Ceklek...!
Pintu ruangan kerja CEO itu terbuka. Ayunan langkah kaki Meyta beriringan dengan detak jantungnya yang kian berdetak lebih kuat saat jarak antara kakinya menuju meja kerja CEO semakin kian dekat.
Perlahan Meytha menarik napasnya lalu membasahi kerongkongan yang terasa kering dengan salivanya. Entah mengapa kini pikirannya terasa buntu. Ia kini hanya memandangi sepatu pantofelnya yang tak terdengar saat menyentuh lantai di ruangan itu.
Terlihat hamparan permadani lembut berwarna merah menutupi lantai marmer pada ruang kerja sang CEO. Pada saat sepatu jenis pantofel dengan model terbuka pada bagian depannya, terlihat jemari kaki indah Meytha menyentuh sedikit permadani yang terasa empuk dan lembut.
Kini Meytha berdiri mematung persis di depan meja dan berada di hadapan Reynaldi.
“Duduk! Kenapa kamu berdiri?!” tegas Reynaldi menatap wanita cantik pemilik bola mata terindah yang berdiri di hadapannya.
Sebelum bertemu dengan Meytha, Reynaldi juga telah mempersiapkan mentalnya untuk bisa menatap sosok wanita yang dulu pernah membuatnya hampir mati, karena cinta.
Perlahan Meytha mengangkat wajahnya, menatap dari jarak dekat lelaki yang dulu akan menikahinya. Meytha pun, menelan salivanya untuk mengatasi kegugupan, saat bertemu dengan seorang lelaki yang dulu pernah menjadi bagian dalam hidupnya.
Walau selama dua bulan ini, Meytha telah tahu siapa yang jadi CEO di perusahaan tempatnya bekerja. Ia sama sekali tidak menyangka akan begitu cepat bertemu lelaki yang sangat dicintanya itu. Karena, sejauh ini hanya beberapa orang saja yang bisa bertemu sang CEO. Saat pandangan mereka beradu, ada rasa ciut di hati Meytha untuk menceritakan duduk persoalan yang belum selesai di antara mereka.
“Duduk..!”
Dalam hati Reynaldi, ia mengutuk dirinya sendiri dalam hati, ‘Sialan..! Kenapa gue yang harus takut bertemu wanita ini? Rey...., sekarang ini lo CEO! Bukan si Utomo yang dulu miskin dan terhina. Catat!’
“Apa kabarmu? Bagaimana dengan suami pilihan orang tuamu? Apa dia lebih hebat dariku? Lalu, apa kedua orang tuamu yang sombong itu masih hidup?!” tanyanya dengan tatapan dingin.
Meytha yang tak menyangka kalau lelaki di hadapannya kini telah berubah, berusaha menahan emosi. Ia mengingatkan dirinya kalau saat ini, ia memerlukan pekerjaan itu untuk biayai kehidupan kedua anak kembarnya yang kini berusia sembilan tahun.
“Baik..., Pak. Apa bisa bapak nggak usah mengungkit masa lalu?” tanya Meytha menunduk sangat dalam dan suaranya pun nyaris tak terdengar.
“Tolong, kamu ingat lagi! Aku bukan Utomo yang dulu kamu sepelekan dan hina! Aku adalah Reynaldi Utomo Gerald Jr. Perlu kamu tahu juga! Saat ini, aku punya orang tua. Bukan anak yatim piatu yang pernah diinjak-injak oleh ayahmu! Aku berharap ayahmu....”
“Cukup...! Jangan hina orang yang telah berpulang. Dia memang salah, jadi maafkan dia, Pak,” potong Meytha menahan emosi.
“Hahahahaha..., ternyata kamu nggak terima atas hinaanku untuk ayahmu. Bukankah dia yang menjual kamu pada bandot tua jadi istri kedua, karena kekayaannya?!” tawa getir nan dingin menghias wajah tampan Reynaldi saat mengenang masa silam.
“Boleh, saya keluar dari ruang ini? Masih banyak kerjaan yang belum saya selesaikan,” pinta Meytha lembut untuk bisa terhindar dari hal yang ingin dilupakan.
“Kamu tahu sekarang ini sedang berhadapan dengan siapa? Hah!? Pakai bicara pekerjaan si hadapan aku!” bentak Reynaldi, kini berdiri dan berjalan menuju tempat duduk Meytha. Terlihat ia mengitari bagian belakang dan sisi kanan serta kiri tempat duduk Meytha.
“Jawab!” serunya memegang sandaran kursi.
“Yaa..., bapak sekarang ini seorang CEO,” sahut Meytha lemah.
Terlihat Reynaldi bertepuk tangan dan melangkah pada sebuah sofa panjang.
Lalu, duduk dengan kaki kanan yang bertumpu pada kaki kiri. Ia memandangi Meytha dari jarak empat meter dari sofa.
“Meytha!” panggil Reynaldi dari sofa panjang tersebut.
Meytha menoleh ke arah lelaki yang dulu pernah mengisi hari-hari indah dengannya. Tapi kini berubah menjadi seorang lelaki yang menyebalkan atas sikap dingin dan kasarnya.
“Pak! Kalau nggak ada pekerjaan, saya mau ke ruang saya, karena ada laporan yang harus saya ker..."
“Diam! Kamu nggak usah atur perusahaan ini. Aku yang pegang kendali!” potong Reynaldi dengan sorot mata penuh kebencian saat tahu Meytha ingin keluar dari ruangan tersebut.
“Tapi Pak, Izinkan saya...."
“Kalau aku bilang diam, Diam! Ngerti kamu?!” potong Reynaldi berdiri dan berjalan menuju meja kerjanya serta menatap tajam ke arah Meytha yang memandang.
Meytha sudah tidak bisa lagi melemparkan pandangannya pada sisi lain, ia takut Reynaldi akan marah, karena merasa tidak dihargai. Kini lelaki yang dulu penuh kelembutan, sekarang berubah menjadi sekeras batu karang.
Terlihat Reynaldi meraih telepon yang berada di meja kerjanya. Ia pun, menghubungi Andini dari sambungan telepon direct.
“Bu Andini, sekarang juga buat surat mutasi untuk Meytha Kasturi ke bagian sekretaris. Saya mau ada dua orang sekretaris di tempat saya!”
“Siap, baik Pak...!” sahut Andini dari sambungan telepon direct.
Setelah itu Reynaldi tersenyum pada Meytha. Senyum kemenangan dan pembuktian pada wanita itu, kalau kini ia adalah seorang lelaki yang berkuasa di perusahaan itu.
“Bagaimana? Apa kamu masih mau membuat laporan di bagian accounting?” tanya Reynaldi dengan senyum mengejek.
Meytha yang telah sangat kesal dengan perilaku Utomo atau sekarang ia menyebutnya dengan nama Reynaldi hanya terdiam. Meytha tidak bisa gegabah untuk menanggapi penghinaan yang ditujukan oleh mantan kekasihnya, karena ia tidak ingin kehilangan pekerjaan.
Dalam hati Meytha pun bergumam, ‘Pasti.., Utomo sengaja buat gue kesel supaya gue keluar dari perusahaan ini dengan suka rela. Hmmm, enak aja. dia pikir gue akan keluar tanpa pesangon? Walau seperti apa pun hinaannya, gue kagak peduli, yang penting anak gue, si kembar bisa hidup.’
Lalu, Meytha pun menjawab. “Nggak, Pak
Sekarang bisa saya ke ruangan saya?”
Reynaldi lagi keluar dari meja kerjanya. Ia kembali berjalan menuju sofa panjang. Sesaat, ruangan hening tanpa suara. Kemudian terdengar Reynaldi berbicara dengan lugas.
“Meytha, bisa kamu berjalan dari sana ke hadapanku dan berputar?” perintah Reynaldi.
“Maksud ... Bapak apa? Untuk apa saya harus berjalan dan membalikkan badan? Apa saya nggak salah dengar?” tanyanya dengan suara parau.
“Aku mau membayangkan bentuk tubuhmu saat berjalan. Walau hanya dengan berjalan, aku masih mengingat secara detail, bagian tubuhmu sepuluh tahun lalu!” senyuman hina tersungging dari bibir tipis Reynaldi saat mengatakan hinaan untuk Meytha.
“Pak! Saya ini ibu dari dua orang anak. Tolong jangan hina dan ingatkan saya atas masa lalu kita. Saya sudah mengubur dalam kisah itu. Cukuplah itu jadi pelajaran berharga untuk kita,” tutur Meytha sengaja menyebutkan jumlah anak yang ia punya dengan menunduk.
“WOW...! Dua anak? Bagaimana kalau aku juga ingin punya dua orang anak? Hemm..., apa masih bisa?” tanya Reynaldi menarik tangan Meytha.
“Pak...! Tolong lepaskan tangan saya. Jangan perlakukan saya seperti ini, hikss....," tangis Meytha pecah, karena tidak kuat menahan hinaan dari sang mantan.
Reynaldi melepas tangan Meytha dengan kasar dan mendengus. "Dasar b******k!"
“Pak, saya juga sakit atas kejadian masa lalu! Sakit sekali. Tolong, jangan hina saya seperti ini. Demi kedua anak saya, tolong ... pak, jangan hina saya...” pintanya.
Bulir air matanya pun jatuh menetes pada wajah putih mulusnya. Ia menangis, karena mengingat dua anak kembarnya saat seorang yang pernah dicintai menghina dan menyakiti hatinya.
Dalam hati Meytha berbisik, ‘Utomo..., kalau saja lo tahu kisah sebenarnya. Lo pasti menyesal udah menghina gue.’
Melihat Meytha menangis dan air matanya mengalir deras di pipi, Reynaldi bergumam,
“Ini tisu, seka air matamu. Sekarang, buatkan aku kopi!” perintahnya usai memberikan tisu pada Meytha.