Bab 4 : Mengenang Masa Lalu

1207 Words
Reynaldi keluar kantor dengan seorang sopir menuju sebuah restoran seafood untuk bertemu dengan kedua orang tua angkatnya. Di sepanjang jalan menuju restoran tersebut, lamunan dan bayangan atas sosok Meytha di masa lampau, berhamburan keluar dalam pikirannya. Selama sembilan tahun berada di Jerman tidak membuatnya mampu mengikhlaskan semua yang telah terjadi di antara mereka. ~ FLASHBACK~ “Kamu itu! Kalau mau menikah sama anak saya, harus punya modal! Masak anak saya mau kamu nikahi di KUA aja? Kamu pikir Meytha nggak punya keluarga, macam kamu? Hah!” sengit Bimantoro, kala Utomo mengatakan niatnya untuk menikahi Meytha, saat mereka telah menjalin kasih selama lima tahun. “Maaf Pak..., untuk acara besar-besarannya saya belom ada dana. Tapi kalau untuk acara syukuran dan makan bersama keluarga besar bapak, saya punya sedikit tabungan, Pak,” sahut Utomo yang tak gentar mendengar penolakan atas dirinya. Dikeluarkan uang sejumlah dua puluh lima juta yang selama ini ditabungnya. Itu pun Utomo mencari tambahan dengan menjadi sopir pada sebuah Travel agen di saat libur kantor, hari Sabtu dan minggu. Terlihat Meytha duduk di sebelah Utomo menemani sang kekasih yang sejak awal sudah membicarakan perihal keinginan hatinya untuk melamar secara langsung pada Bimantoro tanpa ada acara seserahan yang biasa dilakukan sebagian orang. Hal itu disepakati Meytha, mengingat usia mereka yang akan menginjak dua puluh lima tahun dan mereka juga takut melakukan perbuatan terlarang saat berpacaran. Bimantoro dan sang istri yang melihat uang sebesar dua puluh lima juta dikeluarkan dari tas selempang Utomo, tertawa lepas seraya menghina pemuda itu. “Hahahhahaha ... Kamu pikir, saya membesarkan Meytha hingga dia lulus kuliah dan sampai bekerja, cuman cukup dua puluh lima juta rupiah?! Otak kamu itu, sesekali di pakai! Mana ada orang tua tega melepas anak gadisnya sama orang yang cuman punya uang segitu?!” ujarnya sengit seraya menunjuk ke arah uang yang diletakkan di meja tersebut. Meytha yang melihat bapak dan ibunya menghina Utomo, bereaksi atas apa yang dikatakan orang tuanya. “Bapak! Jangan terlalu menghina seperti itu. Saya dan Utomo saling mencintai, dan bagi kami itu cukup sebagai modal untuk kami menikah.” “Masalah Rejeki, kekayaan itu besok kita bisa cari berdua. Memang, saat ini kami kerja di perusahaan kecil. Kami mencari pengalaman di perusahaan finance itu. Besok kami akan cari pekerjaan di perusahaan yang lebih besar, Pak!” imbuh Meytha membela Utomo. “Mey..., coba pikir. Bapakmu, berbicara seperti ini untuk kepentingan kamu! Sudah lama Bapak dan ibumu, nggak setuju kamu berhubungan sama Utomo!” jelas Bimantoro. “Maaf, ya Tomo. Kami nggak setuju dengan niat kamu. Apalagi, silsilah keluarga kamu nggak jelas. Kami nggak mau, keturunan kami berasal dari seorang penjahat atau, hmmm..., kamu seharusnya tahu apa maksud kami,” ujar Wulandari berbicara terus terang pada Utomo. Meytha yang duduk di sisi Utomo memandang kekasihnya dengan rasa kasihan dan malu atas perilaku kedua orang tuanya. Sementara wajah Utomo merah padam. Hatinya pun, remuk redam saat berpamitan pada kedua orang tua Meytha. “Baiklah, Buu ... Pak ... Saya permisi dulu. Mungkin memang saya nggak berjodoh dengan Meytha,” ucap Utomo suaranya bergetar seraya menunduk. Lalu, ia berlalu meninggalkan Meytha yang menangis di sisinya. “Tomo! Tunggu....!" panggil Meytha mengejar Utomo sampai di luar pagar rumahnya. Dipeluknya tubuh Utomo dari belakang saat lelaki itu mendekati motornya. Utomo membiarkan air mata kekasih hatinya membasahi punggung. Utomo yang juga menangis, sama sekali tidak ingin memperlihatkan air matanya di hadapan Meytha. Setelah itu, Utomo menaiki motornya menuju kos-kos’an dengan hati yang penuh luka. Sementara kedua orang tua Meytha memanggil putrinya yang masih berdiri di pintu pagar, melepas kepergian Utomo. “Meytha! Masuk kamu...!” Meytha pun masuk dengan perasaan sangat sedih. Karena harapan dan impian yang sering mereka bicarakan seolah menguap bagaikan asap. Saat ia sampai di ruang tamu, Ibunya berbicara. “Ingat besok kamu kembalikan uang si kere itu! Dia pikir dengan meninggalkan uang segitu aja bisa buat kami menerima dia!" Dengan air mata berlinang Meytha merapikan uang Utomo yang ditolak oleh kedua orang tuanya. Lalu, ia pun berjalan ke kamarnya mendekap uang kekasih hatinya dengan air mata berlinang yang membasahi sebagian besar uang tersebut. *** Di hari Minggu ini, Utomo yang biasanya melakukan aktivitas dengan berolah raga di pagi hari, sama sekali tidak ingin melakukan aktivitas apa pun. Bahkan tawaran untuk membawa tamu asing dari Travel yang biasa dilakukannya ditolak mentah-mentah. “Meytha, bagaimana mungkin kedua orang tuamu memisahkan cinta kita? Apa kelahiranku di dunia ini memang harus menangung dosa-dosa kedua orang tuaku?” ucap Utomo saat terbangun dan teringat atas kejadian semalam. Lelaki mana pun, pasti akan hancur hatinya bila ditolak mentah-mentah saat akan melamar wanita pujaan hatinya. Begitu juga dengan Utomo yang bersedih dan frustrasi atas penolalan semalam. Apalagi perjalanan cinta Utomo dan Meytha telah berjalan lima tahun. Tok ... Tok ... Tok ... Utomo yang mendengar ketukan pada pintu kosnya bermalas-malasan beranjak dari tempat tidur berjalan membukakan pintu. Ceklek...! “Meytha!” panggil Utomo terkejut atas kehadiran Meytha di pagi hari ini. Wanita muda cantik yang kini ada di depan pintu kamar dan memeluk erat tubuhnya. Tangisan Meytha masih sama terdengar seperti kemarin malam saat ia meninggalkan kekasih hatinya di pintu gerbang. “Utomo, aku nggak mau kita putus. Aku nggak mau. Jangan tinggalkan aku seperti ini, hikss ...," tangis Meytha dalam pelukan kekasih hatinya. Yang dilakukan oleh Utomo hanya memeluk tubuh Meytha, saat wanita cantik jelita yang dicinta menangis sesenggukan dalam pelukannya. Utomo menghapus air pada Meytha, dan berkata, “Sayang..., tenangkan hatimu, kita akan cari jalan agar kedua orang tua kamu mengizinkan aku meminang kamu.” Utomo berusaha menenangkan Meytha dengan mengajak masuk kekasih hatinya. Lalu, mereka duduk di lantai keramik pada sebuah kamar kos berukuran 3meter x 4meter. “Tadi aku beli sarapan buat kamu, sekarang kita makan. Ini aku diminta kembalikan uang kamu,” ucap Meytha menaruh uang yang kemarin ditinggal oleh Utomo pada nakas samping tempat tidurnya. Lalu, kekasih hatinya mengambil sendok dan piring di dapur yang berada di depan kamar mandi. Sambil menikmati sarapan yang dibawa oleh Meytha, mereka saling bertukar pikiran atas apa yang kini mereka hadapi. Usai menikmati sarapan, Utomo izin untuk membersihkan diri. Karena sejak bangun pagi, sama sekali ia tidak beranjak dari tempat tidurnya. “Aku mandi dulu, kalau gimana nanti kita nonton film ke bioskop,” ujar Utomo tersenyum seraya mengecup pipi Meytha. “Udah sana mandi dulu, pantas aja bau asem, pakai acara cium pipiku segala,” rajuk Meytha tersenyum bahagia saat bersama kekasih hatinya. Saat Utomo sedang membersihkan diri, Meytha yang sangat takut kehilangan kekasihnya memikirkan hal yang selama mereka berpacaran selalu dijaga. Mereka selalu mengingatkan satu dan lainnya saat berada dalam pacaran yang sehat. Maka saat pikiran liar Meytha menjelajahi otaknya dan dibenturkan pada kenyataan yang dialami, maka Meytha dengan keyakinan dirinya, menutup dan mengunci pintu kos sang kekasih serta menyalakan pendingin pada kamar itu. Tanpa sepengetahuan Utomo, Meytha telah menanggalkan seluruh pakaiannya disaat Utomo tengah membersihkan diri. Lalu, Meytha beranjak ke tempat tidur dan sengaja menutupi tubuh polosnya dengan selimut tebal di kamar kos sang kekasih. Dalam hati Meytha berbisik, ‘Baiklah.., akan aku serahkan kesucianku atas cinta yang telah aku jaga selama ini, agar Tomo tahu, betapa aku sangat mencintainya. Aku berharap, lewat jalan ini, aku akan hamil dan kedua orang tuaku tidak lagi menentang pernikahan kami. Aku pikir ini adalah jalan terbaik untuk masalah yang kami hadapi.'
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD