung.” Bob mengompori.
Aku menggeleng pada perkataan mereka. Walau begitu, mereka adalah temanku. Tanpa mereka, entah dengan siapa aku berteman.
“Kayak aku. Sekalian jadi playboy keparat.” Tambah Bob lagi.
Aku tahu ke mana arah pembicaraan Bob. Aku bersidekap. “Aku masih pegang prinsip no s*x before marriage.” Kataku mantap yang dihadiahi tawa oleh mereka namun Pahlawan sebaliknya. Dia mengacungkan jempolnya padaku.
Dari sekian banyak temanku yang k*****t, hanya Pahlawan yang tidak terkontaminasi. Dia tidak pernah ikut terjerumus pada perbuatan kami. Dia seolah salah tempat jika sudah berkumpul bersama kami. Ketika yang lain memilih mabuk, dia sudah cukup berbahagia dengan jus jeruknya.
“Habis ini, mau ke mana, Gi?” tanya Bob diantara kunyahannya. Rambutnya yang ikal tampak berantakan. Sesekali dia menyeruput coke kaleng miliknya.
Aku mengangkat bahu. “Enggak tahu. Aku malas mau ketemu perempuan-perempuanku juga, sih.”
“Enggak biasanya malas.” Cibir Pahlawan.
“Aku mau ke puncak hari ini niatnya. Mau ketemu abah.” Timpal Bayu seraya membetulkan letak kacamatanya yang melorot. Bayu tergolong orang rapi seperti Pahlawan. Rambut pendek Bayu tampak basah seperti habis mandi. Kalau Pahlawan, jangan ditanya. Jam 4 pagi buta dia sudah bangun dan mandi.
Aku menyeringai. “Aku ikut.” Kataku.
“Awas, ya!” ancam Bayu, “awas kalau sampai sepupuku yang perempuan kamu sikat!”
Bayu punya sepupu? secantik apa sepupunya hingga Bayu tidak pernah bercerita padaku? “Enggak!” Gelengku cepat.
Tilas tiba-tiba mencibir. Dia lebih pendiam ketimbang yang lain. Tetapi selalu tepat sasaran jika dalam urusan menebak isi pikiranku. “Mukamu itu bilang kalau ‘aku mau melihat secantik apa sepupu Bayu’, ya ‘kan?” selidiknya yang mendapat cengiran lebar dariku.
Tepat!
***
Akhirnya kami sepakat menemani Bayu ke Puncak. Itu juga aku diancam dulu oleh Bayu. Apakah aku tidak boleh mengenal sepupunya itu? Apakah aku terbilang jahat?
Aku mau berubah, tetapi tidak bisa. Ada sebab kenapa aku seperti ini. Saat teringat kembali hal itu, membuatku ingin sekali tidak mau ke masa itu. Ingin sekali aku melewati masa itu. Aku benci sekali!
“Kenapa, Gi?”
Aku menoleh pada Bayu yang mengemudikan mobilku. Aku menggeleng. Aku tidak apa-apa. Aku hanya mengenang.
“Maaf kalau ucapanku tadi terlalu pedas.” Ucapnya. Lagi, aku hanya bisa menggeleng. Akibat kenangan itu, membuatku tidak berdaya.
“Kamu sih, Yu.” Timpal Tilas yang duduk persis di belakangnya.
“Ingat kejadian dulu, ya?” Kali ini Pahlawan bertanya lirih di telingaku yang membuatku geli.
Aku menoleh pada Pahlawan yang duduk di belakangku. Kupelototi dia. Yang dipelototi hanya tersenyum merasa bersalah. Aku memang pernah bercerita padanya. Hanya Pahlawan yang tahu bagaimana aku dan masa laluku selain Kakakku tentunya. Kakakku itu, walau menyebalkan ternyata dia sangat pengertian padaku. Aku dan dia sudah seperti teman. Aku sudah berdamai dengan Kakakku. Aku menyayanginya.
“Kenapa, sih, Gi?” Bob yang sejak tadi hanya diam berkutat pada ponselnya, mendongak menatapku.
“Aku kenapa?” tanyaku balik.
Aku tidak mau membahas masa laluku. Bob hanya menggeleng, kembali berkutat pada ponselnya. Aku tahu apa yang dia lakukan pada ponselnya. Dia sedang main game Mario Bross. Jika bukan permainan itu, pasti dia sedang main game Angry Bird. Hanya dua permainan itu membuat dia akur sekali dengan ponselnya.
Kugelengkan kepalaku berulang kali. Kutarik napas dalam-dalam lalu mendesah. Itu sudah lama sekali. Tidak perlu lagi kupikirkan masa laluku. Kutekan tombol menggulung kaca ke bawah dan menatap keluar jalan.
“Cantik!” Kataku sembari bersiul saat melihat permata indah melewatiku di jalan raya Puncak. Serempak, teman-temanku mengerang mendengar siulanku pada perempuan cantik yang berjalan di pinggir jalan.
“Cantik dia, bro!” Tunjukku pada wanita yang jauh tertinggal di belakang. “Blasteran kayaknya.”
“Ck!” Tilas berdecak. “Itu sama saja seperti itik Alabio. Campuran dari itik Kalimantan dan bebek Peking! Cantik jadinya.” Sambungnya yang membuatku menatapnya datar. Huh! Apa-apaan Tilas itu. Perumpamaan aneh. Masa wanita cantik disamakan dengan itik Alabio. Bah! Tilas bodoh. Wanita cantik itu dipuja bukannya disamakan dengan bebek peliharaannya yang jumlahnya bisa puluhan ekor itu.
“Tilas gila.” Cibirku terkekeh membayangkan itik Alabio yang berbadan besar dan berleher panjang. “Itu tuh sama saja seperti kak Galih dicampur Diandra. Jadinya keponakanku yang putih ganteng itu.” Cengirku.
“Kamu juga sama saja!” Dengus Bob menatapku sekilas. “Enggak nyambung!”
Loh memangnya tidak nyambung di mananya?
“Lah kan kakakku itu bule tapi hitam terus Diandra orang Jawa tapi putih, nah kalau digabung jadinya anaknya bule tapi kulitnya putih.” Kataku menatap mereka bergantian. “Kalian belajar IPA, enggak, sih? Tentang kromosom? Ah, kalian bodoh.” Aku menggeleng sembari tertawa tidak jelas yang juga disambut tawa mereka.
Lebih baik perumpamaan yang kuberikan daripada perumpamaan Tilas tentang itik Alabio yang lebih enak dimakan itu, lebih baik yang nyata saja. Sudah ada buktinya dua anak kembar yang tampannya masih kalah denganku.
“Kakakmu bukan hitam, Bogi!” Ucap Bayu. Lalu apa? “Tapi sawo matang.” Lanjutnya.
Aku memutar mata. Hitam dan sawo matang hanya beda tipis. “Ya terserah kalian!”
***
Mobil berhenti di depan rumah sederhana terbuat dari kayu, tetapi aku tahu betul, kayu yang dipilih bukan kayu sembarangan. Pasti kayu jati dengan kualitas paling baik, daya jualnya pasti tinggi. Rumah abahnya Bayu letaknya di kaki gunung Salak dengan jalan masuk masih bebatuan dan hanya bisa dimasuki oleh satu mobil. Dingin namun sejuk, jauh dari ingar bingar kota.
Seorang pria baya berlari tergopoh menyambut Bayu yang sudah berjalan mendahului kami. Kami hanya berdiri di depan mobil. Kami tidak mau ikut obrolan mereka sebelum Bayu memperkenalkan kami pada Abahnya.
“Mana si cantik, Bah? Sudah pulang belum?” Samar-samar terdengar bayu menanyakan seseorang pada Abahnya. Cantik? Apa itu nama panggilan dari sepupu Bayu. Pasti secantik namanya.
Kulihat Bayu melambaikan tangannya pada kami. “Sini! Ini Kakekku.”
Ya, Abah yang dia maksud adalah Kakeknya Bayu. Bayu tumbuh dibesarkan oleh Abahnya. Kedua orangtua Bayu sangat sibuk dan berada di Washington DC, Amerika Serikat. Bayu adalah anak tunggal.
Bayu memperkenalkan pada kami Abahnya. Logat sundanya sangat kental sekali. “Hayu atuh masuk ke dalem. Di dalem mah anget.” Ajak Abah pada kami. Kami mengangguk sopan pada Abahnya.
Furniture dalam rumah Abahnya Bayu juga terbuat dari kayu jati. Pemilihan yang sangat pas sekali. Sangat nyaman.
“Betah, eh?” tanya Bayu padaku.
Aku mengangguk menatap sekeliling. Hanya ada dua buah bingkai terpasang di dinding ruang tamu. Satu adalah bingkai foto Abahnya Bayu beserta Istrinya dan satu lagi adalah bingkai foto yang kuasumsikan adalah anak-anak dari Abahnya Bayu karena ada Bayu juga di foto itu.
“Abah … itu mobil siapa?” terdengar lengkingan suara khas perempuan. Bayu tersenyum lalu beranjak, “A’a Bayu!” suara itu berteriak lagi.
Aku, Tilas, Bob, dan Pahlawan menoleh ke arah pintu yang letaknya di belakang kami. Di depan mataku, Bayu sedang berpelukan dengan seorang wanita. Wanita yang kukenal. Tiba-tiba saja, hawa kaki gunung yang lumayan dingin menjadi sangat dingin menelusup masuk ke tulang-tulangku melalui celah jaket yang kupakai. Aku bahkan tidak menghiraukan ucapan Bayu. Aku—playboy tanggung ini merasa bahwa Tuhan benar-benar tidak adil.
***