“Mbak Dinda, bapak minta dibuatkan kopi. Pantry yang dipakai itu yang di ujung sana ya?” tanya Meytha.
“Bukan Bu..., sini biar aku aja yang buat. Karena aku tahu takaran kopi buat bapak Rey. Mau tanya, barusan ibu Andini ngomong, kalau Bu Meytha jadi sekretaris juga?”
Dinda berjalan keluar ruangan dan masuk ke ruangan yang dekat dengan ruang kerja Reynaldi menuju Pantry.
“Disini Bu Meytha Pantry si Bos. Takaran untuk gulanya dua, kopinya satu. Airnya panaskan dulu di teko listrik ini, kita tunggu tiga menit.”
Terlihat Dinda memasukkan air ke dalam teko listrik dan menekan tombol on serta mengambil satu sendok kecil bubuk kopi dan dua sendok gula. Ia juga mengeluarkan s**u cair rasa vanila dalam kemasan satu liter.
“Buu, kenapa bisa dipindah ke bagian sekretaris?” tanya Dinda saat menunggu air mendidih pada teko listrik.
“Mbak Dinda, panggil nama aja. Saya juga panggil nama ya?” pinta Meytha.
“Ooh, Iya ... Meytha. Aduh, kok kayaknya aku jadi canggung Buu, hehehehe...,” tutur Dinda, menutup bibirnya.
“Udah santai aja, Din..., panggil aku, Mey,” pinta Meytha tersenyum manis dengan lesung pipinya.
“Sini aku bawa ke tempat, si Bos,” pinta Dinda usai membuatkan kopi buat Reynaldi.
“Tetapi ... Din, nanti si Bos marah. Soalnya dia suruh aku yang buat kopi,” ucap Meytha yang tahu keinginan sang CEO.
“Udah tenang aja, ayo kita bareng ke dalam. Sekalian aku juga mau tanya pembagian Job Description sama si Bos,” ajak Dinda, membawa baki berisi kopi s**u buatannya dan Meytha berjalan di belakang Dinda.
Saat pintu ruangan terbuka, Reynaldi tampak terkejut saat dilihat Dinda dan Meytha bersama-sama masuk ke ruangannya. Terlebih ia melihat, Dinda yang bawa kopi tersebut.
“Meytha! Kenapa kamu minta Dinda yang buat kopi? Kamu pikir, siapa kamu di sini?!" bentak Reynaldi.
“Meytha nggak salah Pak. Tadi saya yang minta buatkan kopi Bapak. Jadi, saya yang salah Pak," terang Dinda.
“Diam kamu, Dinda...! Aku nggak bicara sama kamu!” hardik Reynaldi.
“Jawab! Kamu nggak bisa buat kopi? Hah?!” bentaknya lagi dengan telunjuk ke arah Meytha.
“Baik, Pak, saya buatkan lagi,” ucap Meytha menunduk.
“Biarkan kopi itu di sana! Nggak usah kamu bawa lagi,” perintah Reynaldi pada Dinda atas kopi yang dibuatnya.
Dalam hati Meytha pun, mengutuk perilaku Reynaldi atau Utomo yang biasa ia panggil, pada masa lalu. Meytha dan Dinda menuju pintu keluar dari ruangan tersebut.
“Tunggu dulu!” perintah Reynaldi.
Kedua wanita itu membalikkan tubuh dan berdiri tegak memandang ke arah Reynaldy yang duduk di meja kerjanya dengan jarak delapan kaki.
“Dinda, tugas kamu mengurusi semua email masuk, surat masuk yang bersifat administrasi. Untuk Meytha mengurusi seluruh kebutuhanku dari makan, kopi dan mengatur ruang meeting. Satu lagi, untuk meeting keluar kantor, Meytha juga yang ikut denganku.”
Kedua wanita menganggukkan kepalanya dan keluar dari pintu tersebut. Sesampai diluar, Meytha berkata pada Dinda.
“Din, maaf yaa, kamu jadi kena semprot juga.”
“Tenang aja, Mey. Mungkin si bos lagi ada masalah, tumben aja sih, dia garang kayak orang lagi PMS. Biasanya diam aja, emang dia galak. Tapi, nggak sekasar tadi.”
Setelah itu, Dinda keluar menuju ruang kerjanya. Sementara, Meytha berjalan menuju Pantry yang ada di ruangan pertama.
“Hmmm..., jangan-jangan dia mau minum kopi buatan gue. Bukannya yang tadi di meja ruang tamu dia itu kopi s**u? Ok! Gue bikin kopi tanpa s**u,” ucap Meyta bermonolog saat ia memanaskan teko listrik.
Tiga menit kemudian, kopi hitam yang ia buat, dibawa ke dalam ruangan kerja Reynaldi.
“Saya taruh dimana, Pak?” tanya Meytha saat dilihat Reynaldi serius di depan komputernya.
Tak ada sahutan dari Reynaldi, ia pun berdiri di sisi meja kerja Reynaldi. Sekitar dua menit berlalu, Meytha yang masih berdiri kembali bertanya pada sang Bos dengan baki berisi kopi.
“Pak, kopinya saya taruh disini?" tanya Meytha seraya meletakan kopi hitam di sisi kanan meja kerja Reynaldi yang masih asyik di depan komputernya.
Usai meletakan kopi di meja kerja si Bos, Meytha melangkahkan kakinya menuju sofa. Namun baru beberapa langkah, Reynaldi menegur kembali.
“Siapa yang suruh kamu pergi dari sini?!” tegur Reynaldi tersenyum mengejek Meytha kala wanita itu membalikkan tubuhnya.
“Ada yang bisa saya kerjakan lagi, Pak?” tanya Meytha dengan kaki pegal. Karena dari tadi berdiri dan mondar-mandir mengurusi urusan Reynaldi. Terlebih, sepatu high heels yang digunakan setinggi 7inchi.
“Tugas kamu itu sekarang mengurusi aku. Jadi diamlah di ruangan ini,” perintah Reynaldi.
Merasa sakit pada bagian betisnya, Meytha pun duduk pada sofa di ruang tamu pada ruangan tersebut. Baru saja ia menghempaskan diri pada sebuah sofa tunggal nan empuk, Reynaldi menghardik dirinya dengan begitu menyakitkan hatinya.
“Siapa yang suruh kamu duduk di sana? Bangun kamu! Enak sekali, kerja hanya duduk-duduk seperti itu mau dapat gaji!” ketus Reynaldi. "Sini kamu!"
“Pak, berikan saya kerjaan. Masa saya harus diam berdiri menunggu seperti ini?" pinta Meytha pada Reynaldi dengan raut wajah kesal.
Dalam hati Reynaldi, ‘Rasakan pembalasan gue.., kalau saja waktu itu lo mau gue ajak pergi dari sini. Mungkin lo kagak susah payah kerja cari duit buat hidup lo!'
“Pak Rey ... Kasih saya kerjaan,” pinta Meytha lagi pada Reynaldi yang sedang menikmati penyiksaan pada diri Meytha.
“Aku sudah kasih kerjaan buat kamu dengan mengurus keperluanku. Apa itu nggak cukup?” tanya Reynaldi, meraih cangkir kopi yang ada di atas meja kerjanya.
‘Hmmm..., masih sama rasanya buatan kopi dari tangan Meytha. Rasanya pas, sama seperti dulu,’ bisiknya dalam hati seraya menyesap perlahan kopi tersebut.
Sementara itu telepon di meja kerja Reynaldi terus berdering. Setelah puas menghirup aroma kopi dan menyesapnya, ia pun menghubungi Dinda sekretarisnya, atas panggilan teleponnya.
“Ada apa?!” tanyanya singkat.
“Lapor Pak..., hari ini bapak ada pertemuan dengan Pengusaha Muda Indonesia, jam dua siang. Di gedung Lila Cita," ucap Dinda.
"Ya, siapkan saja mobilnya," perintah Reynaldi.
“Baik...!" jawab Dinda
Setelah menutup hubungan telepon dengan Dinda, Reynaldi pun berujar pada Meytha.
“Hari ini jam satu siang, kamu ikut aku menghadiri pertemuan dengan Pengusaha Muda Indonesia. Berdandan yang rapi dan jadi notulenku!”
“Tetapi ... Pak, jam dua belas saya harus menjemput anak saya. Kira-kira jam satu siang baru sampai kantor lagi. Apa bisa undangan keluar seperti ini di serahkan ke Din...."
“TIDAK!” potong Reynaldi atas apa yang akan di katakan Meytha.
“Pak, tadi saya dengar, Dinda ngomong rapatnya jam dua. Tolonglah Pak, kasih saya waktu jemput anak-anak dulu, baru balik ke kantor," pinta Meytha mengiba pada Reynaldi yang terlihat puas, melihat kepanikan di mata Indah, Meytha.
“Ok!" ujarnya melembut saat dilihat kesedihan dalam raut wajah Meytha.
Dering ponsel Reynaldi membuat lelaki itu langsung menjawab panggilan dari benda pipih yang diraih dari meja komputernya.
“Yaa, Miii ... Ooh, Ok! Saya akan kesana,” ucapnya dengan wajah manis dan senyum yang mengembang pada saat menjawab panggilan telepon dari ponselnya.
Usai menutup ponselnya, Reynaldi meraih telepon direct dan menghubungi Dinda. "Sekarang, siapkan sopir. Aku akan makan siang!”
Terlihat Reynaldi meraih ponselnya dan berkata pada Meytha, “Ingat! Jam satu kamu sudah disini!”
Lalu, Reynaldi meninggalkan Meytha yang masih berdiri mematung di depan meja sang CEO. Melihat pintu ditutup oleh si empu ruangan, Meytha dengan betis sakit, langsung duduk pada kursi yang ada di hadapan meja kerja Reynaldi.
“Aduh! Betisku sakit sekali berdiri dari tadi. Pasti Utomo mau siksa gue, makanya dia suruh gue berdiri. Rasanya gue harus mulai cari kerja tempat lain. Nggak kuat kalau gue ikuti maunya dia," Meytha bermonolog.
“Kenapa menggerutu, Mey...?” tanya Dinda masuk ke ruangan sang CEO.
“Uhm, nggak kenapa. Sekarang aku mau jemput anak-anak di sekolah dulu ya, Din.”
“Baru mau aku ajak makan bareng. Bukannya nanti jam dua, bapak ada pertemuan di luar? Apa kamu nggak ikut?” tanya Dinda saat dilihat Meytha bangun dari tempat duduknya dan berjalan ke arah pintu keluar.
“Iya, Din. Nanti aku balik jam satu. Makanya aku jemput anakku dulu,” ucap Meytha menoleh pada Dinda yang duduk di sofa dan menikmati kopi s**u buatannya sendiri.
“Pakai apa kamu jemput anakmu, Mey?” tanya Dinda seraya menikmati kopi s**u yang dibiarkan di ruangan itu.
“Pakai Motor! Byee...!” teriak Meytha bergegas meninggalkan ruang kerja sang CEO yang merupakan mantannya.