Chapter 4

2432 Words
Erzan membeku di tempatnya. Matanya terbelalak, menyaksikan bagaimana mobil itu akan segera menghantam tubuh mungil Sofia, sementara dia tidak bisa berbuat apa pun, selain duduk di tepi jalan dan menunggu detik-detik kematian cewek di depannya itu. Cewek yang bersedia menjadi budaknya, pesuruhnya, demi mendapatkan perlindungan darinya agar bisa menjadi pacar pura-pura untuk menjauhkan Kio dari sekitarnya.             Suaranya tercekat, lalu akhirnya keluar begitu saja. Meneriakkan nama Sofia dengan kecemasan yang bahkan dia sendiri tidak tahu datangnya darimana. Mungkin karena perasaan bersalah yang mulai hadir, akibat ucapannya di dalam kamar tadi hingga menyebabkan Sofia menangis dan berlari keluar rumah, atau bisa juga karena Sofia yang sudah mendorongnya hingga dia terselematkan dari bemper mobil yang akan menabrak tubuhnya hingga menghancurkan tulang-tulang di tubuhnya.             Yang kemudian, menyebabkan cewek itu dalam bahaya.             Nyaris. Benar-benar nyaris. Seumur hidupnya, Erzan tidak pernah sebahagia ini melihat kedatangan Redhiza. Bagaimana sahabatnya itu muncul di detik-detik terakhir, menerjang tubuh Sofia hingga keduanya terhempas ke tepi jalan, ke tempatnya berada. Erzan juga bisa melihat Lexna berada di ujung jalan lainnya, menatap kaget ke arah mereka dengan mulut yang ditutup oleh kedua tangan.             Lalu, mobil sialan itu bukannya berhenti, justru semakin tancap gas. Mungkin si pengendara takut jika ada korban dan dia tidak mau berurusan dengan polisi.             “Gue nggak pernah liat lo sebego ini sebelumnya.” Redhiza bersuara, menyadarkan Erzan dari keterpakuannya. Cowok itu menatap Redhiza dengan tatapan tidak fokus, lalu beralih menatap Sofia yang tidak sadarkan diri. “Lo bisa nolong dia tadi.”             “Gue... gue....” Erzan menjilati bibirnya yang terasa kering. Sisa-sisa ketakutan dan kecemasan itu masih ada, masih mengambil alih tubuh dan akal sehatnya. Tubuhnya bahkan masih gemetar, Redhiza bisa melihatnya. “Justru dia yang nolong gue, bahkan setelah gue mengucapkan kata-kata menyakitkan tadi.”             “Kata-kata menyakitkan?”             “Gue benar-benar b******k, Red... gue benar-benar cowok brengsek.” Lalu, Erzan menunduk. Bahunya bergetar, kedua tangannya mengepal di atas paha. Tidak ada isak tangis, tapi Redhiza tahu Erzan benar-benar terguncang. Sahabatnya itu tidak akan pernah menitikkan air mata, karena merasa kaum Adam adalah kaum yang tidak boleh menangis.             Walau mereka terluka hingga nyaris mati karena luka tersebut. Baik fisik, terlebih batin.             “Udahlah,” kata Redhiza kemudian, tidak tahan melihat kejatuhan Erzan. Sepertinya, Erzan begitu terpuruk dan terpukul. Masalahnya tidak pernah dia ceritakan dan Redhiza sendiri tidak mau memaksa. Kalau Erzan ada masalah juga dengan Sofia, biarlah kedua orang itu yang menyelesaikan. “Nggak usah depresi begitu. Lagian, Sofia juga nggak apa-apa.”             Kepala Erzan terangkat dan dia kembali menatap Sofia. Wajah cewek itu memerah, kemungkinan karena demam yang sedang dideritanya. Tak lama, Lexna menghampiri, memanggil nama Sofia dan menggenggam erat tangan sahabatnya itu.             “Mau lo atau gue yang bawa Sofia ke rumah lo?” tanya Redhiza. Dia sendiri bisa merasakan suhu tubuh Sofia yang tinggi, dan angin saat ini sama sekali tidak baik untuk cewek itu.             “Biar... gue....” Erzan mengambil alih tubuh Sofia dan mengangkatnya tanpa kesulitan. Cowok itu sekali lagi menatap wajah Sofia, kemudian memejamkan kedua mata. Rasanya menyesakkan, entah kenapa. Kemudian, dia menunduk sedikit, mencium kening Sofia dan berbisik, “Please, be alright.”             Lexna mengerjap dan berdeham. Tidak tahu harus bereaksi seperti apa ketika melihat ketulusan di kedua mata Erzan barusan. Dia sudah mendengar cerita keseluruhan dari mulut Sofia, bahwa mereka berdua menjalin hubungan. Tentu saja hanya pura-pura, supaya cowok bernama Kio itu tidak menganggunya lagi.             “Kalian berdua, tolong jangan bilang sama Sofia apa yang barusan gue lakuin ke dia, ya,” kata Erzan tiba-tiba, membuyarkan lamunan Lexna, membuat Redhiza mengangkat satu alisnya. “Gue tadi cuma... nggak sengaja ngelakuinnya.”             Erzan kemudian masuk ke dalam rumah, meninggalkan Redhiza dan Lexna di tepi jalan. Pikiran cowok itu bercabang, penuh dengan hal-hal yang seharusnya sudah lama tidak dia pikirkan. Tentang kedua orang tuanya, tentang rasa kesepian dan keterpurukannya yang dia sembunyikan selama ini, juga tentang... Sofia.             “Gue nggak tau apa yang harus gue perbuat sama lo, Sof,” ucap Erzan ketika dia membaringkan tubuh Sofia dengan hati-hati di atas ranjangnya. Cowok itu duduk di samping Sofia, mengusap rambut Sofia lembut. Bibirnya menyunggingkan seulas senyum, tipis dan pahit. “Jangan pernah bikin nyawa lo melayang hanya karena nolongin orang b******k kayak gue.”             Lalu, Erzan menaruh kepalanya di sisi tangan Sofia.             Dia mencoba untuk terlelap. ### Sofia tidak ingat bagaimana dia bisa sampai berakhir di dalam kamarnya. Yang dia ingat, dia mendorong Erzan supaya cowok itu tidak tertabrak mobil dan semuanya mendadak gelap. Dia juga tidak merasakan sakit pada tubuhnya dan tidak ada bekas luka apa pun. Bunda tirinya juga tidak berbicara apa-apa, seperti biasanya. Beliau hanya berkata kalau dia diantar pulang oleh dua orang temannya, Redhiza dan Lexna.             Kenapa dia bisa bersama mereka berdua, coba? Bukankah dia sedang bersama Erzan? Di rumah cowok itu? Kemudian Erzan mengatakan kalimat yang membuat hati Sofia sesak dan akhirnya berlari ke luar?             Sofia mengambil ponselnya dan memeriksa semua notifikasi yang masuk. Lalu, dia melihat ada satu pesan singkat dari Kio. Malas, Sofia membukanya dan kedua mata cewek itu membulat maksimal, ketika dia membaca isi pesan dari Kio.             Temuin gue di taman dekat kampus. Kalau lo nolak, cowok tersayang lo yang selalu jadi pahlawan kesiangan itu bakalan mampus di tangan teman-teman gue yang udah gue suruh mengintai rumahnya!             Tangan Sofia gemetar. Dia tidak mungkin menaruh Erzan ke dalam bahaya. Dia tidak mau Erzan kenapa-napa karena harus masuk ke dalam masalahnya. Dia yang sudah menyeret Erzan dan Sofia tidak bisa membayangkan kalau Erzan harus menerima akibatnya.             Akhirnya, mengenyahkan semua ketakutannya, cewek itu membalas pesan singkat dari Kio. Tak lama, ponselnya berbunyi singkat, menandakan ada balasan pesan, yang langsung dibuka oleh Sofia detik itu juga.             Cewek pintar. Gue tunggu setengah jam lagi.             Tidak ada yang bisa dilakukan Sofia selain bangkit dari tempat tidur dan berganti pakaian. Dia harus kuat, dia harus berani. Taman adalah tempat terbuka dan Sofia yakin, Kio tidak akan berbuat macam-macam padanya. ### Selama ini, Erzan selalu merasa sendirian.             Sejak kecil, dia tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu. Mamanya pergi dari rumah sejak bercerai dengan papanya. Tidak pernah ada kabar berita mengenai wanita yang sudah melahirkannya itu. Satu telepon dari beliau pun, Erzan tidak pernah mendapatkannya.             Di saat semua teman-teman seusianya dibawakan bekal makan siang yang lezat dari sang mama, Erzan justru dibuatkan oleh pembantu rumahnya. Dia tidak pernah mengeluh, walau hatinya sedih bukan main. Dia selalu menghabiskan makanan yang dibuatkan oleh para pembantunya, karena kata salah satu pembantu yang umurnya sudah tua, makanan akan menangis jika tidak dimakan.             Di usia remaja, ketika dia bermain ke rumah teman-temannya, dia selalu iri dengan kehangatan yang dipancarkan oleh para ibu mereka. Tak jarang, Erzan juga akan merasakan kehangatan itu. Erzan diperhatikan, diberi kenyamanan dan ketenangan oleh ibu dari teman-temannya. Karena itu, Erzan tidak pernah bosan bermain ke rumah mereka.             Sampai akhirnya, semua itu tidak penting lagi untuknya. Hatinya mendadak tertutup, tidak ada yang boleh memasukinya.             “Mas Erzan....”             Lamunan Erzan terhenti dan dia mengalihkan tatapannya dari jendela ke arah pintu kamar. Di sana, salah seorang pembantunya tersenyum dan berkata makan malam sudah siap. Erzan menarik napas panjang dan berkata akan segera turun.             Sesampainya di meja makan, Erzan mengangkat satu alisnya. Dia melihat semangkuk sup ayam beserta telur balado sudah tersaji rapi bersama sepiring nasi yang mengepul hangat. Erzan mendongak, menatap pembantunya yang sedang mengisi air jeruk ke dalam gelas. “Tumben masak makanan kesukaan saya.”             “Sebenarnya, bukan juru masak yang memasaknya, Mas,” jelas wanita itu sambil tersenyum. “Itu masakan teman Mas. Tadi, teman Mas datang ke sini mengantarkan makanan itu dan memohon kepada saya supaya tidak memberitahu Mas mengenai kedatangannya. Katanya, makanan ini sebagai ucapan terima kasih.”             “Teman? Terima kasih?” tanya Erzan dengan alis terangkat satu. Wanita itu mengangguk dan menyerahkan selembar kertas berwarna biru laut kepada Erzan, sebelum kemudian pamit.             Erzan duduk di kursi dan membuka lembaran kertas yang dilipat itu. Keningnya mengerut samar saat membaca isi surat singkat dari seseorang yang mengaku sebagai temannya tersebut.             Yo, Zan! Makasih udah ngerawat gue siang tadi, ya! Maaf gue udah ngucapin hal-hal nyakitin sambil teriak-teriak pula. Maaf juga gue main kabur seenaknya. Mmm, lo nggak apa-apa, kan? Nggak terluka waktu gue dorong pas lo mau ketabrak mobil? Gue harap, lo baik-baik aja.             Oh iya, gue tau makanan kesukaan lo dari Redhiza. Gue sengaja nanya ke dia dan masakin sup ayam sama telur balado itu sebagai tanda terima kasih dari gue. Makasih karena udah mau bantuin gue untuk bikin Kio jauh-jauh dari gue, walaupun dia keras kepala, sih.             Setelah ini, lo bebas menjalani hari lo. Gue nggak akan menyusahkan lo lagi, kok. Have a nice life, Zan! –Sofia-             Perasaan Erzan mendadak tidak enak sekarang. Cowok itu meremas surat pemberian Sofia dan menatap dua makanan kesukaannya tersebut. Di sana, Erzan seolah bisa melihat wajah Sofia. Sofia yang sedang tersenyum, memasang raut wajah kesal, tertawa bahkan... menangis.             “Lo sadar nggak kalau rumah lo diawasin sama orang-orang sinting?”             Pertanyaan itu membuat Erzan tersentak dan menoleh cepat. Dia melihat kedatangan Redhiza dengan raut wajah seriusnya dan duduk tepat di sampingnya. Cowok sialan itu mencomot salah satu macaroni yang berada di dalam sup ayam, kemudian melahapnya tanpa rasa bersalah.             “Kenapa?” tanyanya polos. Erzan mencibir.             “Itu makanan gue, makanan kesukaan gue! Dari—“             “Sofia?”             Erzan diam. Dia mendengus dan menyelamatkan kedua makanan kesukaannya dari Redhiza. Membiarkan Redhiza mengambil surat dari Sofia yang dia letakkan di atas meja makan.             “Gue ngerasa aneh sama sikap Sofia, Zan,” kata Redhiza tiba-tiba, membuat kening Erzan mengerut.             “Aneh gimana?”             “Dia nelepon gue, tanya makanan kesukaan lo. Waktu gue tanya buat apa, dia bilang mau masakin buat lo sebagai ucapan terima kasih.”             “Anehnya di mana?” tanya Erzan lagi.             “Sofia bilang....” Redhiza diam sejenak. “Dia nggak akan ganggu lo lagi, sama kayak isi surat ini. Tapi, dia nggak nulis ‘ini yang terakhir kalinya gue ketemu sama Erzan’, kayak yang dia bilang ke gue.”             DEG!             Terakhir kalinya... bertemu?             “Red, maksudnya ap—“             “Dan mungkin, ada kaitannya sama orang-orang di luar rumah lo, yang lagi mengawasi rumah lo ini.” Redhiza bersedekap. “Mungkin juga, ada hubungannya sama... Kio. Stalker nya si Sofia.”             Mendadak, Erzan bangkit berdiri. Dia memanggil pembantunya, menyuruh wanita itu untuk menyimpan makanan dari Sofia ini dan memanaskannya saat dia pulang nanti. Kemudian, Erzan meraih ponsel dan menghubungi Sofia.             Tidak aktif.             “s**t!” umpat cowok itu geram. “Kenapa ponselnya dimatiin, sih?!”             Redhiza mengawasi gerak-gerik Erzan tanpa kentara. Cowok itu kemudian menarik napas panjang dan menepuk pundak Erzan yang terus-terusan mencoba menelepon Sofia.             “Mau lo telepon berulang kali pun, ponsel dia tetap nggak aktif,” kata Redhiza. Dia menyadari sesuatu, tapi tidak mau cepat mengambil keputusan. “Gue tau dia di mana.”             “Serius?!” seru Erzan. Dia mencengkram lengan Redhiza, membuat sahabatnya itu sedikit meringis. Tenaga Erzan benar-benar kuat, sebanding dengan tenaganya sendiri. Belum lagi saat ini Erzan sedang merasa khawatir dan takut akan keselamatan Sofia. “Di mana?!”             “Tadi, sewaktu dia nelepon gue, sebelum dia benar-benar putusin sambungan, dia sempat bilang ke nyokapnya kalau dia bakal pergi sebentar ke taman dekat kampus. Dia—“             Tanpa menunggu Redhiza menyelesaikan kalimatnya, Erzan bergegas ke ruang tengah, menyambar jaket yang tergantung di sana, menyambar kunci motornya, kemudian ke luar dari dalam rumah.             Meninggalkan Redhiza yang tersenyum misterius. ### Erzan sebenarnya bingung. Kata Redhiza, di sekitar rumahnya diawasi oleh orang-orang tidak dikenal. Tapi, saat tadi dia ke luar untuk pergi menyusul Sofia ke taman dekat kampus mereka, dia tidak melihat satu orang pun yang mengejarnya atau menghadangnya.             Padahal, yang tidak diketahui oleh Erzan, Redhiza yang menghalang orang-orang tersebut untuk tidak mengikuti Erzan.             Sesampainya di taman dekat kampus, dengan catatan mengendarai motornya secara gila-gilaan, Erzan langsung mencari keberadaan Sofia. Taman itu kosong, sepi. Tidak ada satu orang pun ada di sana. Membuat perasaan Erzan menjadi kalut dan semakin khawatir pada keselamatan Sofia.             “Kenapa sih, cewek satu itu demen banget bikin gue mati karena cemas?! Apa-apaan itu maksudnya untuk yang terakhir kalinya?!” seru Erzan keki pada dirinya sendiri, sambil masih berlari menelusuri keadaan taman.             Lalu, dia menemukan bangunan tidak terpakai itu.                     Tanpa pikir panjang, Erzan segera berlari menuju bangunan tersebut. Pikirannya saat ini dipenuhi oleh Sofia, Sofia dan Sofia. Wajah Sofia memenuhi otaknya. Wajah tersenyumnya, wajah cemberutnya, wajah tertawanya, semuanya.             