Bab 7 : Tangisan Seorang Lelaki

1968 Words
#FLASHBACK# Sekitar jam sembilan malam Utomo pulang ke kos, usai mencari penghasilan tambahan sebagai tukang ojek Online. Hal itu dilakukan semata-mata untuk menabung dan bertekad untuk bertanggung jawab sepenuhnya pada diri Meytha. Sering kali Utomo berkhayal suatu ketika Meytha mengatakan padanya, kalau ia hamil. Hal itu menjadi mimpi dan harapannya setiap kali akan terlelap dari tidurnya. Seperti hari ini, saat Meytha tidak masuk kerja, ia berpikir kalau kekasihnya enggak enak badan karena hamil. Tetapi, rekan kantor yang dimintai tolong belum juga menghubunginya. Maka Utomo pun, membersihkan diri terlebih dahulu sebelum ia menghubungi Rifai, rekan kerjanya. “Ya udahlah gue lebih baik mandi dulu aja. Apalagi ini badan pada lengket semuanya,” ucapnya pada diri sendiri seraya menaruh pakaian kotornya pada sebuah ember hitam. Selama ini Utomo mencuci pakaiannya sendiri. Biasanya sehabis mandi di pagi hari, ia akan mencuci pakaiannya, maka setiap harinya tidak pernah ada pakaian kotor. Namun untuk menyetrika pakaian, ia lakukan satu minggu sekali dan dilakukan pada hari Sabtu sore sebelum bertemu dengan Meytha untuk malam mingguan. Lima belas menit kemudian, usai membersihkan diri, Utomo mengenakan celana pendek tanpa menggunakan baju, karena baginya memakai pendingin adalah pemborosan jadi agar tidak gerah, ia tidak memakai baju setiap tidur malam. Diraihnya ponsel pada meja kecil susun tiga yang ada di kamar itu. Dimana, pada bagian atas meja diletakan televisi 17inci. Pada bagian kedua diletakan ponsel, jam tangan serta dompetnya dan bagian ketiga diletakan handbody, parfum, pewangi tubuh serta beberapa obat-obatan, minyak penghangat. “Rifai..., gimana sih lo? Udah gue tunggu dari tadi kagak telepon juga. Elo kagak punya kuota?” tanya Utomo langsung menyambar bagai mercon karena lelah menunggu kabar dari Rifai. “Tomo..., waduh, gue minta maaf. Masalahnya tadi ban motor gue gembos, jadi gue kagak ke rumah si Meytha. Kalau gimana, besok pagi kita bareng ke rumahnya, gimana? Kalau elo setuju, malam ini gue nginep di rumah elo, sebagai permohonan maaf gue,” ujar Rifai yang sebenarnya sangat kasihan pada Utomo. Rifai sengaja menemani Utomo malam ini dan tidur di kosnya agar bisa menjaga Utomo untuk tetap bisa berpikir waras jika keesokan harinya, di hari Sabtu bisa menemani Utomo ke rumah Meytha dan menerima kenyataan pahit. “Ah, elo itu. Serius elo mau ke kos gue? Nanti gue tunggu malah elo kagak kemari,” sungut Utomo kecewa atas alasan sahabat kantornya. “Serius, sekarang gue ambil baju ganti buat besok. Sekarang ke rumah elo. Paling lama dua puluh menit udah sampai. Gue ngebut dah, juga jalan udah sepi,” janji Rifai. “Ya udah gue tunggu. Nanti kalau elo udah sampai kos gue, kita makan di warung tenda, bebek gorengnya enak tapi murah,” ujar Utomo yang terdengar senang akan kedatangan Rifai. Utomo pun merapikan tempat tidurnya, pagi tadi dia belum sempat merapikannya. Dia juga menyapu lantai yang hanya berukuran kecil itu. Pada dasarnya Utomo suka rapi dan bersih. Maka, itu pula salah satu point lebih Meytha memilih jadi kekasih hatinya. Tin ... Tin ... Suara sepeda motor terdengar diluar pintu pagar kos Utomo. Mendengar suara motor, Utomo bergegas keluar kamar menemui Rifai yang masih diluar pintu pagar. “Ayo kita langsung ke warung tenda, gue ajak makan bebek yang enak,” ajak Utomo seraya berboncengan dibelakang Rifai. Kedua anak muda itu ke warung tenda penjual bebek saat jam telah menunjukan hampir pukul sepuluh malam. Suasana di jalan masih cukup lumayan ramai. Biasanya untuk tengah malam seperti ini banyak sekali orang nongkrong untuk makan di tenda pinggir jalan atau mereka menyebutnya pedagang angkringan. Mereka pun sampai pada sebuah warung tenda pinggir jalan. Utomo memesan dua porsi berikut teh manis hangat. Sekitar lima belas menit, penjual bebek goreng telah meletakan pesanan dua pemuda itu pada meja yang terbuat dari kayu memanjang dengan bagian atas dari meja tersebut ditutup oleh perlak plastik berwarna merah dengan motif bunga. “Gimana rasanya enak?” tanya Utomo saat Rifai menikmati santapannya. “Enak ... Mantap !” tuturnya sambil menyumpal mulutnya dengan nasi. “Gila kalau makan disini terus bisa melar badan gue,” ucap Rifai yang mengambil tisu di meja untuk menyeka keringat di wajahnya, rasa pedas bercampur nasi panas dan lauk pauknya kian membuat selera makan meningkat. “Gue tiap minggu makan sama Meytha disini. Dia suka banget sama bebek gorengnya. Kadang jatah bebek punya gue, dimakan Meytha juga," ujar Utomo bercerita sembari memasukkan nasi ke dalam mulutnya. “Lah..! Kalau bebek punya elo dikasih ke Meytha, elo cuman makan nasi aja gitu?” canda Rifai sembari tersenyum lebar dan memperlihatkan nasi di dalam mulutnya. “Gue makan tempe, terong gorengnya aja. Dapat sih kulit-kulitnya. Meytha kagak suka makan kulit, takut gemuk dan kolesterol katanya,” tutur Utomo yang selalu membahas Meytha disela makan mereka. Sampai akhirnya Rifai tersedak, karena makan sembari berpikir cara menyampaikan berita buruk tentang Meytha pada Utomo yang kelewatan cinta dan bangga punya pacar Meytha. Sampai akhirnya, mereka pun selesai menikmati makanan di warung tenda tersebut. Namun, Rifai menolak saat Utomo akan membayar makanannya. Karena bagi Rifai, dibandingkan Utomo dia lebih bagus hidupnya karena tiap bulan masih di bantu kedua orang tuanya untuk hidup. Berbeda dengan Utomo yang berdiri dan berjuang sendiri. “Tomo..., biar gue yang bayar,” tawar Rifai seraya mengeluarkan dompetnya dan memberikan uang pecahan seratus ribu pada pedagang. “Kagak enak gue jadinya, masa gue yang ngajak, kok elo yang bayar. Makasih Fai,” tutur Utomo, menepuk bahu sahabat kantornya. “Ayo kita balik." Mereka pun meninggalkan warung tenda, kembali berboncengan pulang menuju kamar kos Utomo. Hanya beberapa menit saja mereka sudah sampai di kamar kos Utomo dan kedua anak muda itu masuk ke dalam kos. “Rapi, bersih kos elo. Kalau gue mah kamarnya berantakan. Hehehehehe, nyokap gue seneng nih kalau gue bisa kayak elo. Gue jadi seneng liatnya,” ungkap Rifai, suka melihat kerapian di dalam kamar kos Utomo. “Elo mah enak punya nyokap. Tahu sendiri, gue hidup di Panti Asuhan dari kecil udah dilatih mandiri, karena pengasuh Panti Asuhan tahu kalau besok atau lusa, anak-anak akan keluar dari Panti Asuhan dan nggak punya siapa pun di muka bumi ini. Maka kami harus mampu mengurus diri sendiri,” tutur Utomo, membuat hati Rifai terenyuh. Setelah itu Rifai termenung. Ia bingung antara memberitahukan atau tidak perihal Meytha yang sepintas dilihatnya serta dengar dari tetangganya. Lalu hati-hati Rifai bertanya pada Utomo mengenai penolakan kedua orang tua Meytha empat bulan lalu. “Tomo..., kenapa sih, elo waktu ditolak, nggak ajak Meytha kabur aja keluar Jakarta?” tanya Rifai membuka percakapan dari masalah penolakan keluarga Meytha empat bulan lalu. “Gue udah ajak Meytha kabur. Tapi, dia kagak mau. Makanya dia pengen hamil, baru kita nikah. Waktu itu pikiran Meytha cuman gitu aja untuk jalan keluar kita bisa nikah dan di restu,” sahut Utomo sembari mengambil sebatang rokok yang berada di meja nomor dua dekat jam tangannya. “Hmmm..., Lain kali kalau jadi lelaki itu harus tegas. Harusnya elo paksa Meytha, pasti dia mau. Apalagi sampai dia serahin kesuciannya ke elo. Soalnya kalau udah kagak setuju, susah dapat restu dari orang tua, biarpun Meytha hamil,” ucap Rifai yang mulai akan masuk ke inti. “Tapi gue yakin kok Fai,” cicit Utomo sembari menghisap dalam sebatang rokok di bibirnya dan menghembuskan asapnya hingga memenuhi kamar kecil yang saat ini dibiarkan pintunya terbuka. Rifai menatap serius wajah Utomo, hingga membuat Utomo bertanya atas tatapan Rifai yang baginya sangat janggal. “Kenapa elo lihat gue seperti itu?” lirik Utomo masih dengan sebatang rokok pada lipatan jemarinya. “Elo cinta banget sama Meytha?” tanya Rifai kembali dan telah bertekad akan membuka kejadian petang tadi di rumah Meytha. Feeling Utomo pun berkata, ada sesuatu hal terjadi sampai sahabat kantornya bertanya tentang hal itu. Maka dimatikan rokok yang masih setengah, lalu Utomo menatap ke arah Rifai penuh selidik. “Ada apa sebenarnya...? Feeling gue jadi kagak enak,” ujar Utomo serius menatap wajah Rifai dan sahabatnya diam membisu. “Hey...! Ada apa ini? Pasti elo tanya seperti itu ada sangkut paut sama Meytha kan? Fai...! Ngomong, njing! Meytha baik-baik aja kan?” tanya Utomo, rasa kuatir kini telah menyebar di otaknya. Satu yang Utomo takuti. Dia takut Meytha kecelakaan atau sesuatu hal yang mengerikan menimpa kekasih hatinya, apalagi maraknya kejahatan di Kota Jakarta, maka kecemasan Utomo pada Meytha mendasar pada kerasnya kejahatan di Ibu Kota. “Tomo, sorry gue bohong sama elo. Sebenarnya tadi gue ke rumah Meytha. Tapi gue cuman sampai deket rumah tetangganya Meytha..., dan di rumah Meytha ramai banget. Kata tetangganya sih..., kayanya Meytha....” “Apa...? Gila elo! Napa sih elo kagak ngomong terus terang sama gue?! Meytha kagak kenapa-napa kan? Maksud gue bendera kuning kagak ada di rumah dia kan?” tanya Utomo bertubi-tubi pada Rifai dengan kecemasan yang luar biasa. “Bendera kuning kematian maksud lo? Ya kagak. Tapi, Tomo ... Gue denger, Meytha ... Ni-nikah,” ucap lemah Rifai. “Gue harap elo yang sabar. Bisa jadi dia bukan jodoh elo.” Deg! Seketika, tubuh Utomo seakan terkena godam besar dan lelaki tampan nan tinggi itu mengusap wajahnya, kasar. “Gue kagak percaya! Kagak! Kemarin dia sama gue masih berhubungan intim. Gue kagak percaya!" suara Utomo meninggi dengan mata melotot. “Tomo..., Ini serius...! Makanya gue bingung gimana cara ngomong ke elo. Gue kagak mungkin juga ngomong sembarang seperti ini dan mana mungkin juga gue kasih kabar sakit seperti ini. Karena gue yakin elo terpukul,” ungkap Rifai menepuk-nepuk bahu sahabat kantornya. Utomo terlihat menunduk, menutup wajahnya. Terdiam dengan menarik napas panjang. Sesaat kemudian, bahu Utomo berguncang, menggelengkan kepalanya dan mendesah lirih, “Meytha ... Meytha...." Rifai yang tahu sahabat kantornya terpukul dengan berita buruk yang di sampaikannya berucap, “Elo kalau mau nangis, nangis aja. Nggak usah elo belaga kuat. Lelaki juga boleh nangis kok!” Setelah itu Utomo menangis layaknya seorang anak kecil dengan suara lelaki dan air mata pun runtuh dari netranya. Utomo terus menyebut nama Meytha diantara tangisannya. “Meytha..., gue nggak bisa kehilangan elo. Cuma elo yang selama ini baik dan perhatian sama gue, hikss... hikss..., kenapa juga gue harus miskin? Kalau gue kaya, punya keluarga, pasti kita udah nikah Meytha ... Tuhan, gue benci elo...! Gue benci elo bikin gue nggak punya keluarga, bikin gue terhina karena kemiskinan gue!” Utomo menangis sesenggukan menumpahkan unek-unek dalam hatinya atas keadaannya, beserta rasa putus asa karena terlahir di dunia ini tanpa tahu siapa kedua orang tuanya, kekecewaan begitu mendalam dalam hatinya. Air mata Utomo mengalir deras dengan bahu kian berguncang. Dan Rifai yang mendengar suara tangisan seorang lelaki seperti Utomo, akhirnya larut dalam kesedihan pula. Rifai merasakan pula, sakit hati yang dirasa Utomo demikian dalam. Maka ia membiarkan sahabat kantornya menumpahkan lewat tangisan. Dalam hati Rifai berbisik lirih, ‘Siapa pun lelaki yang mengalami nasib seperti Utomo pasti akan menangis dan putus asa. Jadi menangis bukan hal memalukan bagi lelaki, apalagi ini menyangkut hati dan rasa.’ Rifai tak tega melihat Utomo sangat terpukul dengan air mata yang tiada henti mengalir di pipinya, lalu Rifai mencoba menenangkan sahabat kantornya dengan memeluk dan menepuk-nepuk punggungnya. “Menangislah sepuasnya hari ini. Gue temenin elo nangis, gue juga tahu rasanya ... Sakit!” ungkap Rifai yang akhirnya larut dalam rasa sedih dan turut menangis. Kedua lelaki tampan itu kini menangis bersama. Satu lelaki menangisi kekasih hatinya dan satu lelaki lagi menangisi sahabatnya yang terluka karena cintanya kandas. Ternyata, semua orang baik perempuan ataupun lelaki sama saja. Rapuh saat putus cinta. Semua itu karena cinta yang tak berbentuk namun bisa dirasa oleh hati. Maka saat hati telah terluka, bagi siapa pun sama rasanya, sakit! Walau rasa sakit itu tak terlihat bagian lukanya. Tetapi, membuat ingin mati untuk yang mengalaminya. Puas menumpahkan air mata dengan rasa sedih dan putus asa, Utomo menyeka air matanya dengan kaos yang dipakai. Lalu dengan menarik napas panjang dia pun berkata, “Fai.., sekarang gue mau ke rumah Meytha. Elo kagak usah ikut.” “Apa? Gila elo...? Jam berapa ini Tomo?!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD