Aku terbangun dengan kepala berdentam menyakitkan. Sayup-sayup kudengar suara Kakakku mengaji. Aku melirik jam tanganku, pukul lima pagi. Kenapa dia mengaji sepagi ini? Tidak tahukah dia kalau aku ini merasa sakit kepala? Kembali kututupi kepalaku dengan bantal agar tidak mendengar suara-suara apa pun. Lalu tidak beberapa lama kemudian dalam keadaan setengah sadar, aku merasakan seseorang mengguncang-guncang tubuhku. Suara khas milik Kakakku terdengar memenuhi telingaku. “Heh, Bogi! Bangun!” suaranya terdengar sangat marah. Perlahan aku bergerak lalu kubuka mataku. Kepalaku terasa sakit seperti ditimpa puluhan buku. “Aduh,” aku mengeluh, “kepalaku sakit.” Aku memegangi kepalaku. “Heh, siapa yang mengajari kamu mabuk? Hah!” suara marah Kak Galih masih terdengar. Mabuk? Siapa yang mab

