DAFFI : Kapan Nikah?

1714 Words
“Bro, katamu di Pondok Kopi. Mana nih?” Untuk kesekian kalinya Joko menanyai Haris yang sedang mengemudi. Kami berputar-putar daerah Pondok Kopi entah berapa kali. Kami hendak ke tempat Rocky. Aku akan hunting furniture untuk restoranku. Beberapa meja dan kursi harus diganti karena sudah lama sekali. Itupun karena usulan dari beberapa karyawanku yang mengatakan kalau meja dan kursinya ada yang rusak dan tidak enak dipandang lagi. Akibat kesibukanku akhir-akhir ini, aku jadi tidak memperhatikan restoranku lagi. Biasanya yang cerewet Diandra dan si cerewet itu sedang berbulan madu. Teman-temanku ini dengan sukarela mau mengantarkanku. Dengan cengiran, Haris juga mengatakan; ‘sekalian kita kenalan sama adiknya’ pada saat kami mencuci piring sisa makan tadi. Aku tahu apa maksud dari perkataannya itu. Dia hendak mencarikanku pacar. Aku bahkan tidak tertarik sama sekali. Demi menyenangkan hati teman, aku hanya mengangguk saja. Menurut Haris, Rocky tinggal di Pondok Kopi namun sejak tadi, kami hanya berputar-putar tidak jelas mengelilingi pondok kopi. Semoga tidak tersasar. “Cerewet kau, ya.” Celetuk Chiko yang pasti sudah jengah mendengar kecerewetan Joko. “Nih makan saja dulu.” Kataku pada Joko. Kuserahkan keripik kentang yang kubeli di mini market di jalan padanya yang langsung disikat. Ya, akhirnya si om-o*******g ini merecokiku. Bahkan mereka membeli banyak makanan. Katanya agar tidak lapar di jalan. Menurut mereka, Haris adalah orang yang paling lupa jalan. Huh? Masa? Mana mungkin, kan? Haris menggaruk-garuk kepalanya yang kurasa tidak gatal. Aku yang duduk di sampingnya, menyipitkan mata padanya. Jangan bilang kalau daya ingatnya semakin menurun. “Sorry, lupa di mananya. Baru sekali lewat sih.” “Tuh, kan!” kataku, Chiko dan Joko berbarengan. “Kupikir … kriuk … daya ingatmu tambah kuat … kriuk kriuk ….” Cibir Joko yang duduk di belakangku disela-sela kunyahannya, “semakin tua, kau semakin lupa. Jangan-jangan kau lupa pulang lagi … kriuk kriuk kriuk ….” “Sembarangan!” sembur Haris, “Aku kalau enggak lewat dua atau tiga kali, 3nggak ingat. Beda, ya, sama pikun!” Sama saja, kan? “Kau juga,” kini Chiko mendorong pelan bahu kananku. Apa salahku?! “kenapa diam saja dari tadi? Yang mau belanja ‘kan kau. Kenapa kau anteng saja kayak orang nahan pup?” Kuputar kepalaku menatap Chiko yang duduk tenang di kursinya. “Terus? aku harus bilang wow, begitu? Lebih baik aku diam. Aura kegantenganku bakalan keluar ‘kan kalau diam. Setelah itu—” “Enggak nyambung.” Cibir Joko memotong ucapan narsisku. “Otak Daffi sudah geser.” Timpal Chiko. “Dia memang dari dulu selalu narsis. Lupa ya kalian?” celetuk Haris. “It’s true darling.” Kataku terkekeh. “Darling … darling … dadar guling!” Sahut Haris, “geli sama omonganmu.” Tambahnya lagi yang membuatku tertawa. Perasaanku mulai membaik kini. Sejak tadi, aku hanya diam memperhatikan mereka ini berceloteh layaknya Galang dan Gilang. Pikiranku menggelayut pada Veronika. Apa yang harus aku lakukan? Apakah aku membantunya saja? Kasihan sekali dia. Pasti dia akan dikucilkan oleh umum. Bagaimana dengan orangtuanya? Pasti akan malu sekali. Aku sangat mengenal baik orangtuanya. Kami berpacaran cukup lama. Kukerutkan dahiku. Aku bingung harus bagaimana. Aku tidak tega juga melihat matanya yang berurai airmata dan sembab begitu. “Kenapa, Daf?” Suara celetukan Haris membuyarkan lamunanku. Aku hanya tersenyum tipis kemudian menggeleng. Atmosfer mobil range rover milik Haris tiba-tiba sunyi. Tidak ada tawa dari mereka. Om-om ini lebih memilih diam. “Kau masih memikirkan Vero?” tanya Chiko menepuk pundakku setelah kami hanya sibuk menatap jalan. “Kasihan dia.” Kataku lirih. “Aku enggak setuju ya kau sama Vero!” sentak Haris, “kalau kau tanggung jawab sama anak yang dikandung Vero, jangan anggap kita teman lagi. Kita putus aja!” Tambah Haris dengan nada berapi-api. Bah! Sudah seperti orang pacaran saja. Ada kata putusnya. “Kamu nih bukannya ngasih solusi, malah bikin Daffi galau,” kini giliran Joko yang berusaha menengahi, “Kamu juga Daf, kebiasaan rasa kasihanmu itu harus dihilangkan! Enggak ada kata kasihan buat Vero!” ancam Joko yang kujawab dengan senyum kecut. *** Setelah berputar-putar, dan terdampar entah di mana. Akhirnya kami menemukan di mana letak toko meubel milik Rocky. Lokasinya ternyata ada di pondok ungu. Itupun setelah aku berinisiatif menelepon Rocky. Ck! memang otakku ini. Kenapa tidak daritadi saja aku menelepon Rocky! “Lurus aja, kan?” tanya Haris lagi. Aku menjawabnya dengan anggukan. Setelah sepuluh menit kami berkendara, kami melihat seorang pria berbadan gemuk berdiri di halaman masuk sebuah toko meubel yang lumayan besar. “Loh itu bukannya Rocky, kan, ya?” tunjuk Chiko pada pria yang berdiri itu.  Memang sih, dari wajahnya sangat kentara sekali kalau itu Rocky walau orang itu saat ini memakai kacamata. “Iya. Ya ampun, gemuk banget itu orang. Udah nikah kali ya?” kini giliran Joko yang heran. Kukerutkan keningku pada Joko. “Apa hubungannya?” kataku bingung. Joko terkekeh. “Ada, lah, Daf. Vitaminnya berarti cocok.” Jawabnya dan barengi dengan tawa yang lain, “Galih pasti juga gendut sekarang, minimal perutnya lah.” Kekehnya lagi. Aku hanya menggeleng. Dasar teman yang aneh. Chiko menepuk bahuku. “Nanti juga kau tau apa yang kita maksud setelah nikah.” Ucap Chiko dengan bijak. Aku lebih memilih tidak memedulikan ucapan aneh mereka dan keluar dari mobil. “Eh sampai juga, Daf!” sapa Rocky. Kami berdua bersalaman, saling menepuk bahu satu sama lain. Rocky memang berbeda sekarang. Dia jauh lebih gemuk dan lebih subur saja. Bisa kuprediksi kalau beratnya mencapai 90 Kg. berbeda dengan dulu. Badannya terbilang cungkring dengan berat 50 Kg. “Sama siapa?” tanyanya lagi. “Tuh, sama anak-anak.” Tunjukku pada ketiga temanku yang keluar dari mobil dengan gaya layaknya model. Dasar om-o*******g! “Waduh!” sapa Rocky pada mereka. Namun dia mengerutkan kening. “Mana kembaranmu, Jok? Si bule mata biru—Galih. Kok enggak ikut?” “Bulan madu. Habis nikah, kan.” Ucap Joko. Rocky menepuk dahinya. “Oh iya. Lupa.” Ucapnya kemudian beralih menatapku. Dia menepuk bahuku dan menatapku simpati. Ck! Seperti ini kalau sudah bertemu teman-teman lama. “Sorry ya bro, turut simpati dengan apa yang nimpa keluargamu juga Galih. Aku tahu dari berita di TV.” Aku mengangguk. “Sudah kelar kok masalahnya. Mereka sudah bersatu lagi.” Ancaman pembunuhan, intimidasi dari orang yang tidak suka juga kebangkrutan membuat keluarga kami kocar-kacir. Tetapi itu sudah berlalu. Rocky tersenyum menyeringai. Ini bisa gawat. “Kamu kapan? Apa perlu kukenalkan sama perempuan-perempuan cantik?” Aku meringis lalu menggeleng kuat. “Kamu sendiri sudah nikah, belum?” Kataku mengalihkan pembicaraan yang mengarah pada jodohku lagi. Sebal kalau aku harus mendengarkan om-om ini berceloteh. “Ah, kau Ky, dia mah susah.” Sahut Chiko meledekku. “Kau katanya punya adik perempuan? Kenalkan ke Daffi.” Kali ini Haris berkoar. “Iya, kasihan teman kita ini. Eh kamu sudah nikah ya? Sehat banget.” Timpal Joko. Rocky mengangguk mantap. “Udah. Aku sudah insyaf. Aku enggak mau masa tua banyak dosa. Aku udah punya anak juga, perempuan. Umur setahun.” Ucapnya. Kami berempat mengangguk. Memang, setiap manusia pasti berubah seiring waktu yang terus berjalan. Ada saatnya orang-orang itu memikirkan masa depan. Mereka takut jika keluarga mereka yang malah kena getah dari masa lalu yang buruk. Setelah memilih beberapa furniture dan berbicara panjang lebar tidak menentu, obrolan kami diinterupsi oleh suara derap langkah kaki diiringi teriakan seorang wanita. “Bang Ocky!” “Nah, itu pasti adikku. Bentar, ya.” Ucap Rocky kemudian meninggalkan kami yang duduk nyaman di ruang kerjanya. Setelah beberapa saat, pintu ruang kerjanya terbuka lagi. “Nih kenalkan adikku satu-satunya.” Ucap Rocky yang membuat kami berempat menoleh ke arah pintu. Mataku melebar melihat siapa yang berdiri di sebelah Rocky. Kenapa aku tidak memperhatikan kemiripan mereka? “Kamu?!” kataku dan adiknya Rocky serempak. Mereka berempat yang tidak tahu apa-apa hanya memandangku dan adiknya Rocky bergantian. “Sudah kenal?” tanya Rocky ceria. Kenapa dunia ini terasa sempit sih? Kenapa aku harus bertemu lagi dengan wanita ini? Astaga! Aku salah apa? Kurasakan tubuhku mulai dingin. Ini tidak baik. Aku tidak mau bertemu dengannya lagi. Potongan-potongan kenangan itu mulai terbentuk lagi. Ya Tuhan! Aku tidak tahu harus berbuat apa. Kenapa aku harus bertemu dengan wanita ini lagi? Kenapa disaat aku berusaha melupakan semuanya dan menjalani kehidupanku yang baru, dia datang lagi. Kenapa pula dia adiknya Rocky? Kenapa bukan adik dari orang lain saja? “Eh, kalian sudah kenal?” suara Rocky membuatku gelagapan. “Belum.” Dustaku. Mencoba menteralisir rasa yang kembali terbangun. “Tapi sayang banget, adikku ini udah ada yang punya.” Kekeh Rocky. “Yah, padahal kukira belum.” Ucap Joko. “Ya, kasihanlah Daffi ini, jomblo tua.” Ejek Haris. Aku hanya diam. Aku tidak mendengar ocehan Chiko. Chiko hanya mengamatiku saja. Sepertinya dia tahu kalau ada yang tidak beres namun dia tidak berani mengatakan padaku. Aku berdehem kemudian memperkenalkan diri. Aku mencoba berpura-pura tidak mengenalnya. Aku mencoba melupakan semuanya. “Aku Daffi. Temannya Rocky. Ini Joko, Haris sama Chiko.” Dia tersenyum padaku. Senyum yang masih sama seperti dulu. Senyum yang mampu menghancurkanku menjadi bagian-bagian kecil. Tubuhku terasa kaku saat dia berbicara memperkenalkan dirinya. Masa-masa itu kembali lagi. Sialan! Aku tidak suka dengan pertemuan ini. Aku harus keluar dari tempat ini. Dengan cepat, aku berjalan keluar kantor Rocky. Menggumamkan kata kalau aku akan cari angin pada Rocky. Kubuka pintu mobil dan duduk di kursi penumpang. Kupejamkan mataku mencoba untuk melupakan memori itu. Tetapi kenapa memori itu malah muncul, bukannya menghilang. Kembali, potongan-potongan memori seperti film rusak bermain di kepalaku. Bagaimana dulu wanita ini telah membolak-balik duniaku. Bagaimana dulu keputusannya telah membuatku hancur berantakan. Itu sebelum aku mengenal Veronika. Berkat Veronika, aku bisa melupakan wanita ini. Namun kenapa kami bertemu lagi? “Daf, hoy, Daffi Darusman! Woy!” Kurasakan wajahku ditampar seseorang dengan kuat. Aku mendengkus mengusir tangan-tangan jahil yang masih menepuki wajahku. Ternyata Joko. Dia menatapku dengan pandangan menyelidik. “Kenapa, Daf?” Aku menggeleng memperhatikan sekeliling. “Enggak enak badan.” Gumamku berkilah. “Oke,” angguk Joko, “mukamu memang pucat. Mau diantar pulang?” tawarnya. Aku menggeleng. “Aku naik taksi saja. Bilang sama anak-anak ya, aku duluan.” Setelah berpamitan pada Rocky yang menghampiri kami berdua, aku menaiki taksi untuk membawaku pulang. Kupejamkan mataku dan menghela nafas. Kenapa harus bertemu lagi dengannya? Kenapa harus Rocky?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD