“Udah siap?” tanya Pandu menenteng tas berisi barang-barangku. Aku mengusap perutku yang masih sedikit membuncit. Rahimku sudah bersih, yang terasa kini hanya sisa-sisa rasa nyeri. Aku mengangguk pelan pada Pandu. Aku siap kembali ke rumah tanpa Lily di tubuhku. Aroma bedak bayi langsung masuk ke penciumanku begitu aku melangkahkankaki masuk ke dalam rumah. Kedua mataku serta merta memanas, saking sukanya aku sama aroma bedak dan colloge bayi yang kubeli untuk Llily, sejak beberapa hari belakangan aku selalu memakainya jadi pengganti bedak dan colloge yang kupakai sehari-hari. Pandu juga sangat menyukainya, dia suka mencium-ciumi aku setiap kali aku habis memakai benda tersebut. “Nin?” panggilan Pandu menyentakku. Dengan mata berkaca-kaca, aku tersenyum padanya, berusaha menyampaika

