BOGI : Dia Datang dari Sepenggal Kisah

1632 Words
Kenapa perempuan ini ada di sini? Jangan bilang dia sepupu Bayu. Kenapa dunia terasa sempit. Apa maksud Tuhan padaku? kenapa Tuhan membiarkan aku bertemu lagi dengan wanita ini? Memori-memori itu kembali lagi. Sangat menyakitkan. Aku tidak akan salah melihat. Itu memang perempuan yang sama. Wajahnya, matanya, hidungnya, bibirnya dan postur tubuhnya yang tinggi langsing memang milik dia. Perempuan yang membuatku seperti ini. Akibat perempuan ini, masa laluku sangat suram. Akibat perempuan ini, aku berubah haluan. Bogi anak baik-baik, berubah menjadi anak liar. Sampai saat ini, aku bahkan tidak berharap bertemu perempuan ini. Kenapa aku harus bertemu dengannya? Aku teringat keterlaluannya dia kepadaku dulu. Jahatnya dia memperlakukan perasaanku dulu yang membuatku seakan terombang-ambing layaknya kapal rusak di tengah lautan. Teringat dia hanya memanfaatkan dan menjerumuskanku. Aku teringat ketika dia mempermalukanku di muka umum. Teringat ketika semua orang memandangku seolah aku adalah orang yang memiliki penyakit menular. Keringat dingin seakan mengucur deras dari punggungku. Aku ketakutan setengah mati melihat dia muncul kembali. Aku takut jika dia mengajakku kembali ke dunia yang tidak mau aku singgahi. Sampai sekarang, aku masih berusaha berdamai dengan Sang waktu yang nyatanya bergulir cepat tidak keruan. Sang waktu tidak pernah mau mentolerir masa laluku yang sangat ingin aku pendam. Dan kini Sang waktu menertawaiku karena akhirnya aku kembali ke dalam keterpurukan. Sang waktu membuatku kembali merasakan bagaimana dahulu dia yang kuinginkan mengobrak-abrik duniaku. Ini gila! Aku benci Tuhan yang telah memberikanku kehidupan menyebalkan. Aku benci Tuhan yang tidak pernah mau menolongku ketika aku mengalami kepedihan hidup. Dan, aku ingin mati. Kali ini, aku ingin hidupku berakhir.  Kurasakan bahuku berguncang-guncang. Seseorang memanggil namaku tidak sabaran berulang kali. “Gi? Bogi! Kamu masih ada ‘kan? Bogi! Hey! Jangan buat aku takut! Gi! Bogi!” Aku terperanjat dengan satu tarikan napas kuat. Kukerjapkan mataku melihat sekeliling. Kenapa aku ada di dalam mobil? Bukankah tadi aku ada di dalam rumah Bayu? “Gi?” Wajah tirus Pahlawan adalah hal selanjutnya yang kulihat tepat di hadapanku. “Kamu? Kok aku ada di sini?” Pahlawan menatapku dengan wajah serius. “Seberapa hebat perempuan itu sampai buatmu kaget bukan main?” tanyanya tanpa menjawab pertanyaan bingungku. Aku menoleh ke kanan dan ke kiri. Baru aku sadar bahwa aku sudah ada di tepi jalan ramai, bukan di rumah Abahnya Bayu. “Kenapa aku ada di dalam mobil? Kenapa cuma ada kamu di sini? Mana yang lain? Kenapa kita bisa ada di pinggir jalan?” Pahlawan menghela napas pelan. Dia menggaruk pelipis kanannya sebelum menjawab pertanyaanku, “Kamu tiba-tiba keluar dari rumah Bayu setelah lihat perempuan itu. Tadinya anak-anak mau ngikutin, tapi kucegah. Apa itu perempuan yang pernah kamu ceritakan dulu?” Kucengkeram kemudi erat-erat. Kuputar kembali otakku pada kejadian beberapa menit lalu. Ya, kini aku ingat, aku sangat shock menatap perempuan itu. Akupun tidak mempedulikan siapapun lagi selain keluar dari rumah Bayu secepatnya. Yang aku tahu, Pahlawan berteriak agar tidak ada satu pun mengikutiku selain dia. Aku mengernyit saat teringat aku dan Pahlawan hampir saja kecelakaan. Kalau saja Pahlawan tidak membanting stir ke kiri, kami mati detik ini juga diseruduk oleh truk kontainer seperti keinginanku sebelumnya. Kenapa perempuan itu harus sepupu Bayu? Tidak bisakah orang lain? Bayu sahabatku dan aku tidak mau persahabatan kami hancur hanya karena sepupunya. Efek dari perempuan itu begitu besar pada kehidupanku. Aku memijat keningku. Aku menyumpah serapah. Kenapa bisa seperti ini? Memori yang sudah lama kukubur dalam-dalam muncul lagi. Perempuan ini layaknya bom waktu yang setiap saat akan meledakkan diriku. “Dia perempuan yang kamu bilang itu ‘kan? Teman SMP itu ‘kan?” Berondong Pahlawan. Aku hanya mengangguk. Tidak berniat bersuara. Itu sudah lama namun aku masih ingat jelas. “Jadi dia itu perempuan yang buat kamu terpaksa dipindah orangtua ke Birmingham?” Lagi, aku mengangguk. Kutatap Pahlawan yang sangat ingin tahu. “Stop tanya.” Kataku memintanya berhenti bertanya tatkala dia akan membuka mulutnya lagi. Pahlawan mendengus. Ini yang aku suka dari Pahlawan. Dia orang yang menyenangkan untuk diajak mengobrol ataupun bercerita. Bahkan, dia akan berhenti bertanya jika aku sudah jengah walau aku tahu, dia sangat ingin tahu. “Yaudah, mau ke mana sekarang? ke rumah Bayu lagi?” tanyanya. “Enggak,” gelengku ngeri, “kalau masih ada perempuan itu, lebih baik aku pulang saja.” Kurasakan ponselku bergetar di saku celana jeans yang kupakai. Kurogoh saku depan jeansku dan mengeluarkan ponselku. Ternyata pesan dari Bayu; bertanya aku sedang berada di mana dan kenapa aku tiba-tiba pergi begitu saja. Aku mencibir pada pesan yang k****a. Kumasukkan kembali ponselku ke saku celana setelah kubalas beberapa kata untuknya bahwa aku baik-baik saja. Kurasakan ponselku bergetar lagi. Pasti Bayu. Aku sedang malas membalas pesan darinya. Aku bingung bagaimana bicara dengan Bayu nanti saat kami bertemu lagi. Aku menoleh kepada Pahlawan yang masih sabar menunggu apa yang aku lakukan selanjutnya. “Antar aku ke klub malam Andro.” Kataku akhirnya. “Jangan protes!” Pahlawan tampak ingin protes pada permintaanku namun dia urungkan. “Aku ikut andil kasih modal bisnis Andro. Jadi, terserah aku mau ke sana.” Pahlawan tahu betul bagaimana aku jika sudah datang niatku. Dan, aku akan menerima ceramahannya nanti, setelah pusingku reda. *** “Ck! Kamu itu, buat apa ke klub Andro? Kamu mau lihat penari yang kekurangan baju itu? Bogi! Cari tempat lain!” Decak Pahlawan berulang kali saat dia menyetir mobilku ke klub milik teman kampus kami—Andro di kawasan Jakarta Pusat. Ternyata Pahlawan tidak bisa menahan ceramahannya. “Kalau enggak mau antar, enggak perlu tadi ngangguk.” Dengusku menyilangkan tangan di d**a, “aku butuh pengalih pikiran! Cuma ke sana pikiranku teralih. Nanti tinggal aku di depan klubnya Andro!” Bentakku. “Aku enggak akan tinggal kamu! Nanti yang ada kamu mabuk-mabukan kayak dulu waktu Amanda tinggal kamu!” ucap Pahlawan setengah berteriak. Aku menoleh dan menggeram. “Enggak usah ingat-ingat masalah Amanda!” Bentakku. Sialan Pahlawan! Otakku kembali memikirkan Amanda. Betapa aku kejam kepadanya dengan hanya memainkan perasaannya saja dan setelah aku berhasil mencintainya, aku ditinggalkannya. Dia hanya mengatakan akan melanjutkan sekolah ke Boston dan pergi begitu saja. “Aku bukannya mau ngungkit, Gi. Aku cuma mau ingatin kamu. Kamu itu sudah tua, Gi. Umurmu seharusnya diisi kegiatan yang bemanfaat.” Aku mendelik menatapnya. “Jangan bahas masalah umur! Aku masih muda. Masih banyak yang mau aku lakukan!” aku tidak suka mendengar ocehannya mengenai hal-hal berbau agama. Aku sangat tidak mau. “Lakukan apa? Main perempuan? Terus-menerus sakiti hati perempuan? Kamu enggak kasihan—” “Diam!” aku memotong ucapannya. “Aku ke klub Andro cuma mau minum. Kali ini, aku enggak akan berusaha ajak perempuan tidur sama aku!” “Jangan melakukan hal bodoh lagi, Gi!” Bentak Pahlawan padaku, “kamu lupa kalau kamu hampir tidur sama perempuan murahan kalau aku enggak buntuti kamu sampai ke hotel! Kamu enggak takut dosa?” Omelnya lagi, “enggak ingat berapa banyak dosa yang kamu tabung? Enggak takut kamu masuk neraka?” Aku menatapnya sengit, “itu urusanku.” Memang, diantara kami berlima, Pahlawan yang paling alim. Dia tidak mau macam-macam. Jalannya sangat lurus. “Enggak perlu ceramah tentang neraka segala sama aku,” kataku lagi. Aku jadi teringat kala itu, minggu pertama ketika Amanda meninggalkanku saat gadis itu naik kelas tiga dan aku lulus SMA. Aku merasakan hatiku terasa sakit. Tidak ada yang bisa aku lakukan untuk mencegah Amanda pergi. Aku pria yang menyebalkan. Amanda memang seharusnya tidak bersamaku yang seorang playboy. Di saat seperti itu, aku lebih memilih ke klub milik Andro. Klub yang hanya bisa didatangi oleh orang-orang kelas atas dan punya hak akses ke sana. Klub yang menampilkan para penari seksi dengan balutan pakaian minin bahkan tidak berpakaian. *** Mataku menatap penari wanita yang sedang melakukan aksinya di atas panggung kecil yang sudah disediakan, letaknya tidak jauh dari depan meja bartender yang kududuki. Waktu masih menunjukkan pukul delapan malam namun suasana klub sudah mulai panas. Tetapi, aku tidak mau menghampiri mereka. Selain aku tidak berminat, ada satpam yang mengawasiku sekarang ini. Siapa lagi kalau bukan Pahlawan. Sejak tadi dia berdecak terus. Menggumamkan kata-kata tidak jelas. Dan matanya tidak henti-hentinya menatapku alih-alih ingin melenyapkan penari itu. “Heh, jangan mabuk.” Ancam Pahlawan saat aku menenggak gelas keenam wine pesananku. “Belum,” kataku tertawa, “duapuluh gelas aku mabuk. Memang kamu, satu gelas saja sudah pusing.” Cibirku yang dihadiahi jitakan olehnya. “Kapan aku minum?” protesnya, “dalam mimpimu!” Aku tertawa. “Aku bercanda.” Kataku lalu minum lagi. Indahnya hidup kalau dinikmati. Memangnya Pahlawan. Ibadah saja yang dia kerjakan. “Hey, Gi!” Seseorang menepuk bahuku dari belakang. Saat aku berbalik, ternyata pemilik klub yang menyapaku. “Hey.” Sapaku. Andro dua bersaudara. Dia dan Kakak laki-lakinya yang bernama Elijah mengelola bisnis ini namun Kakaknya lebih sering berkutat di dalam kantor pengap yang letaknya di belakang bartender ini. “Kenapa baru muncul sekarang?” tanya Andro padaku dan duduk di samping kiriku. Sementara Pahlawan di kananku. “Sibuk dia.” Cibir Pahlawan. Andro tertawa. Aku hanya terkekeh pada cibiran Pahlawan. “Bagaimana kabarmu?” tanyaku pada Andro, “mengerjakan apa saja sampai mengambil cuti kuliah segala? Dua bulan ‘kan, dari info yang kutahu.” “Ada urusan yang enggak bisa aku tinggal. Tunanganku sakit.” Ucapnya mengangkat bahu. Aku dan Pahlawan hanya mengangguk. Sebegitu perhatiannya dia pada tunangannya. Andro menepuk bahuku lalu menunjuk arah pintu masuk. “Nah, itu tunanganku.” Ucapnya. Dilambaikan tangannya pada seorang wanita dengan balutan busana yang elegan berwarna biru laut. Sinar lampu yang redup membuat arah pandangku menjadi tidak fokus. Aku terperanjat melihat siapa yang kini berdiri di hadapan kami. Kenapa hari ini begitu sial? Kenapa aku harus bertemu dengan dia juga? Aku salah apa? Andro berdiri dari kursinya lalu menghampiri wanita itu. “Kenalkan, ini Amanda. Tunangan aku.” Kutarik napasku dalam-dalam. Lebih baik aku melihat adegan panas daripada harus melihat dia lagi. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD