Aku tidak yakin bisa pulih dalam waktu cepat dengan pikiran terbebani seperti ini. Selama Ibu masih di Bali, aku tidak akan bisa tenang. Aku sangat kasihan pada Pandu. Selalu dipojokkan lewat telepon saja sudah sulit, sekarang dia harus menghadapi Ibu secara langsung. Setelah kubujuk, Ibu akhirnya mau diantar oleh Pandu pulang ke rumah. Bagaimanapun juga Ibu baru menempuh perjalanan panjang dan melelahkan, Ibu pasti butuh istirahat di tempat nyaman. Pun dengan Kak Vina yang juga sudah pulang lebih dulu. Menjelang petang, Pandu datang. Kali ini bajunya sudah berganti dan wajahnya terlihat sedikit lebih segar meski kantung di bawah matanya masih menebal. “Makanannya udah datang, ya?” tanyanya berbasa-basi, barangkali juga merasakan atmosfer canggung di antara kami. Aku hanya mengangguk

