~ FLASHBACK ~
Sejak saat itu, hubungan cinta kasih antara Utomo dan Meytha pun, selalu diikuti dengan pergumulan penuh h*sr*t. Kini Utomo sudah tak segan lagi untuk meminta Meytha melakukan hubungan layaknya suami istri dan kejadian itu terjadi hingga empat bulan ke depan.
Sampai akhirnya pada suatu hari, saat Utomo yang satu kantor dengan Meytha tak mendapati Meytha di kantor, membuat hatinya sangat gusar. Terlebih, ponsel Meytha tidak aktif.
“Napa lo...? Kayak orang bingung begitu,” tanya Rifai sahabat dan teman satu kantor Utomo.
“Meytha belum sampai kantor, apa memang dia sakit ya, sampai nggak kerja?” tanya Utomo bermonolog sembari memandang ke arah Rifai.
“Laah..., lo tanya ke gue, mana gue tahu. Bukannya lo yang jadi pacarnya? Hehehehe..., dasar lelaki kagak punya tanggung jawab,” canda Rifai.
Ketika dilihat Utomo masih sibuk menghubungi Meytha, kembali Rifai menegurnya.
“Udah lo fokus aja sama kerjaan. Ingat udah deket akhir bulan. Nanti si Bos kagak kasih gaji kita."
Dalam hati yang resah, Utomo yang melakukan pekerjaan rutinitas di kantor bersama Rifai, sesekali menghubungi kekasih hatinya yang tak terlihat batang hidungnya di kantor. Tepat saat waktu istirahat siang, Utomo kembali menghubungi ponsel kekasihnya yang masih tidak dapat dihubungi.
“Rifai..., kok Meytha nggak bisa dihubungi ya? Feling gue jadi nggak enak,” tanya kembali Utomo dalam kegelisahan yang kian menebal.
“Udah nanti aja lo hubungi dia lagi. Mungkin ada acara mendadak di keluarganya dan lupa bawa ponsel atau ponselnya lowbat. Ayo! Gue udah lapar. Nanti lo telepon waktu di warung makan," ajak Rifai rekan kantornya.
Utomo pun, berboncengan ke warung makan tegal. Sebuah warung makan yang diminati oleh sebagian besar karyawan-karyawati dengan Standard gaji yang hanya cukup untuk makan seadanya di tanggal tua. Kecuali, pada saat gajian. Mereka akan mengubah menu yang lebih spesial.
Seperti biasa mereka makan dengan harga sepuluh ribu tanpa memilih lauk yang akan di makan. Tetapi, mereka bisa dipilih sayur sesuai selera.
Yang terpenting bagi mereka, bisa mengisi perut. Walaupun menu tanggal tuanya, berupa tempe, tahu, sayur, bakwan jagung, kuah kari ayam. Terkadang, kalau si pedagang sedang baik hati, mereka memberikan sedikit ayam. Nasi sepuluh ribu itu juga sudah termasuk teh hangat tawar.
“Utomo, udahlah lo makan dulu nanti telepon lagi. Kalau memang sampe sore si Meytha kagak bisa dihubungi, nanti gue yang ke rumahnya,” janji Rifai.
Sejak peristiwa ditolaknya lamaran oleh ayah Meytha yang menghina dirinya tak memiliki orang tua, mereka memilih berhubungan secara Backstreet dan itu telah berjalan 4 bulan. Walaupun masa pacaran mereka telah 5 tahun.
Semua teman kantor sudah tahu kalau Utomo ditolak oleh orang tua Meytha dan Rifai rekan kantornya juga sudah sangat paham, tentang hubungan mereka yang telah jauh seperti layaknya sepasang suami istri. Maka dari itu, Rifai berjanji akan mencari tahu tentang Meytha dengan ke rumahnya sepulang kerja.
“Tolong bantu gue yaa, Fai,” pinta Utomo usai makan siang dan menikmati secangkir kopi ditemani sebatang rokok yang dihisapnya dalam-dalam.
“Iya lo tenang aja. Moga aja si Meytha baik-baik aja. Kalau gue rasa sih, memang dia lagi ada acara keluarga,” balas Rifai ikut menikmati sebatang rokok yang diambil dari kantung kemeja Utomo.
“Tomo, ngomong-ngomong lo udah berapa lama berhubungan intim sama si Meytha?” tanya Rifai menoleh ke arah Utomo.
Sembari menghembuskan kepulan asap rokok di bibirnya, Utomo berucap, “Udah hampir empat bulan. Emang kenapa? Bukannya lo sendiri udah begituan juga sama pacar lo?"
“Iyaa, tapi ya gitu dah, bolak balik pacar gue hamil. Dan ada tiga kali pacar gue gugurin kandungannya. Rasanya pengen gue putusin aja pacar gue. Soalnya, dia kagak mau cepat-cepat nikah,” keluh Rifai saat mereka duduk berdua di deket pohon palem.
“Ngapaen kagak mau nikah?" tanya Utomo sembari menggelengkan kepalanya.
“Masalahnya pacar gue belom siap. Makanya dia gugurin kandungannya. Kadang gue aja kagak tau dia lagi hamil. Setelah gugur, baru dah pacar gue cerita. Itu buat gue mau putus dari dia," keluh Rifai kembali.
“Coba kalau Meytha bisa hamil, kita pasti udah nikah, mau keluarganya kagak setuju sekalipun, kita berdua tetap nikah. Makanya si Meytha nekat begituan sama gue karena pengen hamil. Tapi, udah empat bulan kita ngelakuin, dia belom juga hamil."
“Ooh, begitu ... Jangan-jangan lo lepas diluar makanya Meytha kagak hamil,” tebak Rifai seraya menghisap rokok yang terselip di bibirnya.
“Kagaklah, gimana sih lo? Namanya pengen dia hamil, ya gue lepas di dalem. Udah yuk! Balik ke kantor. Ingat! Janji lo ke gue nanti sore,” ungkap Utomo seraya mengajak Rifai untuk kembali ke kantor.
Kedua pemuda itu pun kembali berboncengan. Hanya sepuluh menit mereka telah sampai di sebuah perusahaan pembiayaan. Mereka bekerja pada sebuah gedung tingkat lima dan mereka bekerja di bagian administrasi yang berada di lantai tiga.
Sesampai di meja kerjanya, mereka kembali berkutat dengan pekerjaan sehari-hari hingga waktu pun, bergulir dengan cepat. Tepat pukul lima tiga puluh menit, Utomo dan Rifai bersama-sama keluar dari kantor yang berada di sebuah kompleks pertokoan.
“Nanti lo kabari gue ya, inget sekarang ke rumah Meytha,” pinta Utomo saat mereka di tempat parkir dan berada di sepeda motor masing-masing.
“Iyaa..., gue langsung ke rumah Meytha sekalian menghindari pacar gue. Soalnya, males gue sama dia. Cuma mau Happy Fun aja," keluh Rifai kembali seraya memberikan jempolnya.
“Gue mau ngojek dulu ya, biar waktunya cepat berlalu,” ucap Utomo seraya menyalakan aplikasi untuk mendapatkan penumpang. Syukur-syukur sekalian jalan pulang ke kos, pikir Utomo.
Mereka keluar dari gedung pertokoan secara bersama-sama namun berpisah di pertigaan jalan. Utomo kembali berteriak ke Rifai yang berada di sisinya sebelum ia ke arah kiri, “Gue dapat order, nanti lo chat gue aja kalau udah ketemu Meytha. Makasih! Byee...."
Setelah itu, Rifai yang sudah berjanji pada Utomo untuk ke rumah Meytha, mengendarai sepeda motornya ke rumah kekasih hati sahabatnya. Sampai akhirnya, motor yang dikendarai oleh Rifai sampai di sebuah rumah yang terlihat ramai oleh orang di dalamnya.
Dengan perasaan deg’deg’an Rifai memarkir kendaraan di depan rumah tetangga Meytha. Karena di depan rumah Meytha terlihat telah begitu banyak kendaraan terparkir di halaman dan di seberang rumahnya. Tampak pula sebuah tenda terpasang di halaman rumah Meytha.
“Bener deh, dugaan gue ada acara. Hmmm ... Acara apa yaa? Sunatan kali ya? Tapi, bukannya si Meytha adiknya udah besar?” tanya Rifai memarkir kendaraan di depan rumah tetangganya.
Rifai yang baru aja memarkir motornya di sebelah rumah Meytha, di tegur oleh seorang wanita dengan ramah. "Pak! Bawa masuk aja motornya ke halaman, nanti hilang. Temen kantornya Meytha ya? Mau kundangan,kan?”
“Nggak usah Bu, terima kasih. Saya parkir di luar aja. Maaf, maksud Ibu kundangan di rumah Meytha? Sebenernya, saya ke rumah Meytha karena dia kagak masuk kerja. Memang siapa yang sunatan Bu?” tebak Rifai memandang tetangga Meytha.
“Ah! Si Bapak, bisa aja bercandanya. Nanti malem tuh, lakinya si Meytha di sunat sama Meytha. Bukan ada anak kecil di sunat,” ujar wanita paruh baya itu terkekeh.
“Maksud Ibu?” tanya Rifai dengan jantung yang berdetak kencang.
“Laah ... Bukannya si Meytha kasih undangan ke temen kantornya, kalau dia nikah?" ujar wanita paruh baya itu dan mengajak Rifai masuk ke rumah Meytha. Tetapi ditolaknya.
Seketika tubuh Rifai lemas tak berdaya. Dia terpaku memandang ke arah tenda di depan rumah Meytha dan ia pun berbicara sendiri pada dirinya.
"Aduh! Gimana cara gue bicara sama si Tomo? Kenapa bisa begini sih? Bingung gue."
Akhirnya Rifai memutuskan untuk pulang ke kos tanpa ke rumah Meytha, karena ia bingung dan tak tahu harus berbicara apa jika saat ia menemui Meytha. Karena baginya semua diluar dugaan.
“Mending gue bilang kagak jadi ke rumah si Meytha, dari pada gue liat si Tomo bunuh diri,” Rifai bermonolog, sembari balik arah menuju kosnya.