Aku bersiul pelan ketika membuka pintu apartemenku. Pagi yang cerah setelah kemarin aku dirundung kesialan. Aku mendengus saat teringat akan Selina. Setelah perbuatannya kemarin, aku tidak akan datang lagi ke rumah singgah. Secara tidak langsung, dia menolak bantuanku.
Mataku melebar ketika melihat siapa yang tertidur meringkuk di depan pintuku. Hampir saja aku menendang dia. “Ya ampun, Vero!”
Buat apa dia masih saja bertahan di depan apartemenku? “Ver? Vero?” kusenggol-senggol bahunya. Veronika menggeliat dan menatapku sayu.
Aku menghela nafas melihatnya. Kasihan sih, tetapi mau bagaimana lagi. Kisah kita kan sudah berakhir. “Kenapa kamu masih di sini?” tanyaku.
“Aku masih nunggu kepu—”
“Sudah, Vero.” Potongku. Masih saja dia menginginkan aku setelah apa yang dia lakukan padaku dan kini dia ingin kami bersama? “Aku antar kamu pulang.” Lanjutku.
Saat aku hendak berdiri, dia menarik kedua tanganku, “Daf, tolong, Daf. Sekali saja, Daf. Tolong aku, Daf.”
Tolong katanya? mengakui anak yang ada di kandungannya itu sebagai anakku? Tidak! Sampai kapan pun aku tidak akan mau mengakuinya.
“Minta saja Kevin tanggung jawab. Beres, ‘kan.” Kataku.
Niatku ingin mengantarkannya pulang, sudah tidak ada lagi. Aku tidak peduli lagi kalau dia kelaparan di depan pintu apartemenku. Sebaliknya, aku berjalan melewatinya. Sebutlah aku tidak berperasaan atau jahat. Masa bodoh. Aku sudah sakit hati diselingkuhi olehnya.
“Daffi, Kevin enggak mau tanggung jawab.” Ucap Veronika. Aku mendengkus pada ucapannya. Benar ternyata, Kevin yang melakukannya.
“Begitu juga aku. Memangnya aku yang nabung di rahimmu? Enggak, ‘kan. Minta sama Kevin sana.” Balasku kesal. Aku tidak peduli lagi dengan mulut kotorku. Sekalian saja kukeluarkan ucapan kotorku.
Aku terus berjalan keluar lokasi apartemen. Benci benar dengan siapapun yang menyebarkan alamatku ini. Siapapun itu, aku akan membuat perhitungan!
***
“YUGO!”
Aku berteriak kencang dari dalam ruanganku. Benar-benar tidak bisa ditolerir lagi. Ini keterlaluan!
Pintu ruanganku terbuka lebar dan wajah Yugo terlihat ketakutan. “Ya, Pak?” tanyanya kemudian menundukkan kepala.
“Kenapa ruangan saya banyak kecoa?!” Bentakku.
Benar-benar menggelikan! Kecoa itu berjalan santai ngalor-ngidul di lantai dan bau kayu yang ada dibadan menjijikan kecoa itu tercium hidungku.
Yugo mendonggakan kepalanya dan menatapku bingung. “Kecoa, Pak?” bisiknya.
Aku menghela nafas pada kebingungannya. “Iya!” kataku tidak sabar, “memangnya saya mau marahi kamu kalau saya panggil kamu? Cepat, Buang kecoanya!”
“Iya, Pak.” Angguk Yugo. Tidak lama kemudian Angga memasuki ruangan.
“Ada apa, Pak?” tanya Angga bingung.
Aku mendengkus. “Basmi kecoanya! Cepat, saya geli!” kataku lalu menaiki kursi yang kududuki, takut kalau-kalau kecoanya akan merayap di kakiku. Sialan kecoa itu. Aku sangat phobia dengan kecoa. Benar-benar jijik dengan binatang yang satu itu.
Angga tertawa terbahak pada ketakutanku. “Ya ampun, Pak. Kecoanya cuma dua. Bapak heboh banget sampai naik kursi.”
Aku mendelik, “Enggak usah ketawa!” bentakku. Benar-benar Angga ini. Karyawan yang sangat tidak sopan pada atasan.
Yugo menangkap satu kecoa dengan tangan kosong dan berjalan mendekati Angga. “Sudah sana, Ngga. Itu ambil satu lagi kecoanya. Yang itu susah ditangkep.”
“Ya.” Tukas Angga.
Aku terus saja bergidik ngeri saat Angga dengan cengengesan membawa keluar kecoa itu. Bah! Sangat mengherankan, kenapa ada kecoa di ruanganku yang bersih ini? Ck! aku harus memanggil tukang bersih-bersih nih. Harus bersih pokoknya.
Setelah kecoa itu pergi, aku juga ikut pergi dari ruanganku. Aku terlalu takut kalau kecoa itu masih ada yang bertamu di kantorku.
“Angga!” teriakku pada Angga yang entah ada di mana, “panggil tukang bersih-bersih. Saya mau keluar sebentar!” lanjutku saat kudengar sahutannya dari arah dapur.
“Siap, Pak!” sahutnya lagi.
Aku keluar dari restoran dan memasuki mobil yang terparkir tepat di samping restoranku. Kunyalakan radio di mobil untuk menghilangkan ketakutanku pada kecoa. Astaga! Kenapa kecoa itu bisa-bisanya mampir dikantorku sih? Ck! kugelengkan kepalaku dan mengeluarkan mobilku dari restoran.
Aku ke mana ya? kukerutkan keningku bingung mau pergi kemana. Jalan saja dulu. Nanti juga akan ada tujuan. Kalau tidak ada, aku bisa pulang saja. Semoga Veronika sudah pergi menjauh dari apartemenku.
Setelah sekitar sepuluh menit berkutat di daerah Kuningan, teleponku berdering. Siapa pula yang meneleponku? Semoga buka Veronika itu.
“Joko? Buat apa orang itu meneleponku?” dengan penasaran, aku menjawab juga. “Halo? Ada angin apa?” jawabku.
“Eh, di mana, Daf? Di restoran, apa di mana?” tanya Joko tanpa basa-basi. Khas sekali Joko.
“Lagi memeteri jalan. Kenapa?” kekehku.
“Ya sudah daripada kamu mengukur enggak jelas, lebih baik ke tempatku saja. Oke? Ada Haris sama Chiko nih.” Ucapnya bersemangat.
Ck! tumben ada dua orang itu. “Ya sudah. Ada di mana kalian?”
“Di rumahku yang di sentul. Ke sini ya. Oke?”
“Iya. Bawel.” Anggukku dan menyudahi percakapan kami.
Beberapa jam kemudian aku sampai di rumah Joko. Dasar memang Joko, aku disuruhnya memasak. Bah! Mentang-mentang aku ini koki. Lasagna bayam, udang goreng dan Chicken rollade menjadi menuku kali ini. Rasakan! Kekenyangan-kekenyangan deh.
“Enak banget buatanmu, Daf.” Ucap Haris saat aku menyajikan makanan itu di ruang keluarga seraya bermain PS. Bukan PS keluaran terbaru tetapi PS lama. PS 2. Astaga! Masih saja dia simpan.
“Eh, Koko, PS masih awet saja itu.” Kekehku seraya mencomot udang buatanku sendiri.
“Cintaku saja awet, apalagi barang.” Angguk Joko atau lebih sering kupanggil Koko. Aku memutar mata pada ucapannya.
“Eh, mana mana istrimu?” tanyaku. Sejak tadi aku tidak melihat istrinya di manapun.
“Lagi di Semarang. Aku ada urusan sebentar di sini jadi sekali saja telepon kalian. Reuni.” Jawabnya kemudian menyedokkan lasagna ke dalam mulutnya seraya berdecak. Menggumamkan kata enak.
“Ya iyalah enak. Orang bukan kamu yang masak.” Cibirku. Joko hanya tertawa dan terus saja mengunyah.
“Galih mana, Daf? Biasanya kalian nempel terus seperti perangko.” Tanya Chiko. Matanya masih menatap layar. Dasar!
“Bulan madu di Bromo. Enggak tahu pulang kapan.” Kataku mengangkat bahu. Aku tidak mau memikirkan yang macam-macam mengenai Galih dan adikku sedang apa mereka di sana. Ck! otakku!
“Masih di sana dia ya. by the way, kau kapan bulan madu, Daf?” celetuk Haris dan kuhadiahi dia dengan lemparan udang goreng.
“Asal saja kalau bicara!” sentakku, “sama siapa bulan madunya? Calonnya saja enggak ada!” cibirku.
Chiko terkekeh, “dari kita-kita berempat nih, kau saja yang belum kawin.”
“Galih saja sudah dua kali. Nah, kamu? Belum.” Ejek Joko.
Ck! Seperti ini kalau sudah kumpul. “Belum dapat yang cocok.” Dengkusku asal.
“Udah samber saja perempuan yang lewat. Awas nanti stok perempuan habis direbut Rocky.”
Ucapan Chiko itu membuatku teringat Rocky yang sangat terkenal akan perusak wanita. Ck! teman SMA kami yang satu itu bagaimana nasibnya, ya? Lagipula, si Chiko ini masih saja ingat dengan Rocky.
“Masih aja kamu inget penjahat itu.” Cibirku sebal.
“Masihlah.” Sahut Joko.
“Adiknya Rocky perempuan ternyata. Cantik. Namanya lupa siapa. Itu saja, Daf, jadikan istri.” Timpal Haris.
“Rocky sekarang sudah tobat. Sudah jadi orang baik,” info Chiko, “Aku dengar dia jadi pengusaha meubel.”
Aku malah sangsi. Siapa tahu masih seperti dulu kan? “Halah! Palingan cuma kedok.” Kataku mengibaskan tangan ke udara.
“Loh kenapa jadi bicarakan orang?” sergah Joko. “Macam istriku kalau ikut arisan saja.”
Lagi, kami tertawa. Benar juga. Ada makanan, ada minuman ada bahan obrolan. Astaga! Benar-benar om-om bergosip ini sih namanya.
“Tapi serius, Daf? Kapan nikah? Apa kau enggak mau nikah?” tanya Haris menyipitkan matanya padaku.
“Udah berapa cewek yang kau ajak tidur, Daf?” giliran Chiko menatapku penuh selidik.
“Eh, sekarang sama siapa, Daf?” giliran Joko menanyaiku. Kalau ada Galih, walhasil aku akan ditertawainya. Aku hanya menjawab pertanyaan mereka dengan mengangkat bahu. Aku belum dengan siapa-siapa.
“Kudengar Vero hamil, ya?” tanya Chiko yang membuatku sukses melirik Chiko sebal. Jangan ingatkan aku lagi pada hal itu.
“Aku sudah tahu. Dia ke apartemen.” Kataku kesal.
“Bagaimana bisa?” giliran Joko yang dibuat bingung akan jawabanku.
“Iya, yang menghamili siapa. Yang minta tanggung jawab siapa. Siapa yang makan durian, aku yang kena getahnya. Sial.” Kataku menggerutu. Masih marah bercampur kesal pada sikap Veronika.
Mereka menatapku iba dan menepuk pundakku. Aku malah aneh akan sikap mereka. “Kalian aneh. Jadi malah takut sama kalian.” Kataku sedikit menjauh.
“Ck! dasar bodoh!” Ucap Haris menjitak kepalaku.
“Kau ini!” sahut Chiko, “ikut prihatin salah, diejek juga salah. Ribet sekali hidupmu, Daf.”
“Iya. Pantas saja kamu susah dapat wanita.” Timpal Joko terkekeh mengejekku.
Sialan! Benar-benar teman yang sialan!
“Eh,” Haris menatapku serius, “kau enggak belok ‘kan?”
Sialan!
***