Hai, bakpao...             DEG!             Mendadak, Erzan berhenti berlari. Suara Sofia terdengar di gendang telinganya. Menyapanya dengan sebutan bakpao, seperti yang cewek itu ucapkan dalam tidurnya tadi siang. Kening Erzan mengerut dan perasaannya benar-benar tidak enak sekarang. Memikirkan kemungkinan kalau oknum yang dipanggil bakpao itu adalah... cinta pertama Sofia.             Kedua tangan Erzan mengepal kuat di sisi tubuhnya. Mau cinta pertama, kek... cinta kedua, ketiga dan seterusnya, Erzan sama sekali tidak peduli. Persetan dengan si bakpao itu! Yang jelas, yang ada di hadapan Sofia sekarang adalah dirinya. Yang ada di hadapan Sofia sekarang adalah Erzan Geovani, bukan si bakpao!             Yang bisa menjaga dan melindungi Sofia adalah Erzan, bukan bakpao sialan itu!             Dengan mengerahkan seluruh tenaganya, Erzan menendang pintu bangunan tua tersebut, hingga terbuka dengan bunyi berdebum keras. Dadanya naik-turun, tanda emosi yang sudah memuncak. Ketakutan dan kecemasannnya mulai berkurang saat dia melihat Sofia.             Kemudian berganti menjadi amarah, ketika dia melihat bagaimana Kio memojokkan Sofia ke dinding, mencengkram dagunya, bahkan ada darah yang mengalir di sudut bibirnya. Wajah cewek itu pucat pasi. Ketakutan terpancar jelas dari kedua matanya.             “b******k!!!”             Erzan menerjang Kio, menarik cowok itu menjauh dari Sofia dan langsung menghajarnya dengan membabi-buta. Kio bahkan sudah terkapar di atas lantai kayu bangunan tersebut, tidak bisa menghindar dari pukulan-pukulan fokus Erzan.             “Lo berani nyentuh cewek gue?! Lo berani sentuh dia dengan tangan kotor lo itu?! Lo berani bikin dia luka dan berdarah?! Dasar b******k! Akan gue pastiin lo pergi ke neraka sekarang, Kio! Pergi dari kehidupan Sofia!!!”             Saat Erzan akan menghajar lagi Kio yang sudah kewalahan, Sofia langsung bertindak. Cewek itu memeluk tubuh Erzan dari belakang, membuat Erzan menghentikan laju tangannya dan membeku. Tubuhnya menegang ketika dua lengan kecil itu melingkar erat di pinggangnya.             “Jangan, Zan... lo bukan seorang pembunuh... jangan....” Sofia berkata dengan nada lelah. Cewek itu semakin mengeratkan pelukannya, hingga kemudian, tubuhnya diputar paksa dan kini, Erzan memegang kedua pundaknya dengan tegas sambil menatap kedua matanya.             “Apa maksudnya dengan pertemuan terakhir?! Apa maksudnya dengan ucapan terima kasih?! Siapa yang suruh lo untuk pergi dari gue?! Hah?! Siapa?!” Erzan bisa melihat Sofia terkejut bukan main. Kedua mata cewek itu membulat maksimal. “Gue nggak akan biarin lo pergi, gue akan pastiin lo baik-baik aja, sampai lo terbebas dari si b******k ini! Sampai saat itu datang, tolong lo bersabar ada di sisi gue! Ada di jarak pandang gue! Kalau lo nggak ada di sisi gue, kalau lo jauh dari jarak pandang gue, gue nggak bisa melindungi lo!”             Erzan... lo terlalu jauh memainkan peran lo...             “LO NGGAK SENDIRIAN, SOFIA!”             DEG!             Sofia membeku. Suara Erzan masih terdengar. Kalimat terakhir cowok itu masih menggema, semakin lama semakin jauh, memvisualisasikan sosok lain dari masa lalunya. Sosok yang tersenyum hangat dengan pipi gembilnya.             Kamu nggak sendirian, kok. Ada aku!             Perlahan, air mata itu jatuh. Semakin lama, semakin deras. Isakannya bahkan membuat hati Erzan terasa sakit. Kemudian, cowok itu mengambil satu keputusan.             Dia memeluk Sofia erat. Mengambil alih seluruh rasa sakit cewek itu. ###            
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD