Tak lama kemudian ponselku berdering. Telepon masuk. Kurogoh ponselku lalu melihat layarnya. Galih? Bukannya dia masih ada di Bromo? “Halo? Tumben nelepon. Ada apa? Gimana kabar kalian?” Terdengar tawa renyah Galih diseberang sana. “Kabar kita baik. Lagi di mana? Aku ke restoran tapi kamu enggak ada?” Aku mengernyit mendengar ucapan Galih. “Heh, katanya masih di Bromo satu bulan lagi. Ini masih tiga minggu.” Galih terkekeh. “Rencananya emang satu bulan, tapi Diandra keburu kangen sama si kembar. Lagian, kan, memang tadinya rencana awal cuma tiga minggu di Bromo.” “Kapan sampai?” “Tadi pagi pukul lima.” Jawabnya. “Oh.” Sahutku singkat. “Kamu ada masalah?” tanyanya. Kenapa dia bisa tahu? Apakah terdengar jelas di telinganya itu? Aku menghela nafas. “Enggak.” Kataku singkat. “Kutung

