Aku menutupi tubuhku sepenuhnya dengan selimut. Menatap pada kegelapan yang menyambangi dengan rasa panas dan juga pengap. Aku telah berada dalam kondisi ini dalam waktu yang tidak singkat, meskipun suara ketukan pintu tidak lagi terdengar tapi aku hanya ingin memastikan bahwa aku sendirian. Aku tidak ingin memikirkan eksistensi Elvern yang berdiri didepan pintu menunggu presensiku. Tak ingin bicara apalagi bersua. Semuanya sudah terlalu banyak berubah dari titik yang bisa aku toleransi. Hanya dalam beberapa hari yang lalu seluruh kenangan yang telah kami rangkai bersama. Sesuatu yang begitu manis diantara kami berdua. Elvern yang sempat tidur dikamarku, memelukku dengan hangat dan nyaman. Bisikannya yang begitu lembut dan mesra, serta seluruh rayu bujuk yang kerap dia perdengarkan. Sepe

