Bab 5 : Kenekatan Meytha

1110 Words
~FLASBACK~ Utomo yang keluar dari kamar mandi dan telah memakai boxer serta membelitkan handuk pada bagian pinggangnya terbelalak kala di lihat pakaian Meytha, kekasih yang dicintanya berserakan di lantai keramik kamarnya. “Meytha! Apa yang kamu lakukan?!” pekik Utomo seraya memunguti pakaian kekasihnya yang berserakan di lantai keramik. “Pakai lagi! Aku nggak akan merusak kamu, Mey. Please..., pakai pakaianmu. Kalau aku mau, sudah dari lama aku rusak dirimu. Jangan lakukan ini sayang...,” tuturnya melembut sembari memberikan pakaian Meytha yang saat ini menyelimuti tubuhnya dalam balutan selimut tebal di atas tempat tidur. Meytha yang mendapatkan penolakan, menatap kecewa pada Utomo dan membalikkan tubuhnya ke arah dinding pada sisi kiri tempat tidur itu. Utomo yang tahu Meytha kecewa dengan membalikkan tubuhnya ke arah dinding saat memberikan pakaiannya, berdiri dari sisi tempat tidur dan beranjak menuju lemari untuk mengambil pakaiannya. Sembari mencari kaos yang akan dipakai, Utomo yang membelakangi Meytha kembali berkata pada kekasih hatinya yang kecewa. Meytha yang hanya mendengar ucapan Utomo, membalikkan tubuhnya menatap bagian belakang sosok lelaki tampan yang selama ini telah menjaga kehormatan dirinya sebagai wanita. Tampak, lelaki tampan pujaan hatinya tengah menghadap ke arah lemari pakaian dan hanya membelitkan handuk putih bersih pada bagian pinggangnya. “Mey, cepatlah, kita akan jalan jalan keluar dan nonton film di bioskop Twenty One. Ayo sayang,” pinta Utomo asyik memilih pakaian pada lemari. Tanpa disadari Utomo, Meytha turun dari tempat tidur dalam keadaan polos. Ia berjalan ke arah Utomo. Kemudian wanita cantik itu memeluk tubuh Utomo serta menarik handuk yang membelit pinggang lelaki tampan itu. “Meytha...,” ucap Utomo tetap berdiri membelakangi kekasihnya dengan jantung berdetak keras. Utomo berdiri dengan seluruh bagian tubuhnya menegang. Tanpa berani membalikkan tubuhnya, ia merasakan bagian terindah milik kekasih hatinya menyentuh bagian punggung yang terbuka. Gemuruh jantung Utomo kian cepat. Saliva dan jakunnya pun naik turun dengan tetap menjaga kewarasannya untuk tidak merusak kehormatan kekasih hatinya yang selama ini dijaga. Meytha yang telah tertutup pikirannya, menarik pinggang kekasih hatinya dan membalikkan tubuh Utomo. Seketika lelaki tampan itu, kini berada di hadapan Meytha yang telah berdiri dalam keadaan polos, tanpa selembar kain melekat pada tubuh seksinya. Utomo memejamkan mata seraya menelan salivanya. Ia terus mengingatkan dan menasihati Meytha untuk tidak berbuat hal yang selama ini telah mereka jaga. “Sayang..., Jangan lakukan hal ini. Aku mencintaimu dengan sepenuh ragaku. Aku ingin melakukan hal ini, saat kita menjalani malam pertama, karena itu aku menjaga dirimu, Mey...,” lirih Utomo memejamkan matanya kala Meytha memeluknya kian erat. Ia tidak ingin khilaf dan merusak apa yang telah dijaga selama ini. Yang terjadi kemudian, Meytha mencium bibir Utomo penuh rasa cinta. Wanita cantik itu juga meraih jemari tangan Utomo dan menempatkan pada kedua bagian terlarang miliknya seraya berucap, “Aku ingin menjalani hal yang selama ini kita jaga. Aku mohon, lakukanlah sayang..., aku ingin dirimu saat ini." Kedua tangan Meytha kini melingkar pada tengkuk leher Utomo. Lelaki tampan itu pun sulit menghindari Metha, kekasih hatinya yang telah polos saat memeluk, mencium dirinya dalam gelora asmara. Utomo adalah seorang lelaki normal yang terus melawan hasratnya dengan mengingatkan kekasih hati yang sangat dicinta dan dihormatinya. Namun, Meytha yang telah gelap mata, tetap menolak nasihat Utomo. Terlebih, Meytha mendengar penolakan dari kedua orang tuanya atas lamaran Utomo. Hal itu membuat ia nekat ingin melepaskan kesuciannya hanya untuk sang kekasih, sebagai bukti cinta kasihnya. “Mey..., tolong jangan lakukan ini. Aku mencintaimu. Setiap lelaki pasti ingin menerima kesucian dari pacarnya. Tapi, aku tidak ingin merusakmu sayang. Tolong, jangan goda aku dengan kemolekan tubuhmu, Meytha...,” lirih Utomo saat sang kekasih terus berupaya membangunkan gairah asmaranya. “Tomo ... Lakukanlah ... Anggap saja hari ini kita melakukan malam pertama. Aku ingin kamu memberikan benih cinta di rahimku. Aku ikhlas menjalani semua yang akan terjadi padaku, sayang. Tunjukanlah rasa cintamu padaku lewat sentuhanmu,” rengek Meytha yang terus meminta pada Utomo agar mereka melakukan hal terlarang yang selama ini mereka jaga. “Sayang, apa kamu yakin akan melakukannya hari ini? Apa kamu nggak akan menyesal? Aku pikir, ini bukan jalan penyelesaian dari masalah kita. Hmmm..., cukup segini aja. Please pakai bajumu, Mey..,” pinta Utomo yang bertelanjang d**a namun masih menggunakan boxer. Lalu ia menatap iris netra Meytha dan terus mengingatkan kekasihnya untuk mengakhiri hasrat yang sempat meninggi. Meytha yang sudah merencanakan hal ini sejak semalam dan juga sudah membaca cara menghadapi penolakan dari seorang lelaki kala diajak bercinta, melancarkan aksinya atas reaksi penolakan Utomo dan mengobarkan hasratnya. Utomo yang mendapatkan serangan mendadak akhirnya tumbang usai mempertahankan diri untuk tidak terbakar dalam gelora hasrat Meytha yang terus memberikan sentuhan kasih sayang dan cintanya. Kini mereka telah menyatu dalam gairah cinta yang selama ini mereka tahan. Walaupun, awalnya mereka berharap dapat mencicipi rasa penyatuan mereka di malam pertama. Namun, Meytha dengan keputusannya, menyerahkan kesucian cintanya pada lelaki yang sangat dipercaya akan membuat dirinya bahagia. Sesaat kemudian, mereka pun telah berada di atas tempat tidur. Khayalan mereka selama ini tentang malam pertama, diraih dan dilakukan pada saat pagi hari tanpa ikatan pernikahan. Mereka melakukan atas dasar cinta dan berharap semua impian Meytha untuk hamil dan dapat restu dari orang tuanya, membawa mereka pada perbuatan terlarang. “Sayang ... Aku telah menembus kesucian kamu. Sayang, hari ini kita sama-sama melakukan untuk yang pertama kalinya,” tutur Utomo erat memeluk tubuh Meytha serta mencium bibir kekasihnya dengan mesra. Lelaki mana yang tak bangga bisa mendapatkan kesucian dari wanita yang dicintanya. Berulang kali Utomo memeluk kekasih hatinya. Jika saja kedua orang tua Meytha tak menolak lamarannya, mungkin saja hal ini tak terjadi. Namun, dalam lubuk hati terdalam, Utomo berjanji kalau ia hanya akan menikahi Meytha. Terlihat Meytha menangis dan Utomo pun menyeka air mata kekasih hatinya seraya bertanya, “Apa kamu menyesal..., sayang?” Dengan menatap wajah kekasih hatinya, Meytha menggelengkan kepala dan menjawab dengan wajah bahagia. Walaupun, air mata membasahi wajah cantiknya. “Aku bahagia bisa memberikan hal yang berharga untukmu. Aku milikmu, Tomo. Hati dan raga ini hanya untuk kamu, sampai kapan pun akan tetap sama. Aku bahagia, sayang,” isak Meyta dalam tangis bahagia. Utomo menitikkan air mata dan memeluk erat kembali kekasih hatinya yang juga putus asa atas penolakan kedua orang tuanya. Bagi mereka, walau tanpa ikatan pernikahan. Mereka telah mengikrarkan diri, kalau mereka telah menjadi suami istri usai melakukan hubungan terlarang itu. Mereka kini, kembali berciuman dan saling memberikan rasa cinta dengan hasrat kian bergelora. Mereka berulang kali ke puncak asmara dengan napas tersengal-sengal serta berbagi keringat. Sampai akhirnya, mereka terkapar lelah atas rasa cinta dan sayang dalam gelora asmara yang telah mereka lepaskan bersama berulang kali. Setelah itu, Meytha dan Utomo pun, tertidur lelap dan saling berpelukan dengan masalah lain yang akan mereka hadapi usai melakukan hal terlarang bagi pasangan muda-mudi itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD